I Want A Normal Life : No Romance

I Want A Normal Life : No Romance
#28


__ADS_3

“HEEAA!!!”


Mereka semakin mendekat dan menyerang kami, dengan sempatnya mereka menyerang kami dengan melempar batu kerikil, tapi tidak ada satupun yang mengenai kami.


“Ugh, kita harus pergi dari sini!”


Jarak mereka masih beberapa ruang lagi dari posisiku sekarang, namun lemparan batu kerikil mereka mulai mengenai kami.


“Kalau begitu amankan para perempuan!” Teriak Tino.


“Baiklah, kita akan bertemu di bawah!” Teriakku juga.


Para gadis berlari keluar ruang dan menjauhi kami menuju tangga.


Orang-orang itu semakin dekat.


“Bersiaplah, Tino!”


“...”


“...”


“!!!”


Mereka terus berlari...


... melewati kami.


“Apa?! Jangan bilang!” Tino kaget melihat mereka melewatinya.


Mereka terus berlari...


... ke arah para gadis.


“Cepat! Lindungi para gadis!” Teriakku.


Kami berdua langsung berlari mengejar mereka yang mengejar para gadis.


“HUP!”


Salah satu dari mereka berhasil menghantam salah satu perempuan, entah siapa itu, aku tidak tau karena gelap.


“Claudia!!” Teriak Tasla.


“Jangan menyentuhnya!” Aku sampai pada orang itu dan langsung menariknya.


BUK BUK


Terdengar kalau Tino sedang melawan yang lain.


Aku menjatuhkan orang itu dan langsung mengancam orang itu dengan tangan kosong untuk memukul wajahnya.


“Razox! Hentikan!” Tino menarik tanganku yang seharusnya kugunakan untuk memukul orang itu.


“Itu adalah Juniardo!” Ucap Tino.


“...”


Aku melihat wajah dari orang itu dengan seksama, dan benar saja kalau orang itu adalah Juniardo, dia adalah pelanggan pertamaku saat aku membuka jasa konsultasi. Aku kaget melihatnya, kenapa orang seperti Juniardo bisa melakukan ini, bahkan sampai dia menyakiti perempuan.


“Ke-kenapa kau...???”


“...”


Juniardo tidak menjawabnya, dia hanya menatapku dengan penuh kebencian.


“Kenapa?”


“...”


Dia masih tidak menjawab, dia tiba-tiba melihat ke kakinya,


DUAK


Dan menendangku hingga aku terjatuh.


“Hei!”


Dia langsung berdiri dan lari meninggalkan kami, gerombolannya juga sudah tidak ada, sepertinya mereka sudah lari sebelum Juniardo.


“Kenapa dia tidak memilih untuk bersama kita? Kenapa dia justru ingin membunuh?” Tanya Tino sambil memberi tangannya membantuku berdiri.


“Entahlah, aku juga tidak tau. Terakhir kita bertemu dengan dia sepertinya tidak ada masalah.” Jawabku dengan ragu.


“Tapi sepertinya tadi dia menusuk Claudia. Aku mendengar Tasla berteriak tadi.” Ucapku.


Kami berdua berjalan ke arah tangga, yang lain masih berada di pertengahan lantai.


“Eh?”


Aku melihat Claudia sedang merangkul gadis itu untuk berdiri, gadis itu sedang tidak berada di kursi rodanya. Tasla juga sedang merangkul gadis itu.


“...”


Claudia ada disana, Tasla juga. Itu artinya...


“Dimana Yuli?” Tanya Claudia.


“...” Aku bingung harus menjawab apa.


“Itu disana.” Ucap Tino dengan santai sambil menunjuk Yuli.

__ADS_1


Dia terkapar tidak sadar, mungkin karena hantaman tadi.


“Hantaman tadi sepertinya cukup keras, aku sampai bisa mendengar suara tabrakannya.” Ucap Tino.


“Mana?!” Claudia langsung melepaskan rangkulannya dan berlari meghampiri Yuli yang tidak sadar.


“...”


“Eh?” Claudia kaget, padahal dia masih 1 langkah dari Yuli.


“Ada apa? Tanya Tino.


“A-a-apa ini?” Tanya balik Claudia.


Wajahnya melihat ke bawah dan terlihat kalau dia ketakutan.


Aku menghampirinya karena itu.


“...”


“Eh?”


Aku juga menginjaknya, dan merasakannya.


Sesuatu yang basah.


“...”


Aku menyentuhnya dan menciumnya.


“Ini darah...”


“Apa?!”


“Yuli!!” Claudia langsung menghampiri Yuli dan membalikkan badannya, tidak peduli kalau dia sudah bersimbah darah.


“Yuli! Jawab aku!”


“...”


Tino mendekati Claudia dan memegang pundaknya.


“Maaf, Claudia, tapi sepertinya Yuli sudah...”


“TIDAK! TIDAK MUNGKIN!” Bantah Claudia menahan tangisnya, air matanya sudah membendung.


“DIA MASIH HIDUP!”


“YULI! JAWAB AKU!”


“Clau...” Tasla sambil merangkul gadis itu juga mendekati Claudia.


“Tasla...”


“...”


“Aku tidak bisa percaya, kenapa dia bisa mati???” Claudia memeluk tubuh Yuli yang sudah tidak bernyawa.


“Kupikir kita akan keluar hidup-hidup bersama...”


“...”


Akhirnya Claudia menerima kalau Yuli sudah mati...


“Yuli...” Claudia memeluk Yuli dengan erat, air matanya juga sudah keluar.


“Uh, dia ditusuk tepat di jantungnya.” Ucap Tino menunjuk luka tusuk di dada Yuli.


“...”


“Agar kematian Yuli tidak sia-sia,” Aku mulai berbicara.


“ambil kartu pelajarnya.”


“Eh?” Claudia tiba-tiba menyadari sesuatu.


“APA KAU TIDAK PUNYA OTAK?!” Claudia langsung berteriak ke arahku.


“KALAU KAU MENGAMBIL KARTU PELAJAR DARI ORANG YANG SUDAH MATI, ITU SAMA SAJA KAU MEMANFAATKAN KEMATIAN ORANG LAIN!”


“BAGAIMANA KALAU KAU YANG MATI?! DAN ADA ORANG YANG MEMANFAATKAN KEMATIANMU?!”


“...”


Aku salah.


“Aku tidak tau lagi harus bagaimana agar kita bisa mendapatkan kartu pelajar dan keluar dari tempat ini...” Ucapku pelan.


“...”


“Clau... maafkan aku,” Ucap Tasla memegang pundak Claudia.


“tapi aku juga tidak tau caranya mendapat kartu pelajar.” Lanjutnya dengan nada lesu.


“...” Claudia hanya tertunduk, dia terlihat kesal.


“Apa ada yang punya ide lebih baik?!” Tanya Claudia.


“...”


Semuanya tertunduk dan diam.

__ADS_1


Sepertinya mengambil kartu pelajar dari orang yang sudah mati adalah satu-satunya cara yang bisa kami gunakan.


“Uhh...”


“Claudia...” Aku melangkah mendekati Claudia.


“... aku berjanji, kalau aku sudah terpikirkan cara lain untuk mendapatkan kartu pelajar tanpa mengambil dari orang yang sudah mati, kita akan menggunakannya.” Lanjutku dengan nada meyakinkan.


“...”


Sepertinya Claudia akhirnya setuju.


Dia mengambil kartu pelajar milik Yuli yang ada di kantung roknya.


“Ini yang terakhir.” Ucap Claudia menunjukkan kartu pelajar Yuli.


...


...


...


Kami berjalan kembali dan turun ke lantai bawah.


“Hei, hei,” Tino berbicara untuk menghilangkan keheningan kami.


“tadi aku melihat Juniardo di antara gerombolan tadi.” Ucap Tino.


“!!!”


Claudia tiba-tiba mengepalkan tangannya.


“Aku bingung, dia tau kalau tadi itu kita, tapi dia tidak ingin bergabung,”


“...”


“melainkan ingin membunuh kita.”


“Dia juga yang membunuh Yuli tadi.”


“Tino...” Aku memegang pundak Tino untuk berhenti bicara, sepertinya dia membuat Claudia geram.


“Kemana dia?!” Tanya Claudia dengan suara keras.


“Eh?!” Tino kaget mendengarnya.


“A-aku tidak tau, dia tadi melarikan diri menjauhi kita.” Jawab Tino.


“Ughh...” Claudia terlihat sangat kesal.


“Ada apa memangnya?” Tanyaku dengan nada datar.


“Tidak ada.” Jawab Claudia dingin.


...


...


...


Kami beristirahat lagi di ruang yang kosong, makananya juga masih banyak, dan juga sekarang sudah malam. Untungnya disana tidak terjadi hal yang mengancam nyawa kami, jadi kami bersiap-siap untuk tidur.


“...”


Semuanya sudah tidak terdengar berbicara lagi, sepertinya yang lain sudah tidur, tapi tidak denganku.


“Kenapa Claudia bisa kesal dengan Juniardo ya???”


“Padahal mereka pasangan yang bahagia, kelihatannya...”


“Mereka terlihat saling membenci...”


“Itu wajar saja.” Tino menyeletuk.


“Eh?! Tino? Kau belum tidur?” Aku kaget mendengar suara Tino.


“Belum, sepertinya sebentar lagi.” Ucap Tino.


“Uh, maaf, tadi kau mau bilang apa?”


“Itu sudah hal wajar dalam hal berpacaran.” Ucap Tino.


“...”


“Biasanya perempuan sedang badmood tanpa alasan, selalu saja laki-laki yang disalahkan.” Lanjutnya.


“Lalu kenapa Claudia langsung terlihat kesal ketika nama Juniardo disebut? Padahal sebelumnya dia hanya mengeluh kesakitan...” Tanyaku.


“Entahlah,”


“Sudah, ya, aku mau tidur, aku sudah mengantuk, selamat malam.”


“...”


Suara Tino tidak terdengar lagi, dia benar-benar tidur.


Tapi aku masih bingung dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua.


Apa itu berarti jasa konsultasiku gagal?


Ah, sudahlah, aku akan mengerti nanti...

__ADS_1


 


 


__ADS_2