
"Walau kau tidak mengatakan apapun, namun aku dapat merasakan jika sesuatu telah terjadi di dalam," Azam menoleh sejenak ke arah Syifa yang terlihat menghela nafas panjang. Tangannya gemetar, menahan tangis
"Baik lah jika kau tidak mau mengatakan sesuatu, namun tenangkan diri mu!" Syifa pun mengangguk, ia menoleh ke luar jendela. Bagaimana bisa ia mengeluh tentang adik kesayangannya itu?
*****
"Kau lihat! Kakak marah dan tersinggung. Kenapa kau mencampuri urusan keluarga kak Syifa?" Alan memarahi saudara kembarnya, Alana berkacak pinggang tanpa merasa bersalah "Mengapa kau menyalahkan aku? Apa kesalahan ku? Aku hanya mengatakan dan mengutarakan perasaan cemas ku? Apa yang salah?"
"Alan, Alana jangan bertengkar! Sebaiknya kalian masuk!" Revan meminta kedua anaknya untuk masuk ke dalam kamar "Papa selalu saja membelanya, bahkan di saat dia salah tidak ada yang menegur. Bagaimana Alana bisa menyadari kesalahannya? Alana sangat manja, dan mama juga papa penyebabnya!" Revan ingin memberikan pelajaran kepada puteranya namun di halangi oleh Shinta
"Jangan membuat keributan lagi, kau kesal dengan putera mu sendiri?"
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak kesal? Dia mengatakan hal yang tidak masuk akal, kita selalu bersikap adil kepada mereka berdua selama ini, namun Alan masih saja mengira kita selalu memihak kepada Alana?"
"Jika begitu marahi Alana! Papa bisa menegurnya, ucapan Alana tadi sudah melukai hati kakak!" Revan tahu Alana bersalah, namun ia tidak bisa mengutarakan perasaannya. Ia tidak bisa mengatakan anaknya salah karena takut dengan kondisi Alana sekarang
"Sebelum kesabaran papa habis, lebih baik kalian berdua masuk kedalam kamar!" Alan dan Alana pun meninggalkan kedua orangtuanya
"Jangan terlalu keras sama anak-anak, terutama dengan Alan!" Shinta memegang pundak suaminya, Revan mengusap wajahnya dengan sangat gusar.
Shinta memeluk suaminya, ia tahu apa yang dirasakan oleh suaminya "Seringkali aku memarahi Alan walau dia benar. Bukan karena aku tidak menyayanginya, aku sangat menyayanginya. Hanya saja aku tidak berani memarahi Alana secara langsung dan meluapkan segalanya kepada Alan! Karena aku tahu, Alana tidak sekuat Alan!"
Shinta mengerti dan memahami segalanya, namun ia tahu jika memarahi Alan selalu hanya karena kesalahan Alana juga tidak baik untuk putera-nya.
__ADS_1
"Aku tahu dan memahami segalanya sayang, sudah tenang lah! Alan dan Alana sama-sama membutuhkan kita, iya Alan mentalnya jauh lebih tangguh dari Alana. Namun terkadang kita sebagai manusia memiliki puncak lelah, jangan sampai Alan berada di posisi itu dan kita semakin kehilangan anak-anak! Iya raga mereka ada pada kita, namun jiwa mereka?"
Revan bungkam, menatap istrinya dengan tatapan sendu "Aku harus bagaimana sayang? Ak-aku tidak tahu harus melakukan apa, aku takut jika aku memarahi Alana, ia akan melakukan hal yang nekat,"
"Dan jika kita selalu membenarkan perbuatan Alana, maka di masa depan ia akan bertindak semaunya dengan alasan kesehatan mentalnya,"
"Aku berharap, Alana segera sembuh!"
Sebagai ayah, Revan hanya ingin Alana kembali sembuh dan normal seperti semula. Bahkan ia tidak tahu harus melakukan dan menyalahkan siapa atas hal yang sudah menimpa anaknya Alana
Terbesit di pikirannya, jika saja Khanza tidak ada di kehidupan mereka semuanya tidak akan seperti ini.
__ADS_1