Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Diam


__ADS_3

Azam tahu, mamanya benar. Namun entah mengapa ia tidak bisa mendengarkan keluhan kasar tentang mantan istrinya itu "Ma, pahami lah. Sheira menikah di saat usianya masih muda. Dan dia memiliki banyak impian,"


"Tapi mama tidak memaksa kalian menikah! Kalian menikah karena keputusan kalian berdua, bukan karena paksaan! Seharusnya, wanita itu bisa berfikir sebelum memutuskan untuk menikah,"


"Ma, namanya Sheira!"


Syifa mendengar percakapan suami dan ibu mertuanya itu, hatinya sakit. Namun apa dayanya? Ia hanya bisa mendengar dan menghiraukan segalanya. Lagipula, tujuan Syifa hanya Nizam. Lalu, untuk apa Syifa merasa hancur dan sedih karena mendengar pembicaraan itu?


"Bunda kenapa?" Syifa tersadar saat Nizam bertanya kepadanya "Tidak sayang, bunda enggak kenapa-kenapa,"


Syifa berusaha untuk tersenyum namun Nizam tidak percaya "Jika Bunda enggak kenapa-kenapa lalu mengapa bunda terlihat sedih?"


Syifa tersenyum kepada Nizam "Siapa bilang Buda sedih? Bunda bahagia, iya bunda mengakui jika bunda sedikit sedih. Bunda sedih karena bunda kamu seperti ini sayang,"

__ADS_1


Nizam meminta Syifa untuk tidak menangis "Bunda, jangan menangis! Kenapa bunda menangis?"


Walau ia berusaha tegar namun air matanya tidak bisa dibohongi. Rumah tangganya hampir saja di ujung tanduk hanya karena masa lalu suaminya. Syifa bisa menerima jika ia dan Azam tidak saling mencintai namun mengapa masa lalu itu menjadi penghancur kebahagiaannya? Dan mengapa masa lalu Azam, akan merebut cintanya Syifa? Yaitu Nizam anak sambungnya.


Syifa tidak bisa menerima semua itu, Azam yang melihat Syifa menangis langsung masuk ke kamar sang anak "Kita harus bicara sekarang!"


"Bicara lah,"


Syifa pun meminta izin kepada anaknya terlebih dahulu "Sayang, bunda harus bicara sama papa Nizam dulu ya? Nizam tunggu sebentar oke?" Ia mengatakan dengan nada yang gemetar.


Syifa bangkit perlahan, menuju luar kamar. Keduanya berada di ruang kerja Azam "Dengar, semua yang terjadi aku minta maaf! Tidak seharusnya aku membentak mu di hadapan keluarga kita, aku tahu. Kau terluka karena itu, tapi aku minta kau jangan khawatir. Kita akan tetap kuat dan bertahan untuk Nizam, kita akan mempertahankan hak asuh Nizam. Kau jangan cemas!"


Syifa mengangguk "Aku percayakan segalanya kepada mu, tolong jangan biarkan siapapun mengambil anak ku, aku tidak siap hidup tanpa Nizam!"

__ADS_1


Azam memegang bahu Syifa, keduanya saling menatap "Kau jangan khawatir! Aku berjanji, aku berjanji akan menjaga keutuhan keluarga kita. Tapi, aku minta jangan pernah lagi mengatakan perpisahan. Kau tahu? Jika sekali lagi kau mengatakan itu aku tidak akan mencegah mu,"


"Iya aku tahu, karena kau tidak mencintai ku!"


"Jangan memulai lagi Syifa, kita berdua tidak saling mencinta. Hubungan kita hanya karena Nizam, maka bersikap lah sebagai orang tua Nizam! Jangan berlebihan!"


"Aku tidak berlebihan! Tapi, apa salahnya? Karena kita tidak saling cinta aku meminta perpisahan,"


"Jika begitu, jika kau memintanya lagi. Sebelum kau mengatakan itu, kau harus siap kehilangan Nizam! Karena kau tahu, dia adalah anak ku dan selamanya Nizam akan bersama ku. Jika kau ingin tetap bersama Nizam, tetap lah bersama! Aku harap kau mengerti maksud ku,"


Syifa mengangguk mengerti "Jangan khawatir! Aku memahami apa yang kau maksud. Demi Nizam aku akan mempertahankan rumah tangga tanpa cinta ini,"


Azam tersenyum menatap Syifa dan berlalu pergi, setelah Azam pergi wanita itu menangis memegang dadanya yang terasa sesak "Mengapa sesakit ini? Ia tidak mencintai Azam namun ucapan Azam mampu menyakiti hatinya,"

__ADS_1


__ADS_2