
Syifa datang kerumah Azam bersama kedua orang tuanya, karena Revan maupun Shinta ingin melihat langsung kondisi anak yang sudah ditabrak oleh Syifa.
Sebagai seorang ayah, Revan begitu berat hati mengantarkan anaknya apalagi menjadi seorang pelayan.
Ting..!! Ting....!!!
Syifa memencet bel rumah Azam, tidak butuh lama pelayan membukakan pintu. Namun Syifa dan kedua orang tuanya dilarang masuk sebelum mendapatkan izin Azam atau kedua orang tua Azam.
"Maaf nyonya, sebaiknya kalian tunggu di sini dulu, karena saya harus meminta izin kepada tuan,"
Syifa dan Revan mengangguk, mereka juga mengerti privasi disetiap rumah. Karena mereka sendiri juga memberikan aturan yang sama kepada semua pelayan mereka
Tak lama kemudian, Azam dan ibunya kedepan melihat Syifa dan kedua orang tuanya.
"Selamat kembali pengasuh cucuku!" Revan yang mendengar ucapan Anita merasa kesal, ia mengepalkan kedua tangannya. Namun Shinta menenangkan suaminya untuk tenang, ia pun tersenyum kepada wanita yang ada dihadapannya "Maaf nek, tapi anda salah. Anak saya bukan pengasuh, karena anak nenek sendiri yang datang dan meminta anak saya untuk kembali mengurus cucu nenek. Karena saya dan suami tidak tega dengan situasi cucu nenek yang lumpuh, sebab itu saya dan suami saya berbaik hati agar anak kesayangan kami membantu cucu nenek untuk dirawat,"
Anita yang mendengar dirinya dipanggil nenek merasa tidak terima "Beraninya anda memanggil saya nenek,"
__ADS_1
Shinta pun tersenyum sinis "Bukannya anda sudah memiliki cucu? Berarti nenek-nenek dong ya?" Shinta menatap Anita dengan tajam sambil tersenyum, ia tidak akan membiarkan anaknya dihina oleh orang lain. Azam yang tidak mau memperkeruh suasana meminta Syifa dan orang tua Syifa untuk masuk "Masuk lah!"
Shinta, Syifa dan Revan pun masuk. Anita yang masih cemberut pun berjalan bersama anaknya "Kurang ajar sekali ibunya itu! Ibu dan anak sama saja!"
"Ma, sudah lah! Mama yang meminta Azam untuk membawa wanita itu kembali. Jangan membuat kekacauan lagi ma, apalagi ada kedua orang tuanya. Wanita itu bukan berasal dari keluarga sembarangan ma, dan Azam yakin jika kedua orang tuanya tidak akan tinggal diam jika mama menghina anak mereka,"
Anita pun terdiam mengikuti ucapan anaknya, namun ia merasa kesal. Dan tidak terima dipanggil nenek, memang dirinya sudah mempunyai cucu namun Anita merasa jika dirinya masih muda dan cantik. Tidak pantas dipanggil nenek apalagi oleh wanita yang mungkin usianya tidak jauh beda darinya.
Azam mempersilahkan Syifa dan kedua orangtuanya untuk duduk "Duduk lah!"
Azam kaget mendengar ucapan Revan, begitu juga dengan Syifa dan Shinta. "Pa?"
Revan meminta anaknya untuk diam dan tidak ikut campur "Sayang, papa ini adalah orang tua kamu. Jadi, papa juga berhak atas masalah ini! Kamu sebaiknya diam dan menurut dengan papa, atau tidak sama sekali membantu anak itu,"
"Hei tuan, apa-apaan ini? Anak anda sudah membuat cucu saya lumpuh dan anda datang seakan tidak merasa berdosa dengan ucapan anda?" Anita kini mulai kesal, namun Azam tetap berusaha tenang.
Revan tersenyum "Maaf nyonya, saya akan mengatakan hal ini. Memang benar anak saya sudah menabrak cucu kalian, dan kalian sudah menjebloskannya kemarin ke penjara bukan? Lalu, kalian membebaskan anak saya dengan syarat anak saya menjadi pengasuh untuk korban. Dan anak saya sudah melakukan tugasnya dengan baik, dia tidak lari dari tanggungjawab. Dan sudah mengikuti semua prosedur mulai dari dibawa ke penjara lalu menjadi pengasuh. Kemarin, bukan anak saya yang pergi namun kalian yang mengusir anak saya sendiri dari sini. Itu tandanya, anak saya sudah tidak ada urusan apapun lagi kepada kalian! Karena bukan anak saya yang melalaikan tugasnya namun kalian yang meminta anak saya untuk pergi dan berhenti menjadi pengasuh bukan?"
__ADS_1
Azam terdiam, ia tahu jika Revan bukan lah orang biasa yang buta dengan hukum seperti itu "Lalu, apa yang anda inginkan?"
Revan tertawa kecil, ia sangat menyukai pertanyaan yang diberikan oleh Azam "Saya menyukai pertanyaan anda! Tadi, anda kerumah saya untuk meminta anak saya kembali setelah anda mengusirnya bukan? Dengan kebaikan hati anak saya, ia mau merawat anak itu kembali. Namun dengan satu syarat, anak saya hanya akan merawat anak kalian selama dua jam saja setiap harinya,"
"Apa? Mana bisa seperti itu!" Anita protes dengan kesal, namun Revan tidak perduli "Terserah, jika kalian tidak ingin. Kita bisa melanjutkan masalah ini kepengadilan!"
Mendengar pengadilan, membuat Anita takut. Azam juga terdiam, tidak mengatakan apapun. Karena memang disini kesalahannya yang sudah mengusir dan meminta Syifa untuk tidak menjadi pengasuh anaknya lagi. Itu tandanya, tanggungjawab Syifa sudah selesai
"Kalian tidak perlu takut, karena akan ada tim medis yang akan merawat anak itu. Kedatangan anak saya hanya memantau, saya rasa dua jam sudah lama bukan?"
Syifa tidak mengatakan apapun, ia tahu semua yang papanya lakukan itu semua demi kebaikannya.
"Kalian sangat licik! Kalian mau lari dari tanggungjawab?"
Kini Anita membentak mereka, Revan yang sepertinya terpancing emosi pun ditenangkan oleh istrinya Shinta. Ia pun maju untuk menjawab ucapan Anita
"Tidak dong nek! Darimana kami ingin melepaskan tanggungjawab? Kami akan memberikan penanganan medis yang terbaik untuk cucu nenek. Lagipula, anak kami juga bersedia untuk menjaga cucu nenek walau hanya dua jam. Lalu, kami lepas tanggung jawab dari mana? Atau jika nenek dan anak nenek bingung, kita membahas ini dipengadilan saja, bagaimana?"
__ADS_1