Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Tidak Punya Pilihan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu


Anita berjalan masuk ke kamar cucunya, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Azam masuk untuk berpamitan kepada mamanya ke kantor


"Tunggu Zam,"


Azam menoleh kearah mamanya, dan mendekat "Ada apa ma? Sepertinya bentar lagi ia akan datang. Mama jangan khawatir,"


"Bukan, iya ini memang tentang wanita itu. Tapi, ada yang lebih penting lagi,"


"Ada apa ma?" Anita menoleh ke arah Nizam, namun ia tidak mau berbicara sedikit pun. Azam tahu jika mamanya tidak mau jika sang anak mendengar percakapan mereka "Ma, kita ngobrol di luar aja,"


Anita mengangguk, keduanya berjalan keluar kamar dan segera menutup pintu kamar Nizam.


"Mama mau bicara tentang apa?"

__ADS_1


"Mama ingin kamu menikah dengan Syifa,"


Azam menatap mamanya dengan serius, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya "Apa yang mama katakan? Enggak, Azam enggak setuju! Mama jangan berbicara omong kosong seperti ini!"


Terdengar suara Azam yang meninggi "Kamu dengarkan ucapan mama dulu,"


Namun Azam tidak mau mendengar ucapan mamanya "Tidak ma! Azam tidak bisa menikah dengan wanita yang sudah merusak kehidupan anak Azam!"


Anita yang melihat ketulusan Syifa menjaga cucunya, menginginkan ia menikah dengan anaknya untuk bisa menjaga Nizam lebih lama


Azam yang mau pergi pun akhirnya menghentikan langkah kakinya, ia memberikan mamanya kesempatan untuk memberikan alasan "Nak, saat ini masa depan Nizam tidak terjamin. Nak, kamu tahu jika Syifa hanya menjaga Nizam selama dua jam selama sehari, apakah dua jam itu cukup? Tidak nak! Bukan karena mama keberatan menjaga Nizam, namun jika Syifa menjaga Nizam selama dua puluh empat jam pasti kesembuhannya akan segera pulih. Dan untuk itu, kamu harus menikah dengan wanita itu,"


"Ma, masih banyak cara lain! Bahkan, Azam mampu mengirim sepuluh bahkan ratusan perawat untuk Nizam,"


"Nak, bukan masalah kamu mampu! Tetapi Nizam lebih nyaman jika yang menjaganya adakah Syifa. Dan kita bisa melihat bagaimana wanita itu sangat menyayangi Nizam begitu tulus. Nizam bahagia, dia juga nyaman. Sedangkan dengan yang lain? Belum tentu!"

__ADS_1


"Kamu enggak kasihan sama Nizam? Dia hanya bisa berbaring di tempat tidur, dan kesepian. Dia sangat senang dan bahagia saat Syifa ada disampingnya. Namun, dua jam itu tidak cukup nak, dua jam hanya waktu yang singkat. Setelah Syifa pulang, dia akan kembali kesepian. Mama bisa menjaganya, namun Nizam merasa lebih bahagia dengan Syifa. Baik, kamu lihat ini!"


Anita menarik tangan anaknya, untuk masuk ke kamar Nizam. Membuka pintu kamar cucunya untuk melihat Nizam, benar saja Nizam sudah terbangun


"Papa,"


Nizam menangis, Azam mendekati anaknya "Kamu kenapa? Kenapa menangis?"


Anita juga membantu menangani Nizam, namun Nizam semakin histeris dan mencari keberadaan Syifa.


"Sayang, kamu tenang lah. Papa akan menjemput Tante Syifa, tapi kamu harus diam dan jangan menangis! Jika kamu menangis, papa tidak akan membawa Tante Syifa untuk kembali,"


Anita meminta cucunya tenang dengan sangat tegas, Nizam menurut.


Anita menoleh ke arah anaknya "Kamu mengerti kan mengapa mama minta hal ini kepada kamu nak?"

__ADS_1


Azam memukul dinding ruangan dengan begitu keras, takdir semacam apa ini? Apakah ia harus mengorbankan perasaannya demi masa depan sang anak? Sangat jelas dia tidak mencintai wanita itu, namun demi sang anak.


__ADS_2