Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Kesal


__ADS_3

Revan dan istrinya sudah pulang kerumah. Alana memanggil mamanya dan mencari keberadaan sang kakak "Mama, papa. Di mana kak Syifa? Alana ingin mengajak kakak jalan-jalan lagi, Alana sangat bosan di rumah saja,"


Alana memang tidak pernah puas jika bermain di luar, karena kedua orang tuanya selalu saja melarang ia keluar jika sendirian. Harapannya hanya kepada Alan dan juga kakaknya Syifa, namun Alan seringkali menolak permintaannya.


"Kakak sedang ada urusan sayang,"


Revan menyadari anak lelakinya tidak ada, ia pun mempertanyakan keberadaan putranya. Alana dengan lantang memberitahu sang papa jika kembarannya itu pergi bermain di luar, mendengar itu Revan marah besar. Namun Shinta menenangkannya


"Sudah lah! Kamu jangan terlalu keras sama anak kita itu. Dia itu anak laki-laki, usianya sekarang wajar untuk bermain di luar. Lagipula, hanya sesekali saja dia pergi. Tidak setiap hari sayang, coba lah mengerti anak-anak kita!"


"Mama kenapa selalu membela Alan, kalau Alan boleh keluar kenapa Alana enggak boleh ma?" Alana bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, ia juga ingin merasakan kebebasan seperti saudaranya yang lain.


Revan dan Shinta pun memberikan pengertian kepada Alana "Alana sayang, kamu jangan sedih. Mama dan papa melakukan ini demi kebaikan kamu, kami enggak mau kamu kenapa-kenapa,"


Cekrek!


Terdengar suara pintu terbuka, dan langkah kaki seseorang yang mendekat yang diyakini mereka adalah Alan.


Benar saja, memang Alan yang baru pulang terlihat Alan sangat ketakutan "Alan, kamu dari mana?"


"I--itu ma, A-alan,"


"Alan kalau di tanya itu jawabnya yang jelas! Bukan terbata-bata seperti itu!" Revan menyentak anaknya, Shinta pun mendekati Alan dan membela putranya "Anak mama yang ganteng pasti capek kan? Udah sana masuk kamar, istirahat! Udah makan belum sayang? Kalau belum, makan dulu ya?"


Shinta membelai rambut Alan dengan lembut, penuh dengan kasih sayang seorang ibu "Ganteng mama jangan takut, kak Syifa sudah memberitahu mama sebelumnya. Dan tidak ada yang berhak memarahi gantengnya mama termaksud papa!"


Alan tersenyum memeluk mamanya "Terimakasih ma, Alan sayang sama mama,"


"Mama juga sangat menyayangi kamu," Alan pun masuk kedalam kamar, tidak menghiraukan papanya seperti yang dikatakan oleh mamanya sebelum itu.

__ADS_1


Revan mendekati istrinya "Kamu terlalu memanjakan dia!"


"Enggak! Aku enggak memanjakan anak aku, menurut aku Alan juga berhak memiliki kehidupan lain di luar, bukan hanya tenang keluarga ataupun tentang Alana. Aku juga khawatir dengan anak aku Alana, tapi bukan berarti kita merusak kebahagiaan anak kita yang lainnya kan?"


Shinta mengatakan jika dirinya tidak mau ribut, ia pun segera masuk kamar meninggalkan Revan dan Alana


Alana menangis "Papa, maafin Alana ya? Semua ini karena alana, coba saja Alana tidak,"


Belum sempat Alana melanjutkan ucapannya, Revan mendekati Alana dan memeluknya "Sudah jangan katakan itu lagi! Kamu enggak salah sayang!" Alana masih senggugukan di pelukan sang papa.


"Alan mengorbankan kehidupannya untuk Alana, Pa!"


"Iya, memang benar! Dan kau selalu merasa paling menderita dirumah ini!"


Shinta dan Revan kaget saat Alan datang dan mengatakan itu, Shinta hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca


"Sayang, tolong jangan bertengkar lagi! Kalian ini saudara kembar, sudah tugas kalian untuk saling menjaga satu sama lain nak,"


Revan terdiam, menghentikan niatnya untuk mengejar sang anak.


****************


"Terimakasih kau sudah mau kembali kerumah ini, dan menjaga anakku,"


Syifa pun tersenyum kepada Azam dan mengatakan jika dirinya akan menyelesaikan tanggungjawabnya sampai Nizam pulih.


"Bagus jika kau mengingat semua tanggung jawab mu!" Syifa mengangguk, ia hanya fokus kepada Nizam, terlihat jelas memang Syifa menjaga dan merawat Nizam begitu baik.


Hal itu membuat Azam sedikit bisa lebih baik memperlakukan Syifa, namun ia juga tidak bisa melupakan kejadian dimana Syifa menabrak anaknya hingga membuat sang anak menjadi lumpuh.

__ADS_1


"Nizam, kamu minum obat ya?"


Nizam dengan manis menuruti ucapan Syifa, padahal Nizam anak yang paling susah untuk makan, apalagi minum obat.


Nizam pun selesai minum obat, waktu juga sebentar lagi Syifa akan kembali pulang


Setelah Nizam minum obat, anak itu segera menutup matanya dengan terlelap.


"Tuan,sekarang Nizam sudah tertidur. Dan waktu saya juga sudah mau habis, sudah waktunya saya harus pulang,"


Mendengar itu membuat Azam naik darah, ia terlihat marah begitu enaknya Syifa mengatakan pulang seperti merasa tidak bersalah, ia pun menggenggam pergelangan tangan Syifa dengan keras "Apakah kau berfikir tugasmu selesai setelah itu?"


Syifa kebingungan, sekaligus kaget namun ia bersikap tenang dan menepis tangan lelaki kekar itu "Sepertinya anda melupakan perjanjian anda dengan kedua orang tua saya, baik lah akan saya ingatkan lagi! Anda sudah setuju jika saya di sini hanya dua jam saja! Dan sekarang waktu saya sudah habis. Nizam juga tertidur, lalu saya akan pergi sekarang permisi!"


Syifa pergi meninggalkan Azam dan Nizam didalam kamar "Sombong sekali wanita itu! Ia harus membayar kesombongannya!" Ujar Azam dengan sorotan mata yang mengerikan. Hanya Syifa yang tidak takut dengan tatapan Azam, biasanya wanita lain sudah mati kutu jika di berikan tatapan seperti itu


Namun Syifa, dengan berani melawan tanpa rasa takut sedikit pun.


Syifa berjalan keluar rumah Azam, ia tidak mengerti mengapa ada orang seperti Azam yang terkadang berubah-ubah sifat seperti itu.


"Dasar aneh! Padahal ia sudah setuju dengan permintaan papa tanpa adanya paksaan, bahkan dia yang menandatangani surat perjanjian itu namun sekarang dia yang marah. Dasar pria aneh! Pria menyebalkan! Mengapa ada pria sepertinya di dunia ini!" Gerutu Syifa sambil masuk kedalam mobil, rasanya ia bisa gila jika terus menerus berhadapan dengan lelaki aneh seperti itu.


"Mengapa ia harus ada dirumah? Seharusnya, dia pergi saja ke kantor bekerja. Dengan begitu aku bisa merawat Nizam dengan sepenuh hati!"


Walau sudah didalam mobil, dan supir melajukan mobilnya untuk kembali pulang kerumah orang tuanya namun Syifa masih saja menggerutu kesal "Apa coba maksudnya melotot seperti itu,.memangnya hanya dia saja yang bisa memberikan tatapan seperti itu? Aku juga bisa!"


Syifa memperagakan apa yang dilakukan Azam tadi, ia melihat wajahnya dari kaca mobil dekat supir.


"Paman, seram enggak aku begini?"

__ADS_1


Bukannya takut, supir itu justru tertawa "Haha!"


Syifa semakin kesal melihat supir itu tertawa. Syifa memukul supirnya dengan kuat, memang ia dan keluarganya sudah dekat dengan supir itu. Jadi, Syifa tidak canggung lagi dengannya. Mereka sudah seperti saudara


__ADS_2