I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#16 - Lucy Bukan Nama Aslinya


__ADS_3

Keesokan harinya, aku dan Tino berdiri di halte depan sekolah sambil menunggu gadis itu datang.


“...”


“Sepertinya kita datang terlalu cepat.” Gerutu Tino.


“Ya, memang ini kebiasan kita.”


“...”


“Hei, Tino, apa kau tau? Kemarin aku bertemu dengan pelanggan yang cukup unik, dia datang tidak menggunakan identitas aslinya. Bagaimana menurutmu?”


“Oh, maksudmu cewek bertopeng itu? Iya, aku melihatnya.”


“Eh? Kau tau?”


“Tentu aku tau, saat aku ke luar kelas kemarin, aku melihat dia berjalan ke kelas.”


“...”


“Ngomong-ngomong tentang gadis itu, aku belum tau siapa nama aslinya.”


“Hah? Memang dia tidak memberi taumu?”


“Tidak, kemarin dia hanya memberitahuku nama samarannya. Dan juga aku tidak tau seperti apa dia tanpa topeng, apalagi topeng itu menutupi wajah dan rambutnya.”


“Kalau kelas?”


“Dia juga tidak memberitahu asal kelasnya.”


“Hmm... sudahlah, biarkan saja, dia melakukan itu untuk menjaga privasinya, kau harus bisa menghormati privasi orang, kau harusnya tau itu.”


“Sebenarnya memberitahuku informasi tentang pelangganmu itu juga tidak boleh.” Bisik Tino.


...


...


...


Gadis itu sudah bersama kami dan kami sedang berjalan ke sekolah.


“Hei, tentang liburan kita, kita jadi berangkat liburan akhir pekan ini, ‘kan?” Tanya gadis itu dengan nada yang semangat, sepertinya dia sangat senang.


“Tentu bisa, kita akan diskusikan lagi nanti.” Jawab Tino.


“Tidak perlu, aku sudah tanya kepada Ivi, kata dia juga memang akhir pekan ini.”


“Ohh... begitu...”


“...”


“Razox, kenapa kamu diam saja daritadi?”


“...”


“Ah?! Tidak! Aku tidak apa-apa, benar!”


“Bagaimana menurutmu, kita akan liburan akhir pekan ini?” Tanya Tino.


“Eh? Bukannya kita akan liburan akhir semester ini? Bagaimana rencana saat itu? Aku lupa.”


“Kau ini... kita akan liburan akhir pekan nanti. Bagaimana menurutmu?”


“Umm... akhir pekan ini ya... sepertinya aku tidak bisa ikut.”


“Eh? Kenapa?” Gadis itu terlihat heran dan melihat ke arahku.


“Umm... aku masih sayang nyawaku.” Ucapku dengan polos.


“Sayang nyawa?”


“Iya, masih banyak hal yang ingin kuselesaikan selagi aku masih hidup?”


“Eh??” Gadis itu tambah bingung dengan pernyataanku.


“Jangan bilang kalau kau masih berpikir kalau Cinta itu pembawa sial, ya?” Ucap Tino dengan nada dingin.


“Eh?! Aku tidak berpikiran seperti itu, kok!”


“... jadi kau berpikiran seperti itu ya tentangku, Razox.”


Wajah gadis itu langsung berubah menjadi murung dan tertunduk.


“Eh? Tidak! Tidak! Aku tidak berpikir seperti itu! Aku memang tidak bisa ikut minggu ini!”


“Kalau begitu, kenapa?” Tanya Tino.


Kenapa Tino tiba-tiba begini padaku?


“Aku... ummm... harus mengurus makanan! Minggu ini giliranku yang belanja ke pasar! Ya, aku harus ke pasar saat aku libur!”


“Jangan berbohong, di rumahmu banyak orang, tidak mungkin kalau kau yang disuruh, dan juga, kau tidak pernah bilang padaku ‘untuk membeli makanan ke pasar’ sebelumnya.”


“Eh??”


Aku harus mencari alasan lain...


“...”


“Ahahahaha...”


Tiba-tiba terdengar suara gadis itu tertawa kecil.


“Cinta, kau kenapa?” Tino langsung menghampiri gadis itu.


“Jangan dengarkan Razox, dia belum sadar.”


“...”


Aku disini.


Gadis itu langsung melihat ke arahku dan memasang senyum bahagia.


“Tidak apa-apa, kok, kalau kau masih berpikir seperti itu, semoga saja kau tidak berpikir tentangku seperti itu lagi.” Ucap gadis itu yang masih tersenyum.


“Ugghh...”


Apa ini? Aku justru merasa sakit, dan juga, tiba-tiba saja dia bersinar dan mengeluarkan cahaya.


“Hai, kawan-kawan!”


Tiba-tiba seseorang merangkulku sampai aku terjungkal ke bawah.


“Ivi? Kami baru membicarakan tentang liburan, kita jadi, ‘kan?”


“Eh, Cinta. Tentu saja kita jadi berangkat akhir pekan ini, persiapkan diri kalian.” Ucap Ivi melepas rangkulannya dan mengikuti kami berjalan.


“Oh ya, aku juga tadi dengar percakapan kalian, lho.” Tambah Ivi.


“Cinta jangan dengarkan perkataan Razox tadi ya.” Tambahnya lagi.


“Eh??!!”


...


...


...


BIP BIP BIP BIP


Ketika kami masuk kelas, langsung terlihat para perempuan sedang berkumpul. Mereka ada di meja depan.


“Wah, lihat ini.”


“Dia ganteng banget ya!”


Sepertinya Tino penasaran, dia langsung menghampiri mereka.


“Ada apa ini?”


“...”


Tino kembali dengan wajah kecewanya.


“Ada apa, Tino?” Tanya gadis itu.


“Tidak, mereka hanya sedang membahas idola mereka, kukira apa.” Jawab Tino dengan muka murungnya.


“Eh?”


Tino menyadari sesuatu dan melihat kerumunan itu lagi.


“Ada apa lagi?” Tanyaku dengan malas.


“Mereka sedang membicarakan idola mereka, ‘kan?”


“Iya, benar.”


“Kenapa ada laki-laki disitu? Dia terlihat feminim.”


“Terus kenapa? Jangan menilai orang karena kau baru melihatnya, bisa saja dia adalah orang yang sangat membantu untuk kehidupan manusia...”


“Eh? Aku tidak menilainya begitu!”


“Terserah kau...”


...


...


...


Waktu istirahat tiba, seperti biasa, Tino dan yang lainnya mengajakku untuk makan bersama di kantin, tapi aku menolaknya, dan bilang akan menyusul. Lagipula aku juga tidak membawa bekal hari ini.


“...”


Aku bingung harus apa.


BIP

__ADS_1


Seorang gadis baru saja masuk, semua orang di kelas langsung melihat ke arah gadis itu, begitu juga aku, melihat gadis itu berjalan dengan anggun.


“Wah, cantik sekali.”


“Siapa dia?”


“Hai, manis.”


Para lelaki langsung berkomentar ketika gadis itu melewatinya.


Tapi dia berjalan ke arah yang tidak mereka dan aku duga.


Ke arahku.


“Eh?”


Apa itu adalah Lucy yang tanpa topeng?


Tidak mungkin.


“Halo.”


“Halo.”


“Razox!”


“Eh? Apa?!”


Aku tidak sadar kalau aku dipanggil oleh gadis itu.


“Halo, perkenalkan, namaku Jennia Lulu.” Ucapnya sambil tersenyum.


“...”


“Aku adalah...”


“kau tau, Lucy, yang kemarin.”


“...”


“Aku dari kelas X-1. Sesuai janjiku kemarin, aku datang ke kelasmu hari ini.”


“...”


“Untuk berteman denganmu dan teman-temanmu.”


“...”


“Razox?”


“...”


“Razox!”


Lulu mencubit tanganku hingga aku tersadar, dia daritadi bicara denganku.


“Uhh... baiklah, kau akan kukenalkan dengan teman-temanku...”


“Benarkah? Senangnya!”


Uh, apa benar orang ini tidak punya teman? Sejak dia masuk kelas in, dia sudah menjadi pusat perhatian.


“Ikut aku.” Ajakku yang beranjak dari meja dan berjalan keluar.


...


“Huu!! Kau curang, Razox!”


“Dia pasti pakai santet!”


“Pelet paling!”


Sudah kuduga aku akan mendengar omongan seperti itu jika bersama gadis ini, lebih baik aku tidak menanggapinya.


...


Sesampainya di kantin, aku melihat Tino dan yang lainnya dan langsung menghampirinya.


“Eh? Razox? Siapa itu? Pacar barumu, ya?”


Sudah kuduga lagi.


“Teman-teman, perkenalkan ini adalah Luc... Lulu, dia adalah Lulu, dari kelas X-1.”


“Wah, dia cantik ya...” Ucap Ivi yang terkagum-kagum.


“Seisi kantin langsung melihat dia.” Ucap Tino.


Kenapa orang seperti ini bisa kesulitan mendapat teman?


“Lulu, ya... silahkan duduk.” Ucap Tino.


Lulu duduk dan aku baru sadar kalau hanya ada 3 kursi disitu yang artinya aku tidak kebagian duduk.


“Hei, aku mau duduk dimana?”


“Umm... ambil saja kursi di meja lain.” Ucap Tino dengan santai.


“Uh, yang benar saja?”


“Tidak, aku akan mengambil kursi.”


...


“Hmm??”


Aku melihat Lulu, dia sejak tadi tertunduk dan wajahnya memerah.


“Lulu... bagaimana kau bisa kenal dengan Razox?” Tanya Ivi.


“...”


Lulu tidak menjawabnya.


“Dia memang sangat pemalu, biar aku saja yang menjawab.” Ucapku dengan bangga.


“Tidak, aku mau mendengar dia berbicara.” Sela Ivi.


“Eh?”


“...”


Lulu semakin tertunduk dan menaikkan kedua bahunya.


Kupikir itu karena Ivi menuntutnya agar bicara.


“Ivi, jadi kita bertemu-“


“Diam, Razox, biarkan dia yang menjawab.”


“...”


“Lulu, ayo jawab.”


Ivi mengucapkan itu sambil tersenyum, itu bukan dia!


“Aku kenal dia kemarin!” Teriak Lulu yang akhirnya berbicara.


“...”


“...”


“...”


Kami terdiam ketika mendengar Lulu berbicara, bukan karena jawabannya yang mengejutkan, tapi karena suaranya tiba-tiba menjadi suara seperti om-om umur 35 tahun. Sementara itu siswa yang lain tetap melihatnya dengan tatapan terkagum-kagum.


“...”


“Lulu...”


Lulu langsung menutup mulutnya dan kembali tertunduk, sepertinya dia malu.


“Aku mengenal Razox kemarin, saat aku lewat depan kelasnya dan melihat papan tentang konsultasinya.” Ucap Lulu dengan suara normalnya lagi.


“...”


Tidak ada yang meneruskan percakapan itu, aku yakin mereka masih tidak percaya dengan suara Lulu yang seperti itu, termasuk aku.


“Ehem, jadi, Lulu...” Tino akhirnya mengeluarkan suara.


“Tunjukkan wajahmu, kau daritadi tertunduk, kami tidak bisa melihat wajahmu.” Ucap Tino.


“...”


Lulu akhirnya memperlihatkan wajahnya, dia memang terlihat cantik untuk kebanyakan orang, tapi tidak untukku.


“Ternyata benar, kau cantik.” Ucap Tino.


“Kenapa dia bisa sulit mendapatkan teman??” Aku masih heran dengan pertanyaanku sendiri.


“Hmph.”


“Eh? Kamu...” Gadis itu tiba-tiba bersuara juga dan menunjuk Lulu.


“Kau...” Lulu membalasnya dengan menunjuknya juga.


“Kalau tidak salah, kita pernah bertemu...”


“Kapan, ya??”


“...”


“...”


“Ah! Iya, saat hari pertama sekolah.”


---


Pagi itu, aku sedang bersama Ibuku menuju sekolah. Sepertinya aku terlambat, terasa dari kecepatan Ibuku mendorong kursi rodaku.


“Kenapa kita tidak berangkat lebih pagi lagi?!”

__ADS_1


Saat dekat halte sekolah, aku melihat seorang gadis yang turun dari angkot dan membayar ongkosnya dengan terburu-buru juga, dia pasti juga terlambat, itu terlihat dari roti yang harusnya untuk sarapan masih ia gigit.


“Permisi!” Ibuku langsung memanggil gadis itu.


“Ah!”


“I-iya.” Gadis itu merespon, tapi dia memunggungi Ibuku.


“Apa kamu ingin pergi ke sekolah itu?” Tanya Ibuku menunjuk arah sekolah, yang padahal gadis itu tidak melihatnya.


“I-iya.”


“Kalau begitu, apa aku boleh menitipkan anak tante? Agar sampai sekolah?”


“I-iya, aku tidak keberatan.” Ucap gadis itu.


Aku yakin dia menerima saja, padahal dia sama sekali tidak melihat kemari.


“Kalau begitu tante titip anak tante,”


“tante pergi dulu!” Ibuku langsung pergi meninggalkan kami.


“Kompor lupa dimatiin!” Tambahnya.


“...”


Gadis itu tidak berbicara dan langsung memegang kursi rodaku, lalu mendorongnya ke arah sekolah.


Sesampainya kami di depan gerbang sekolah, terlihat beberapa siswa lain yang juga sedang berdiri disana, kalau menurut perkiraanku, mereka juga terlambat dan tidak diperbolehkan masuk oleh siswa yang sepertinya adalah kakak kelas.


Gadis itu berdiri diam di sampingku, tanpa berbicara sepatah kata.


“Ummm... siapa namamu?” Tanyaku untuk menghilangkan kesunyian kami berdua.


“Lu... lu... Jennia... Jennia Lulu! Namaku Jennia Lulu.” Jawabnya sambil tertunduk.


“Ohh... namaku Cinta Felia, salam kenal, ya.” Ucapku yang memberikan jabat tanganku.


Lulu menjabat tanganku dengan gemetar, aku bisa merasakannya.


“Jadi, Lulu, kamu ada di kelas mana?”


“A-aku tidak tau...”


“Eh? Aku juga tidak. Coba lihat di kertas itu.” Aku menunjuk kertas yang menempel di tembok dekat gerbang, itu adalah daftar nama dan kelas yang akan dihuni.


Lulu dan aku menghampiri kertas itu dan mencari nama kami.


“Ini namamu, ada di kelas X-1.” Ucapku sambli menunjuk nama Lulu.


“Kalau ini ada namamu.” Ucap Lulu sambil menunjuk namaku di kelas X-5.


“Yaahh... kita gak sekelas dong...”


“Tidak apa-apa! Aku akan tetap mengantarmu sampai ke kelas!” Ucap Lulu yang tiba-tiba membusungkan dadanya.


“...”


“Baiklah...”


...


Sampai kami diperbolehkan masuk, dia benar-benar mengantarku sampai depan kelas, di lantai 3. Walaupun sudah ditawari bantuan oleh beberapa orang, dia tetap menolaknya.


“Terima kasih, Lulu.”


“Iya, sama-sama.”


“A-aku pergi ke kelasku dulu, sampai jumpa!” Lulu langsung berlari meninggalkanku di depan kelas.


“Sampai jumpa, semoga kita bertemu lagi!” Balasku.


“...” Lulu menghentikan langkahnya,


dan berbalik ke arahku.


“Iya, tentu saja.” Ucapnya dengan tersenyum.


“...” Aku juga membalasnya dengan senyum.


Setelah itu dia berjalan pergi lagi, dan aku masuk ke kelas.


...


---


“Ah... iya, aku ingat saat itu...” Ucap Lulu.


“Aku pikir aku orang yang pertama Cinta kenal di sekolah ini.” Gumam Tino.


“Hmm... aku bingung denganmu, Lulu, kau yang bilang kalau kau itu sangat pemalu, tapi kenapa kau saat itu berbicara dengan dia, dan juga sampai menolongnya untuk ke kelas?” Tanyaku.


“Oh itu, itu ka-karena masih punya hati nurani!” Jawab Lulu sambil memalingkan wajahnya.


“Dan juga, aku kasian juga dengan Cinta, ibunya langsung pergi tanpa menunggu aku menjawab.” Tambahnya.


“Jadi kau tidak ikhlas menolongnya?”


“Te-tentu saja ikhlas! Kau sendiri mendengar kesaksiannya, ‘kan?!”


“Ahahaha...” Tiba-tiba gadis itu tertawa.


“Eh? Kau kenapa, Cinta?” Tanya Ivi.


“Tidak apa-apa, lucu saja melihat mereka berdebat.”


“...” Aku dan Lulu langsung terdiam.


“...”


“Haha, kenapa wajahmu memerah gitu?” Tanya Tino menunjuk wajahku.


“...”


“Ahahaha...” Tiba-tiba mereka tertawa.


...


...


...


Sampai akhirnya jam pulang sekolah.


“Oi, kau mau pulang bareng?” Tanya Tino.


“Tunggu, aku lihat jadwalku dulu.”


“Sok sibuk.” Gumam Tino.


“Baiklah, ayo kita pulang, tidak ada yang ingin konsultasi hari ini.” Ucapku dengan nada senang.


Kami berjalan keluar bersama.


Ketika kami membuka pintu...


“Eh? Lulu?!”


Sudah ada Lulu yang menunggu di depan pintu kelas. Membuat Tino kaget dan hampir jatuh tersungkur.


“Apa yang kau lakukan disini? Ini sudah jam pulang sekolah.”


“Ma-ma-ma...” Lulu sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


“Ma?” Aku berpikir apa lanjutannya.


“Makan?” Aku mencoba menebaknya.


“Ma-ma-ma-ma...”


“Malu?”


“Ma-ma-ma-ma...”


“Mati?”


“Ma-ma-ma-ma...”


“Aku menyerah, kau mau bilang apa?”


“Maukah kau pulang bersamaku?!”


“Eh?!”


“Tentu saja mau, tapi apa kau bisa membantu kami?” Jawabku menunjuk Ivi dan gadis itu.


“Ya!” Lulu mengangguk lengkap dengan senyumnya.


Lulu langsung menghampiri Ivi dan mengambil alih kursi roda itu.


“Benar-benar...”


...


Saat kami sudah di jalan setapak, Lulu terus saja bercerita tentang dia mendapat teman baru.


“Wah, senangnya aku, bisa mendapat teman yang banyak hari ini, terima kasih, Razox.” Ucapnya sambil mendorong kursi roda.


“...”


“Lulu, sebenarnya kau bisa mendapat lebih banyak teman lagi...”


“Nanti...”


“...”


...


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2