Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Menjaga Keluarga


__ADS_3

"Wanita memang terkenal cerewetnya, Sayang!"


Kata sayang, membuat Azam seperti salah tingkah. Dahulu, Sheira juga sering memanggil dirinya dengan sebutan itu namun Azam tidak pernah se-grogi ini? "Eh maaf-maaf, maksudnya sayang banget kalau seorang wanita itu enggak cerewet, hilang cantiknya!" Syifa pun terlihat gugup


Dasar payah! Kenapa aku memanggilnya dengan sebutan itu? Sungguh menjijikan! ~batin Syifa


"Oh! Iya, wanita memang sangat bawel!" Azam sudah salah paham terlebih dahulu, ia mengira jika Syifa benar-benar memanggilnya dengan sebutan sayang.


Keduanya terlihat sangat grogi terlihat jelas dari sorotan mata keduanya "Hei, kenapa kau melamun tuan?" Syifa mencoba mencarikan suasana yang ada. Azam mengangguk, keduanya pun segera menuju parkiran mobil


"Bagaimana bisa kau menjalani urusan bisnis, kuliah juga sekolah dari keluarga mu secara bersamaan?" Syifa tersenyum "Di saat kita mengerjakannya dengan tenang dan santai, semua akan terasa lebih muda,"


"Lalu, apakah kau bisa mengurus segalanya sekaligus menjaga Nizam?"


"Kenapa tidak? Nizam adalah dunia ku sekarang, aku akan sangat senang menghandle semuanya secara bersamaan. Kau jangan khawatir, kau pasti mengira jika setelah menikah aku akan merasa frustasi harus mengurus anak bukan?"


Azam mengangguk, Syifa tertawa dengan keras "Kau tahu? Dahulu, terlalu banyak masalah yang terjadi di rumah. Bahkan, kami kehilangan keluarga seperti adikku, kakek dan nenekku meninggal. Juga teror, lalu pembalasan dendam seseorang. Semuanya sudah kami lalui, dan di saat mama dan papa sibuk untuk mengurus segalanya. Aku yang menjaga adik-adikku, si kembar Alan dan Alana, apalagi di saat mama kehilangan Al. Mama seperti kehilangan dunianya, juga merawat Khanza aku bisa melakukan segalanya,"

__ADS_1


"Khanza? Siapa dia?"


"Adikku, aku memiliki keluarga yang luar biasa. Di mana anak-anaknya memiliki dua ayah dan dua ibu. Khanza dan Raisa adalah anak dari mami Caca dan Daddy Arvan. Alana, Al dan Alan anak dari mama Shinta dan papa Revan. Sementara aku anak dari mami Caca dan papa Revan,"


Azam begitu sulit memahami hubungan keluarga Syifa yang menurutnya sangat runyam "Sangat membingungkan sekali!" Ujar Azam, karena keluarganya tidak ada yang seperti itu.


"Begini, dahulu mami Caca dan papa Revan menikah. Lalu mereka memiliki aku, setelah itu mereka berpisah karena suatu alasan, dan mami Caca menikah dengan Daddy Arvan,"


"Itu tandanya mami mu meninggalkan kamu dan papa mu demi lelaki lain?" Tanya Azam dengan bingung. Syifa menggeleng "Tidak! Mami ku ibu yang luar biasa, ia mengorbankan cinta dan keluarganya demi kami. Dahulu, nenekku sangat jahat. Iya, ibu dari mami ku tidak suka dengan pernikahan mami dan papa karena papaku miskin. Lalu, ia berusaha keras menjauhkan mami dan papaku, suatu saat di saat mami sedang mengandung aku, papa sakit dan membutuhkan perobatan yang sangat mahal. Di situ aku juga lahir, dan membutuhkan perawatan khusus dan membutuhkan biaya yang besar. Nenekku ingin menolong namun dengan syarat, mami harus meninggalkan kami dan harus menikah dengan Daddy,"


"Lalu mami mu setuju?"


"Lalu?"


"Lalu, aku dan papa tinggal bersama orang tua papaku. Kakek nenekku yang merawatku, seperti Nizam yang hanya kau rawat bersama kedua orang tua mu. Lalu, muncul lah aku sebagai ibu sambung Nizam. Begitu juga dengan mama Shinta,"


"Tapi mama dan papa mu saling mencintai terlihat jelas dari keharmonisan mereka di saat usia yang tidak muda,"

__ADS_1


"Haha, kau tidak tahu saja! Apa yang kita alami juga mama dan papa ku alami! Bedanya, aku yang menabrak Nizam. Sedangkan mamaku, tidak! Kami bertemu pertama kali di klinik gigi karena mama ku dokter gigi. Aku anak yang tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, bisa merasakannya dari mama shinta. Aku memintanya menikah dengan papa, dan mama setuju. Mereka tidak mencintai satu sama lain awalnya, mereka menikah hanya karena aku. Jadi, cinta tubuh setelah semuanya terbiasa bersama lalu lahir lah si kembar!"


Azam menghela nafas panjang, membuat Syifa menoleh "Kenapa? Apa kau merasa sakit?"


"Tidak, hanya saja keluarga mu sangat membingungkan aku!"


"Karena kau berasal dari keluarga yang utuh, jauh berbeda dari aku!" Azam membenarkan ucapan istrinya "Kau benar, lalu apakah kita bisa saling mencintai nanti?" Syifa bungkam mendengar pertanyaan suaminya. Ia sendiri tidak tahu, apakah dirinya dan Azam akan bisa seperti mama dan papanya kelak?


"Kenapa kau bungkam?"


"Aku tidak bungkam, hanya saja aku tidak tahu apakah kelak kita saling mencintai, tetapi yang aku tahu sekarang adalah kita berdua sama-sama mencintai Nizam dan tujuan kita adalah kesembuhan Nizam,"


Azam tersenyum dan mengangguk "Kau benar sekali, yang pastinya kita berdua sama-sama saling mencintai Nizam dan tujuan kita adalah kepada Nizam,"


"Ayo berangkat!"


"Tunggu Syifa!"

__ADS_1


Syifa pun menatap suaminya, Azam langsung memeluk Syifa "Aku tidak memahami apa yang kau alami namun jika aku berada di posisi mu aku akan merasa tidak kuat dengan segala keadaan. Tapi mulai sekarang, tidak akan ku biarkan kau mengalami masalah atau pun kegelisahan selama menjadi istri ku," Syifa tersenyum membalas pelukan suaminya


"Aku percaya kau lelaki yang mampu menjaga keluarga mu,"


__ADS_2