
"Kakak, Alana sangat merindukan kakak sekali," Syifa yang sambil menyuapi makanan kepada adiknya pun tersenyum "Kakak juga sangat merindukan mu sayang! Sebab itu, kakak datang ke sini,"
"Hei pria tampan, apakah kalian akan menginap di sini?"
"Sepertinya tidak, adik ipar!"
Alana cemberut "Kenapa kakak ipar? Ayolah sekali saja menginap malam ini, aku ingin menikmati waktu bersama kakak ku, aku sangat merindukannya tuan!"
"Hooh, kasian sekali tuan putri yang merindukan kakaknya, tapi maaf ya? Jika kami menginap di sini sekarang, keponakan tuan putri akan kesepian,"
"Iya juga ya?" Alana pun tampak sedang bersedih, namun ia tidak mau egois. Nizam jauh lebih membutuhkan dirinya "Bagaimana jika nanti saja? Pekan depan, kami akan menginap di sini,"
Syifa menoleh ke arah suaminya, namun tangannya tidak berhenti menyuapi makan sang anak "Benarkah?" Alana terlihat sangat antusias, ia juga ingin berbincang lebih lama dengan kakak dan juga keponakannya itu
"Iya, pekan depan kami akan menginap di sini. Sediakan makanan yang banyak ya?"
__ADS_1
"Siap bos!"
Semua tertawa melihat tingkah Alana kepada Azam "Alana sayang, kamu jangan merepotkan kakak ipar kamu!"
"Tidak mama, Alana tidak membuat repot. Benarkan tuan tampan?"
"Hemm, benar enggak ya?" Ledek Azam, keduanya pun saling pandang dan tertawa. Alana memang sangat manja dengan siapapun "Tuan putri, jangan bersedih lagi ya? Jika ada masalah, segera datang kepada tuan tampan ini dan ceritakan segala keluh kesahnya,"
"Hem, baik lah!" Tidak terasa, makanan Alana sudah habis, Alan menghampiri "Dasar anak manja!"
"Sudah, kalian selalu saja bertengkar!" Ujar Syifa yang menggelengkan kepalanya, entah mengapa kedua adiknya selalu bertengkar tanpa alasan dan sekali lagi Syifa mengucapkan terimakasih banyak karena Alan sudah menjaga Alana dengan baik.
"Adik kakak tersayang yang paling tampan sedunia, terimakasih karena sudah menjadi pelindung ya untuk Alana? Kamu memang adik tersayang kakak!"
"Ih kakak, kenapa hanya Alan? Apakah Alana tidak adik tersayang kakak?"
__ADS_1
"Iya dong pastinya, kalian berdua adik kesayangan kakak. Tetapi, Alan yang paling tampan dan Alana yang paling cantik,"
"Iya kak, Alana memang paling cantik sedunia!"
Azam melihat keharmonisan keluarga Syifa, walau banyak rintangan yang Syifa hadapin namun keluarganya terlihat sangat bahagia. Bahkan, tidak akan ada yang mengira jika kedua mertuanya itu dahulu adalah musuh.
"Bahkan, sampai sekarang aku tidak percaya jika Mama Shinta dan papa Revan itu dahulu seorang musuh," batinnya. Azam berharap jika Syifa dan dirinya akan menjadi seperti kedua mertuanya.
Azam pun tersadar dari lamunannya, mengapa tiba-tiba ia memikirkan hal gila seperti itu "Astaga, mengapa aku memikirkan hal seperti itu. Apa yang ada di pikiran ku? Tidak mungkin," batin Azam yang bertarung dalam pikirannya sendiri.
"Hey tuan tampan, ada apa?" Tanya Alana dengan penasaran, Azam hanya tersenyum dan menggeleng. Setelah selesai memberikan Alana makanan, Syifa meminta adiknya untuk istirahat "Alana sayang ku, sebaiknya kamu istirahat ya? Kakak juga harus pulang, kasihan Nizam nanti mencari kakak. Dia pasti mencari kakak dan kak Azam,,"
"Iya kak, jangan lupa ya pekan depan kakak, Nizam dan tuan tampan harus ke sini menginap, Alana ingin bermain dengan Nizam,"
"Nak, bagaimana dengan perkembangan Nizam? Apakah sudah ada kemajuan lagi?"
__ADS_1
"Untuk saat ini Nizam hanya bisa menggerakkan tangannya saja ma, tapi Syifa yakin. Secepatnya pasti akan sembuh,"