Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Meminta Restu


__ADS_3

"Tapi, Kau harus meminta izin kepada papa ku terlebih dahulu! Bagaimana pun, aku adalah anak dari orang tua yang sangat menyayangi ku. Dan apapun keputusan papaku nanti kalian harus menerimanya, dan bersikaplah sebagai mana sebagai seorang lelaki yang meminta kepada calon mertuanya,"


"Apa kau gila? Hei, aku menikah dengan mu bukan karena cinta! Untuk apa aku meminta izin kepada papa mu?"


"Iya aku tahu, namun itu resikonya. Jika kau ingin aku menjadi ibu untuk anak mu, jika kau merasa keberatan. Kita akan melakukan kesepakatan seperti semula bagaimana?"


"Syifa, jangan dengarkan ucapan Azam! Dia akan datang kerumah orang tua kamu untuk meminta restu, jangan khawatir! Saya juga akan menemani anak saya,"


Syifa mengangguk, ia segera pergi meninggalkan Azam dan ibunya Azam. Syifa memikirkan ucapan Azam sekaligus memikirkan masa depannya.


Ia menatap Nizam yang tersenyum kepadanya "Tante cantik, kenapa lama sekali?"


"Maaf ya Nizam, Tante tadi bicara dulu sama papanya Nizam," Syifa mengambil kain dan air hangat untuk membersihkan tubuh Nizam, yang dikatakan oleh neneknya Nizam memang lah benar.


"Apa yang Tante Anita katakan memang benar, Nizam tidak bisa melakukan apapun. Bahkan mengangkat tangannya saja tidak bisa, dan aku? Aku hanya menjaganya selama dua jam, setelah kepulangan ku. Nizam pasti merasa kesepian, apalagi dia bukan lah anak yang mudah berbaur dengan orang lain,"


Nizam bertanya mengapa Syifa terlihat memikirkan sesuatu, namun wanita itu tidak mengatakan apapun. Ia tidak mau melihat anak kecil itu bersedih "Enggak, Tante enggak kenapa-kenapa hanya memikirkan anak ganteng mau makan apa hari ini,"


"Nizam mau apa aja, asal Tante yang masak!" Syifa tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang putih dan tersusun dengan rapih.


"Kamu bisa aja membuat Tante merasa malu,"


Di luar pintu, Azam dan Anita melihat Syifa yang bercanda gurau dengan Nizam "kamu lihat, betapa bahagianya Nizam ketika bertemu dengan Syifa, dia sangat bahagia. Dan sekarang, kamu tahu kan mengapa mama sangat ingin kamu menikah dengannya,"


Azam terdiam tidak mengatakan apapun, dia akan mengantarkan Syifa pulang sekalian meminta restu kepada kedua orang tua Syifa untuk menikah dengannya. Walau hati Azam menolak namun semua ini ia lakukan untuk anaknya.


Dua jam berlalu


Syifa sudah selesai, Nizam juga tertidur dengan lelap. Hatinya sangat berat meninggalkan Nizam, karena ia tahu setelah Nizam terbangun nanti. Pasti akan mencari dirinya untuk makan, namun ia tidak bisa melanggar perintah papanya.

__ADS_1


Mungkin, menikah dengan Azam salah satu cara agar Syifa bisa bersama dengan Nizam tanpa adanya batasan waktu.


"Sudah?"


Syifa tergelonjak kaget, mendengar suara mengerikan dari lelaki itu. Tidak ada nada kelembutan, namun Syifa tidak menunjukkan rasa takut. Bagaimana ia takut? Karena papanya sendiri pun sangat pemarah. Jadi, Syifa sudah terbiasa sejak kecil dengan suara seperti itu.


"Ya," jawabnya singkat. Syifa memang malas banyak bicara kepada pria yang sangat menyebalkan itu "Aku akan mengantarkan mu pulang,"


"Tidak perlu!"


"Harus! Bagaimana aku meminta restu kepada orang tua mu nanti?"


"Itu urusan mu,"


Syifa segera pergi, berlalu meninggalkan Azam. Lelaki itu mengerang geram. Syifa sangat menyebalkan bahkan tidak menghargai dirinya.


"Mengapa aku harus menikah dengan wanita kurang ajar seperti ini?" Gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Syifa, wanita itu berbalik dan mendekati Azam. Tersenyum dengan tatapan yang sulit dimengerti tujuannya "Bahkan, aku sendiri tidak pernah bermimpi memiliki suami baru seperti mu!"


Bahkan, Azam ingin mengerti apa pandangan Syifa tentang Azam? Syifa pulang tanpa diantar oleh Azam. Pria itu pun tetap memutuskan untuk kerumah Syifa meminta restu kedua orang tua Syifa.


******


Syifa telah sampai dirumah, ia duduk bersama dengan kedua orang tuanya.


"Nak, bagaimana keadaan Nizam?"


"Keadaan seperti biasa ma, belum ada perkembangan yang membuat kesembuhannya meningkat. Tapi untungnya, nizam anak yang cerdas dan kuat, hal itu tidak menjadikannya anak yang lemah. Dia kuat, bahkan sangat ceria,"


"Iya nak, mama senang mendengarnya. Sungguh malang selain nasibnya,"

__ADS_1


"Ma, pa. Ada hal yang mau Syifa katakan,"


Revan menatap anaknya, menaruh segelas kopi yang baru ia serumput "Mau bicara apa?"


"Lebih tepatnya bukan Syifa yang mengatakannya, namun nanti ada tamu yang akan datang,"


Benar saja, ada seseorang yang menekan bel rumah. Pelayan pun membuka pintu tersebut.


Revan dan Shinta kaget, saat Azam datang kerumah mereka "Silahkan duduk nak Azam,"


Shinta pun mempersilahkan Azam untuk duduk, lelaki itu segera duduk "Saya tidak mau terlalu basa-basi, kedatangan saya kesini untuk melamar anak kalian menikah dengan saya,"


Ucapan itu reflek membuat Revan marah besar, ia bangkit dengan tatapan yang mengerikan "Jangan melewatkan batasan mu Azam!"


"Pa, tolong tenang lah!"


Syifa meminta papanya untuk tenang, namun Revan tidak mau mendengarkan ucapan anaknya "Jadi, ini maksud kamu? Tidak! Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu menikah dengan lelaki seperti dia! Sangat angkuh,"


"Sama seperti anda tuan,"


Azam mengatakan itu dengan senyuman sinis dan suara yang santai "Jangan menguji kesabaran ku!"


"Papa tolong tenang lah dahulu! Tolong dengarkan ucapan kakak dulu,"


"Diam! Papa tidak mau mendengarkan ucapan kamu!"


Syifa menangis menatap mamanya, ia pun berharap agar mamanya bisa memahami dirinya.


Shinta terdiam, situasi sekarang membuatnya teringat kejadiannya saat dahulu dirinya ingin menikah dengan Revan karena Syifa. Apakah sekarang, Syifa ingin menikah hanya karena anak lelaki itu?

__ADS_1


"Nak, apakah kamu mau menikah dengan nak Azam karena Nizam?"


Syifa mengangguk "Ma, Pa. Tolonglah mengerti, Syifa sudah menyayangi Nizam seperti anak Syifa sendiri,"


__ADS_2