
TINGTING
“Selamat pagi semua!”
“Sekarang hari ke-77! Sisa siswa saat ini adalah 200 dari 320! Pastikan kalian bisa bertahan hidup sampai waktu habis!”
“Semoga beruntung!”
TINGNONG
Aku dan Ivi berada di lantai 20, kami memeriksa setiap ruang yang kami lewati untuk mencari Tino dan yang lainnya.
“Eh?” Kami berhenti karena melihat seseorang di dalam ruang.
“Ivi? Razox?” Orang itu mencoba mengenali kami, dan dia benar.
“Lisa?”
“Razox! Ternyata kau masih hidup!” Teriak orang itu yang ternyata adalah Lisa.
“Hah?” Aku bingung dengan perkataannya.
“Ternyata itu benar kau!” Seru Ivi.
Aku dan Ivi langsung berlari ke arah Lisa, dia sedang mengawasi pintu masuk dari dalam.
“Dimana Cinta?” Tanya Ivi.
“...”
Aku melihat Tasla sedang memeluk Claudia dan menutupi wajahnya, mungkin itu agar Claudia tidak mengeluarkan suara apapun.
“Dia...” Lisa langsung murung mendengar kata itu.
“Dimana Tino?” Tanyaku juga.
“Dia bersama Tino.” Jawab Lisa dengan nada lemas.
“Eh?” Aku dan Ivi bingung mendengar itu dari Lisa.
“Apa maksudmu? Lalu kemana mereka?” Tanyaku.
Lisa menggelengkan kepala, dia tidak tau.
“...” Ivi langsung tertunduk.
“Ayo kita pergi.” Ajak Ivi.
“Kita harus menemukan yang lain.” Lanjutnya.
“Tunggu!” Aku menahan langkah Ivi dengan memegang tangannya.
“...” Ivi tidak meresponku bagaimanapun juga.
“Bagaimana dengan mereka? Mereka juga orang dekat dari gadis itu.”
“...”
Ivi terlihat sedang berpikir.
“Baiklah, mereka ikut dengan kita.” Ucap Ivi.
Tasla langsung menghampiri kami, tapi Claudia menahan-nahan Tasla.
“Eh?” Ivi kaget melihat keadaan Claudia.
“Claudia? Kau kenapa?” Ivi menghampiri Claudia.
“Uhh...”
__ADS_1
“Sepertinya aku tidak bisa menutupinya lagi.” Ucap Claudia.
“Apa kau hamil?” Tanya Ivi.
“I-iya.” Jawab Claudia dengan ragu.
“Kenapa bisa?” Tanya Ivi lagi.
“Aku berhubungan badan dengan Juniardo saat kita liburan kemarin.” Ucap Claudia sambil tertunduk.
“Umm... apa kau bisa berjalan?” Tanya Ivi.
“Uh, aku tidak bisa, dan maaf karena sudah menyembunyikan hal ini dan merepotkanmu.” Ucap Claudia, sepertinya dia sangat menyesal.
“Tidak apa, Claudia.”
“Jika nanti aku menemui Juniardo, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya ini.” Ucap Claudia.
“...” Aku dan Ivi langsung terdiam.
“Bagaimana bilangnya, ya?” Ivi bingung dan melihat ke arahku sampai dia berkeringat dingin.
“Aku juga tidak tau.” Balasku yang berkeringat dingin juga.
“...”
“Kalian kenapa? Ada sesuatu? Katakan saja.” Ucap Claudia.
“Um...” Ivi mulai berbicara.
“Anu... Claudia, sebenarnya Junia-“ Aku menutup mulut Ivi lagi agar tidak meneruskan perkataannya.
“Razox, biarkan dia berbicara.” Claudia melototiku dengan dahi yang mengkerut.
“Huft...” Aku pasrah dengannya.
Sepertinya harus aku yang berkata...
“...” Claudia terlihat biasa saja ketika mendengarnya.
“Respon macam apa itu?!”
“Tidak, dia memang pantas untuk mati.” Ucap Claudia yang tiba-tiba menjadi sinis.
“Eh??” Aku dan Ivi bingung maksud dari Claudia.
“Bagaimana kalau kau nanti melahirkan?” Tanya Ivi.
“Siapa yang akan jadi ayahnya?” Tanya Ivi lagi.
“Aku tidak tau, dan aku tidak akan melahirkan di tempat ini, karena umur kandunganku belum mendekati sembilan bulan.” Ucap Claudia.
“Atau aku akan melahirkan ketika sudah berada di luar tempat ini.” Tambahnya.
“Dan Razox,” Claudia tiba-tiba menunjukku.
“A-apa?”
“aku meminta kau untuk menjadi ayah untuk bayiku selama aku belum menemukan seorang ayah untuknya.” Ucapnya dengan santai.
“A-apa maksudmu?”
“Hmm... aku baru ingat kalau Claudia termasuk gadis yang populer.” Ucap Ivi.
“Bisa saja saat sudah keluar dari tempat ini nanti banyak yang mendekati lagi.” Tambahnya.
Aku tau siapa yang dia maksud.
“Ta-tapi siapa yang mau dengan wanita yang sedang mengandung?” Pikirku.
__ADS_1
PLAK
“Aduh!”
Ivi memukul kepalaku lagi.
“Jaga bicaramu!” Tegur Ivi.
“Iya iya.”
“...”
“Bagaimana kalau sekarang kita mencari Cinta?” Usul Ivi.
“Tidak, terima kasih.” Claudia menolaknya mentah-mentah.
“Aku akan menunggu sampai waktunya habis.” Tambahnya.
“Kenapa?” Tanya Ivi.
“Aku sudah punya dua kartu pelajar.” Claudia menunjukkan 2 kartu pelajar yang ia miliki.
“Eh, bagaimana kau bisa mendapatkan kartu pelajar orang lain?” Tanyaku yang heran melihatnya.
“Aku mengambilnya dari punya Rani.” Ucapnya dengan santai.
“Manusiawi darimananya? Dia akhirnya memakai cara itu juga.” Gumamku.
“Tapi apa yang lain juga sudah memiliki dua kartu pelajar?” Tanya Ivi sambil menunjuk Tasla.
“Tidak, sih.”
“Kalau begitu kita harus mencari sampai semua dapat dua kartu pelajar!”
“Baiklah, kita akan keluar.” Ucap Claudia.
“Tapi aku ikut kalau Razox bisa menjaga kami semua.” Tambahnya.
“Tentu saja! Aku akan melindungi kalian semua!” Ucapku dengan nada percaya diri.
“Dan menjadi ayah dari anakku.” Tambahnya lagi.
“Kalau itu...” Aku kebingungan dengan tawaran itu.
“Aku akan mencarikanmu juga ayah!” Seruku.
“Bilang saja kalau kau tidak mau menjadi ayah.” Sindir Ivi.
“Sama Claudia, lho.” Tambahnya dengan menyikutku.
“Tidak! Lagipula aku memang tidak tertarik dengan Claudia, walaupun dia memang cantik.”
“...” Ivi terdiam dan langsung menjauhiku.
“Kau homo, ya?”
“Tidak!!! Aku bilang kalau aku tidak tertarik dengan Claudia! Bukan tidak tertarik dengan wanita!” Teriakku yang kesal.
“Ahahaha, aku tau, kok.”
“...”
“Tapi aku tidak tau kapan kalian bisa keluar, yang pasti bukan sekarang.” Ucap Ivi.
“Ya, kalau begitu kita akan menetap di ruang ini sampai kalian siap.” Sambungku.
“Baiklah, terima kasih, Razox, Ivi.” Ucap Tasla
__ADS_1