
"Apa yang kamu lakukan? Cepat kejar istri mu! Ingat, saat ini Nizam membutuhkannya,"
"Sudah tolong hentikan ma! Azam sudah muak dengan semua ini, bukan Azam yang memintanya pergi. Namun, dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan tanggung jawabnya lalu untuk apa Azam mengejarnya? Jika dia memang benar mencintai dan menyayangi Nizam sebagai anaknya sendiri dia tidak akan memutuskan untuk pergi ma, tidak akan!"
Anita tidak mau mendengarkan alasan anaknya "Mama tidak mau mendengar alasan kamu! Yang mana ingin kamu cepat kejar istri mu Azam! Mama tidak mau karena ego kamu Nizam menjadi sedih,"
Azam menatap mamanya dan berusaha mengendalikan kemarahannya. Ia merasa egonya tersakiti oleh ucapan Syifa "Ma, bukan Azam yang meminta cerai. Namun, dia! Dia yang memutuskan untuk pergi. Lalu, apa kesalahan aku di sini?"
"Kesalahan kamu? Kamu mau tahu nak apa kesalahan mu? Iya? Kesalahan kamu adalah, walau Syifa adalah istri kamu yang sudah merawat anak kamu dengan baik namun kamu tidak pernah menganggap atau menghargainya sebagai istri. Dan yang paling fatal, kamu membela wanita yang menang jelas-jelas sudah meninggalkan kamu dengan anak kamu!"
Azam terdiam, ia menyadari kesalahannya tadi "Kamu membentak bahkan bersikap kasar dengan istri kamu didepan semua orang. Kamu enggak segan-segan menyakitinya tanpa menghargai kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua mu hanya membela wanita yang sudah menelantarkan anak kamu!"
Azam menyesal, tidak seharusnya ia menyakiti Syifa. Didepan semua orang, tidak seharusnya ia kehilangan kendali saat Syifa mengatakan hal buruk tentang sheira
"Dengar nak! Sheira bukan wanita baik! Dia bukan istri dan ibu yang baik untuk Nizam. Jika dia memang pantas menjadi ibu, dia tidak akan meninggalkan Nizam!"
*********
Sheira pulang dengan perasaan kesal, mendengar kabar anaknya kecelakaan dan lumpuh membuatnya tidak terima. Ia akan mengambil hak asuh anaknya, lagipula kehidupannya sekarang sudah membaik
"Sayang, kenapa terlihat sangat kesal Hem?"
Tubuhnya di peluk dengan penuh cinta dari belakang, wanita cantik itu pun menoleh kebelakang dan membalas pelukannya.
__ADS_1
"Aku sangat kesal sekali, lelaki bodoh itu. Bahkan dia menikahi wanita yang sudah membuat anak ku lumpuh, menyesal aku pernah menikah dengannya!"
"Sayang, sudah lah! Kita akan mengambil hak asuh anak kamu. Kita akan merawatnya dengan baik, kamu jangan marah-marah seperti ini. Itu tidak akan baik! Nanti kecantikan kamu akan hilang,"
Lelaki itu berusaha menenangkan sheira dengan penuh cinta, namun wanita itu belum bisa menghilangkan rasa kesalnya terhadap mantan suaminya itu.
"Untuk apa kamu kesal dengan lelaki seperti itu? Sudah lah, jangan kesal lagi lebih baik kita bersenang-senang saja sayang,"
Sheira pun tersenyum, membalas pelukan kekasihnya itu "Aku senang sekali, karena kau akan menjadi penggantinya."
*******
Shinta tidak mengerti, mengapa Revan mengambil keputusan seperti itu. Namun, Shinta tidak mengatakan apapun di dalam mobil.
"Alan, Alana sebaiknya kalian istirahat di kamar saja. Mama mau bicara sama papa,"
Si kembar pun pergi meninggalkan keduanya. Shinta mendekati suaminya dan bertanya apa yang ada dipikirannya suaminya "Sebagai seorang ayah seharusnya kau bisa menjadi penengah yang baik, bukan malah menjadi provokator seperti itu,"
"Provokator kata mu? Anak ku diperlakukan dengan tidak baik di hadapan kita semua dan sekarang kau meminta aku untuk diam?"
Shinta pun maju, mendekati suaminya "Sebelum mengatakan apapun, tolong bercermin terlebih dahulu! Ingat, bagaimana dahulu kau memperlakukan aku? Bagaimana perlakuan kasar dan buruk mu kepada ku. Apakah aku pernah meminta perpisahan kita? Tidak! Bahkan, aku tetap bertahan untuk mu dan Syifa. Dan sekarang, kau marah?"
Revan mencengkram lengan istrinya dengan tatapan serius "Jadi kau ingin anakku menderita? Iya?"
__ADS_1
Shinta menggelengkan kepalanya dengan cepat "Bukan begitu maksud ku. Tapi, pernikahan bukan lah permainan! Jangan karena masalah hal kecil, langsung meminta perpisahan!"
"Kau lihat, bagaimana dia tidak mencintai Syifa?"
"Dahulu kau juga tidak mencintai ku, hati dan perasaan mu masih kepada Caca. Namun apakah aku mengeluh? Tidak! Aku tidak pernah mempermasalahkan itu, aku hanya fokus menjaga Syifa."
Tanpa di sadari keduanya, Syifa mendengar pembicaraan itu. Ia mulai tersadar, bukan kah tujuan pernikahannya adalah untuk Nizam?
Lalu, mengapa sekarang dia marah dan menyerah hanya karena Azam? Apa kesalahan Nizam sehingga anak malang itu harus menanggung semua hal yang bukan menjadi kesalahannya?
"Aku mencintai Syifa dengan sepenuh hati ku, lalu kenapa aku harus meninggalkan Syifa hanya karena sikap mu? Dan sekarang, kenapa Nizam harus menderita hanya karena kesalahan papanya? Bukannya pernikahan mereka hanya demi Nizam?"
Revan terdiam, Shinta mulai mendekati suaminya "Sebagai orang tua kita harus bisa menjadi penenang untuk anak kita. Aku tahu, perbuatan menantu kita itu salah. Namun kenapa Nizam yang harus menjadi korbannya?"
Syifa terisak mendengar ucapan mamanya, ia merasa bersalah. Mengapa ia bersikap seperti anak-anak? Yang mudah terbawa emosi dan mengambil keputusan yang salah di saat emosi?
"Jika Syifa berpisah dengan Azam. Maka Nizam akan merasa kesepian lagi, Nizam akan menderita dan sedih. Ibu kandungnya sudah pergi meninggalkan dia karena sebuah karir. Papanya pemarah, dan sekarang? Syifa yang ia anggap menjadi rumah keduanya. Tempat ternyamannya akan pergi juga? Di saat kondisinya sekarang lumpuh, dan itu semua karena kesalahan anak kita mengemudi,"
Shinta memohon kepada suaminya untuk tidak terbawa emosi dalam menyikapi hal ini.
Shinta ingin suaminya bisa bersikap tenang, dan menjadi penengah. Bukan terbawa emosi seperti itu
"Aku mohon tenang lah! Sekarang ini Syifa sedang sensitif, dia tidak bisa berpikir dengan baik sebab itu tugas kita sebagai orang tua harus bisa menenangkan anak kita bukan?"
__ADS_1
Revan pun mengangguk, membuat Shinta bernafas dengan lega dan memeluk suaminya "Terimakasih banyak, terimakasih kau sudah mengerti dan memahami semuanya, terimakasih kau sudah membelakangi ego mu demi anak kita,"