
"Kamu jangan berburuk sangka dulu Rein, jika Syifa tidak bahagia mana mungkin dia menikah dengan pria itu,"
Reina pun memikirkan ucapan samudera "Kau benar, tidak mungkin kedua orang tua Syifa salah menikah kan dia dengan pria yang salah. Pasti Syifa bahagia dengan pernikahan itu,"
Samudera tersenyum, namun jauh dari lubuk hatinya ia menangis, merasakan hancur dan patah hati "Lalu bagaimana dengan patah hati mu Sam?"
"Aku tidak apa-apa Rein, bagiku kebahagiaan Syifa jauh lebih baik dari apapun. Kau jangan khawatir!"
Reina kasihan kepada samudera karena ia tahu bagaimana pria itu mencintai sahabatnya "Aku yakin Sam, suatu saat kau akan menemukan kebahagiaan mu!"
Samudera pun mengangguk, mengucapkan terimakasih banyak
********
Di saat makan malam, Azam tak terhenti menatap istrinya. Memang Syifa terlihat cantik dengan penampilannya yang tidak terlalu menor.
"Sebab itu, bocah ingusan itu mengejar istri ku," gerutunya tanpa sadar. Syifa, Anita dan juga ayah Azam pun mendengar "Nak, kamu mengatakan apa?" Tanya Anita, namun Azam menggelengkan kepalanya "Tidak! Azam sangat lapar sekali!"
"Ya sudah kamu makan yang banyak, istri mu hanya fokus dengan sekolahnya tanpa memikirkan mengurus kamu,"
Syifa mengepalkan kedua tangannya, menahan geram karena ucapan ibu mertuanya itu "Jangan terpancing Syifa!" Batinnya
Mereka pun makan malam dengan tenang, Syifa memilih untuk tetap tenang tidak menghiraukan ucapan pedas mertuanya.
Setelah selesai makan, Azam mengajak Syifa kembali ke kamar "Ayo kita ke kamar," Syifa bingung, tidak biasanya Azam bersikap lembut dan mengajak dirinya "Ayo!"
Syifa mengangguk dan tersenyum "Ayo!"
Anita yang melihat kedekatan menantu dan anaknya tersenyum senang "Akhirnya mereka akur seperti ini," walau Anita sedikit keras dengan menantunya itu namun ia berharap agar Syifa dan Azam bisa lebih dekat lagi.
********
Di kamar, Syifa merasa bingung dengan sikap Azam yang berubah-ubah "Mulai besok aku akan mengantar jemput kau di kampus,"
"Mengantar jemput?" tanya Syifa dengan wajah polosnya "Iya, apa kau keberatan? Kau bisa berbicara dengan kekasih mu di saat jam pelajaran bukan? Tapi, di saat sudah selesai mata kuliah mu kau milikku!"
Syifa tersenyum kecil "Terserah!" Ia memasang wajah datar seketika, membuat Azam semakin kacau tak menentu. Ia mendekat dan memegang pigi Syifa dengan kedua tangannya "Apa kau merasa keberatan? Kau merasa terganggu jika aku mengantar jemput?"
"Mungkin," Syifa sengaja mengganggu suaminya itu, karena sikap Azam begitu lucu
"Terserah kau merasa terganggu apa tidak. Keputusan ku sudah bulat, mulai besok aku yang akan menjadi supir pribadi mu,"
"Oke pak supir!" Jawab Syifa dengan santai "Apa kata mu?" Azam menatapnya dengan tatapan yang penuh arti "Iya pak supir!" Syifa melepaskan kedua tangan Azam dari tangannya
"Bukannya anda sendiri yang mengatakan menjadi supir pribadi ku? Yaudah, aku bilang pak supir. Apakah ada masalah?"
"Hei nona, kau menyinggung perasaan ku!"
"Lalu, aku harus mengatakan apa?"
"Lupakan saja!" Azam pun bergegas tidur, membelakangi Syifa dengan cemberut.
Xi-xi-xi!
Syifa tertawa kecil, ia merasa senang menganggu suaminya itu
"Dasar pria aneh! Katanya enggak perduli, katanya enggak mau mengekang katanya enggak suka, tapi mau menjadi supir pribadi," ujar Syifa dengan suara lantang, ia pun tidur di samping suaminya. Namun membelakangi Azam
"Dasar wanita sombong!"
"Pria aneh!"
"Kau wanita aneh!"
"Kau pria aneh dan menyebalkan!"
"Kau!"
__ADS_1
"Kau!"
Keduanya tidak mau kalah, dan berdebat tanpa melihat satu sama lain. Namun tersirat senyuman di wajah keduanya, merasa lucu dan menyenangkan. Namun juga sama-sama gengsi hingga akhirnya terlelap dalam tidur.
*********
Dua jam berlalu, Syifa pun terbangun dan beranjak duduk. Melihat Azam yang sudah terlelap "Dia sangat manis di saat tidur, namun di saat bangun. Entah lah! Aku tidak bisa membayangkan sifat anehnya itu!" Gumamnya perlahan
Ia ingin melihat keadaan Nizam di kamar, apakah Nizam terbangun karena haus? Atau pampersnya sudah penuh. Biasanya jam segini, Nizam sudah bocor
Syifa mengikat rambutnya asal, melihat anaknya di kamar.
Cekrek!
Perlahan ia membuka pintu kamar Azam agar anaknya itu tidak terbangun, Syifa mendekati Nizam. Benar saja, Pampers Nizam sudah pernah. Ia pun menggantikannya
Semenjak Nizam lumpuh karena kecelakaan, ia selalu memakai Pampers. Setiap hari Syifa berdoa untuk kesembuhan Nizam, bukan karena ia keberatan merawat Nizam namun karena ia ingin anaknya merasa senang karena bisa melakukan sesuatu dengan bebas dan tanpa bantuan orang lain.
"Bunda," Nizam terbangun, tentu saja ia akan terbangun. Selalu Nizam terbangun di saat Syifa menggantikan pampers-nya "Bunda kenapa enggak tidur? Kan bunda tidur sama papa di kamar papa,"
"Bunda udah tidur sayang, lalu kebangun. Ingat sama anak kesayangan bunda, pasti haus kan?"
Nizam mengangguk "Maaf ya bunda, karena aku bunda boboknya enggak nyenyak!"
"Hust! Anak ganteng kesayangan bunda enggak boleh bicara seperti itu ya? Bahkan, bunda akan merasa sedih kalau bunda tidur nyenyak tetapi anak kesayangan bunda merasa haus dan tidak nyaman karena bocor pampersnya,"
"Maafin Nizam bunda," Nizam menangis, segera Syifa menghapus air matanya "Anak bunda yang ganteng, jangan menangis sayang! Nanti papa, nenek dan kakek mengira bunda memukul Nizam lagi haha!" Syifa tertawa, membuat anaknya terhibur.
Syifa dan Nizam tidak sadar, jika Azam memperhatikan mereka dari depan pintu. Azam tersenyum karena ia tidak salah memilih ibu sambung untuk anaknya, jika ia menikah dengan wanita lain dan bukan Syifa. Nizam tidak akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian sebesar itu. Bahkan, ibu kandungnya Nizam juga tidak perduli dengannya.
"Kau memang wanita baik Syifa, kau menjadi ibu yang baik untuk anakku," batinnya.
"Bunda, Nizam mau bobok. Bunda sana bobok sama papa!"
Syifa mengatakan jika dirinya akan kembali tidur setelah Nizam kembali melanjutkan tidurnya. Tidak butuh waktu lima menit untuk Nizam kembali terlelap dalam tidurnya, setelah memastikan Nizam tidur dengan lelap Syifa mengecup kening anak sambungnya itu "Mimpi indah anak kesayangan bunda,"
Syifa melihat suaminya yang masih terlelap, ia pun membaringkan tubuh di atas tempat tidur. Memejamkan matanya, seketika Syifa mengingat Reina dan Samudera
Ia pun duduk "Tuan Azam tadi sudah datang ke kampus dan mengatakan segalanya kepada Sam dan Reina. Mereka pasti sedih, aku harus menghubungi mereka untuk memberikan penjelasan, aku juga tidak mau membuatnya merasa sedih dan patah hati,"
Mendengar itu, emosi Azam kembali memuncak. Namun ia menahan amarahnya "Lihat lah! Sudah larut malam seperti ini, ia memikirkan kekasihnya itu. Apa dia tidak menghargai keberadaan ku di sini? Ia bisa bertemu dengan kekasihnya besok di kampus," batin Azam
"Tetapi, ini sudah larut malam. Aku tidak enak menghubungi Sam, lebih baik berbicara besok saja di kampus, aku yakin dia akan mengerti segalanya,"
Wah, ternyata dia ingin berbicara berdua dengan kekasihnya itu dan menjelaskan segalanya! ~Azam
Azam semakin kesal setelah mendengar apa yang Syifa katakan, mengapa Syifa tidak bisa memahami perasaanya yang tidak suka melihat Syifa dekat dengan lelaki lain??
Sebegitu besar ternyata cintanya kepada kekasihnya itu daripada kepada aku suaminya. Sampai ia harus menjelaskan segalanya besok secara langsung! ~Azam mendumel di dalam hatinya.
Ingin rasanya ia protes namun percuma, Syifa tidak akan mengerti batinnya!
*******
Keesokan paginya, Syifa yang sudah selesai mengurus Nizam seperti biasanya pun bersiap-siap ke kampus karena hari ini ada ujian. Ia mengeringkan rambutnya yang panjang, tidak lupa menggunakan parfum kesukaannya itu sehingga satu ruangan kamar wangi semerbak.
Dia sudah bersiap untuk ketemu dengan kekasihnya, lihat saja caranya memakai parfum seperti mandi parfum saja~gumam Azam pelan
"Apa kau mengatakan sesuatu, tuan?"
"Syifa, hari ini aku tidak enak badan!" Syifa mengerti dan mengatakan jika dirinya akan naik taksi saja ke kampus "Tidak masalah tuan, saya bisa naik taksi online ke kampus. Kau istirahat saja yang total ya? Aku akan meminta bibi untuk menyiapkan sarapan untuk mu. Dan sebelum pergi aku akan membuatkan teh untuk mu,"
"Tidak usah!" Jawab Azam ketus, Syifa benar-benar tidak memahaminya. Ia bukan sakit beneran, itu hanya alasan saja agar Syifa tidak pergi ke kampus
"Kau memang istri yang payah, aku sakit. Seharusnya kau di sini merawat ku,"
"Maaf, tapi hari ini aku tidak bisa tuan. Tapi aku janji, akan pulang lebih awal oke?"
__ADS_1
"Iya. Kau sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihmu itu!"
Astaga, lelaki ini! ~batin Syifa namun ia tidak memiliki banyak waktu untuk berdebat
"Saya akan pergi, sampai jumpa nanti ya?" Syifa pun keluar kamar. Ia harus membuatkan teh suaminya terlebih dahulu
"Mengapa dia selalu saja membahas kekasih ku? Mengapa dia tidak mengerti, sekarang ini aku sudah menjadi istrinya dan dia suami ku. Dia lah kekasih ku bukan orang lain!" Gerutu Syifa, masih pagi-pagi buta namun ia sudah mendumel kesal.
Syifa pergi ke dapur, menyiapkan teh untuk suaminya "Andai aku memiliki banyak waktu, aku akan membuatkan bubur untuknya. Tapi, saat pulang dari kampus nanti aku akan membuatkan bubur untuknya,"
"Ayo!"
Syifa tergelonjak kaget "Astaga, kau mengagetkan ku saja! Untung jantung ku tidak lepas!" Syifa memegang dadanya yang terlihat masih kaget, lalu ia bertanya suaminya mau mengajak dia kemana
"Ayo kemana?"
"Kemana lagi, ya ke kampus mu. Kau ingin ke kampus bukan?"
"Iy-iya, tapi kau sedang sakit tuan. Lebih baik kau istirahat saja di rumah! Dan aku akan naik taksi saja,"
Azam mengambil segelas teh yang dibuat oleh Syifa, meneguknya sampai habis "Aku sudah sehat setelah minum teh ini, ayo!"
Syifa masih diam di tempatnya, Azam yang kesal memegang pergelangan tangan istrinya sampai parkiran mobil "Sungguh aku bisa sendiri!"
"Diam lah Syifa! Kau lupa dengan yang aku katakan kemarin? Mulai hari ini, kau akan aku antar jemput dan tidak akan ada penolakan!"
"Tapi kau sedang sakit tuan, bagaimana jika sesuatu terjadi kepadamu di jalan? Aku tidak mau ibu mu menyalahkan ku lagi!"
"Tadinya aku sakit, sekarang udah sehat. Aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diri ku. Sudah masuk lah!"
"Aku juga bukan anak kecil yang selalu di antar jemput!" Balasnya dengan nada kesal, dahulu sebelum menikah mama dan papanya selalu meminta supir untuk mengantar kemana pun Syifa pergi. Dan sekarang di saat sudah menikah? Suaminya pun melakukan hal yang sama
"Kedua orang tua mu melakukan hal yang benar, buktinya di saat kau mengendarai mobil sendiri. Kau menabrak anakku hingga lumpuh!"
Syifa terdiam, lagi dan lagi Azam selalu mengungkit kesalahannya. Syifa juga merasa bersalah atas hal itu, ia juga sudah melakukan segalanya untuk menebus dosanya. Bahkan ia rela menikah dengan seorang duda hanya untuk menebus dosa yang sudah ia lakukan.
"Kenapa diam? Apa yang aku katakan benar bukan?"
"Iya!"
Azam langsung melajukan mobilnya, Syifa menatap luar jendela. Ia meneteskan air matanya, apakah seumur hidup Azam akan selalu membahas kesalahannya itu?
"Apakah tidak ada maaf untuk ku? Apakah perbuatan ku itu akan menjadi bumerang untuk kehidupan ku kedepannya?" Batin Syifa. Ia sangat menyayangi Nizam, bahkan berusaha menjadi ibu yang baik untuk Nizam
Ia menyayangi dan mencintai Nizam dengan tulus, namun sepertinya itu tidak cukup untuk menebus dosanya di masa lalu..
*********
Sheira sudah menghubungi pengacara terkenal, ia akan segera merebut hak asuh anaknya "Aku tidak terima jika anakku berada di tangan wanita itu. Apalagi bersama pria bodoh seperti Azam!" Ujarnya dengan sorotan mata kebencian, ia sangat membenci Azam karena baginya Azam adalah orang dan penghalang impian dan masa depannya itu
"Nak, tindakan kamu salah! Kamu yang sudah memilih pergi dari kehidupan Azam dan anak kamu. Mereka sudah hidup tenang dan bahagia selama ini dan sekarang kamu mau merusaknya?"
"Bahagia dan tenang apa mommy? Lihat sekarang keadaan cucu mommy! Nizam menjadi lumpuh karena wanita itu, dan pria bodoh itu bukannya mempenjarakan wanita itu ia justru malah menikahinya! Itu tandanya tandanya ia tidak menyayangi anaknya mommy! Dia tetap seperti pria bodoh beberapa tahun lalu!""
"Nak, mungkin ada alasan menikahi wanita itu!"
"Sheira enggak perduli alasan apapun itu mommy! Kenyataanya pria bodoh itu sudah menikah dengan wanita yang sudah membuat Nizam lumpuh. Tapi tidak masalah, tindakan bodohnya justru mempermudahkan aku mengambil anakku mommy!"
"Sayang, mommy akan senang jika kamu mengambil anak kamu Nizam karena kamu sayang, cinta dan mau merawatnya dengan baik nak. Bukan untuk menjadikan anak kamu alat sebagai penghancur kebahagiaan mantan suami kamu. Nak, Nizam bukan alat kamu sayang!"
"Hentikan omong kosong mommy! Sebaiknya tugas mommy hanya melihat dengan duduk santai! Biar ini menjadi urusan Sheira! Sheira sayang kok sama Nizam!"
"Tapi nak, apa kamu bisa meninggalkan karir kamu demi fokus merawat anak kamu, cucunya mommy?""
Sheira tampak kesal dengan ibu kandungnya itu "Apaan sih mommy! Akan ada baby sister yang akan merawat Nizam nanti hingga sembuh. Mommy jangan khawatir! Enggak mungkin dong Sheira meninggalkan karir Sheira demi anak cacat itu!"
"Hentikan Sheira, bagaimana pun Nizam adalah anak kamu!"
__ADS_1
"Iya mommy, Sheira tahu! Dan apa yang aku katakan itu enggak salah mommy! Dia memang anak yang cacat! Itu kenyataannya,"