
Setelah mendapatkan persetujuan dari Nizam, Syifa langsung segera bergegas ke kampus. Syifa juga berpamitan kepada kedua mertuanya "Ma, Syifa harus ke kampus sebentar. Setelah itu, Syifa akan kembali," Anita tidak mengatakan apapun, ia tidak suka menantunya harus kuliah ke kampus karena jika Syifa ke kampus maka cucunya tidak akan di urus dengan baik.
Syifa mengenakan gaun berwarna biru elektrik, dengan rambut terurai "Hei nak, kamu hanya pergi ke kampus, mengapa berpenampilan seperti mau ke pesta saja?" Anita kembali protes kepada menantunya. Syifa tidak mau berdebat ia hanya meminta kepada ibu mertuanya untuk menjaga Nizam sementara waktu "Ma, tolong jaga Nizam sebentar ya? Syifa akan segera kembali setelah selesai mengerjakan tugas kampus,"
Syifa berlalu pergi meninggalkan mama dan papa mertuanya "Lihat lah menantu kamu, pa! Dia tidak sopan seperti itu. Mama berbicara namun menantu papa langsung pergi seperti itu!" gerutu Anita dengan perasaan emosi "Ma, sudah lah! Jangan membuat keributan lagi! Menantu kita seperti itu karena sedang terburu-buru. Mama jangan membuat keributan lagi dong!"
Anita menghela nafas dengan kasar, mengapa suaminya terus saja membela menantu mereka? Padahal menurutnya, Syifa salah saat ini
*******
"Syifa, aku merindukan mu!" Ia menoleh kebelakang yang memeluk dirinya ternyata adalah Raina sahabatnya.
"Kamu ini mengagetkan aku saja!"
__ADS_1
Wanita cantik itu memegang kedua telinganya "Maaf, tapi sungguh aku merindukanmu. Apa kau tahu? Samudera selalu bertanya tentang mu, sepertinya dia menyukai mu, Syifa!"
Syifa terdiam, namun ia menggeleng kan kepalanya dan menyadari jika dirinya saat ini sudah menjadi istri orang lain "Apaan sih Rein, enggak jelas banget. Enggak mungkin lah, suka kamu mungkin!"
"Enggak Syifa! Kamu tahu? Saat aku mengatakan kepadanya kamu sakit. Wah dia terlihat begitu cemas dan mengkhawatirkan kamu! Dia bertanya di mana rumah mu,"
"Apa? Lalu kamu memberitahunya?"
"Tentu saja tidak! Papa mu sangat galak, mana berani aku! Aku juga mengatakan kepadanya untuk mengubur mimpinya bermain ke rumah mu. Papa mu sangat galak,"
"Papa mu memang baik, namun sangat galak sekali. Aku sangat takut!"
"Haha, kau hanya tidak mengenal papa ku jika kau kenal, kau pasti akan mengatakan papa ku baik,"
__ADS_1
"Hai Syifa,"
Syifa dan Reina terkejut, Samudera menghampiri keduanya "Hai Sam, kamu pasti menanyakan tugas bukan? Aku sudah mengirimkannya,"
Samudera menggelengkan kepalanya "Tidak, aku hanya khawatir dengan kamu Syifa. Apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku baik Sam,"
"Ehem, jadi nyamuk deh!" gurau Reina menggoda sahabatnya, Syifa menunduk. Saat ini ia sudah menjadi istri dari Azam, walau Azam tidak pernah menganggap dirinya namun ia harus menjaga kehormatan dirinya sebagai istri bukan? "Maaf Sam, aku harus ke kelas terlebih dahulu!"
"Aku ikut Syif!"
Reina mengejar sahabatnya "Kenapa kau sepertinya menghindar?"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak menghindar. Namun, aku hanya ingin ke kelas saja," Reina berhenti menoleh ke arah sahabatnya. Membuat langkah Syifa ikut terhenti "Kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu dari ku Syifa? Apa kau memiliki masalah? Jika iya, kau bisa cerita kepada ku. Jangan merasa sungkan!"
Syifa menggeleng "Tidak! Aku tidak kenapa-kenapa kau jangan khawatir!" Namun Reina tidak percaya, karena Syifa mengatakannya tanpa menatap dirinya