
"Sudah lah, kamu jangan memarahi anak mu seperti itu Azam! Dia masih terlalu kecil!"
Azam pun terdiam, memilih untuk mengalah "Azam harus melakukan apa ma? Agar Nizam bisa mengerti, Nizam sayang. Papa akan memberikan kamu pengasuh yang lebih baik,"
"Enggak mau papa! Nizam mau Tante cantik!"
**********
Syifa dan Alana sudah pulang dari berbelanja, tentu saja hal itu membuat Alana merasa bahagia "Kakak terimakasih banyak, Alana sangat sayang kakak!" Alana memeluk kakaknya. Ia mengucapkan terimakasih banyak karena sudah mengajak dirinya pergi jalan-jalan. Syifa tersenyum membalas pelukan adiknya, Syifa sangat menyayangi adik-adiknya dan ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan adiknya
"Sama-sama Alana,"
Syifa pun mengirimkan pesan kepada Alan yang belum pulang kerumah
Alan, kamu dimana? Jangan lama-lama ya pulangnya adik kakak yang ganteng, tapi kalau masih main sama temen enggak apa-apa. Selamat bersenang-senang adik kesayangan yang paling ganteng ~Syifa
"Kak, kakak mengirimkan pesan WhatsApp kepada siapa? Kenapa senyum-senyum?" Alana penasaran, Syifa mengatakan jika ia memberikan pesan kepada Alan
__ADS_1
"Kakak tadi WhatsApp Alan, belum pulang dia. Mungkin masih main sama temannya,"
Alana cemberut "Lihat lah kak! Dia sudah dibebaskan masih saja tidak tahu waktu, sebentar lagi papa pulang. Papa pasti akan memarahinnya, lihat saja nanti!"
"Alana, kamu enggak boleh mengatakan itu!"
Alana terdiam, Syifa meminta adiknya untuk istirahat di kamar saja "Sebaiknya kamu istirahat di kamar! Kakak enggak mau kamu lelah!"
Alana mengangguk, menuruti permintaan kakaknya itu.
Syifa terduduk di sofa, ia merindukan Nizam. Syifa mengira jika tugasnya sudah selesai ia akan menjadi lebih baik, namun nyatanya tidak. Syifa menangis merindukan anak lelaki itu
"Tidak nak! Kamu berbohong sama mama! Mama tahu kamu menyembunyikan sesuatu kepada mama, bukan hanya hari ini namun beberapa Minggu belakangan ini, nak. Kamu menang tidak mengatakan apapun kepada mama, namun mama sebagai ibu merasakan jika ada sesuatu yang terjadi kepada anak mama,"
Syifa semakin senggugukan mendengar ucapan mamanya. Syifa langsung memeluk Syifa dengan erat "Maafin Syifa ma, maafin kakak yang selama ini menutupi semuanya. Seharusnya kakak mendengarkan ucapan mama dan papa,"
Shinta menenangkan anaknya itu, walau Syifa sudah dewasa namun ia menganggap Syifa seperti putri kecilnya yang masih kecil saat pertama kali mereka bertemu
__ADS_1
"Sayang, coba tenangkan diri kamu terlebih dahulu, ambil nafas perlahan lalu buang,"
Syifa mengikut saran mamanya, perlahan ia merasa lebih baik "Nah, sekarang cerita sama mama. Kamu kenapa sayang?"
"M-ma, mama ingat enggak waktu kakak bilang mau pergi kerumah teman? Yang papa suruh kakak bersama supir tapi kakak milih bawa mobil sendiri," Syifa menatap mata Shinta dengan sendu "Iya sayang, mama ingat,"
"Ka-kakak menabrak anak kecil ma,"
Shinta kaget mendengar ucapan anaknya "Iya ma, kakak enggak sengaja menabrak anak kecil yang usianya empat tahun dan sekarang dia mengalami lumpuh ma,"
"Apa? Lumpuh?" Syifa mengangguk "Lalu, bagaimana sayang? Bagaimana keadaan anak itu sekarang?"
Syifa pun memberitahu semuanya dan mengatakan jika keluarga korban meminta ia menjadi pengasuh anak itu sampai Nizam sembuh.
"Kakak menjadi pengasuh sebagai bentuk tanggungjawab kakak ma, tapi sekarang ayahnya mengusir kakak karena ia tidak suka kakak terlalu dekat dengan Nizam,"
"Sudah sayang, kamu jangan menangis lagi. Mama tahu apa yang kakak rasakan, tak heran jika kakak kemarin sering pulang telat dan ke kantor juga terlambat. Papa selalu cerita sama mama, dan mama mengatakan untuk tidak memarahi kakak. Nanti saat papa pulang, kita akan memberitahu papa ya sayang?"
__ADS_1
Syifa menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia takut jika papanya akan marah besar "Mama tolong jangan! Kakak takut ma, kakak takut papa akan marah sekali. Kakak enggak siap,"