
Alana menoleh ke arah mamanya "Mama enggak pernah sayang dengan Alana! Mama jahat! Mama selalu menyayangi kakak dan juga Khanza tidak pernah dengan Alana,"
"Apa maksud mu Alana? Kau lupa? Mama sangat menyayangi mu bahkan demi kau, mama mengabaikan perasaannya sendiri. Mama rela menjauh dari Khanza hanya untuk kesembuhan mu,"
"Diam kau Alan! Kau tahu apa? Memang kewajiban mama untuk menjaga ku! Bahkan, Khanza bukan anak mama begitu juga dengan kak Syifa,"
"Hentikan Alana! Jangan melewati batas!" Shinta membentak anaknya "Kamu bukan anak-anak lagi yang setiap perkataannya bisa di maafkan! Mama selama ini bersabar kepada mu sayang namun saat ini perkataan mu salah! Bagi mama kak Syifa adalah segalanya, karena dia mama terlahir sebagaimana seorang ibu. Jadi, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi kau mengerti!"
Alana terdiam, karena mamanya tidak pernah se-marah itu kepadanya "Mama selalu berusaha menjadi ibu yang baik untuk mu, dan kau? Selalu bersikap seenaknya. Jika memang kamu mau pergi, pergilah! Silahkan Alana mama tidak akan melarangnya lagi!"
Shinta pergi meninggalkan anak perempuannya, hatinya hancur mendengar ucapan Alana yang keterlaluan. Mengapa Alana harus membedakan ikatan mereka dengan Syifa?
"Dasar anak manja!" Ketus Alan, mengejar mamanya. Alana menangis, Revan mendekati putrinya itu "Dengar nak, tindakan kamu hari ini sudah melewati batas. Tidak seharusnya kamu mengatakan hal buruk tentang kakak kamu, kamu tahu seberapa pentingnya kakak kamu untuk mama? Dan kalian semua, mama tidak pernah membanding-bandingkan rasa sayangnya, dia juga selalu berusaha menjadi ibu yang baik untuk kalian. Jangan membuat mama sedih lagi, sebaiknya kita pulang ya?"
Alana memeluk papanya "Maafin Alana pa! Alana enggak bermaksud membuat mama marah seperti itu ampuni Alana hiks,"
Revan membelai rambut anaknya dan mengajak Alana kembali ke rumah "Kita pulang sekarang ya? Papa yakin, mama tidak akan marah lagi dengan kamu,"
Alana mengangguk, segera ia ikut dengan papanya untuk pulang "Pa, maafin Alana ya?"
"Sudah lah nak! Jangan sedih lagi ya?"
*******
Syifa yang termenung, berusaha untuk bersikap baik-baik saja. Namun, ia tidak bisa tenang karena ibu kandungnya Nizam.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika Sheira benar-benar mengambil Nizam?"
"Bunda," lirih Nizam dengan suara serak khas bangun tidur, Syifa bangkit dan mendekati anak sambungnya itu "Sayang, kamu udah bangun?"
Nizam tersenyum, dan bertanya mengapa ibunya terlihat sangat cemas "Bunda, kenapa bunda terlihat cemas dan sedih?"
Syifa mencium pucuk tangan anaknya "Bunda enggak sedih sayang, bunda hanya memikirkan kamu. Sayang boleh bunda bertanya?"
"Iya bunda?"
"Bagaimana jika nanti, mama kandung Nizam datang? Apakah Nizam senang?"
"Iya bunda, Nizam sangat senang dan akan memeluk mama, sudah lama Nizam ingin ketemu mama,"
Syifa tersenyuk kecut, betapa bodohnya dia? Tentu saja, seorang anak akan bahagia jika bertemu dengan ibu kandungnya. Apalagi, Nizam sejak lama mengidolakan dan merindukan ibu kandungnya. Apakah hari itu tiba, Syifa bisa menerima segalanya?
Apakah ia siap, melihat Nizam akan lebih dekat dengan Sheira? Syifa tidak boleh egois, namun hatinya pasti akan sakit dan cemburu. Karena ia sangat menyayangi anaknya
"Kenapa bunda?"
"Tidak apa-apa sayang, bunda hanya bertanya saja,"
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, itu adalah suaminya Azam
"Bisa kita bicara sebentar?"
Syifa mengangguk, dan menjalan pergi menjauh dari anaknya.
Azam memegang tangannya dan berbicara di kamar mereka "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberikan pertanyaan seperti itu kepada Nizam? Dia masih sangat kecil, apa kau ingin merusak mental anakku?"
"Tidak! Aku tidak bermaksud menyakiti mentalnya. Kau salah paham,"
"Sudah lah! Tidak ada gunanya berdebat dengan mu! Aku muak, dan aku tidak ingin hal ini terjadi lagi,""
"Apakah aku begitu rendahnya di mata mu? Apa kesalahan ku? Aku tidak membuat mental Nizam terluka. Aku hanya bertanya, dan apa salahnya?"
Azam memegang bahu Syifa dengan keras, membuat wanita itu meringis "Kau menyakiti ku!" Segera Azam sadar, melepaskan tangannya "Mengapa kau tidak mengerti? Sudah aku katakan untuk tetap tenang dan jangan mengatakan apapun kepada Nizam namun kau melakukannya,"
"Maaf,"
Syifa yang tidak mau berdebat memilih meminta maaf. Tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi
Syifa meninggalkan suaminya, mengangkat panggilan itu
__ADS_1
Panggilan terhubung
Hallo Sam? Ada apa menelpon secara tiba-tiba? ~Syifa
Namun segera ponsel Syifa di rebut oleh Azam, membuat wanita itu terkejut
Panggilan terputus
"Apa yang kau lakukan?"
"Beraninya kau mengangkat telepon pria lain di saat suami mu masih berbicara!" Azam terlihat kesal, dan Syifa tidak mengerti mengapa pria itu harus marah "Kenapa? Kenapa kau marah? Dia hanya teman kampus ku,"
"Tapi aku adalah suami mu! Dan jaga sikap mu sebagai seorang istri, apakah pantas menerima ponsel pria lain di saat ada suami di hadapan mu?" Syifa hanya masih terdiam, dia tidak mengerti mengapa Azam harus marah
"Apa kau berfikir pernikahan ini permainan? Sehingga sesuka hati mu bisa berhubungan dengan lelaki lain iya?"
"K-kenapa kau marah?"
"Apa katamu? Kenapa aku marah? Lalu apa kau ingin aku diam saja saat melihat istri ku berhubungan dengan lawan jenisnya walau dari telepon?"
Astaga, pria ini! ~batinnya.
Namun seketika Syifa tersenyum, suaminya terlihat sangat lucu sekali "Kau terlihat tampan saat sedang marah," godanya. Syifa memahami jika tidak semua hal harus di balas, jika suaminya saat ini sedang kesal ia tidak harus ikut kesal juga. Ia harus bisa bersikap tenang dan sabar tenang.
"Aku sedang tidak bercanda Syifa,"
Ia memegang bahu Syifa namun kini berubah menjadi lembut, wajahnya terlihat gusar "Apakah kau cemburu tuan?"
"Cemburu? Apa kau gila? Untuk apa aku cemburu kepada mu!"
Syifa hanya menggelengkan kepalanya saja "Jika memang tidak, ya sudah jangan marah aku menghubungi lelaki lain,"
"Jika kau berani menghubungi lelaki lain, aku akan membanting ponsel mu!"
"Huh, galak sekali!" Ujarnya kembali, berjalan meninggalkan suaminya, namun ia membalikan badan dan mengatakan hal yang membuat Azam salah tingkah "Hei tuan, kau terlihat sangat tampan di saat cemburu seperti itu,"
Azam memasang wajah datarnya namun tidak bisa dibohongi saat wajahnya terlihat seperti salah tingkah. Syifa pergi meninggalkan suaminya tanpa mengatakan apapun lagi "Terkadang dia menyebalkan dan terkadang dia juga menggemaskan," gumam Syifa perlahan dengan tersenyum.
"Mengapa aku merasa sangat kesal dan marah tadi? Dia memiliki hak jika ingin berkomunikasi dengan teman-temannya, ada apa dengan ku? Kenapa aku marah?"
Azam kebingungan dan tak percaya dengan sikapnya beberapa menit yang lalu "Wanita itu berhasil meledek karena sikap ku tadi, apa yang akan aku lakukan?" Gumamnya kembali dengan begitu gusar.
Mungkin, Azam merasa trauma dengan masa lalunya. Ia takut jika kelak, istrinya akan pergi lagi dari kehidupannya.
Drttt....Drttt....!!!
Panggilan terhubung
Apa apa? ~Azam
Maaf tuan, satu jam lagi kita akan ada rapat dengan klien penting mengenai kerja sama, semoga anda bisa segera datang untuk menghadiri rapat ~Sektaris kantor
Baik lah, saya akan segera tiba
Azam mematikan panggilannya, ia segera bersiap-siap untuk menghadiri rapat bersama klien penting.
"Dimana kemeja putih ku?" Azam kebingungan, kebetulan Syifa melihat suaminya yang kebingungan "Maaf, kau membutuhkan sesuatu?"
"Iya, aku mencari kemeja putih ku. Apa kau melihatnya?"
Syifa menggelengkan kepalanya, bagaimana ia bisa tahu barang-barang milik Azam karena mereka tidak satu kamar "Ada apa ini?"
Anita menghampiri anak dan menantunya "Ma, Azam mencari kemeja putihnya. Dan dia bertanya kepada Syifa, namun Syifa tidak tahu barang-barang miliknya,"
"Bagaimana kamu mau tahu, jika kamu saja tidak perduli?" Anita menggelengkan kepalanya "Dengar, kamu memang bukan pelayan di rumah ini. Tetapi kamu adalah istrinya Azam, dan tugas istri adalah mengurus keperluan suaminya. Sudah mama katakan kepada kalian untuk satu kamar saja, namun kalian tidak mau mendengarkan! Jika kalian berada di dalam kamar yang sama, syifa pasti akan tahu di mana barang-barang kamu,"
"Ma sudah lah! Ini tidak terlalu besar, mengapa mama membesarkan masalah? Azam sedang tidak ada waktu untuk berdebat,"
"Apa kamu berfikir sekarang mama sedang mengajak kalian berdebat? Dengarkan mama dan kalian tinggal lah dalam kamar yang sama! Dengan begitu, semuanya akan mudah. Kamu juga Syifa, apa sulitnya tidur dengan suami sendiri?"
__ADS_1
Syifa hanya diam, menundukan wajahnya. Bukannya ia takut, dia hanya malas berdebat dan apa yang ibu mertuanya katakan ada benarnya. Dahulu, mama dan papanya tidak saling mencintai, namun mereka tidur didalam kamar yang sama, mamanya Shinta tidak pernah tidur dengan Syifa di dalam kamar. Pernah, namun itu tidak sering.
"Percuma mama mengatakan hal panjang lebar, kalian tidak akan mendengarkan,"
Anita pergi meninggalkan anak dan menantunya. Keduanya sangat keras kepala, Azam melihat ke arah Syifa "Apa yang mama katakan memang benar, sebaiknya kita tidur bersama saja!"
Syifa tidak bisa menolak permintaan suaminya, ia mengingat dan mendengarkan nasihat dari Shinta.
"Baik lah, terserah kau saja!"
"Setelah aku pulang dari kantor, aku akan membantu mu memindahkan barang-barang mu ke kamar ku,"
Syifa mengangguk, Azam mengambil kemeja lain dan pergi meninggalkan Syifa sendirian.
*********
Anita mendumel, entah mengapa sulit sekali meyakinkan anak dan menantunya itu "Keduanya sama saja, sama-sama keras kepala!"
"Ma, kenapa sejak tadi mama terus saja mendumel? Ada apa ma?"
"Itu loh pa! Anak dan menantu papa, keras kepala tidak mau mendengarkan mama. Padahal apa yang mama katakan itu demi kebaikan mereka!"
Azam menuruni anak tangga satu persatu, mendekat dengan mamanya "Ma, kenapa? Kenapa mama tiba-tiba ingin sekali mendekatkan aku dengan Syifa? Apa mama lupa? Jika dahulu mama sendiri yang mengatakan jika Syifa di sini hanya sebagai ibunya Nizam. Tidak lebih! Namun mengapa sekarang mama bersikap dan meminta Syifa menjadi istri dan menantu keluarga ini?"
Anita menatap anaknya "Iya Azam, mama melakukan kesalahan. Mama marah kepadanya, tapi mama sadar dia wanita baik, anak baik. Kesalahannya hanya satu, yaitu menabrak Nizam selebihnya mama tidak melihat kesalahannya, dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk Nizam dan mama yakin dia akan menjadi istri yang baik untuk kamu,"
Azam menggelengkan kepalanya tidak mengerti "Azam tidak mengerti apa yang mama katakan, namun mama harus mengerti. Setelah Nizam sembuh, kami akan segera berpisah! Karena hubungan kami hanya sebatas Nizam saja,"
Anita mendekati Azam "Benarkah begitu? Jika memang benar, lalu mengapa kamu terlihat marah sekali dan kesal di saat Syifa mendapatkan panggilan telepon dari teman kampusnya? Mengapa kamu kesal di saat lelaki lain menghubungi istri mu?"
"Karena itu salah ma, dia masih menjadi istri Azam dan tidak boleh berhubungan dengan lelaki lain!"
"Itu hanya teman kampusnya, lalu kenapa? Mama mendengar pembicaraan kalian tadi dan mama melihat kecemburuan di wajah kamu! Kamu cemburu kepada istri mu, itu tandanya kamu memiliki perasaan dengannya,"
"Maaf ma, Azam harus segera pergi!"
Azam berpamitan dan segera pergi dari rumah "Lihat lah! Dia tidak mengakuinya, namun aku ibunya. Aku yang mengandung, melahirkan dan merawatnya. Aku tahu betul bagaimana anakku! Namun dia tetap gengsi mengutarakan perasaannya!"
"Sudah lah ma! Mengapa mama terus mencampuri rumah tangga mereka? Biarkan saja mereka seperti itu, lagipula jika mereka menyadari perasaannya mereka pasti akan bahagia. Kita sebagai orang tua hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak saja, jangan mencampurinya!"
Anita terlihat kesal dengan suaminya "Tidak ada gunanya berbicara dengan papa, sudah lah! Mama malas berdebat dengan papa lebih baik papa ke kamar saja,"
Anita pergi meninggalkan suaminya dan duduk bersantai sambil menikmati tehnya. Ia yakin, jika anak dan menantunya akan menyadari perasaan mereka, dan di saat waktunya tiba. Keluarganya akan berbahagia kembali, tidak akan ada lagi kesedihan di keluarganya
*******
Syifa turun ke bawah menuju dapur, seperti biasa ia akan memasak makanana untuk anaknya Nizam sebelum berangkat ke kampus.
"Sebaiknya kamu berhenti kuliah dan fokus terhadap anak dan suami kamu!"
Syifa tidak menjawab ucapan ibu mertuanya karena baginya. Tidak ada gunanya menjawab, itu hanya akan membuat keributan lagi.
"Jika Mama tidak mengerti pentingnya pendidikan lebih baik mama diam saja!" Anita pun di tegur oleh suaminya.
"Jangan mengajarkan mama tentang pendidikan! Mama ini lulusan S2 pa!"
"Jika begitu, mengapa mama melarang menantu mama untuk kuliah?"
"Karena dia harus mengurus keluarganya,"
Syifa hanya memasak tanpa menghiraukan kedua mertuanya yang bertengkar, ia harus kuat demi Nizam saja.
Bukannya ia tidak mau mendengarkan ucapan mertuanya, namun bagi Syifa walau ia sudah berumah tangga. Pendidikan sangat penting baginya, agar kelak ia bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya. Bukan kah ibu adalah guru pertama untuk anaknya?
Ia harus bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, sebab itu ia harus menempuh pendidikan yang tinggi. Namun ia tidak akan mengabaikan tugasnya sebagai seorang ibu.
Syifa baru ingat, jika temannya tadi menghubunginya untuk bertanya tentang persentase mereka
"Aku harus segera memasak, dan ke kampus. Samudera pasti sudah menunggu ku di sana," ujarnya sambil memasak, setelah memasak ia memberikan anaknya makan terlebih dahulu sebelum bersiap-siap ke kampus. Nizam anak yang baik dan pintar "Sayang, bunda harus pergi ke kampus sebentar ya nak? Kamu enggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Iya bunda,"