
Anita merasa cemas melihat sikap anaknya, bahkan didepan besannya itu. Azam tidak segan membentak menantunya
Syifa menoleh ke Azam, ia tidak mau berdebat didepan semua orang. Syifa berusaha untuk tenang namun Azam masih saja berbicara "Kau tidak memiliki hak untuk menilai buruk dirinya! Kau bukan siapa-siapa dan kau tidak pantas menilai buruk seseorang sebelum kau mengenalnya dengan pasti,"
"Oh iya? Jika dia ibu dan istri yang baik dia tidak akan meninggalkan suami dan anaknya hanya demi mimpinya sendiri. Sangat egois! Dia sangat egois!"
"Jika aku katakan hentikan, berarti hentikan!"
Azam mencengkram lengan istrinya dengan kuat, Revan yang melihat itu tidak tinggal diam, begitu juga Shinta. Tidak segan, ia melepaskan dan menampar menantunya itu
"Jangan beraninya kau menyakiti putri kesayangan kami! Atau akan saya pastikan tangan mu ini tidak dapat lagi memegang apapun!"
Shinta terlihat geram, walau usianya tidak muda lagi. ia tidak akan tinggal diam! Dia akan melindungi Syifa dengan sepenuh hatinya.
__ADS_1
Anita meminta maaf dengan keributan yang terjadi "Saya mohon maaf jika anak saya sudah kurang ajar dengan Syifa, maaf kan kami,"
Satu pukulan mendarat di wajah Azam, ayah mana yang akan tinggal diam melihat anaknya di perlakukan dengan kasar begitu "Jika kau masih mencintai mantan istri mu kembali kepadanya, dan urus anak kalian yang cacat itu,"
"Papa," Syifa menggeleng, meminta papanya untuk tidak mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Bukan karena papanya meminta Azam kembali dengan mantan istrinya namun karena Revan mengatakan Nizam anak yang cacat. Hatinya merasa hancur dan terluka
"Jaga ucapan anda, anak saya cacat karena anak anda!"
"Papa, mengapa papa seperti anak kecil? Dan kak Azam kenapa kakak bertingkah seperti manusia tidak tahu diri? Kalian, kenapa bertengkar? Apa tidak memikirkan perasaan anak malang itu? Kasihan Nizam, jika dia mendengar semuanya. Kalian sangat egois dan memikirkan diri kalian sendiri. Kalian hanya memikirkan ego kalian,"
"Alana sayang, kenapa kamu bicara seperti itu?" Shinta menegur anaknya dengan nada yang pelan "Kenapa ma? Kalian memang seperti anak-anak saja. Kalian bertingkah konyol!"
Anita mencoba menenangkan suasana "Saya mohon, jangan menyikapi hal ini dengan emosi. Saya tahu, anak saya salah. Tapi saya minta, jangan menggunakan kekerasan,"
__ADS_1
"Aku mau kita pisah!"
Ucapan Syifa membuat semua orang terkejut, Shinta mendekati anaknya "Sayang, apa yang kamu katakan?"
"Syifa sayang, tolong jangan mengambil keputusan di saat kamu sedang marah,"
Anita mencoba membujuk menantunya namun Revan mendukung keputusan anaknya "Kamu mengambil langkah yang benar nak, sekarang ayo kita pulang! Papa akan mengurus surat perpisahan kamu. Lagipula, untuk apa kamu tinggal bersama orang-orang yang tidak pernah menghargai kamu! Untuk apa kamu tinggal bersama pria yang masih memikirkan mantan istrinya dan tidak tahu terimakasih,"
Revan menggenggam tangan anaknya dengan lembut dan membawa Syifa pergi dari tempat itu. Shinta dan si kembar mengejar Syifa dengan Revan.
Sementara Anita, meminta anaknya untuk mengejar dan meminta maaf kepada Syifa "Kenapa kamu diam saja Azam? Ayo kejar istri dan mertua kamu. Minta maaf kepada mereka sebelum terlambat! Ayo!"
Bukannya mengejar Syifa, Azam justru pergi menuju kamar tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1