
"Mama percaya nak dengan keyakinan kamu, Nizam akan segera sembuh dan bermain dengan kita semua di sini. Kamu jangan putus asa, semangati anak kamu terus ya?" Shinta memegang kedua pipi anaknya, ia berharap kesembuhan untuk cucunya. Syifa mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca
"Kamu harus kuat demi Nizam,"
"Ma, sakit banget ngelihat orang yang kita cintai enggak berdaya apalagi hanya karena kesalahan Syifa sendiri,"
Shinta menenangkan anaknya yang senggugukan "Percaya dengan kekuasaan Tuhan nak, ini semua bukan kesalahan kamu. Kamu tidak bersalah sepenuhnya, ini semua udah takdir!"
Syifa menoleh ke arah suaminya Azam yang tak bergeming, ia tahu Azam masih membencinya karena kesalahan yang ia perbuat. Syifa dan Azam langsung berpamitan pulang.
*****
"Ma, kakak selalu merasa bersalah karena kesalahannya. Tapi kakak juga sudah bertanggungjawab atas kesalahannya, kakak menikah dengan duda anak satu apalagi anak itu cacat!" Ujar Alana, ia juga sangat kasihan dengan kakaknya yang harus mengorbankan masa depan hanya karena ingin menebus kesalahan.
"Alana, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Jangan mengatakan hal yang akan menyakiti hati kak Azam mendengarnya,"
__ADS_1
"Alan, aku sangat menyayangi Nizam. Tetapi aku juga kasihan dengan kakak, kakak harus mengorbankan masa depannya hanya karena kesalahan yang ia tidak sengaja,"
"Mengapa kakak harus menderita hiks?"
"Nak, tidak ada yang menderita! Kakak juga menyayangi Nizam, dia melakukannya dengan senang hati. Kita jangan mencemaskan kakak,"
"Ma, Alana boleh bertanya?"
"Iya sayang,"
"Dua puluh enam tahun,"
"Umur mama sangat matang untuk menikah, namun kakak? Di usia yang masih sangat muda, umurnya baru dua puluh dua tahun harus menikah dengan duda anak satu, apalagi mengurus anak yang cacat. Itu tidak mudah untuk kakak!"
"Alana, kenapa kau mencampuri urusan orang dewasa? Itu pilihan kakak kita dan kita harus menghargai nya,"
__ADS_1
"Apa sih, enggak jelas banget kamu! Aku enggak bicara sama kamu, Alan!"
"Sudah kalian jangan bertengkar!" Shinta, Revan dan si kembar kaget mendengar suara Syifa, ternyata Syifa kembali masuk untuk mengambil ponselnya yang ketinggalan
Syifa mendekati adiknya "Alana, kakak tahu apa yang kamu rasakan! Kamu mengkhawatirkan kakak, dan kakak sangat senang sekali..tapi satu hal yang harus kamu tahu, kedewasaan seseorang enggak di pandang dari umur. Dan kakak bahagian merawat Nizam selama ini, kamu jangan khawatir dengan kakak lagi ya?"
Alana mengangguk dan meminta maaf "Maaf kak, tapi sungguh Alana hanya mencemaskan kakak. Apakah keluarga kak Azam menerima kakak setelah kesalahan yang sudah kakak perbuat. Mungkin jika salah satu keluarga Alana di sakiti atau di buat cacat seperti itu, Alana tidak akan memaafkan penyebab kecelakaan keluarga Alana,"
"Alana, kamu masih terlalu anak-anak untuk memahami segalanya. Lebih baik fokus dengan sekolah kamu dan berhenti melakukan hal yang kekanak-kanakan di usia kamu yang tidak kecil lagi!" Syifa mengatakan dengan tegas, terlihat ia tersinggung dengan ucapan adiknya..
Setelah mengatakan itu, Syifa segera kembali pulang. Entah mengapa Syifa marah dengan ucapan adiknya padahal apa yang adiknya katakan tidak salah.
Syifa masuk ke dalam mobil, dan membanting pintunya "Ada apa dengan mu? Mengapa kau terlihat kesal setelah mengambil ponsel?" Syifa hanya menggeleng "Aku tidak apa-apa,"
Ia kesal namun tidak bisa mengeluh tentang kelakuan adiknya. Walau Syifa tidak mengatakan apapun, namun Azam tahu jika ada yang tidak beres
__ADS_1