
Keesokan harinya, pada waktu istirahat. Aku, Ivi, dan Tino berkumpul di kantin. Ivi menyuruh aku dan Tino untuk menemui dia di kantin saat istirahat, katanya untuk membicarakan tentang rencana kemarin.
“Baiklah, kita akan mulai sepulang sekolah nanti.” Ucap Ivi dengan nada tegas.
"Aku akan menyebut operasi ini ‘Operasi Umum’!” Ucap Ivi menggebrak meja.
“...”
“Kenapa namanya itu?” Tanya Tino.
“Hmm... ini bukanlah operasi rahasia, ini adalah operasi umum, siapapun boleh ikut kalau mau.” Jawab Ivi.
“Bagaimana jika aku mengajak Cinta? Dia boleh ikut?” Tanya Tino lagi.
“Umm...”
“Kupikir jangan, jangan ajak dia,” Ucap Ivi.
“kalau bisa, jangan sampai dia tau tentang ini...” Lanjutnya.
“Heee...”
“Kau baru saja bilang kalau ‘siapapun boleh ikut kalau mau’, tapi barusan kau bilang ‘jangan ajak dia’, bagaimana, sih?” Keluhku.
“Tidak, bukannya aku tidak mau dia ikut. Hanya saja, aku tidak mau dia terlibat dalam hal ini.” Ucap Ivi.
“Lalu apa? Karena dia tidak bisa berjalan?”
“Bukan, bukan itu maksudku, aku memang tidak mau melibatkan dia, dan juga ini demi kebaikannya.”
“Huh.. terserah kau saja.”
...
“Baiklah, ini rencanaku.”
Ivi mengeluarkan secarik kertas yang sudah ada garis-garis hitamnya, mungkin dia akan menjelaskan itu.
“Itu terlihat seperti denah sekolah.” Ucap Tino.
“Ini memang denah sekolah.”
“...”
“Sebenarnya rencana ini sangatlah sederhana, lihat. Itu adalah UKS, dan itu adalah perpustakaan.”
“Kenapa ada tempat-tempat itu?” Tanya Tino.
“Kau tau kemarin kita melihat sosok itu di perpustakaan, bahkan dia beristirahat diperpustakaan, ada kemungkinan memang dia tinggal disana.”
“Dan kenapa ada UKS?”
“Itu ruangan untuk memancing dia keluar, tempatnya berada di lantai 1, dan tidak jauh dari perpustakaan. Dan juga, kita tidak bisa masuk ke ruang yang berhubungan dengan guru atau pegawai sekolah.”
“Ivi, boleh aku bertanya?”
“Silahkan saja, Razox.”
“Berapa lama kau membuat ini? Dan jika UKS digunakan untuk memancing ‘Dewa Kematian’, siapa yang akan menjadi umpannya?”
“Umm... aku memikirkan banyak hal kemarin sampai aku sulit tidur, tapi hal sesederhana ini yang bisa diterima akal sehatku,”
“dan untuk umpan yang kurencanakan—”
“Tunggu! Sebelum kau melanjutkan ini...”
“bukannya ini terlalu singkat untuk kau pikir semalaman?”
“Sudahlah, terima saja, lagipula memangnya kau punya rencana yang lebih baik?”
“Tidak sih...”
“Ya, jadi ikuti saja alur rencanaku...”
“...”
“Jadi, pertama-tama, aku berdiri di depan perpustakaan, aku berdiri di titik buta kamera CCTV agar tidak terlihat di rekaman. Sedangkan Tino berjaga-jaga di depan UKS, dia juga harus berdiri di titik buta kamera CCTV.” Ucap Ivi.
“Sebentar, jika kau berdiri di depan perpustakaan, dan Tino berdiri di depan UKS. Lalu aku harus apa?”
“Oiya, pertanyaanmu tadi, kau yang akan menjadi umpannya.”
“EH??!!”
“Tidak! Tidak! Aku tidak mau!”
“Eh?? Kenapa?? Padahal kerjamu mudah, kau hanya tinggal berdiam diri di dalam UKS.”
“Tidak, aku tetap tidak mau.”
“Lagipula, seingatku kau adalah orang yang pernah di-‘culik’ oleh ‘Dewa Kematian’, mungkin kau bisa mengulang kejadian itu dengan menjadi umpan kita.”
“Tapikan kau pernah bilang kalau Tino pernah diculik juga, dia ‘kan bisa jadi umpan juga.”
“Iya aku tau itu, tapi kau lebih cocok untuk dijadikan umpan.”
“Dan juga, dengarkan aku, jadi begini...”
“Tino mengawasi UKS sampai ‘Dewa Kematian’ itu masuk ke UKS, jika dia sudah masuk UKS dan menangkap Razox, dan setelah itu, dia pasti akan keluar lagi untuk menuju perpustakaan, lalu aku dan Tino akan masuk untuk menangkap ‘Dewa Kematian’ sebelum dia menghapus ingatanmu, bagaimana?”
“Wowowo, aku benar-benar tidak berani sampai mempertaruhkan nyawaku begitu.”
“Sudah kubilang kita akan membebaskanmu sebelum dia menghapus ingatanmu.”
“Kedengarannya mudah.” Ucap Tino.
“Itu karena bagianmu mudah...”
“Razox, bagianmu juga mudah.” Ucap Ivi.
“Uhhh... kau harus bertanggung jawab jika ada yang terjadi denganku.”
“Itu mudah...”
...
“Nah, sekarang, benda apa yang kira-kira cocok untuk menangkap dia?” Tanya Ivi.
“Hah?! Kau belum menentukan itu? Jadi semalam kau ngapain saja??!!” Obrolan ini cukup membuatku kesal.
“Ohh... semalam, aku memikirkan segala rencana yang bisa kita lakukan.” Balas Ivi dengan polos.
“Lagipula ini rencanaku! Apa kau punya rencana yang lebih baik?!” Tiba-tiba saja Ivi mencengkram kerahku.
“Ma-maaf! Baiklah, akan kulakukan!”
Ivi langsung melepaskan cengkramannya.
“Terima kasih.”
“Dan ini untuk kita berkomunikasi nanti.” Ivi mengeluarkan benda lagi.
3 buah walkie-talkie, sepertinya itu untuk kita bertiga.
“Darimana kau mendapatkan ini?” Tanya Tino.
“Itu tidaklah penting, sekarang ambil saja.”
“Ingatlah, nanti sepulang sekolah kita berkumpul lagi.”
---
Sepulang sekolah, kami melakukan apa yang Ivi perintahkan, semuanya berada di posisi masing-masing, termasuk aku yang sudah di dalam UKS, entah apa yang kulakukan disini. Aku memilih untuk tiduran di ranjang dan memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosan. Semoga saja internet bisa menghiburku.
...
“Hahaha...”
...
Bzztt
“Diviana masuk, lapor keadaan! Ganti.”
Walkie-talkie itu mengeluarkan suara, dan langsung terdengar suara Ivi.
“Tino masuk, tidak ada tanda-tanda dari ‘Dewa Kematian’ darisini. Ganti.”
“Huh...”
Aku merasa sangat malas untuk melakukan hal ini, sampai-sampai aku menghela nafas.
“Razox masuk, tidak ada perubahan juga disini. Ganti.”
Bzztt
“Diviana masuk, apa kalian tau? Tadinya aku ingin mengajak satu orang lagi untuk mengawasi CCTV di dalam perpustakaan, aku kepikiran untuk mengajak Kevin, tapi dia tadi sudah pulang. Aku juga tadi ingin mengajak yang lain untuk ikut, tapi tidak ada orang lagi di sekolah. Ganti”
“Tino masuk, memangnya CCTV itu bersifat real-time? Ganti.”
“Diviana masuk, aku tidak tau juga, tapi tidak ada salahnya mencoba, ‘kan? Diviana keluar.”
“Razox masuk, sepertinya tidak, karena jika iya, maka harusnya kita kemarin sudah ditangkap karena masuk ke perpustakaan. Razox keluar.”
__ADS_1
“Diviana masuk, kau ada benarnya juga, tapi bisa saja memang kita dibiarkan masuk saat itu. Diviana keluar.”
“...”
Harusnya aku tidak membuang tenagaku dengan membalas pesan tadi, jika tidak ada perubahan di tempat Tino, maka di tempatku juga tidak akan ada perubahan, karena Tino sebenarnya mengawasiku.
“Huh...”
...
...
...
Aku sudah menonton banyak video, ini sudah 30 menit berlalu, aku tidak merasakan itu dan seperti itunya yang lain juga.
Bzztt
“Diviana masuk, kenapa ‘Dewa Kematian’ tidak muncul juga, ya? Ini sudah 30 menit. Ganti.”
“Tino masuk, aku tidak tau kenapa. Ganti.”
“Orang-orang ini...”
“Razox masuk, apa kalian tidak ingat? Tadi kita merencanakan ini di kantin sekolah, dan ada kamera CCTV mengarah kepada kita, ‘Dewa Kematian’ itu sudah tau rencana kita untuk menangkapnya. Ganti”
“Tino masuk, ada benarnya juga itu. Tino keluar.”
“Diviana masuk, menurut kalian, kenapa ‘Dewa Kematian’ menampakkan diri saat itu? Ganti.”
“Razox masuk, aku tidak tau, pasti Tino juga begitu. Ganti.”
“Diviana masuk, kalau kuingat kembali. Kemarin ‘Dewa Kematian’ itu muncul saat kita masuk ke ruang khusus pegawai di perpustakaan. Bagaimana kalau kita mencoba hal itu lagi? Mungkin kita bisa menangkap sosok itu. Ganti.”
“Razox masuk, kau gila, ya? Bagaimana kalau kau yang tertangkap dan rencana yang sudah kau rancang ini gagal?”
“Diviana masuk, aku tidak bilang kalau aku akan masuk kesana, aku bilang kita akan masuk kesana bersama. Ganti.”
”...”
“...”
“Razox?"
“Kau masih disana? Razox?”
“Ya, aku masih disini.”
“Kita akan masuk ke perpustakaan bersama, aku tunggu kalian disini, Diviana keluar.”
Bzztt
“Tino masuk, aku ragu kalau kita bisa menemukan ‘Dewa Kematian’ jika kita masuk ke perpustakaan. Kemarin sepertinya sosok itu tidak tau kalau kita ada di ruangnya. Ganti.”
“Razox masuk, tidak mungkin dia tidak tau, dia juga mengetahui seisi sekolah melalui CCTV. Ganti.”
“Diviana masuk, jika ‘Dewa Kematian’ tau keadaan sekolah saat itu juga, harusnya hanya dengan masuk perpustakaan kemarin, kita langsung ditangkap. Ganti.”
“Tino masuk, tapi aku tetap ragu dengan hal itu.”
“Diviana masuk, baiklah kalau begitu, aku sendiri saja yang masuk, Tino, tolong gantikan aku di depan perpustakaan, dan Razox, tetap buka matamu. Diviana keluar.”
Bzztt
“Diviana! Tunggu!”
“...”
Bzztt
“Diviana masuk, aku sudah berada di dalam perpustakaan, disini keadaannya masih seperti kemarin. Diviana keluar.”
Bzztt
“Diviana! Cepat sembunyi! Aku melihat ada yang menuju perpustakaan.”
“Eh? Siapa?”
“Sepertinya ‘Dewa Kematian’, pakaiannya menunjukkan kalau itu dia.”
“Apa?! Dia langsung muncul?!”
“Razox, Tino, tolong kemari, tolong aku...”
Aku mendengar suara itu dengan nada ketakutan, dia benar-benar minta tolong.
Itu membuatku berdiri dari ranjang dan keluar dari UKS, berlari ke arah perpustakaan.
Sesampainya disana, aku melihat Tino sedang menguping pintu perpustakaan.
“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak masuk?”
“Aku menunggumu, aku tidak berani masuk sendirian.”
“Baiklah, sekarang aku sudah datang, ayo kita masuk.”
BIP BIP
Kami masuk ke dalam perpustakaan, dan keadaannya memang seperti yang Ivi beritahu, tidak ada yang berubah. Dan juga tempat ini sepi.
“Tino, coba kau hubungi Ivi.”
“Diviana, masuk, ini Tino, aku sudah bersama Razox. Ganti.”
“...”
“...”
Tidak ada balasan dari Ivi.
“Bagaimana ini? Bagaimana kalau ternyata dia sudah tertangkap?” Tino langsung terlihat panik.
Dia membuatku panik juga.
KRRIIEETT
Terdengar suara pintu terbuka dari ruang itu.
“Ada yang datang! Cepat sembunyi!” Tino langsung berlari ke meja terdekat untuk bersembunyi di kolongnya.
Aku tidak tau harus sembunyi dimana.
Aku hanya berlari ke pojokan dan berdiri di kegelapan yang tidak mendapat cahaya.
Ssshhhh....
“Huhhh... ruang lingkupku sepertinya terlalu kecil...”
Aku mendengar orang mengeluh datang dari asal suara pintu dari, itu adalah ‘Dewa Kematian’, dan juga...
... aku tidak mendengar suara langkah kakinya! Bahkan saat dia melangkah di tangga.
Sosok itu keluar dari perpustakaan, kamipun keluar dari tempat persembunyian kami.
“Itu tadi...” Tino kebingungan dengan apa yang ia lihat.
“Ba-bagaimana kau bisa bersembunyi di tempat terbuka seperti itu?”
“Aku... aku tidak tau, aku hanya diam saja tadi.”
“Uhh... lupakan hal itu, yang terpenting, kita masih selamat.”
Tino berjalan ke ruang khusus pegawai.
“Kalau menurutku, Ivi ada disini.”
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”
“Aku tidak melihat Ivi disini, pasti dia di dalam sana, di tempat kemarin mungkin.”
“Ayo, kita masuk.” Ajak Tino yang langsung turun tangga.
Akupun mengikutinya.
...
“Diviana!!! Kau disana??!!” Teriak Tino.
“Hei, jangan teriak-teriak, nanti suaramu terdengar olehnya.”
“Eh? Kedengaran oleh siapa? Ruang ini ‘kan kedap suara.”
“Hmmm... kau benar, aku lupa.”
“Iviii!!”
“Iviii!!” Akupun ikut berteriak.
“Iviii!!”
“...”
“Hoii!! Apa kau mendengar kami??!!”
__ADS_1
“...”
“Tino??!! Apa itu kau??!!”
Akhirnya ada yang membalas teriakan kami.
Dan suara itu semakin terdengar dekat karena dia berlari ke arah kami.
“Tino! Razox!”
Itu adalah Ivi, dia yang berlari ke arah kami dan menjawab teriakan panggilan kami. Aku dan Tino langsung lega ketika melihat Ivi.
“Ivi, syukurlah kau tidak apa.”
“Sudah kubilang dia disana.” Ucap Tino.
“Apa yang tadi ‘Dewa Kematian’ itu lakukan disini?” Tanya Tino.
“Ya... sepertinya tadi dia hanya istirahat sebentar disini.” Jawab Ivi.
“Dan juga, aku mendengar kalau CCTV sekolah ini tidak bersifat real-time.” Lanjutnya.
“Sudah kuduga...” Ucap Tino sambil memegang dagunya.
“Jadi, apa selanjutnya?” Tanyaku.
“’Dewa Kematian’ pasti akan kembali kesini, ini kesempatan kita untuk menangkap dia!” Ucap Ivi yang penuh dengan semangat.
Ivi langsung mengambil selimut di kasur yang ada di dekat kami.
“Kita bertiga dan dia sendiri, pasti dia mudah untuk kita tangkap.” Ucap Ivi.
“Kita akan menangkapnya dengan ini!”
“Eh? Apa maksudmu?”
“Mudah saja, kita akan menangkap dia saat dia masuk ke ruang ini, kita semua bersembunyi di balik pintu.” Ucap Ivi dengan percaya diri.
“Itu sangat mudah ditebak.” Ucapku.
“Itu seperti saat aku masih kecil dulu, aku suka melakukan hal itu dengan ayahku saat dia pulang kerja.” Ucap Tino.
“...”
“Uhh, maaf, bukan maksudku...” Tiba-tiba Tino tertunduk minta maaf padaku, padahal aku tidak memikirkan apa-apa.
“Eh? Ada apa?” Tanya Ivi.
“Tidak, tidak ada, ayo kita kesana sekarang.” Tino mengelak dan langsung berjalan.
“...” Ivi menatap Tino dengan tatapan bingung.
...
Kami berdiri di pintu agar ketika ‘Dewa Kematian’ masuk, kami langsung menangkapnya menggunakan selimut itu.
“Kita akan segera mengetahuinya...”
...
...
...
Sampai 3 jam lebih kami, hanya berdiri di pintu tanpa melakukan pergerakan.
“Lagi-lagi dia tidak datang.” Keluh Tino.
“Kenapa, ya?”
“...”
Kami semua terlihat bingung karena hal itu.
“Uh, aku baru ingat,” Ucap Ivi.
“kalian pasti saat masuk ke perpustakaan, kalian masuk begitu saja.”
Tino mengangguk pelan yang berarti iya.
“Pantas dia tidak datang kemari. Dia sudah tau kalau kita ada disini,”
“kalian tidak sadar kalau saat kalian di perpustakaan kalian ada di jangkauan kamera CCTV.” Ucap Ivi.
“Kita harus mengulang rencana. Aku akan memikirkan strategi baru.”
“Ayo kita pulang.” Ajak Ivi yang terdengar kecewa.
“Tunggu!” Aku menahan mereka.
Mereka berhenti dan melihatku.
“Tadi kau bilang kalau kau mendengar tentang kamera CCTV itu, kamera CCTV itu tidaklah real-time, atau mudahnya ‘Dewa Kematian’ mengetahui semua pergerakan yang terlihat di CCTV. Tapi kalau itu benar, kenapa dia bisa tau kalau kita sedang disini dan sengaja tidak datang? Apa kau tidak salah dengar, Ivi?”
“Uhhh.. sistem CCTV sekolah ini memang membingungkan, aku sama sekali tidak mengerti.” Keluh Tino.
“Sudahlah Razox, ayo kita pulang dan aku akan mengatur ulang rencana. Aku jadi bingung memikirkan kata-katamu.” Ucap Ivi.
“...”
“Baiklah...”
Kami keluar dari perpustakaan, aku merasa lesu, jalanku jadi berat, sepertinya aku kecewa, padahal yang harusnya kecewa itu Ivi.
“Diviana! Lihat itu!” Teriak Tino.
Tino menunjuk sesuatu, aku melihat apa yang ia tunjuk.
...
“Itu ‘Dewa Kematian’! Kejar!” Teriak Ivi yang langsung berlari.
Aku dan Tino langsung mengikuti Ivi untuk mengejar ‘Dewa Kematian’.
Sepertinya dia tau kalau dia sedang dikejar tanpa melihat ke belakang, itu terlihat kalau dia semakin cepat menjauh dari kami.
Kami mengejar ‘Dewa Kematian’ yang naik ke lantai atas melewati tangga.
Naik lagi.
Dan naik lagi.
“Eh?”
Kami berhenti saat ingin ke lantai 4.
“Ada apa ini?”
Tangga ke lantai 4 di tutup, bagaimana ‘Dewa Kematian’ itu bisa lewat?
“Tunggu dulu, selama aku sekolah disini, aku tidak pernah melihat kelas 2 & 3. Lantai 3 untuk kelas 1, lantai 2 untuk kelas 2, dan lantai 4 untuk kelas 3. Kemana mereka?” Tanya Tino.
“Aku tidak tau, sepertinya siswa kelas 2 lebih sering berdiam diri di kelas, lagipula kita pernah melihatnya saat mereka sedang membagikan brosur di hari pertama.” Jawabku.
“Dan tidak ada kelas 3, sekolah ini baru ada 2 tahun yang lalu. Kita adalah angkatan kedua dari sekolah ini.” Tambah Ivi.
“Ohh... aku baru tau itu. Mungkin karena memang tidak ada yang memakai ruang di lantai 4, makanya ditutup seperti ini.”
“Diam, ada yang datang.” Ucap Tino.
Aku juga mendengarnya, suara langkah kaki yang datang kemari.
“Itu pasti ‘Dewa Kematian’, Cepat sembunyi!” Ivi langsung berlari.
“Tapi ini ruang terbuka, sembunyi dimana? Dan tidak mungkin itu ‘Dewa Kematian’, tadi saat aku di perpustakaan, aku bahkan tidak mendengar suara langkah kakinya.”
“Razox!” Teriak Tino.
“Eh??!!”
Aku menengok ke arah suara Tino, dan dia sudah menghilang.
“Tino! Dimana kau?”
Ivi juga tidak ada, tidak ada orang lain di sekitarku.
“Tino, Ivi.”
Aku takut...
“...”
Di tembok samping ada cermin, secara tidak sengaja aku melihat ke cermin itu.
Aku melihat cermin itu, ada orang di belakangku.
“Itu...”
‘Dewa Kematian’
__ADS_1