
"Aku tidak seburuk itu, aku tidak akan menduakan pasangan ku. Walau hati ku masih mencintainya, dan aku berharap kita akan segera saling mencintai," ucapan Azam tentu membuat Syifa menjadi salah tingkah.
Apa yang ia katakan? Apakah dia berharap kami akan bersatu selamanya dan saling mencintai? ~batin Syifa
"Aku sangat menghargai hubungan ini, jangan merasa khawatir! Lagipula, Nizam masih sangat membutuhkan mu," Syifa terdiam, bagaimana jika Sheira setiap hari mengejar mereka?
Rasanya Syifa ingin bercerita tentang keluh kesahnya kepada sang mama, namun Syifa takut itu akan membuat Syifa dan keluarganya merasa khawatir.
Tidak! Sudah banyak yang terjadi di rumah, Alana saja sudah membuat mama, papa dan Alan tidak berdaya. Aku tidak mau masalah ku akan membuat mereka cemas ~batinnya
Syifa melepaskan pelukannya dari sang suami, yang harus ia lakukan sekarang adalah menjaga dinding pertahanan dirinya, jangan sampai ia jatuh cinta kepada Azam. Karena jika itu terjadi, maka dirinya akan semakin hancur.
"Sekarang, aku hanya fokus demi kesembuhan Nizam. Tidak apapun! Setelah itu, terserah kau mau melakukan apa dan bersama siapa. Tolong, jangan menganggu ku sekarang, aku membutuhkan waktu sekarang! Aku harap kau bisa mengerti dan memahami ku!"
"Apa yang kau katakan Syifa? Mengapa kau mengatakan itu? Apa kau ragu dengan ku!"
Syifa menggelengkan kepalanya dengan cepat "Aku tidak tahu, mungkin aku percaya dengan prinsip mu namun jika suatu saat Nizam sembuh, kau pasti akan melakukan sesuatu menurut kata hati mu, untuk apa mempertahankan pernikahan lagi jika Nizam sudah sembuh?" Syifa menatap Azam dengan tatapan sendu "Mungkin kau benar, karena kau sendiri tahu. Aku masih terlalu bodoh mencintai Sheira yang sudah jelas-jelas meninggalkan aku,"
Syifa hanya diam, entah berapa kali Azam mengatakan jika dia mencintai mantan istrinya itu, tidak lama kemudian ponsel Syifa berbunyi. Dengan cepat Azam bertanya siapa yang menghubungi istrinya "Siapa yang menghubungi mu? Apakah pacar mu itu?"
"Astaga, kau mulai lagi!" Syifa mendadak kesal, ia pun menunjukan nama di layar ponselnya "Ini panggilan video dari Daddy, mengapa kau menuduh ku tanpa sebab?"
"Bisa saja itu dia, kau mengganti namanya!"
"Aku tidak seburuk itu, tuan!" Syifa yang kesal mengangkat panggilan dari daddy-nya yang bernama Arvan. Suami dari ibu kandungnya sekarang
Panggilan Terhubung
"Hai Daddy, apa kabar? Syifa sangat merindukan Daddy, mami, Raisa, Khanza dan Tante. Bagaimana kabar kalian di sana?"
"Anak kesayangan Daddy, bahkan tidak membiarkan Daddy berbicara,"
"Hihihi, maaf Daddy. Syifa terlalu senang dan gembira di saat Daddy menghubungi Syifa,"
"Daddy mengira, tuan putri Daddy sudah melupakan Daddy. Bahkan tidak pernah menghubungi Daddy!"
Terlihat kedekatan Syifa dan ayah tirinya itu "Maaf Daddy, Syifa hanya takut menganggu Daddy. Setiap kali Syifa melakukan video call dengan mami. Daddy selalu beristirahat, kesehatan Daddy jauh lebih penting. Setidaknya, kakak masih bisa melihat dari jauh, mami selalu menunjukkan Daddy yang begitu menggemaskannya saat sedang tidur,"
Semenjak kecelakaan yang menimpa mami dan daddy-nya itu. Kesehatan Arvan sangat lemah, bahkan harus banyak istirahat yang total "Daddy tidak akan terganggu jika anak kesayangan Daddy menghubungi! Maaf ya nak, sekarang Daddy sangat jarang memperhatikan kamu. Bahkan di saat pernikahan kamu Daddy tidak bisa hadir, Daddy memang ayah yang buruk!"
"Tidak Daddy! Jangan mengatakan itu, Daddy adalah Daddy yang terbaik di dunia, Syifa memahami mengapa kalian tidak bisa hadir. Percayalah Syifa selalu menyayangi dan merindukan kalian!"
__ADS_1
"Nak, seandainya Daddy bisa seperti semula! Pasti semua ini tidak akan terjadi, keluarga kita tidak akan terpisahkan seperti ini,"
"Daddy! Jangan katakan itu, Daddy sudah berjuang sekeras ini. Lalu mengapa Daddy sekarang lemah dan sedih? Kenapa? Sekarang Daddy harus tersenyum, ayo Daddy! Daddy harus senyum, Syifa merindukan senyuman Daddy yang begitu manis,"
Arvan memasang senyumannya dari layar kamera, rasanya Syifa ingin menangis. Namun ia harus menahan kesedihannya dan bersikap tenang dan bahagia "Syifa sangat menyayangi Daddy, Syifa janji secepatnya Syifa akan berkunjung ke sana! Syifa akan menemani Daddy hingga sembuh, Syifa akan merawat Daddy! Dan tidak akan ada penolakan lagi untuk Daddy. Daddy mengerti?"
"Iya nak, pergi lah ke sini bersama suami dan anak mu, kami akan menunggu hingga hari itu tiba,"
"Percayalah Daddy! Pertemuan kita akan segera datang, Daddy jangan khawatir oke?"
Keduanya pun berpamitan dan saling memutuskan panggilan.
********
Syifa menangis tersedu-sedu ketika panggilan video itu telah berakhir, ia sedih melihat kondisi Arvan yang semakin lemah "Daddy orang baik, kenapa Daddy harus menderita seperti itu hiks?"
Azam melihat keceriaan sekaligus kelemahan istrinya secara bersamaan "Jangan menangis lagi! Minggu depan kita akan pergi ke Malaysia!"
Syifa menatap suaminya "B-benar kah?"
"Iya, Minggu depan aku ada tugas di sana. Kau dan Nizam bisa ikut, sekalian pengobatan Nizam di sana. Dengan begitu, Nizam akan bertemu dengan kakek, nenek dan tantenya di sana,"
Syifa tersenyum dan mengucapkan terimakasih banyak "Terimakasih banyak, kau sangat baik! Kau memahami kerinduan ku kepada mereka semua di sana,"
Syifa mengangguk, Azam begitu sangat pengertian kepada dirinya bahkan ia tidak mengerti mengapa Azam begitu baik kepadanya "Kau sangat baik sekali," Syifa kembali memeluk Azam, pria itu merasakan sesuatu yang sulit membuatnya mengerti dengan perasaannya
Mengapa di setiap kali dia memeluk ku? Perasaan ku menjadi seperti ini, tidak menentu seperti ini? ~batinnya
*********
Shinta mendapatkan pesan dari Arvan ia mengatakan jika dirinya sangat bahagia karena baru saja berbincang dengan Syifa walau hanya dari panggilan video. Shinta pun tersenyum haru membaca pesan itu "Aku bahagia, dan aku berharap kau bisa segera sembuh dan berkumpul bersama-sama lagi,"
Shinta menoleh saat suaminya memeluk dari belakang "Ada apa? Mengapa kau senyum-senyum sendiri?"
Shinta menunjukkan pesan dari Arvan "Lihat, dia sangat bahagia dan bersemangat saat berbicara dengan syifa walau hanya dari panggilan saja, aku merasa sangat senang dan bahagia sekali,"
"Aku berharap jika kesembuhannya bisa segera kembali, aku sangat berharap sekali!"
"Iya kau benar sekali, aku juga berharap seperti itu. Bagaimana pun Syifa dan Arvan sangat dekat. Dan aku yakin, Syifa akan merasa bahagia saat ia dekat dengan ibu kandungnya,"
Revan dan Shinta hanya bisa mendoakan yang terbaik, mereka juga merindukan kebersamaan dengan keluarga Caca dan Arvan
__ADS_1
"Aku sangat merindukan pertemuan kita seperti dahulu lagi, dan aku merindukan ibu dan ayah," Shinta menangis sedih mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada, Revan pun menghibur istrinya "Jangan menangis sayang! Siapa pun yang ada, suatu saat pasti akan tiada. Semua sudah ketentuan dari yang maha kuasa, kita tidak bisa marah atau pun menyalahkan keadaan,"
Shinta mengerti dengan semua takdir yang Tuhan berikan, namun ia sangat merindukan kedua orang tuanya
********
Keesokan paginya,
Azam dan Syifa bangun seperti biasa, sudah enam bulan mereka menikah namun keduanya belum menjalankan tugas sebagai suami istri yang sesungguhnya. Syifa mengikat rambutnya asal dengan tinggi "Dasar payah, kenapa aku kesiangan seperti ini?" Gumamnya dengan panik, sudah jam delapan dan ia baru bangun.
Dengan tergesa-gesa ia langsung menuju kamar anaknya "Maaf sayang, maaf! Bunda kesiangan," Syifa melihat anaknya yang sudah rapih, dan segar
Terdengar suara langkah kaki "Mama sudah memandikannya juga memberikannya makan, kamu jangan khawatir!" Syifa tersenyum dan mengucapkan terimakasih kasih banyak
"Terimakasih banyak ma, mama sudah mengurus Nizam. Saya tahu, Nizam adalah cucu mama tapi mama repot-repot melakukan ini di pagi hari hanya demi membantu wanita yang sudah membuat keluarga mama menderita,"
Anita menatap Syifa "Saya akui, awalnya saya sangat membenci kamu. Saya marah kepada kamu, kamu begitu lalai sehingga membuat cucu kesayangan saya menjadi seperti ini, tapi semakin hari mama menyadari cinta dan ketulusan kamu untuk Nizam. Mungkin, ini takdir yang sudah Tuhan rencanakan, jika waktu itu kamu tidak lalai mungkin kamu tidak pernah ada di kehidupan cucu saya. Dia tidak akan bisa merasakan cinta dan kasih sayang seorang ibu, kau tahu nak? Saya belum pernah menemukan wanita seperti Sheira, dia ibu yang sangat buruk. Saya mengira, jika ibu kandungnya saja tidak becus mengurusnya bagaimana dengan kamu? Gadis manja yang melakukan segalanya hanya karena menebus kesalahan?,"
Syifa menundukkan wajahnya ke bawah, ia tahu kesalahannya dan ia juga merasa belum menjadi ibu yang baik untuk Nizam "Nak, kamu membuktikan jika pandangan saya itu salah! Seorang wanita belum tentu bisa menjadi ibu, tapi walau kamu belum pernah menjadi seorang ibu kamu membuktikan cinta mu yang luar biasa,"
"Ma, saya hanya melakukan apa yang menurut saya benar saja. Saya menyayangi dan mencintai Nizam dengan tulus,"
"Saya tahu itu, tapi kamu berhak untuk bisa merasakan kebahagiaan, kamu berhak untuk bisa merasakan mengandung dan melahirkan," Anita memegang tangan menantunya, membuat Syifa syok dan langsung melepaskannya
"Apa maksud mama?"
"Nak, mama tahu pernikahan awal kamu dengan anak mama hanya karena demi kesembuhan Nizam dan untuk menebus kesalahan kamu, tapi nak. Sekarang ini kamu dan Azam sudah sah menjadi suami dan istri, jadi kalian berhak mendapatkan hak dan melaksanakan kewajiban. Kamu menantu mama, Azam anak mama dan mama juga berhak meminta cucu dari kalian,"
Syifa kaget bukan main, mengapa ibu mertuanya tiba-tiba saja meminta hal yang menurutnya konyol "Ma, apa yang mama katakan? Mama tahu jika saya dan tuan Azam tidak saling mencintai, hubungan kami hanya karena Nizam saja lalu bagaimana kam-kami bisa memiliki anak? Itu tidak mungkin, mama lihat Sheira juga datang ke sini, ia ingin kembali dengan anak dan mantan suaminya. Ia ingin mendapatkan keluarganya kembali dan aku akan pergi setelah kesembuhan Nizam,"
"Jangan mengatakan itu anakku! Pernikahan bukan lah sebuah permainan, di saat kita menginginkannya kita akan membelinya, dan di saat kita bosan. Kita akan membuangnya, dengar mama! Mungkin sekarang, kalian belum saling mencintai namun hubungan di antara kalian tidak terjadi masalah hingga saat ini lalu mengapa harus berpisah?"
Syifa terdiam, bahkan ia tidak tahu atas jawaban dari pertanyaan ibu mertuanya itu "Nak, apakah pernikahan ini tidak penting bagi mu?" Syifa mengatakan jika dirinya tidak memahami segalanya
"Entah lah ma, saya sendiri tidak bisa menjawabnya. Saya menikah di saat saya sendiri tidak pernah memikirkan tentang pernikahan, namun saya tetap menikah dan menjalaninya. Tidak ada cinta atau apapun dalam suami istri, namun juga tidak merasa sesak. Semuanya berjalan dengan nyaman dan aman, namun di saat Sheira datang. Saya merasa seakan kerajaan saya akan hancur, saya tidak mengerti dengan segalanya. Walau hampir saja hancur, namun saya tidak bisa melakukan apapun."
"Kamu hancur, karena kamu sudah nyaman dengan kerajaan kamu. Kamu sudah mencintainya tanpa kamu sadari, dan di saat kamu mengetahui kerajaan kamu hancur kamu merasa di ambang dilema dan ketakutan, ketakutan akan hancurnya istana itu,"
Syifa tidak membantah namun juga tidak membenarkan ucapan mertuanya "Nak, kamu harus bisa mempertahankan pernikahan kamu, apakah kamu mau merelakan suami dan anak kamu? Nak, Sheira telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan suami dan anaknya di masa lalu apakah kamu akan melakukan kesalahan yang sama?"
Syifa menatap ibu mertuanya dan mengatupkan kedua tangan "Maaf ma, Syifa tidak bisa menjawabnya sekarang namun yang pasti, selama Nizam belum sembuh, Syifa akan selalu menjadi istri Azam," Anita tersenyum, setidaknya masih ada harapan "Namun sebelum kepergian mama dan papa di dunia ini kamu seharusnya bisa memberikan kami cucu, nak!"
__ADS_1
Syifa spontan menoleh dan menatap ibu mertuanya "Mama tolong jangan katakan itu! Mama dan papa akan selalu bersama Nizam bahkan hingga ia menikah dan memiliki anak. Kalian akan melihat cicit kalian,"
"Nak, mama dan papa ingin namun kami tidak tahu sampai mana umur kami, jadi mama berharap kamu bisa mewujudkan keinginan mama. Mama tidak rela, melihat Azam kembali dengan wanita jahat itu! Mama tidak akan bisa tenang nak! Bahkan di saat mama tiada, mama tidak akan bisa tenang,"