
"Maaf tuan, katakan saja itu kepada mantan istri mu yang menyebalkan! Lagipula, kau masih sangat mencintainya bukan? Kejar lah dia sana!" Syifa mengatakan dengan penuh amarah dan kekesalan, mengapa suaminya hanya diam saja saat wanita lain mengacaukan rumah mereka.
Dan sekarang, ia bersikap seolah tidak terjadi apapun "Dengar, dia adalah ibu kandungnya Nizam. Dia sedang menjenguk anaknya, sebab itu aku tidak mengatakan apapun. Aku tidak akan melarangnya mau kapan pun dia melihat anaknya,"
"Dan jika dia ingin bertemu dengan mu?"
"Aku juga tidak akan melarangnya, dia memiliki hak atas kemauannya," Syifa tidak mengatakan apapun, semakin banyak ia bertanya akan membuat hatinya terasa sakit. Entah mengapa dia merasa sakit, padahal dia tidak mencintai suaminya itu.
"Aku harus menyiapkan makanan untuk semuanya," Syifa pun berlalu pergi. Azam yang menatap Syifa hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun lagi. Azam menoleh ke arah Sheira, wanita itu tersenyum dengan tulus namun Azam tidak membalasnya.
Ia pergi dan mengabaikan senyuman dari mantan istrinya
**********
"Mama," ujar Nizam, Sheira menoleh dan mendekati anaknya itu "Hai sayang, bagaimana keadaan kamu? Apakah sudah membaik?"
"Iya mama, bunda menjaga Nizam dengan sangat baik,"
Senyuman di wajah Sheira memudar "Apakah bunda merawat mu dengan sangat baik? Apakah dia sebaik itu? Jika dia sebaik itu, dia tidak akan membuat kamu menjadi lumpuh!"
"Hentikan! Mengapa kau mengatakan hal yang sangat buruk dan begitu kasar kepada Nizam? Dia masih terlalu kecil, jaga sikap kamu!" Anita datang, memarahi mantan menantunya itu.
"Apa kesalahan ku mama? Aku mengatakan yang sebenarnya, mengapa anak ini begitu membanggakan wanita yang sudah membuatnya menjadi lumpuh?"
Nizam menangis, ia berteriak memanggil Syifa bundanya "Bunda, huaaaa bunda. Bunda di mana? Nizam takut, Nizam mau bunda, bundaaaa!!""
Syifa yang mendengar tangisan kencang anaknya segera berlari, masuk ke dalam kamar. Segera ia mendekati Nizam dan bertanya mengapa anaknya menangis "Nizam sayang, kamu kenapa sayang? Kenapa menangis? Cup-cup! Tenang sayang, bunda di sini,"
"Bunda Nizam enggak mau sama mama, Mama jahat!" Syifa menatap Sheira dengan tajam, mengapa wanita ini juga harus membuat masalah kepada anak kecil?
Namun kemarahan Syifa kalah dengan kasih sayangnya. Ia lebih memilih menenangkan anak sambungnya itu "Tenang ya sayang, anak bunda jangan menangis,"
"Hei, dia anakku! Dia cacat tapi dia anak kandung ku bukan anakmu!"
Ucapan Sheira membuat darahnya Syifa mendidih, ia bisa bersikap sabar namun tidak jika itu menyangkut tentang Nizam
__ADS_1
"Berani sekali kau menyebut anakku dengan kata itu!"
"Dia anakku! Bukan anak mu, berhenti kau bersikap seolah kau mama kandungnya! Kau hanya wanita yang merusak kehidupan anakku, aku melahirkannya dengan sempurna dan kau datang sebagai malaikat kematian untuk anakku!"
Azam masuk ke dalam kamar "Ada apa ini? Mengapa kalian bertengkar? Nizam, kamu kenapa nak?" Melihat Nizam yang ketakutan dan menangis, membuat Azam mendekati anaknya
"Kau, aku minta kau ceraikan dia sekarang Azam! Ayo berpisah lah dengan dia, kita akan bersama kembali. Kita akan merawat anak kita bersama-sama sayang, ak-aku berjanji akan menjaga anak kita dengan baik. Dengar aku Nizam, hanya orang tua kandung yang bisa merawat anaknya dengan sepenuh hati bukan orang lain! Ayo kita bersama merawat anak kita sayang!"
"Cukup hentikan! Dasar wanita tidak tahu malu," Anita yang sudah kesal menyeret Sheira keluar dari rumahnya, mereka menuruni anak tangga satu persatu dengan langkah yang terburu-buru
"Ibu mertua, hentikan! Aku bisa terjatuh!" Sheira tampak ketakutan dan meminta bantuan kepada Azam "Azam, tolong aku! Mama mu ingin membunuh aku!"
"Seharusnya aku sudah membunuh mu di saat pertama kali kau merusak hidup anak dan cucu ku!"
Anita menepis tangan Sheira dan mendorongnya di saat mereka sudah menuruni semua anak tangga. Hal itu membuat Sheira terduduk di lantai "Wanita tua tidak waras! Kau mendorong ku!"
Syifa dan Azam yang mengejar kaget melihat Sheira terduduk di lantai. Segera Syifa membantu Sheira untuk bangun "Bangun lah!"
"Lepaskan aku!" Sheira menepis tangan Syifa, ia sangat kesal dan marah kepada wanita yang ia anggap sudah mencuri dua lelaki di hidupnya "Kenapa kau harus ada di hidup suami dan anakku? Kenapa? Kenapa kau harus menabrak anak ku? Katakan!" Syifa terdiam, ia meminta maaf atas kesalahannya kepada Nizam "Maaf, aku memang salah tenang Nizam. Aku merasa tidak baik-baik saja dan aku berusaha untuk memperbaiki segalanya,"
"Maaf, aku tidak bisa meninggalkan mereka. Memang aku akan pergi, pernikahan ini akan segera berakhir namun setelah Nizam sembuh. Karena itu sudah perjanjian kami berdua, dan tidak akan ada yang bisa melanggarnya walau kami mau! K-kau bisa kembali mengambil Azam dan Nizam namun nanti. Setelah Nizam benar-benar sembuh dengan begitu aku bisa menjalani kehidupan tanpa rasa bersalah, begitu juga dengan kalian!" Syifa pergi meninggalkan Sheira.
Sheira menatap Azam, namun Azam tidak mengatakan apapun "Tunggu aku Azam! Tunggu!" Di saat Azam mau pergi, Sheira mencegahnya "Kenapa kau diam saja? Katakan kepada ku jika kau mencintai ku. Kau masih mencintai ku, katakan!" Sheira memegang tangan Azam, dan itu terlihat jelas oleh Syifa. Namun Syifa tidak mengatakan apapun, ia hanya terus berlari menaiki anak tangga satu persatu
"Hei, apa kau ingin menjadi pelakor? Kau ingin merusak pernikahan anakku? Dahulu kau sudah merusak pernikahan anakku dengan cara kau pergi, sekarang kau ingin menghancurkan pernikahan putra ku dengan menantu ku?"
"Diam lah ibu tua! Mengapa kau ikut campur, aku berbicara dengan Azam!"
"Jangan mengatakan hal buruk tentang mama!"
"Maafkan aku Azam," Sheira langsung memeluk mantan suaminya "Aku mencintai mu dan aku sangat menyesal. Aku sadar sekarang, cinta ku tidak pernah berubah untuk mu hanya saja ambisi ku yang terlalu berlebihan!"
Azam melepaskan pelukannya dari Sheira "Walau aku masih mencintai mu, tapi aku tidak bisa melanggar perjanjian nikah ku dengan Syifa. Aku harap kau bisa mengerti dan memahami segalanya,"
Sheira menangis menatap Azam "Apakah kau mencintainya?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti aku tidak bisa meninggalkan dia sekarang apalagi demi wanita yang pernah meninggalkan aku dan anakku,"
"De-dengarkan aku Azam! Sungguh, aku memang payah dan bodoh. Aku sangat menyesal, tapi aku ingin bersama mu tolong jangan hukum aku seperti ini! Ak-aku sangat menyayangi mu dan anak kita,"
"Ma, tolong suruh Sheira pergi dari sini dan jangan membuat kekacauan sekarang,"
"Aku tidak akan pergi! Aku ingin di sini bersama mu dan anak kita,"
"Tolong mengerti lah Sheira! Aku membutuhkan waktu untuk memahami segalanya. Dengar, aku mencintai mu tapi aku tidak bisa meninggalkan istri ku demi wanita yang pernah meninggalkan ku dan Nizam dengan tega! Berikan aku waktu untuk berfikir!"
*******
"Azam untuk apa kamu berfikir lagi? Katakan kepadanya jika kita tidak akan menampungnya lagi!" Azam menoleh ke arah mamanya "Ma, tolong lah!"
Anita pun terdiam "Lebih baik kau pergi sekarang! Atau saya akan mengusir mu dengan tidak hormat sekarang!"
"Baik lah aku akan pergi sekarang, tapi aku yakin suatu saat aku akan kembali ke sini lagi! Iyakan sayang? Kita akan berkumpul bersama-sama lagi dengan keluarga kecil kita." Sheira tersenyum menatap Azam, Azam segera pergi masuk ke dalam kamar.
"Pergi lah kau wanita tidak tahu malu!"
"Diam! Jangan mengusir ku, tidak masalah jika sekarang kau mengusir ku sekarang, di saat aku kembali ke rumah ini kau yang aku usir dari rumah sini!"
"Pergi lah kau!" Anita berteriak, emosinya semakin memuncak mendengar ucapan Sheira yang semakin kurang ajar
******
Syifa menahan amarahnya "Untuk apa aku marah? Untuk apa?" Ujarnya dengan nada yang gemetar, Azam masuk ke dalam kamar "Untuk apa kau masuk ke sini? Pergi lah bersama wanita yang kau cintai! Pergi saja!"
Entah mengapa Syifa marah tanpa sebab, ia kesal kepada suaminya "Cepat! Tinggalkan aku saja dan kembali bersama wanita yang paling kau cinta. Kau sangat mencintainya bukan? Jangan khawatir tuan, tenang saja! Aku akan tetap menjaga Nizam sampai dia sembuh, kau bisa bebas berpologami!"
Azam mendekati Syifa dengan kesal "Apa kau mengira aku serendah itu? Kau mengira aku akan melakukan hal rendah seperti itu? Dengar, aku tahu saat ini kau sedang khawatir dan sedih, tapi tenang kan diri mu!" Azam memeluk Syifa hingga Syifa menjadi tenang
Bagaimana aku bisa tenang jika kau tidak bisa mengambil keputusan? Benar kata orang, jika belum selesai dengan masa lalu mengapa harus memulai bersama orang baru? Ini sangat menyakiti ku!~batinnya dengan senggugukan.
"Jangan menangis lagi! Tenang kan diri mu, percayalah aku tidak akan pernah membuat mu dan Nizam jauh. Aku tidak akan pernah menjauhkan kalian,"
__ADS_1