Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Serumit Dulu


__ADS_3

Anita setuju dengan ucapan anaknya. Sementara Syifa, masih tenggelam dengan kesedihan. Ia tahu, jika dirinya adalah penyebab Nizam lumpuh, apakah mereka bisa memenangkan hak asuh anak tersebut?


Anita datang, mendekati menantu dan cucunya "Nizam sayang, ada sesuatu hal yang mau nenek katakan sama Nizam,"


"Iya nenek?"


"Sebenarnya, bunda yang sudah menabrak Nizam hingga menyebabkan Nizam lumpuh,"


Syifa meneteskan air mata, ia pun meminta maaf kepada anak sambungnya itu "Maafkan Bunda, sayang! Bunda enggak pernah bermaksud membuat kamu seperti ini. Bunda salah, bunda juga enggak sanggup memberitahu kamu yang sebenarnya, maafkan bunda,"


Bukannya marah, Nizam malah tersenyum dan menghapus air mata Syifa "Bunda jangan menangis, Nizam enggak marah!"


Anita dan Azam kaget mendengar jawaban Nizam. Anak sekecil itu bahkan memiliki hati yang luas untuk memaafkan Syifa, sedangkan mereka berdua justru membenci Syifa selama ini.


"Nizam tahu kalau bunda enggak sengaja, bunda pasti sedih makanya bunda mau jadi bundanya Nizam,"


Syifa, Anita dan juga Azam terkejut mendengar ucapan Nizam. Mengapa ia bisa mengetahui semuanya padahal mereka tidak pernah membahas hal ini dihadapannya.


Nizam memang anak yang pintar dan cerdas "Sayang, sekali lagi maafin bunda ya nak? Tapi bunda janji sama kamu, bunda akan menjaga kamu dengan baik sampai kamu sembuh,"


"Tidak bunda! Bukan hanya sampai Nizam sembuh, tapi sampai selamanya. Jangan tinggalin Nizam ya bunda? Nizam sayang banget sama bunda,"

__ADS_1


"Bunda juga sayang banget sama Nizam,"


********


"Aku khawatir dengan Syifa, entah mengapa perasaan aku enggak enak, seakan sesuatu terjadi sama anak aku," Shinta mengatakan itu kepada suaminya, entah mengapa hatinya merasa gelisah memikirkan Syifa.


"Sayang, apa yang membuat kamu seperti ini?" Shinta menggelengkan kepalanya "Aku juga enggak tahu, tapi aku sangat khawatir dengannya,"


"Mama, papa!" Alana berlari, mendekati mama dan papanya. Duduk di samping Revan dengan manja "Iya sayang, kenapa?"


"Alana rindu sama keponakan Alana, ayo kita berkunjung kesana ma, pa?"


"Kamu kangen sama Nizam?"


"Enggak bisa! Keluarga kak Azam sangat terlihat tidak nyaman kalau kita ke sana," imbuh Alan yang duduk disebelah mamanya, karena memang ibunya Azam terlihat tidak nyaman


"Itu hanya perasaan mu saja! Semuanya kau katakan seperti itu dasar aneh!"


"Kau yang aneh!"


"Sudah, kalian jangan berantem terus dong! Udah pada besar, kenapa masih saja suka ribut?"

__ADS_1


"Tidak ribut ma, namun si pengacau ini!"


"Kau yang pengacau!"


"Alana, Alan hentikan! Kita akan kerumah kakak kalian, tapi papa minta di sana kalian menjaga sikap! Jangan berdebat seperti ini mengerti?"


"Iya papa, makasih! Alana sayang papa!"


"Papa juga sayang sama Alana, Alan dan juga kak Syifa,"


Alana memeluk papanya dengan manja, sementara Alan melihat dengan tatapan jengah "Anak manja!"


"Biarin! Syirik aja!"


"Sayang, sudah! Lebih baik kalian bersiap sana!"


Alan dan Alana bangkit, ingin pergi menuju kamar untuk bersiap.


"Sayang, kamu juga bersiap lah! Aku akan menunggu kalian di mobil,"


"Iya sayang,"

__ADS_1


Walau keduanya sudah tidak muda lagi, namun mereka masih saja mesra. Padahal, masa muda Shinta dan Revan sering berdebat seperti tikus dan kucing. Namun sekarang, keduanya terlihat harmonis dan tenang, jarang keduanya berdebat. Paling hanya masalah anak-anak, itu juga tidak serumit dahulu


__ADS_2