Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Kemarahan


__ADS_3

"Dia pasti akan sangat marah besar, namun tugas yang papa berikan jauh lebih penting. Aku tidak ingin karena kesalahan ku papa gagal mendapatkan proyeknya,"


Syifa kembali fokus untuk mengerjakan tugas tersebut, tidak membutuhkan waktu lama untuknya menyelesaikan tugas itu


Cekrek!


Terdengar suara pintu ruangannya terbuka, ia melihat ternyata itu adalah papanya "Sayang sudah selesai?"


Syifa menelan ludahnya dengan kasar, dahinya berkeringat. Memang sudah selesai namun Syifa belum melakukan revisi.


Revan langsung mengambil file yang ada di laptop anaknya "Terimakasih sayang, kamu menang anak papa yang bisa papa handalkan,"


"T--tapi pa,"


"Kenapa sayang?" Syifa tidak berani mengatakan apapun, ia bingung harus mengatakan apa. Jika dia mengatakan yang sejujurnya papanya pasti akan marah "Nak, kamu bersiap. Dan ikut papa meeting, lima menit lagi akan dimulai!"


Syifa semakin merasa gugup, ia takut salah karena tidak melakukan revisi terlebih dahulu "Syifa takut pa, yang Syifa kerjakan tidak maksimal," gumamnya dengan pelan namun Revan masih bisa mendengarnya


"Papa sangat mempercayai anak papa yang satu ini, bagaimana kamu bisa membuat papa kecewa? Papa yakin kamu mampu mengatasinya dengan baik,"


Syifa hanya mengangguk, tidak mengatakan apapun. Revan langsung keluar dari ruangan, dan meminta anaknya untuk segera keruang meeting. Syifa memikirkan Nizam yang ada dirumah sakit.


"Tidak membutuhkan waktu lama untuk meeting, setelah itu aku akan kembali kerumah sakit." Ujarnya, ia pun berjalan keluar ruangan. Menuju ruang meeting


Revan menyambut anaknya dengan baik, namun mata Syifa tertuju kepada satu pria yang ada didepan matanya "D-dia?"


Syifa terlihat gugup "Selamat datang nona Syifa," sapa lelaki itu dengan menatap Syifa dengan serius, Syifa hanya mengepalkan kedua tangannya.


"Sayang, duduk lah!" Syifa duduk di samping papanya dengan menaruh berkas di atas meja "Ini adalah Tuan Azam, dia adalah rekan bisnis yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita,"


Syifa tidak menjawab, pria itu menjabatkan tangannya ke arah Syifa membuat wanita itu semakin gugup "Selamat bekerja sama nona Syifa!"


"Pa, sebaiknya kita mulai sekarang rapatnya. Syifa masih banyak pekerjaan lain,"


"Wah sekarang nona Syifa memiliki pekerjaan sampingan ya?"


Revan menatap lelaki itu, bukannya merasa takut Azam tersenyum menatap Revan "Maksud saya tuan, anak anda begitu sangat rajin dan pintar. Walau ia mempunyai papa pemilik perusahaan terbesar seperti ini namun anak anda memiliki pekerjaan lain,"


"Haha, anda salah sangka nak Azam! Anak saya hanya membantu saya di sini, Syifa ini hanya kuliah. Mungkin yang dia katakan banyak pekerjaan kampus, iya kan sayang?"


"Iy-iya, pa! Pa kita mulai sekarang saja ya?"


Mereka pun memulai rapat itu dengan baik, Syifa memang wanita yang sangat profesional walau ia terlihat sangat takut dan gugup. Namun Syifa masih bisa mengendalikan dirinya


Hingga rapat itu selesai, Syifa langsung keluar dari ruangan begitu juga dengan Revan setelah berjabatan tangan dengan rekan-rekan bisnisnya.


"Tunggu!"


Syifa menghentikan langkah kakinya, ia pun berbalik menatap Azam dengan sinis "Kenapa?"


Syifa terlihat jelas sangat tidak menyukainya "Santai Nona, apakah ini kantor papa anda sehingga anda merasa angkuh?"

__ADS_1


Syifa tidak menjawab, ia melihat ke arah papanya yang berjalan tertawa hangat sambil mengobrol dengan rekan bisnis yang lain.


Dengan cepat, Syifa menggenggam tangan Azam dan membawa lelaki itu segera pergi menuju parkiran kantor.


"Apa mau anda?" Syifa menepis tangan lelaki itu setelah mereka sampai di parkiran kantor, dan memastikan tidak ada orang di sana


"Apakah anak dari pengusaha terkenal sukses tidak pintar membaca?" Ketus Azam dengan tatapan sinisnya "Dengar, tolong maafkan aku! Aku bukannya melalaikan tugas ku namun kau harus mengerti jika aku juga harus bekerja di kantor papa ku! Aku harus membantu papa ku, dan aku juga kuliah. Aku harus membagi waktu ku untuk kuliah, kantor dan juga menjadi pengasuh anak anda! Saya minta maaf jika saya telah lancang mematikan ponsel saja, tapi saya harap anda mengerti! Dan tolong, jangan membawa masalah pribadi dengan pekerjaan!"


Azam pun berjalan mendekati Syifa, wanita itu perlahan mundur kebelakang "K-kau, mau apa?"


Terlihat ia sangat gugup, namun Azam seperti tidak perduli "T--tolong jangan seperti ini tuan! Ini kantor papa ku! Aku tidak ingin papa atau karyawan lain melihatnya,"


"Dan apakah kau pikir aku perduli dengan kehidupan mu? Tidak! Yang aku ingin kau tahu dengan tugas mu terhadap anakku, tanpa adanya alasan lagi!"


Syifa mengangguk, ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama "Masuk!"


Azam meminta dengan suara tegas dan lantang "Kemana?"


Syifa masih bertanya dengan polosnya, bahkan ia tidak merasa takut sama sekali dengan lelaki yang ada dihadapannya, Azam tidak menjawab. Ia langsung menarik tangan Syifa, dan membawanya masuk ke dalam mobil "Hei, kau mau membawa ku kemana?"


Syifa bertanya dengan tegas, suaranya terdengar gemetar namun Azam tidak menjawab dan melajukan mobilnya menjauh dari area kantor


"Hei tuan, jawab kau membawa ku kemana?"


Azam tetap membisu, membuat Syifa merasa lelah dan memilih diam. Ia tahu ini arah kerumah sakit, Syifa tidak lagi bertanya apapun. Ia sudah tenang sekarang


Kenapa aku mengira ia akan membawa ku ke-lain tempat padahal aku hanya penting menjaga anaknya saja! ~batin Syifa.


********


"Biasa aja dong! Kan bisa ngasihnya baik-baik enggak harus dilemparkan ke wajah aku begitu!" Gerutu Syifa dengan kesal, namun terlihat ia ingin menangis. Seumur hidupnya Syifa, ia tidak pernah diperlakukan sangat buruk seperti itu.


Dan sekarang, ia harus mengalami dan berada dilingkungan keluarga toxic seperti Azam dan ibunya.


Mama! ~teriak batin Syifa. Biasanya, ia selalu meminta perlindungan kepada ibu sambungnya itu. Namun, sekarang Syifa harus menjalani segalanya sendiri. Bukan karena mamanya tidak perduli, hanya saja Syifa tidak mau jika mamanya merasa khawatir dan cemas. Ia ingin mengatasi masalahnya sendiri, dengan mata yang berkaca-kaca syifa membawa pakaian itu. Menghentakan kaki dengan kesal, menuju kamar mandi.


Azam hanya menatap punggung wanita itu yang semakin hilang dari pandangannya. Takdir apa ini? Mereka kembali dipertemukan dengan cara seperti ini.


Setahun lalu


Azam yang sedang bersantai melihat sepasang kekasih bertengkar, bahkan terlihat wanita itu tidak nyaman karena dikasari oleh kekasihnya. Azam yang merasa geram dengan perbuatan lelaki itu langsung menghampiri dan menolong wanita yang ingin di pukul. Wanita itu adalah Syifa, wanita yang sudah menabrak anaknya hingga anaknya mengalami kelumpuhan


******


Dan sekarang, keduanya kembali dipertemukan dan harus kontak langsung hanya karena kejadian yang tidak pernah diinginkan oleh Azam dalam hidupnya "Karena kau, anak ku menjadi lumpuh dan aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan damai! Kau harus membayar semua rasa sakit yang anakku alami!!"


Terlihat sorotan kemarahan dari matanya Azam, bukannya ia membenci Syifa namun keadaan yang terjadi kepada anaknya adalah tanggung jawab Syifa.


Azam masuk ke dalam rumah sakit, ia segera menuju ruangan anaknya


Cekrek!

__ADS_1


"Papa, papa sudah kembali?" Nizam yang polos bertanya kepada papanya, Nizam pun tersenyum "Pa, di mana Tante cantik?"


Azam belum sempat menjawab, Syifa sudah membuka pintu ruangan. Kini, ia sudah memakai seragam pelayan yang diberikan kepada Azam sebelumnya "Tante cantik!"


Syifa menatap Nizam, ia berjalan mendekati anak lelaki itu "Hai anak ganteng, udah bangun ya? Maaf ya tadi Tante enggak di sini, kamunya jadi mencari Tante deh, maaf ya?"


Syifa memegang kedua telinganya, meminta maaf dengan tulus dengan Nizam "Enggak apa-apa Tante!"


Ia ingin memegang dan menyuruh Syifa untuk menurunkan tangan wanita itu dari telinga Syifa. Namun apalah daya Nizam, ia tidak bisa bergerak sama sekali


"Tante enggak apa-apa kok, Tante tangannya jangan seperti itu lagi ya?"


Syifa tersenyum begitu tulus kepada anak lelaki itu, ia pun mendekat kepada Nizam. Membelai rambut Nizam dengan lembut, terlihat jelas dimata Azam ketulusan yang diberikan kepada Syifa kepada anaknya.


Bahkan, walau sebelumnya Syifa terlihat sangat kesal namun ia bersikap profesional dihadapan Nizam, bukan hanya itu. Saat meeting tadi Syifa juga bisa bersikap profesional.


"Wanita ini sangat baik dan tulus, ah tidak! Aku tidak boleh melihat kebaikannya saja, bagaimana pun karena kecerobohannya. Anakku menjadi seperti ini!"


********


Kini, Nizam sudah boleh pulang kerumah membuat keluarga merasa senang begitu juga dengan Syifa. Ia merasa senang dengan senang karena Nizam sudah boleh pulang kerumah.


"Tante, nanti di rumah Tante selalu temani aku kan?"


Syifa diam sesaat, lalu ia mengangguk "Iya Nizam, Tante enggak bisa dua puluh empat jam buat Nizam. Tetapi, Tante akan selalu ada saat Nizam membutuhkan Tante,"


Keduanya saling pandang. Azam dan kedua orangtuanya mempersiapkan kepulangan Nizam.


Sesampai di rumah keluarga Azam, Anita langsung memberitahu apa saja tugas yang harus diberikan kepada Syifa..Syifa mengangguk, menyanggupi semuanya


Bahkan ia tidak pernah merasa keberatan dengan itu semua namun sebelumya Syifa mengatakan kepada Anita, dan Azam jika tugasnya dirumah itu hanya menjaga Nizam dan membantu pemulihan anak itu, tidak lebih!


Mereka pun setuju.


Dua Minggu berlalu


Syifa dan Nizam semakin dekat, Syifa juga sudah terbiasa dengan tugas-tugas dan mengatur waktunya. Walau itu sangat melelahkan dan membuat tidurnya terganggu. Namun ia merasa senang dan ikhlas menjaga Nizam.


Bahkan,. Nizam sudah menyayangi wanita itu keduanya begitu dekat bukan seperti pengasuh dan majikan. Namun seperti ibu dan anak.


Anita tidak suka dengan kedekatan cucu dan wanita itu, ia mengadukan segalanya kepada Azam


"Nak, kamu harus bisa membuat wanita itu jaga jarak dengan Nizam! Kamu harus ingat, karena kelalaian dia anak kamu jadi cacat, dan sekarang dia sangat dekat dengan anak kamu! Cucunya mama! Mereka bukan seperti pengasuh dan majikan, namun seperti ibu dan anak. Itu namanya kamu bukan menghukum wanita itu!"


Azam mengepalkan kedua tangannya, mendengar ucapan ibunya membuat emosinya terpancing. Ia senang karena ada yang menjaga anaknya, namun karena Syifa sudah menjadi penyebab anaknya lumpuh membuat ia membenci wanita itu.


Ia juga tidak suka melihat syifa terlalu dekat dengan Nizam, akhir-akhir ini karena wanita itu, anaknya jadi tidak membutuhkan kehadirannya.


Azam langsung mencari Syifa di kamar Nizam, ia pun menarik pergelangan tangan Syifa dengan kuat.


"Ada apa ini?" Syifa merasa kaget, sekaligus meringis kesakitan. Azam membawa Syifa keluar dari rumah dan mengusirnya

__ADS_1


"Pergi kau dari rumah ku, dan jangan pernah kau kembali lagi! Aku benci kau! Kau yang sudah menyebabkan anakku kecelakaan! Dan akhirnya lumpuh, bahkan karena kau juga. Anakku menjadi jauh dari ku! Aku tidak ingin melihat wajah mu di rumah ku!"


__ADS_2