
Ini kah resiko yang harus ia hadapi? Ia tahu memang Azam dan dirinya tidak memiliki rasa cinta namun setidaknya Azam bisa menghargai ikatan pernikahan mereka.
"Nak," segera Syifa menghapus air matanya saat sang ibu mertua datang "Iya, ma?"
"Kamu sedih ya karena anak mama?"
Syifa menggeleng kan kepalanya dengan cepat "Enggak kok ma," namun Anita tidak mempercayainya "Kamu jangan berbohong dengan mama nak! Mama tahu semuanya," Syifa menatap ibu mertuanya "Maaf ma, tapi mama salah sangka!" Syifa berpamitan untuk pergi ke dapur "Maaf ma, Syifa harus ke dapur mengambil makanan untuk Nizam,"
Syifa segera melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Anita mengatakan hal yang membuat wanita itu menghentikan langkah kakinya "Apakah seumur hidup kamu pernikahan ini hanya untuk Nizam saja? Apakah hanya untuk merawat Nizam? Kamu ini menantu dan istrinya Azam bukan seorang baby sister,"
Syifa meneteskan air matanya kembali "Kamu harus menuntut hak mu sebagai istri Syifa! Kamu bukan wanita yang naif mampu menerima segalanya dengan rela!"
"Maaf ma, mungkin mama lupa. Tapi tidak masalah, Syifa akan kembali dan terus mengingatkan mama. Kehadiran Syifa di sini, hanya karena Nizam, tidak lebih!"
__ADS_1
Syifa mengatakan itu tanpa melihat wajah mama mertuanya, lalu ia segera pergi meninggalkan Anita "Walau kamu berusaha menutupinya namun saya tahu jika kamu terluka karena anak saya!" Kembali wanita paru baya itu berteriak, ia bisa memahami perasaan menantunya. Sebenarnya, Anita bukan lah wanita yang jahat dan kejam. Ia hanya marah kepada Syifa karena sudah membuat cucunya menjadi lumpuh namun saat melihat ketulusan dan keteguhan Syifa dalam merawat cucunya membuat ia tersadar. Jika, Syifa memang pantas menjadi istri dan ibu untuk anak beserta cucunya.
Ia tahu, suatu saat nanti Syifa akan mampu meluluhkan hati sang anak "Kalian pasti hidup bahagia dan waktu itu akan segera tiba,"
********
Shinta termenung, mengkhawatirkan anaknya. Mengapa dahulu yang ia rasakan kini di rasakan oleh anaknya Syifa? Walau sekuat apapun Shinta menahan kesedihannya namun hati kecilnya tidak bisa dibohongin ia mengkhawatirkan sang anak.
"Ma," Alana menghampiri mamanya, Syifa menatap sang anak dengan tatapan nanar "Sayang," ia langsung memeluk Alana, Shinta melihat diri Syifa dari Alana.
"Mama kangen banget sama kamu Syifa," mendengar mamanya menyebut nama sang kakak, Alana langsung melepaskan pelukan sang mama "Tapi ini Alana ma, bukan kak Syifa!"
Shinta tersadar, ia ingin meminta maaf namun terlambat. Alana sudah berlari pergi meninggalkan Shinta, wanita itu berusaha mengejar anaknya namun Alana berlari sangat cepat menuju luar rumah.
__ADS_1
Revan dan Alan yang melihat langsung ikut mengejar keduanya "Sayang, ada apa?"
"Alana marah kepada ku, tolong kejar dia! Aku tidak ingin terjadi apapun kepada anakku,"
"Alan, minta supir menyiapkan mobil. Papa akan mengejar Alana, kamu dan mama naik mobil oke!"
"Iya pa," Alan membawa mamanya masuk ke rumah, untuk naik kedalam mobil
Supir pun mengantar mereka mengejar Alana, Shinta merasa begitu bersalah, ia memeluk putranya "Ini salah mama Alan, tidak seharusnya mama menyebut Alana itu kakak kamu saat mama memeluk Alana,"
Kini Alan mengerti apa yang terjadi, Alan memang tidak pernah bertanya atau menghakimi ibunya tersayang "Mama tenang aja ya? Anak manja itu pasti sudah di temukan oleh papa, mama jangan khawatir! Lari Alana memang sangat kencang, namun papa lebih hebat,"
Alan berusaha menghibur wanita yang sangat ia cintai itu. Baginya, Shinta adalah segalanya untuk Alan. Shinta adalah cinta pertamanya sekaligus superhero di kehidupannya.
__ADS_1