Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Bertengkar


__ADS_3

"Lalu, kenapa aku harus pulang?" mendengar ucapan suaminya, membuat Syifa mengerutkan dahi dengan kesal "Terserah kepada mu saja tuan, silahkan tunggu di sini jika kau ingin!"


Syifa keluar dari mobil, bahkan ia membanting pintu mobil dengan kesal


Dasar pria tidak waras! Bisa-bisanya dia menuduh ku seperti itu padahal sebelumnya aku sudah mengatakan untuk tunggu sebentar! ~gerutunya dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Syifa! Kemana saja? Aku dan Samudera mencari mu!"


Reina dan Samudera berjalan mendekati Syifa, tidak sengaja Syifa menginjak batu dan hampir terjatuh. Dengan sigap, Samudera memegang tubuh Syifa, keduanya saling bertatapan mata selama dua puluh detik.


Syifa yang tersadar langsung menjauh "Terimakasih sudah menolong!"


Samudera mengangguk, Reina meminta Syifa dan Samudera untuk masuk ke kelas "Sebaiknya kita ke kelas sekarang, jika kalian dia sini terus maka tugas tidak akan siap!"


Syifa mengangguk, ia menoleh kebelakang. Azam sudah berdiri di luar mobil menatap tajam ke arahnya dari jauh. Ia hanya berharap jika suaminya tidak akan melakukan sesuatu yang akan mengacaukan segalanya. Ia tahu, jika Azam sangat konyol saat marah ia bisa melakukan apapun


*******


Sesampai di kelas, Syifa segera menyelesaikan tugasnya dengan cepat jika tidak. Suaminya bisa datang dan menghampiri dirinya "Guys, semuanya udah selesai. Aku harus pulang sekarang,"


"Syif, kamu memang hebat enggak membutuhkan waktu setengah jam untuk menyelesaikan ini. Tapi, kita duduk dulu yuk di cafe? Sharing-sharing udah lama banget loh enggak gitu," Reina mengajak Syifa, namun ia menolak dengan halus "Maaf, lain kali aja ya? Semua orang sudah menunggu ku di rumah,"


"Kenapa sih Syifa? Biasanya juga enggak apa-apa. Aku yakin, om dan Tante juga enggak keberatan, kamu juga enggak ke kantor hari ini kan? Ayo lah!" Reina masih membujuk sahabatnya, Syifa terlihat bingung. Namun ia tidak bisa ikut dengan kedua temannya bersantai


"Maaf, lain kali ya? Aku harus pergi sekarang," terlihat Syifa yang ketakutan, Samudera memegang tangannya kembali. Syifa menatap samudera dengan tajam "Kamu lupa dengan apa yang aku bilang Sam?"


Samudera dengan cepat melepas, dan meminta maaf "Maaf Syifa, tapi kamu kenapa? Enggak biasanya kamu seperti ini. Biasanya kita selalu meluangkan waktu bertiga,"


"Sekarang udah beda, enggak bisa sama seperti kemarin-kemarin!" Sentaknya dengan risau, apa yang harus ia jelaskan kepada Reina dan Samudera? Tidak mungkin ia jujur dengan penikahannya karena pernikahannya juga di rahasiakan. Hanya ia dan keluarganya saja yang tahu.


"Enggak bisa kenapa sih Syifa? Kamu ini seperti orang yang sudah punya suami dan anak saja yang tidak bisa kemana-mana dan harus mengurus anak!" Ujar Reina kembali dengan cemberut.


"Itu memang benar!"


Ketiganya kaget, menoleh kebelakang. Ternyata Azam yang mengatakan itu, Syifa melotot-kan matanya menatap sang suami


Gila apa dia? Katanya untuk enggak boleh mengatakan apapun kepada siapapun, sekarang apa yang ia katakan? Dasar lelaki aneh! ~batin Syifa


Azam mendekat ke arah Syifa, dan memeluk pinggang wanita itu "Saya Azam, suami dari Syifa. Jadi, mulai sekarang dia tidak bisa lagi bersantai-santai. Dan kamu! Jangan pernah menyentuh istri saya lagi!" Azam menatap ke arah Samudera dengan tatapan yang mematikan.


Reina tidak percaya sahabatnya susah menikah "Syifa?" Reina meneteskan air matanya, di satu sisi ia merasa bahagia namun di sisi lain ia juga merasa sedih. Karena sahabatnya begitu tega tidak memberitahukan pernikahannya.


"Tega banget kamu Syifa! Aku bukan sahabat kamu ya?" Reina yang kecewa, pergi meninggalkan Syifa, Azam dan Samudera.


Samudera menatap Syifa dengan tatapan sendu, lalu berlalu pergi. Syifa pun meneteskan air matanya, ia tahu jika sahabatnya merasa kecewa. Karena ia tidak memberitahu siapapun tentang pernikahannya "Suka banget ya di pegang gitu sama dia?"


Suara Azam memecahkan lamunan Syifa. Syifa menatap suaminya lalu berlalu pergi meninggalkan suaminya sendirian. Segera ia menuju mobil dan masuk, Azam mengikuti Syifa untuk masuk ke dalam mobil "Kenapa? Sedih karena pacar mu tahu kau sudah menikah?"

__ADS_1


Syifa masih tidak menjawab, bahkan ia tidak menyadari perasaannya kepada Samudera. Dan setelah ia menyadari perasaannya, semua sudah terlambat karena ia sudah menjadi istri orang lain.


Syifa tidak menunjukan perasaannya kepada Samudera bahkan ia juga berusaha untuk berjaga jarak kepada Samudera. Menjaga fitrahnya sebagai seorang istri "Maaf, karena ku pacar mu jadi kecewa!"


"Aku mohon hentikan omong kosong mu, Tuan! Kenapa kau selalu saja mengacaukan kehidupan ku?"


Syifa mengatakannya dengan kesal, menatap suaminya dengan mata yang nanar "Tolong, jangan membuat ku merasa kesal sekarang! Bukannya kau yang mengatakan untuk merahasiakan pernikahan kita? Dan sekarang, kau yang membukanya? Lalu, mengapa aku yang salah di sini?"


Azam tidak menjawab, ia hanya menganggap Syifa merasa sedih karena kekasih Syifa itu "Dan sekarang kekasih mu sudah tahu,"


"Dia bukan kekasih ku, Tuan! Mengapa kau selalu menuduh ku!" Suaranya sudah mulai meninggi, namun Syifa menyadari ada supir di mobil. Ia pun menahan emosinya, tidak mau orang luar menyadari masalah di dalam rumah tangganya.


Sebenarnya, Syifa tidak tahu apa yang di permasalahkan oleh suaminya Azam, mengapa Azam bertindak seperti anak-anak. Mengapa Azam harus mengekang tanpa memberikannya kebebasan sedikit? Syifa bukannya macam-macam di luar, ia juga masih tahu batasan-batasan.


*******


Sesampai di rumah, Syifa diam dan memberikan salam kepada kedua mertuanya "Kenapa lama sekali? Pasti karena Azam menjemput makanya kamu cepat pulang bukan? Jika tidak, pasti kamu lebih lama pulangnya," belum selesai kesalnya kepada sang suami, kini ibu mertuanya mengatakan hal yang tidak-tidak kepada dirinya "Ma, tolong hentikan! Biar masalah ini Azam yang mengatasinya,"


Syifa langsung masuk ke dalam kamar Nizam anaknya, terlihat Nizam masih pulas tidur "Hei, aku belum selesai bicara kepada mu," Azam mengejar Syifa ke dalam kamar anak mereka.


Syifa yang tidak mau Nizam mendengar, langsung keluar menuju kamar mereka. Azam membanting pintu kamar dengan keras, membuatnya terkejut.


"Apa kedua orang tua mu tidak mengajarkan mu sopan santun? Sehingga kau menjadi kurang ajar seperti ini kepada suami dan mertua mu!"


Plak!


Satu tamparan deras mendarat di pipi Azam, tatapan kemarahan dan kebencian dari mata Syifa "Aku sudah cukup sabar dengan semua omong kosong mu sejak kemarin, tapi kau selalu saja menguji kesabaran ku? Iya, kau menguji kesabaran ku tuan Azam! Kau melewati batasan-batasan mu! Berani sekali kau menghina dan meragukan ajaran kedua orang tua ku, jika bukan karena ajaran mereka selama ini. Aku tidak akan Sudi menikah dengan mu hanya karena kesalahan ku kepada Nizam! Kau dengar aku tuan Azam! Aku bukan wanita lemah yang kau bayangkan, dan aku tidak akan tinggal diam jika kau berani bersikap kurang ajar kepada keluarga ku!"


"Kau! Jangan lupa batasan mu Tuan! Aku menikah dengan mu hanya karena Nizam! Di sini aku hanya sebagai ibunya Nizam, bukan sebagai menantu atau istri mu apa kau lupa? Hah? Kau lupa! Siapa kau berani melarang ku untuk kuliah dan berteman? Bahkan aku tidak perduli dengan cinta mu kepada siapa, kau lupa? Di saat mantan istri mu datang ke sini? Kau langsung memeluknya dan berulangkali mengatakan cinta dan rindu kepadanya. Kau lupa? Jika kau sudah menjadi suami orang lain? Kau lupa!" teriak Syifa dengan nada yang gemetar


"Aku diam saja waktu itu, walau aku merasa tidak di hargai namun aku tidak menghakimi diri mu karena kau sadar siapa aku di sini. Apa perjanjian kita sebelum menikah, aku ingat segalanya! Lalu kenapa kau bersikap seolah kau memilikiku sepenuhnya?"


Azam tidak bisa menjawab pertanyaan dari Syifa, ia bingung dan merasa bersalah. Memang, tidak seharusnya ia bersikap kekanak-kanakan "Kau lupa semua persyaratan pernikahan kita dahulu? Kau lupa? Baik jika kau lupa maka akan aku ingatkan! Poin pertama, kita tidak memiliki hak dan kewajiban satu sama lain kecuali menjadi orang tua Nizam! Kedua, kau dan aku tidak berhak marah atau cemburu jika salah satu di antara kita dekat dengan lawan jenis! Ketiga, tidak memberikan informasi pernikahan kita kepada siapapun. Kau lupa dengan segalanya?"


Mungkin, batas kesabaran Syifa telah habis apalagi jika menyangkut tentang kedua orang tuanya yang di hina.


"Dan kau tuan, berhenti bersikap kau adalah suami ku! Dan jangan sesekali lagi kau berani menghina mama dan papaku! Jika tidak, maka akan ku lupakan segalanya tentang bagaimana cara orang tua ku mengajarkan ku tentang rasa hormat kepada orang lain! Kau dengar aku!"


Syifa mendorong tubuh suaminya sampai Azam terjatuh di atas kasur, ia tidak bisa marah kepada Syifa karena ucapan Syifa memang benar.


Syifa masuk ke dalam kamar mandi, menatap dirinya di cermin "Bodoh! Mengapa aku menangis? Kenapa aku menangisi pria sepertinya! Pria yang tidak pernah tahu cara menghargai wanita dan bersikap sesuka hatinya. Untuk apa? Apa air mata ini," Syifa mencuci wajahnya. Namun, tidak bisa dibohongi dari matanya yang sembab.


Syifa terduduk di kamar mandi, menyenderkan kepalanya di dinding kamar mandi dengan terisak.


Kehidupannya berubah seribu persen setelah menikah, bahkan ia harus menjadi seorang ibu di saat ia belum pernah merasakan hamil dan juga melahirkan.


"Mama dan papa selalu mengajarkan ku cara menghargai orang lain, lalu mengapa dia menghina mama dan papa hiks,"

__ADS_1


Syifa merasa tidak terima jika ada orang lain yang mempertanyakan ajaran kedua orang tuanya.


********


Di sisi lain, Shinta merasa gelisah. Ia yakin itu bukan karena Alana, ia memang ia merasa khawatir dengan sikap Alana tadi namun ada sesuatu yang lebih membuatnya merasa khawatir.


"Sayang," Revan memeluknya dari belakang, Shinta menoleh dan menatap suaminya "Entah mengapa, aku merasa sangat gelisah. Terasa begitu sesak sekali dada ku ini sayang, apakah sesuatu telah terjadi kepada Syifa?"


Revan membelai rambut istrinya "Jangan khawatir! Ini biasa terjadi, kau seperti ini karena tadi Alana berusaha pergi dari rumah. Sebab itu kau merasa khawatir dan takut, sudah jangan takut lagi ya?"


Revan memeluk istrinya dan memberikan ketenangan, namun Shinta tahu jika bukan itu penyebabnya "Sayang, hubungi Syifa. Aku akan merasakan ketenangan setelah berbicara dengannya,"


Revan melihat jam di tangannya "Sayang, ini jam Syifa pulang dari kampus, biasanya dia akan nongkrong dengan Reina temannya. Sudah lah!"


Shinta menggeleng dengan cepat "Tidak suami ku! Sekarang, Syifa telah menikah. Aktivitasnya tidak akan sebebas dulu,"


"Tidak mungkin sayang, iya memang Syifa sudah menikah. Tapi aku yakin, dia masih memiliki kebebasan seperti biasanya, dahulu kita juga tidak saling cinta. Dan kau juga mengurus anak kita Syifa, namun aku tidak pernah melarang dan mengekang mu. Jadi, aku yakin jika Azam pasti akan melakukan hal yang sama. Apalagi, ia tahu jika anak kita masih kuliah,"


Shinta mengangguk, berharap jika menantunya memiliki sifat baik seperti sang suami.


"Iya sayang, semoga saja Azam memberikan kebebasan kepada anak kita,"


"Itu pasti!" Revan tersenyum menatap istrinya, keduanya saling menatap lebih dalam. Di saat Revan ingin mencium Shinta, ia menghindar. Entah mengapa Shinta masih merasa gelisah dan dadanya terasa sesak.


"Maaf, tapi sepertinya tidak sekarang sayang!"


Revan mengangguk mengerti, ia tidak akan pernah memaksa istrinya.


*******


Syifa memegang dadanya yang sesak, mengapa Azam mengekangnya seperti ini? Bukan hanya Azam, namun ibu mertuanya juga melakukan hal yang sama. Mereka ingin Syifa memutuskan belajarnya.


Tok! Tok!


Azam mengetuk pintu kamar mandi, Syifa masih diam tidak mau membuka. Ia takut jika Azam akan melakukan hal yang nekat. Buktinya tadi Azam membanting pintu dengan keras, sebelumnya ia tidak pernah melihat papanya sangat kasar seperti itu


Syifa semakin ketakutan saat pintu kamar mandi terbuka, ia meringkuk menutupi wajahnya. Terdengar suara langkah kaki Azam mendekat, tangan dan seluruh tubuhnya gemetar


"Tadi aku menamparnya dengan kemarahan, ia pasti akan membalas ku!" Batin Syifa dengan perasaan takut.


Azam mendekat, Syifa perlahan mengangkat wajahnya menatap Azam dengan wajah yang datar. Azam jongkok untuk menyetarakan diri mereka


Syifa semakin gemetar ketakutan "B-bagaimana ini?"


Syifa kaget saat Azam memeluk tubuhnya "Maaf, maaf karena aku kau menjadi marah, sedih dan merasa takut! Maafkan aku,"


Azam memeluk Syifa dengan pelukan hangat, ketakutan itu perlahan hilang menjadi kenyamanan "Kau berhak marah kepada ku, aku juga melewati batas dan menghina kedua orang tua mu. Bahkan, aku juga sudah membuat hubungan mu dan kekasih mu menjadi salah paham. Seharusnya aku tidak mengatakan itu di depan kekasihmu, pasti kau sedih karena dia akan marah kepada mu, maafkan aku! Walau aku ingin merubah keadaan namun aku tidak bisa, nyatanya kekasih mu sudah mengetahui segalanya tentang pernikahan kita. Maafkan aku syifa,"

__ADS_1


Syifa hanya diam, mengapa Azam tidak mengerti jika Syifa dan Samudera tidak memiliki hubungan apapun. Syifa sudah lelah menjelaskannya, ia memilih untuk bungkam karena tidak mau berdebat lagi.


"Mulai sekarang aku akan membebaskan mu, aku tidak akan mengekang mu Syifa, dan aku tidak akan melarang hubungan mu dengan kekasih mu,"


__ADS_2