
Hari Selasa telah tiba, kami mempresentasikan hasil kerja kami tentang peradaban manusia yang kami kerjakan pada saat itu.
“Dan begitulah terjadinya manusia berkumpul,”
“sekian presentasi dari kelompok kami, terima kasih atas perhatiannya!” Gadis itu menjelaskan materi kami secara padat dan jelas.
“...”
Suasana kelas tiba-tiba sepi.
PROK
Seseorang mulai bertepuk tangan.
PROK PROK PROK PROK
Diikuti tepuk tangan lainnya, kelas tiba-tiba penuh dengan suara tepuk tangan.
“Terima kasih, Cinta,”
“Kamu dan kelompokmu dipersilahkan untuk duduk.” Ucap sang guru.
...
Kami berjalan ke kursi kami masing-masing.
“Ternyata dia pintar juga ya...”
...
...
...
Saat jam istirahat tiba, kami makan bersama di kantin.
“Tadi presentasi yang hebat, teman-teman!” Seru Tino.
“Ya, ya, terserah kau.” Ucapku yang baru datang membawa makanan.
“Aku bangga sekali padamu, Cinta!” Seru Tino lagi, dia kelihatannya sedang sangat senang.
“Hmm... entah kenapa aku ingin berlibur...” Ucap Ivi sambil mengaduk-aduk makanannya.
“Huh? Aku tidak salah dengar? Jelas tidak mungkin, katamu teman laki-laki tidak boleh ke rumahmu, apa lagi kalau keluar kota bersama teman laki-laki? Pasti ibumu akan melarang.” Ucap Tino dengan ketus.
“Siapa yang mau keluar kota bersamamu? Aku hanya mengajak Cinta.” Balas Ivi dengan ketus juga.
“Umm... Ivi, itu ide yang bagus, bagaimana kalau kita berempat liburan keluar kota?” Usul gadis itu.
“Aku menolaknya!” Aku menyela percakapan mereka, padahal aku sedang makan.
“Kalian ingat? Gadis itu kehilangan langkahnya saat liburan, dan teman-temannya yang dulu tewas karena hal itu. Bagaimana kalau hal itu terjadi kepada kita?”
“Razox! Jangan begitu kepada Cinta, kasihan dia.” Ivi langsung memeluk gadis itu.
“Tidak mungkin hal itu terjadi kepada kita.” Ucap Tino.
“Jadi, Cinta, kemana kita mau liburan? Dan kapan?” Tanya Ivi dengan halus.
Padahal ekspresi gadis itu tidak berubah, dia tetap tersenyum.
“Bagaimana kalau ke pantai?” Usul Tino.
“Jangan ke pantai, Cinta tidak bisa berenang, kau tidak tau?” Ucap Ivi.
“Tidak apa, ke pantai tidak harus bisa berenang, banyak hal lain yang bisa kita lakukan disana.” Ucap gadis itu.
“Baiklah... kalau itu maumu...”
“Lalu kapan kita mau kesana?” Tanya Ivi.
“Liburan semester ini.” Jawab Tino.
“Eh? Liburan semester ini? Itu terlalu lama, sekarang saja masih minggu kedua!” Keluhku.
“Lalu mau kapan?”
“Minggu ini.”
“Kau gila?! Kita sedang banyak tugas yang harus diselesaikan minggu ini.” Keluh Tino.
“Huft, saranku tidak ada yang diterima, abaikan saja aku.” Keluhku.
“Bagaimana kalau liburan panjang terdekat?” Usul gadis itu.
“Iya, tapi kapan?”
“Kalau kulihat di kalender, memang tidak ada, tapi katanya akan ada libur seminggu nanti, kita bisa menggunakan waktu itu untuk libur.” Usul gadis itu.
“Hmm... kau tau dari siapa?”
“Ada di grup chat kelas kita, kamu tidak tau?”
“Iya kah? Aku tidak memperhatikannya.” Tino langsung mengambil handphone-nya di kantung celananya.
...
“Benar, ternyata minggu depan ada!”
“Kalau begitu kita kumpulkan dana dari sekarang.” Ucap Ivi.
“Wow, aku bukan anak orang kaya, aku tidak bisa mengumpulkan uang yang banyak dalam kurun waktu seminggu.” Keluhku.
“Jangan khawatir, Razox, aku yang akan menanggung biaya transportasi. Kita juga akan patungan untuk biaya penginapannya juga. Mungkin aku yang akan dominan, tapi tidak apa-apa.” Ucap gadis itu dengan lancar.
“...”
“Sebenarnya gadis ini siapa, sih?”
“Baiklah, aku setuju...”
“... kalau kau tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak, apapun untuk temanku.”
“...”
“Razox!”
Ada suara yang menyebut namaku.
Aku menengok ke asal suara itu.
Orang itu adalah Kevin, teman sekelasku.
“Razox!”
Dia sudah dekat dan sekarang dia berdiri di sebelahku.
“Apa??”
“Uhh... itu... apa kau masih membuka jasa konsultasimu? Aku ingin konsultasi denganmu nanti sore.” Ucapnya dengan sangat girang.
“Tidak.” Jawabku dengan singkat.
“Eh?? Kenapa?? Apa karena aku teman sekelasmu? Makanya kau tidak mau.”
“Tidak, bukan karena itu, hanya saja aku tidak mau.”
“Huh, baiklah, mungkin besok.”
“Sampai jumpa.” Kevin pergi sambil melambaikan tangannya padaku.
“...”
“Razox, kenapa kau tiba-tiba seperti itu?” Tanya Tino.
“Kau tidak melakukan konsultasi juga kemarin.” Lanjutnya.
“Ayo, Razox, kamu harus tetap semangat.” Gadis itu sepertinya menyemangatiku.
“Masa kau mau berhenti di awal-awal?” Tanya Diviana.
"Jangan-jangan karena kemarin...” Pikir Tino.
“Uhh... aku benar-benar tidak menyangka kalau konsultasiku akan jadi seperti ini...”
---
Kilas balik...
Razox dan Tino sedang memakan bekalnya di kelas saat waktu istirahat.
“Razox, nanti pulang sekolah kau ada kegiatan?” Tanya Tino.
“Sepertinya aku ada latihan ekskul nanti.” Jawab Razox.
__ADS_1
...
...
...
Mereka makan dengan tenangnya.
BIP BIP BIP
Beberapa orang masuk kelas secara bersamaan.
“Aku duluan!”
“Aku duluan!”
“Minggir!”
Terlihat gadis-gadis berebut masuk kelas, mereka sampai berhimpitan di pintu otomatis itu.
Satu dari mereka lolos dari himpitan itu dan langsung berlari...
... kearah Razox.
“Eh?”
“Apa kau yang bernama Razox?!” Tanya gadis itu.
“I-iya.” Razox mengangguk dengan pelan.
“Izinkan aku memperkenalkan diri! Aku Tasla dari X-4! Salam kenal!”
“I-iyaa...”
“Hei, hei, kenapa kau bisa ada disini?! Yang pertama mau kesini itu adalah aku, minggirlah.” Seorang gadis yang tadi terlihat berhimpitan mendorong Tasla.
“Hai, Razox.” Sapa gadis itu dengan halus.
“Namaku Rani, aku dari kelas yang sama dengan Claudia, tujuanku datang kesini adalah---”
“Hei! Minggir! Aku yang seharusnya duluan!” Seorang gadis yang lebih kecil dari Rani datang mendorong Rani dari hadapan Razox.
“Perkenalkan, aku Anggya dari, kau pasti yang namanya Razox.”
“...” Razox sekarang bingung.
Semua gadis itu langsung menghampiri Razox.
“A-apa yang sedang terjadi??” Tanya Razox yang kehilatannya takut.
“Tujuanku datang kemari adalah ingin berkonsultasi denganmu.” Ucap Rani.
“Rumor mengatakan kalau konsultasi denganmu akan langsung mendapat solusi.” Sambung Tasla.
“Kau tau Claudia? Dia minggu lalu curhat kepadaku tentang hubungannya. Aku sudah memberinya solusi, tapi solusiku tidak berhasil.” Lanjutnya.
“Karena itu, kami datang kesini! Aku ingin konsultasi denganmu, mungkin saja kau bisa mencarikanku jodoh!” Seru Rani.
“Aku juga begitu!” Ucap Anggya.
“...” Razox terdiam menganga dengan sendok di depan mulutnya.
Tino melihat Razox dan mencoba mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
“Hei, hei, tidakkah kalian melihat kami?” Tino langsung berdiri dari kursinya.
“Maaf ya, Razox sedang tidak ingin diganggu, kembalilah lain waktu.” Tino langsung berjalan ke arah mereka dan menuntun mereka untuk keluar.
“...” Razox masih terdiam dan menganga.
“Razox, mereka sudah pergi.” Ucap Tino sambil berjalan kembali ke kursinya.
Razox hanya mengangguk dan tetap menganga.
“Te-terima kasih...”
Akhir kilas balik.
---
“Yaa... aku tau itu alasannya kau tidak ingin membuka konsultasi sekarang.” Ucap Tino.
“Sudahlah, Razox, tidak perlu dipikirkan.” Ucap gadis itu.
“Uhh... aku tidak memikirkannya, hanya saja aku takut hal itu terjadi lagi...”
“...”
“Kalian tau? Tujuanku membuat jasa konsultasi ini adalah mencegah orang-orang di sekolah ini menjadi depresi dan mengakhiri hidupnya lewat ‘Pintu Depresi’,”
“tapi orang-orang salah kaprah karena melihat solusi yang kuberikan kepada Claudia membuat hubungannya lebih baik.”
“Padahal aku bukan biro jodoh.”
“Aku memberi solusi itu asal, padahal aku sama sekali tidak mengerti cara hubungan seperti bekerja.”
BUK
Aku kesal dan memukul meja.
“AAARRRGGHH!!! Kenapa hal ini terjadi kepadaku???!!!”
Aku berteriak di kantin sampai orang-orang melihatku dengan kebingungan.
“Dia bukannya yang buka jasa konsultasi di sekolah ini? Masa sih dia sendiri stres?” Bisik seseorang yang terlalu keras, sampai aku bisa mendengarnya.
“Uhh...”
“Tolong panggilkan Kevin.” Ucapku.
“Huh?” Tino bingung mendengar permintaanku.
“Kevin!!!” Teriak Tino.
Kevin yang masih berada di kantin dan sedang makan, menengok ke arah Tino dan menghampirinya.
“Adwa apwa?” Tanya Kevin dengan mulutnya masih penuh dengan makanan.
“Baiklah, kau boleh konsultasi denganku hari ini.” Ucapku dengan nada lesu.
“Eh?!” Semuanya langsung kaget mendengar perkataanku.
“Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya.”
“Bwoleh.”
“Kau ingin berkonsultasi tentang apa?”
“...”
Sebelum menjawab pertanyaanku, Kevin mengunyah makanan di mulutnya dan menelannya, kelihatannya jawabannya akan panjang.
“Jadi ini tentang persahabatanku, persahabatanku baik-baik saja sejak kemarin—”
“Berhenti disitu.” Aku menyela perkataannya yang belum selesai.
Sudah kuduga, itu akan panjang.
“Baiklah, aku menerimanya, temui aku sepulang sekolah nanti.”
“Kita ‘kan sekelas, jelas aku langsung menemuimu.”
“Oh, aku lupa soal itu.”
“Terima kasih, Razox.”
Kevin langsung pergi meninggalkan kami begitu saja, dia tidak melanjutkan makannya.
“Hei, teman-teman, tadi ‘kan kita sedang membicarakan rencana liburan kita.” Sela Ivi.
“Lanjutin dong!”
“...”
“Baiklah, sampai mana tadi?” Tanya Tino.
“...”
Semuanya mengingat-ingat sambil melihat ke atas.
“Oh ya!” Gadis itu berseru.
“Aku menganggung semua biaya transportasi, kalian tinggal patungan untuk biaya penginapan.”
“Hmm... memangnya kita mau naik apa?” Tanya Tino.
“Mobil, aku akan meminta pamanku untuk meminjamkan mobilnya.” Jawab gadis itu.
__ADS_1
“Mobil? Siapa yang mengemudi? Aku tidak bisa mengendarai mobil.”
“Pamanku.”
“Eh? Apa tidak merepotkan?” Ivi terlihat ragu.
“Tenang saja, pamanku orangnya sangat baik kok.”
“Baiklah, nanti akan kucari tempat penginapan yang punya pemandangan bagus.” Ucap Tino.
TING TING
Bel berbunyi, menandakan jam istirahat sudah berakhir, kami kembali ke kelas.
---
Kami belajar seperti biasa sampai jam pulang sekolah tiba.
TING TING
“Aku akan menunggumu di halte seperti biasa.” Ucap Tino.
Tino meninggalkan kelas bersama yang lainnya.
“...”
Aku sendirian di kelas, katanya Kevin langsung menemuiku disini, mana dia?
BIP
“Razox!”
Itu dia.
“Maaf, tadi aku ke toilet.”
Kevin langsung berjalan ke arahku.
“Aku langsung mulai ya...”
“Tunggu,”
“bisakah aku mendengarkan ceritamu di luar saja? Aku sedikit bosan di kelas ini.”
“Tentu saja.”
...
Kami keluar kelas dan ke taman sekolah.
“Nah, Disini sepertinya lebih baik.”
Kami duduk di bangku yang kosong di taman sekolah.
“Baiklah, jadi seperti ini...”
Kevin mulai bercerita, semoga saja aku tertarik untuk menyelesaikan masalahnya.
“Sahabatku...”
“... menghianatiku.”
“Hmm... kenapa bisa?”
“Dia merebut gebetanku.”
Aku ingin pulang.
“Jadi, kemarin aku nge-stalk akun media sosial cewe incaranku, aku scroll ke bawah. Dan aku melihat sahabatku di salah satu fotonya...”
Tanpa kusuruh saja, dia meneruskan ceritanya, walaupun aku sudah memasang wajah tak tertarik.
“... aku melihat foto kedua tangan yang berbeda saling berpegangan! Dan caption-nya ada nama sahabatku! Jelas itu sahabatku!”
“...”
“Sejak beberapa hari yang lalu, aku tidak pernah melihat mereka berdekatan, bahkan aku ragu kalau mereka saling mengenal. Karena penasaran aku bertanya kepada sahabatku, dan dia menjawab kalau dia memang tidak kenal dengan doi.”
“...”
Saking bosannya, aku sampai menengok ke arah lain.
Kevin terus mengoceh walaupun aku tidak mendengarkannya, sepertinya dia tidak tau.
“...”
Tunggu dulu...
...
Aku melihat sesuatu, baru saja lewat, lebih tepatnya sesosok orang, dia tidak mengenakan seragam SMA Platinum, namun pakaiannya serba hitam.
“Kevin, berhenti sebentar.”
“Eh?”
Aku berdiri dan menghampiri sosok itu, dia begitu cepat berjalannya, sehingga aku kehilangannya, tapi aku terus mengejarnya, aku sepertinya familiar dengan sosok itu.
Ya, aku pernah melihatnya di rekaman CCTV, mungkinkah itu orang yang sama yang telah mencabut lakban saat itu?
Aku melihatnya masuk ke perpustakaan.
“Hah?”
Aku baru sadar, dia masuk tanpa kartu akses, kenapa bisa?
Aku mengikutinya masuk ke perpustakaan.
BIP
Ketika aku masuk ke perpustakaan, aku tidak melihat sosok itu, aku hanya melihat penjaga perpustakaan yang sedang merapihkan buku-bukunya.
“Hm? Apa yang ingin kau lakukan?” Tanya penjaga perpustakaan.
Aku bingung dengan situasi ini.
“...”
“Kenapa diam saja? Cepat pulang! Tempat ini akan tutup.”
“Uhh... baiklah.”
Aku langsung keluar dari perpustakaan.
“...”
Aku kembali ke Kevin sambil memikirkan hal itu.
“Darimana kau?” Tanya Kevin.
“Aku baru dari toilet.”
“Hah? Toilet pria ‘kan ada di sana, di sana itu toilet perempuan.” Ucap Kevin sambil menunjuk arahku datang.
“Eh?” Aku langsung bingung mendengarnya, dia sadar kalau aku berbohong.
“Ti-tidak, aku hanya memutar, agar lebih jauh.”
“Ohh begitu, kupikir kau tidak ingin mendengar ceritaku, makanya kau mengulur waktu.”
“Tidak! Bukan seperti itu maksudku!”
“Lalu untuk apa?”
“Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin memutar.”
“Lanjutkan ceritamu, sampai mana tadi?”
“Nah, begitu dong.”
“Bukannya aku meragukan persahabatan kami, hanya saja kenapa...”
Kevin melanjutkan ceritanya yang tidak penting itu, aku jelas tidak mendengarkannya, aku masih memikirkan tentang sosok itu, dan kenapa bisa langsung penjaga perpustakaan yang muncul saat aku masuk.
“Eh?!”
Aku baru sadar sesuatu.
Kalau perpustakaan itu akan tutup, kenapa dia tidak ikut keluar?
“Uhh..”
Mungkin saja tempat tinggalnya ada di dalam perpustakaan...
Mungkin saja...
__ADS_1