
Syifa di usir oleh Azam, bahkan ia tidak tahu apa kesalahannya "Jangan pernah menunjukkan wajah mu di rumah ku lagi!"
"Kenapa? Apa kesalahan saya? Bahkan saya sudah menyelesaikan tugas dengan baik! Saya tidak pernah membuat kesalahan,"
"Kesalahan mu adalah kau membuat anakku menjadi lumpuh,"
Syifa terpaku membisu mendengar ucapan Azam, mengapa lelaki itu terus saja mengungkit kesalahan Syifa? "Bukannya dari awal, alasan ku di sini adalah karena aku yang menyebabkan anak mu lumpuh? Jika kau benci kepada ku tuan, kenapa kau meminta ku di sini merawat anakmu? Apakah salah aku dekat dengan anak mu? Bagaimana caranya aku merawatnya tanpa adanya ketulusan dan kasih sayang? Coba bisa anda jelaskan kepada ku? Bagaimana caranya aku merawat anak anda tuan jika kami tidak boleh dekat?"
"Tutup mulut mu! Jangan banyak bicara kau didepan ku! Apa kau merasa pintar mengatakan itu?"
Syifa menggelengkan kepalanya, ia tidak mengerti jalan pikiran yang ada di kepala Azam, mengapa Azam seringkali mengungkit semua kesalahan Syifa sementara ia ingin memperbaiki segalanya. Ia hanya ingin merawat Nizam hingga anaknya itu kembali pulih.
Syifa tidak mengatakan apapun, ia segera pergi meninggalkan kediaman rumah Azam.
__ADS_1
"Lelaki yang aneh, dia sendiri yang meminta ku menjadi pengasuh anaknya dan sekarang dia mengusir ku," ujar Syifa yang menunggu taksi lewat.
Drttt...! Drt...!
Ponselnya berbunyi, ia segera mengambil ponsel yang ada ditasnya.
Itu adalah Caca, ibu kandungnya yang menghubungi, segera Syifa mengangkatnya
Panggilan terhubung
Sayang, ini Khanza mau bicara sama kamu. Gimana kabar kamu sayang? Mami sangat merindukan kamu dan yang lainnya di Indonesia ~Caca
Kabar Syifa dan yang lainnya baik kok mi, mami apa kabarnya di sana? ~Syifa
__ADS_1
Keduanya pun berbincang dan menumpahkan segala kerinduan melalui panggilan, caca meminta maaf kepada anaknya karena ia harus meninggalkan Syifa untuk kesekian kalinya.
Syifa sudah merasa terbiasa dengan itu semua, lagipula ada papa Revan dan ibu sambung Shinta yang ada untuknya. Shinta juga menyayangi ia begitu dalam, sehingga Syifa tidak merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu.
Panggilan pun terputus. Kebetulan, taksi juga berhenti didepannya ia segera masuk dan memberitahu alamat rumahnya.
Kepala Syifa merasa penat sekali, seakan ia tidak mengerti dengan semua yang sudah terjadi. Semenjak tragedi itu, hidupnya kini sering tidak berjalan baik, bahkan ia diatur oleh orang asing baginya. Siapalagi jika bukan Azam? Mau tidak mau Syifa harus mengikuti semua perintah lelaki itu, hanya karena Syifa ingin menebus semua kesalahannya. Terkadang, Azam juga mengancam akan memberitahu keluarganya Syifa dengan semua yang terjadi.
******
"Alan, ayo buruan!" Alana yang menarik tangan saudara kembarnya itu mengajak Alan pun pergi keluar rumah namun Alan menolak "Sudah lah Alana! Kau mau kemana? Lebih baik belajar di kamar mu sana!"
"Alan, aku sangat bosan dan kau tahu mama atau papa tidak akan mengizinkan aku keluar rumah tanpa diri mu. Ayolah Alan! Apa kau tidak kasihan kepada ku? Aku ini bosan di rumah terus!"
__ADS_1
Alana cemberut, meminta saudara kembarnya untuk mau diajak bermain di luar rumah. Alana ingin berjalan-jalan ke mall untuk menghilangkan penatnya yang terus dirumah saja dan tidak boleh kemana-mana.
Namun Alan merasa sangat malas hari ini "Sudah lah Alana! Jangan memaksa ku tolong! Aku sedang tidak ingin keluar rumah, dan kau jangan merengek seperti anak kecil begini!"