
Anita tidak berkutik lagi, tidak mengatakan apapun. Ia salah menilai keluarga Syifa, seharusnya Syifa dan keluarganya tunduk dengan aturan mereka namun semua itu berbalik.
"Maaf tuan, saya dan kedua orang tua saya tidak bermaksud untuk mencari ribut. Namun, saya rasa apa yang dikatakan oleh papa saya memang benar adanya, bukan saya yang memutuskan untuk pergi kemarin. Namun, anda dan kedua orang tua anda dengan terang-terangan mengusir dan mengatakan saya tidak perlu lagi menjadi pengasuh, saya harap anda dan keluarga anda bisa menyikapi dengan bijak,"
Azam tidak mempunyai pilihan lain, ia pun terpaksa setuju dengan permintaan kedua orang tua Syifa. Namun semua tidak cukup sampai disitu, ternyata Revan sudah meminta orang suruhannya untuk membuat surat perjanjian. Di mana isinya adalah hal yang sudah mereka sepakati bersama, Azam dan kedua orangtuanya pun menandatangani surat perjanjian itu.
"Saya ingin melihat anak itu,"
Azam meminta Syifa untuk menemui Nizam, Syifa dan kedua orang tuanya berjala ke kamar Nizam.
Setelah kepergian mereka, Anita protes kepada anaknya "Mereka sangat keterlaluan, seharusnya kita yang memaksa mereka mengatakan itu. Tapi sekarang, malah mereka yang menguasai kita!"
"Ma, sudah lah! Setidaknya dia mau menjadi pengasuh untuk Nizam. Aku sudah tidak perduli dengan apapun lagi ma, semuanya sudah terjadi,"
Anita menggerutu kesal, anaknya memiliki banyak kolega dan kekuasaan namun kenapa diam saat orang lain menginjak-injak harga diri mereka.
"Kamu itu ya enggak mikir dan kasihan sama anak!"
__ADS_1
Azam menoleh ke arah mamanya "Karena Azam menyayangi anak Azam, sebab itu Azam memintanya kembali ke sini ma! Jika tidak, bahkan Azam tidak mau melihat wajahnya itu!"
Anita terdiam, memilih pergi meninggalkan anaknya untuk masuk ke dalam kamar
********
Cekrek!
Syifa membuka pintu kamar Nizam, Nizam yang mendengar suara pintu terbuka menoleh ke arah pintu, terlihat senyuman manis yang terukir diwajahnya "Tante cantik," Nizam begitu antusias memanggil Syifa, Syifa dan kedua orang tuanya mendekat ke arah anak itu..
Shinta dan Revan merasa tidak tega melihat keadaan anak yang tidak berdaya di tempat tidur "Tante, mau peluk!"
Shinta dan Syifa terenyuh mendengar ucapan Nizam, mata Syifa langsung berkaca-kaca "Tante kan bisa mengelus rambut Nizam," sambil mempraktekkan ucapannya, keduanya saling tatap dengan penuh arti.
"Tante jangan menangis dan pergi lagi ya? Nizam enggak mau jauh dari Tante,"
Syifa mengangguk, ia mengecup kening Nizam dan mengatakan jika dirinya tidak akan meninggalkan Nizam lagi. Mata Nizam tertuju kepada Shinta dan Revan.
__ADS_1
Kedua orang tua itu pun tersenyum dan melambaikan tangan kearah Nizam, Nizam membalas senyuman itu
"Tante, siapa nenek dan kakek ini?"
"Ini adalah mama dan papanya Tante. Kesini, mau menjenguk kamu, soalnya kamu sangat ganteng dan mama dan papa Tante enggak sabar melihat kegantengan kamu,"
Syifa menggoda Nizam dengan manja "Hai nenek, hai kakek. Maaf ya kalau Nizam cuman buat tidur aja,"
"Enggak apa-apa sayang, kamu sangat ganteng ya. Benar apa yang dikatakan oleh Tante Syifa,"
"Terimakasih Nenek,"
Shinta menatap Syifa, melihat Syifa dan anak itu mengingatkan dirinya dulu kepada Syifa saat masih kecil. Shinta sangat sensitif jika mengingat dahulu.
Sedangkan Nizam begitu ramah dan sopan, ia senang sekali syifa kembali. Keduanya terlihat sangat dekat, bukan seperti pengasuh melainkan sebagai ibu dan anak.
Tak lama kemudian, Revan mengajak istirnya untuk pulang. Shinta mengangguk, dan meminta kepada Syifa untuk kembali pulang saat jam tugasnya sudah selesai. Syifa mengangguk, Shinta dan Revan pun berpamitan kepada anak itu.
__ADS_1
Bahkan, tanpa segan Shinta mencium Nizam dengan penuh kasih sayang. Ia merasa tidak tega, melihat anak yang begitu kecil, tidak berdaya di tempat itu. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Syifa tidak mau melepaskan tanggungjawabnya sampai anak itu benar-benar sembuh total.