Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Kesal


__ADS_3

Alana cemberut, ia menggerutu dan mengatakan saudara kembarnya itu payah dan tidak bisa diandalkan "Dasar saudara payah! Mengapa tidak bisa diandalkan?"


"Apa katamu?"


Alan terlihat tidak terima dengan ucapan saudara kembarnya itu, mengapa Alana selalu saja memaksakan kehendaknya. Keduanya bertengkar satu sama lain, Syifa yang baru pulang pun langsung melerai keduanya "Kalian kenapa? Ribut terus, sesama saudara kembar harus saling sayang dong kenapa selalu saja ribut begini, nanti mama bisa sedih jika tahu kalian bertengkar seperti ini!"


Syifa memarahi kedua adiknya, Alan meminta maaf kepada kakaknya "Maafin Alan kak, tapi ini bukan kemauan Alan, Alana terus saja memaksa dan jika Alan tidak mau Alana selalu mengatakan Alan tidak bisa diandalkan!"


Syifa menatap Alana, bertanya tentang kebenaran itu "Benar Alana?" Alana terlihat takut namun masih membela dirinya "Kak bukan seperti itu ceritanya! Tapi Alan, sangat menyebalkan. Alana hanya meminta Alan menemani Alana keluar, kakak tahu kan? Mama dan papa tidak pernah membiarkan Alana keluar jika tidak sekolah. Dan jika boleh, itu harus dengan Alan. Tapi Alan menolak, Alana enggak minta setiap hari kak untuk keluar, Alana bosan dan capek terus saja di kekang oleh mama, papa," Alana mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Syifa memeluk adiknya, ia tahu apa yang dirasakan oleh adiknya Alana.


"Alana, kamu tahu kan kalau kamu tidak sehat sebab itu mama dan papa tidak membiarkan kamu pergi sendirian. Semua itu kami lakukan demi kamu karena kami sayang sama kamu,"


"Iya kak, Alana tahu tapi kenapa Alan tidak bisa mengerti Alana? Hanya menemani sebentar saja," Syifa tidak menyalahkan Alan, karena sejak kecil Alan juga selalu menjaga Alana dengan baik "Sayang, selama ini kamu minta sama Alan apa Alan pernah menolak?" Alana menggelengkan kepalanya "Tidak kak,"


Syifa tersenyum menatap Alana "Mungkin saja hari ini Alan merasa lelah, sudah lah jangan dipermasalahkan lagi. Kakak yang akan menemani Alana jalan-jalan oke?"


"Beneran kak?"


"Iya Alana,"


Syifa juga meminta Alan untuk istirahat "Alan adik kakak yang paling ganteng, kamu istirahat aja ya? Atau mau ikut?"


"Tidak kak, Alan mau istirahat aja. Kakak tahu, semenjak setahun belakangan ini dunia Alan hanya untuk Alana saja,"


Syifa terdiam, ia merasa sedih mendengar ucapan adiknya itu. Memang benar, semenjak kedua orang tua mereka tahu apa yang dialami oleh Alana, papa dan mama mereka meminta Alan untuk menjaga Alana. Bahkan sepertinya, Alan tidak memiliki kesempatan untuk berkumpul dengan teman-temannya


"Hem, kalau begitu Alan bisa kok ngumpul sama teman-teman Alan,"

__ADS_1


Mendengar ucapan Syifa, membuat lelaki remaja itu menatap Syifa dengan penuh antusias "Beneran boleh kak?" Syifa mengangguk, tiba-tiba senyuman di wajah Alan berubah menjadi kesal "Tidak perlu kak! Nanti tidak ada yang menjaga Alana, papa pasti akan memarahi Alan!"


"Memarahi kenapa? Kamu juga perlu berkumpul dengan teman-teman kamu. Dan masalah Alana, kamu jangan khawatir! Kakak di sini menjaga Alana, jadi sekarang Alan boleh bermain dan berkumpul dengan teman-teman Alan oke?"


Alan kembali tersenyum, memeluk kakaknya. Di rumah, hanya Syifa yang bisa mengerti Alan "Terimakasih banyak kak,"


"Iya Alan, sana kamu siap-siap. Masalah mama dan papa biar kakak yang bicara nanti,"


Alan segera pergi meninggalkan Alana dan syifa. Alana protes "Kak, kenapa Alan diizinkan pergi?"


"Karena Alan juga mempunyai dunianya sendiri dalam berteman Alana, Alana enggak kasihan sama Alan? Sudah setahun belakangan ini Alan juga hanya dirumah saja, menjaga Alana. Keluar juga hanya karena sekolah atau menemani Alana sekedar berjalan-jalan tidak ada waktu Alan untuk bersantai menikmati waktunya sendiri,"


"Alana juga begitu kak, enggak boleh kemana-mana sama mama dan papa!"


Syifa menghela nafas dengan panjang "Itu semua karena perbuatan yang Alana lakukan sendiri, dan Alan yang harus ikut terlibat. Sudah lah, kakak enggak mau membahas ini dan kakak yakin Alana cukup pintar untuk memahami segalanya. Lebih baik ayo berjalan-jalan,"


Alana mengangguk, keduanya pun berjalan-jalan untuk menghilangkan penat. Syifa juga meminta izin kepada mamanya untuk membawa adiknya Alana shopping ke mall.


"Kalian hati-hati ya, pakai supir pribadi. Kakak jangan menyetir sendiri,"


"Iya ma,"


"Di mana Alan? Apa Alan enggak ikut?"


"Enggak ma, Alan enggak ikut. Tapi Alan juga akan pergi berkumpul dengan teman-temannya,"


"Untuk apa?"

__ADS_1


Syifa menatap mamanya "Ma, tolong lah! Alan sudah dewasa dan berikan dia sedikit ruang untuk berkumpul dengan teman-temannya. Mama juga pernah muda bukan? Di usianya sekarang Alan juga butuh refreshing dengan teman-temannya ma,"


"Sayang tapi kamu tau kan?"


"Ma, kakak tahu. Tapi sekarang Alana sama kakak, kakak yang akan menjaga Alana, udah dong ma! Mau sampai kapan Alan terus dengan dunia Alana saja?"


Shinta tidak mengatakan apapun, ia mempercayakan semuanya kepada Syifa "Ya sudah, mama percayakan semuanya dengan kakak ya, kakak tolong jaga Alana dengan baik,"


"Iya, ma!"


Keduanya pun bersalaman kepada mama mereka, lalu mereka pergi menggunakan supir pribadi.


**********


Di sisi lain, Nizam merengek meminta Syifa kembali "Papa, dimana tante cantik? Kenapa tidak ada? Nizam mau dia papa!"


"Sayang, kamu harus makan dulu ya nak?" Nizam menolak, ia tidak bisa menggerakkan badannya namun ia bisa menggelengkan kepala juga menutup mulutnya rapat-rapat "Nizam mau Tante cantik!"


Azam kewalahan begitu juga dengan orang tua Azam "Lihat lah! Belum lama wanita itu menjaga cucu kita. Nizam menjadi seperti ini!"


Nizam yang sudah terbiasa dengan kehadiran Syifa pun meminta papanya untuk membawa Syifa kembali bersama mereka "Papa, ayo bawa tante cantik kerumah kita. Nizam mau Tante,"


"Cukup Nizam! Tidak ada lagi dia! Kamu harus terbiasa, dan mulai sekarang papa akan mencari pengasuh baru untuk kamu!"


Nizam menangis, bahkan menutup mulutnya rapat-rapat untuk makan "Nizam enggak mau makan kalau enggak Tante yang suap!"


Kesabaran Azam kini sudah mau habis, namun Anita menasehati anaknya untuk lebih sabar menghadapi Nizam "Sudah lah nak! Kamu harus lebih sabar dengan anak kamu, dia sudah banyak mengalami hal yang tidak mudah baginya. Ibu kandungnya pergi meninggalkan dia, dan sekarang dia harus cacat karena wanita itu. Kamu harus sabar! Kamu jangan memarahi anak kamu!"

__ADS_1


"Iya, apa yang mama katakan benar Azam. Kamu harus bisa lebih sabar menghadapi anak kamu!"


Azam yang takut emosinya tidak terkendali memutuskan untuk keluar kamar, membanting makanan Nizam ke atas meja. Anak lelaki itu pun terkejut dan menangis "Papa jahat! Papa enggak sayang sama aku!"


__ADS_2