
Hari Minggu telah tiba, aku pergi ke mall sesuai perkataan Tino, berkumpul di air mancur yang ada disana.
“Hai, semua.”
Aku menyapa mereka dengan nafas yang tidak beraturan, wajah mereka menujukkan kalau mereka sudah tidak sabar, terutama Tino, kerutan di dahinya terlihat jelas. Tapi tidak dengan gadis itu, dia tetap tersenyum ramah.
“Razox, kemana saja kau?!” Tanya Tino sampai urat di lehernya terlihat jelas.
“Aku datang sesuai katamu, jam 2 siang.”
“Tapi ini sudah jam 4!! Kau terlambat 2 jam!”
“Maaf, tadi di jalan macet.”
“Jangan berbohong, rumahku lebih jauh dari rumahmu dari sini.”
“Uhh... baiklah, aku ketiduran.”
“Tino, ayo kita ke bioskop sekarang.” Ucap gadis itu.
“Eh?”
“Kami sudah membeli tiketnya, menunggumu cukup membosankan.” Ucap Tino menunjukkan tiket dan mereka berjalan.
“Ehh... kita mau nonton apa?”
“Film pilihan Cinta, dia ingin menonton ‘Be With You’.” Ucap Tino.
“Eh?!”
Aku merasakan hal buruk ketika mendengar judulnya.
“Genre-nya apa?”
“Romance.” Ucap gadis itu dengan nada senang.
“...”
“Aku tidak mau menonton film itu.”
“Eh?? Kenapa??” Tanya Tino yang menghentikan langkahnya.
“Padahal tiketnya sudah dibeli dan kau dibayari. Kenapa kau menolaknya?” Lanjutnya.
“Uhhh... aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan...”
“Lantas kau ingin apa selagi menunggu kita yang sedang menonton di dalam?” Tanya Diviana ketus.
“Aku bisa pulang! Ini juga bukan rencanaku.”
“Razox,” gadis itu menyebut namaku dengan nada yang pelan.
“kami sudah menunggumu lama disini, apa kau tidak menghargai usaha kami untuk menunggumu? Untuk apa kami menunggumu? Tino daritadi menghubungimu, tapi kamu tidak menjawab. Dia ingin kamu ikut menonton bersama.”
“Sekarang, ayo ikut menonton bersama.” Ajak gadis itu.
“...”
“Lagian, aku sudah mentraktirmu pakai uang jajanku sendiri.” Ucap Diviana.
“...”
“Ba-baiklah, aku ikut.”
Aku berjalan melewati mereka.
“Tapi ini bukan karenamu!” Ucapku menatap sinis Tino dan menunjuknya.
Aku sendiri bingung kenapa aku bisa patuh dengan perintahnya.
...
Kami akhirnya masuk ke bioskop dan menonton film yang mereka katakan, ‘Be With You’, gadis itu bilang itu adalah film yang sangat ingin dia tonton ketika film itu dirilis.
Aku benar-benar ikut karena aku ditraktir, dan tidak ingin mereka melakukan hal sia-sia untukku, dan ucapan gadis itu.
Di dalam bioskop, kami duduk di tengah-tengah, Aku duduk di paling pinggir mereka, Diviana di sebelahku, Tino dan gadis itu di sebelahnya lagi.
“Boooo...saaaaannnn....” Keluhku sambil membuang muka.
PLOK
Diviana menampar mulutku.
“Ssssttt... jangan berisik.”
“Razox, filmnya belum mulai.” Ucap Tino yang mendengarku.
Suaraku tadi terlalu keras, pantas saja aku sampai ditegur, tapi kenapa harus ditampar di mulut?
...
“Ohh... Jack, jangan tinggalkan aku, kumohon.”
“Iya, Rose, Aku tidak akan meninggalkanmu, ini hanya sementara, aku akan kembali.”
“Janji?”
“Janji.”
Kemudian mereka berdua berpelukan sangat erat dan dekat, sepertinya mereka cuiman. Harusnya aku tidak membuka mataku.
“...”
Aku mendengar suara menarik ingus yang berusaha keluar dari lubang hidung, sepertinya ada yang menahan tangis.
“...”
“Aku harus ke toilet.”
Aku berdiri dari kursiku, dan melihat orang yang menahan tangis itu orang di sebelahku, Diviana! Ditambah suara itu lebih keras dari gumamanku tadi.
Ahh... aku tidak peduli.
Aku keluar dari teater itu dan menuju toilet.
Lebih tepatnya aku langsung menuju bilik toilet dan menguncinya.
__ADS_1
“HOOOOOEEEEEKKKK!!!!”
“HOOOOEEEKKK!!!”
“Uhhh... aku tidak percaya kalau itu adalah menit pertama film itu dan Diviana sudah mau menangis? Masih ada 2 jam lagi, aku harus bisa menahannya.”
...
Aku kembali ke kursiku di dalam teater dengan mulutku ditutupi oleh tanganku sendiri.
...
...
...
2 jam berlalu, akihirnya aku berhasil menonton film itu, dengan tidur.
Kami keluar dari bioskop, Diviana dan gadis itu membicarakan tentang film tadi, Tino terlihat ingin ikut dalam percakapan, sedangkan aku, aku tidak tau apa-apa, aku tidur selama film berlangsung tadi, dan tidak ada yang tau.
“Aku tidak percaya kalau Rose mati karena penyakit kronis.”
“Tapi setidaknya Jack sempat menghampirinya walau mereka beda kota.”
“Iya juga, Rose terlihat bahagia ketika menghembuskan nafas terakhirnya karena bisa melihat Jack untuk terakhir kalinya.”
“Aku nangis pas melihat adegan itu tadi.”
“Aku juga, siapa yang kuat lihat momen kaya gitu?”
Aku...
“Razox, kalau kamu sedih di bagian mana? Tadi aku tidak mendengarmu menangis, menahan tangispun tidak.”
“Eh? Aku? Umm... tadi aku sempat menahan tangis...”
“Bagian mana? Aku tidak mendengarmu sama sekali, kau sama sekali tidak bergerak selama film berlangsung...” Ucap Ivi.
“Uhhh... itu... saat Jack dipukuli oleh debt collector karena hutangnya sudah menunggak 3 tahun. Aku sedih melihat bagian itu...”
“...”
“...”
“Kenapa diam?”
...
“Razox!!”
Seseorang yang bukan dari kami menyebut namaku, aku merasa dipanggil dan menengok ke arah sumber suara itu.
“Eh?”
“Kau...”
Itu adalah Juniardo, dia tidak sendiri, dia bersama dengan orang yang sepertinya kukenal juga, Claudia.
“Eh?!”
“Aku? Tentu saja aku baru selesai menonton film tadi bersama dia.” Ucap Juniardo sambil menunjuk Claudia.
“Kau sendiri ngapain disini? Menonton film itu?” Tanya balik Juniardo.
“Ya-ya... aku juga tadi menonton film itu,”
“bersama mereka.” Lanjutku sambil menunjuk teman-temanku.
Tunggu,
mereka tidak ada, kemana mereka?
“Umm... siapa?”
“Teman-temanku, yang tadi bersamaku.”
“Oh ya, aku melihatnya.”
“Sayang, apa kamu mengenalnya?” Tanya Claudia ke Juniardo dengan nada manja.
“Tentu saja, sayang, dia adalah Razox, orang yang membuat hubungan kita semakin baik.” Jawab Juniardo tersenyum.
“...”
Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
“Aku berkonsultasi dengannya agar hubungan kita membaik, dan ternyata benar, hubungan kita semakin erat.”
“...”
“Eh?! Yang benar?! Aku juga konsultasi dengan dia untuk memperbaiki hubungan kita!”
Mereka saling berbicara tentang apa yang sama sekali tidak kumengerti.
...
Kemudian berpelukan.
“Baiklah, aku harus ke toilet sekarang.”
Aku pergi meninggalkan mereka.
“HOOOEEEEKKK!!!”
Aku tidak tau kenapa aku muntah melihat kelakuan mereka berdua tadi.
Aku harus mencari yang lain, mereka pasti masih di mall ini.
“...”
BIP
“Eh?”
Sesuatu bergetar di kantung celanaku,
...
__ADS_1
Aku mengambilnya, ternyata itu handphone-ku, aku membawanya.
“Pesan dari Tino?”
Kau sudah selesai berbicaranya? Kami ada di restoran dekat bioskop, meja kami paling depan, kau datang saja kesana.
“Ternyata benar mereka pergi duluan...”
...
Aku pergi ke tempat yang Tino maksud, mereka langsung terlihat karena memang di meja depan, aku langsung duduk disana.
“Razox, pesan makanan dulu, gih.” Ucap Ivi yang memberikan selembar uang berwarna biru.
Jelas aku menerimanya. Tapi aku tidak pergi memesan.
“Hei! Cepat pesan!”
“Nanti, aku belum terlalu lapar.”
“...”
“Razox, tadi 2 orang itu siapa?” Tanya Tino.
“Ohh.. itu, pelangganku saat konsultasi kemaren, masa kau tidak ingat? Kau ‘kan juga melihatnya.”
“Umm... sepertinya aku pernah melihatnya...”
“Hmm... tadi aku sempat melihat mereka berdua berterima kasih, mungkinkah itu karena konsultasimu? Kenapa mereka bisa berterima kasih? Padahal kau amatiran.” Keluh Ivi.
“Mungkin saja.”
“Sudahlah, itu adalah hal yang tidak kita duga, Razox bisa seperti itu ternyata.” Ucap gadis itu.
“Mungkin saja nanti kalian punya masalah dan konsultasi kepada Razox, masalah kalian bisa diselesaikan.” Lanjutnya.
Gadis itu benar-benar menduukungku.
“Cinta,” Tino akhirnya mengeluarkan suaranya.
“terima kasih karena menemaniku hari ini.” Lanjutnya dengan nada lembut.
“Sama-sama, Tino.”
“Cih, kau berterima kasih padanya, padahal aku juga menemaimu hari ini.” Keluhku.
“Hei-hei, kau seharusnya berterima kasih kepada Ivi, dia sudah mentraktirmu, Ivi.” Ucap Tino membela diri.
“Uhh... baik-baik, terima kasih atas semuanya...”
Ivi tidak merespon perkataanku, dia justru membuang muka.
“Teman-teman, aku tadi lihat di epilog cerita, ada teaser untuk sekuelnya, Be With You 2 akan tayang nanti.” Ucap gadis itu dengan ceria.
“Nanti kita nonton bersama lagi, ya”
“...”
“Tentu saja, Cinta.”
“Aku benar-benar senang...”
“Cinta, ibumu tadi bilang jangan pulang larut malam.” Ucap Ivi melihat jam tangannya.
“Oh ya, kita pulang sekarang, yuk.” Ajak gadis itu.
Kami beranjak dari meja itu, aku baru ingat kalau tadi aku tidak memesan makanan dan masih memegang uangnya, sepertinya tidak ada yang menyadarinya, kusimpan saja.
...
...
...
Kami mengantar gadis itu ke rumahnya tanpa masuk ke dalam rumahnya, dan disambut oleh ibunya.
BOING BOING
“Ehh....teman-teman, Cinta, terima kasih ya, sudah mau menemani Cinta jalan-jalan.”
“Hehe.. iya, tante.” Tino membuang mukanya, sepertinya hal itu selalu terjadi ketika dia berbicara dengan ibu gadis itu.
“Masuk dulu, ada makanan di dalam, tadi tante masak ayam panggang lho!”
Aku mengangguk dan mengambil langkah pertamaku.
“tidak usah, tante, kami mau langsung pamit.” Sela Tino.
“...”
Dia tidak melihat gerakanku!
“Ohh.. begitu...”
“Terima kasih ya...”
...
Kami pergi dari rumah gadis itu.
...
“Baiklah, sampai ketemu besok.” Ucap Ivi melambaikan tanganya.
“Sampai ketemu.”
Kami kemudian dan menuju rumah masing-masing.
...
...
...
__ADS_1