
"Ma, Pa!"
Revan dan Shinta melepaskan pelukan satu sama lain, saat Syifa memanggil mereka "Nak?"
Syifa mendekati kedua orang tuanya "Maafkan sifat kekanak-kanakan kakak. Kakak akan kembali pulang kerumah suami kakak,"
Shinta tersenyum mendengar ucapan anaknya, ia mendekat dan mengecup kening anaknya "Kamu mengambil keputusan yang tepat sayang. Mama bangga sama kamu!"
Syifa mengangguk, Revan merasa tidak terima namun apa yang dikatakan oleh istrinya itu tidak salah
"Kak, mama akan mengantarkan kakak nanti pulang sama papa ya?" Syifa menolak dengan halus, ia tidak mau saat Azam nanti mengatakan hal buruk akan memancing emosi papanya lagi dan suasana kembali kacau "Enggak usah ma, biar kakak aja yang pulang. Kakak akan menyelesaikan ini sendiri ma, kakak akan berusaha dan akan selalu belajar menjadi ibu yang baik untuk Nizam. Seperti mama dahulu, kakak enggak akan mengharapkan apapun selain kesembuhan anak kakak Nizam,"
Shinta merasa lega mendengar ucapan anak sambungnya itu "Bagus sayang, kamu membuktikan kepada dunia jika ibu sambung itu tidak semuanya buruk. Kamu membuktikan jika ibu sambung memilki cinta dan luar biasa untuk anak sambungnya,"
Syifa tersenyum dan mengatakan jika dia belajar dari dirinya "Ma, kakak belajar dari mama. Bukan kakak yang membuktikan kepada dunia, namun mama! Mama ibu yang baik untuk kakak, si kembali, untuk Al dan Khanza,"
__ADS_1
Mengingat Al dan Khanza membuatnya sedih, Al sudah tenang di alamnya sedangkan Khanza? Sudah bahagia bersama orang tua kandungnya di Malaysia.
"Mama jangan sedih ya?"
Syifa tidak ingin mamanya kembali bersedih, dia juga sangat merindukan adiknya itu. Namun Syifa tidak mau egois, Khanza juga berhak bahagia bersama keluarganya.
"Mama jangan sedih lagi ya? Kakak harus kembali sekarang, jika tidak Nizam akan mencari kakak,"
Shinta mengangguk, meminta supir untuk mengantarkan Syifa. Karena ia tidak bisa membiarkan Syifa pergi sendirian.
*******
"Mama enggak mau tahu, kamu harus menjemputnya sekarang!"
Azam masih bersikeras tidak mau menaruh egonya demi sang anak "Maaf ma, tapi bukan Azam yang meminta dia pergi. Dia pergi karena kemauannya sendiri, Azam bisa apa?"
__ADS_1
Tidak lama, terdengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah mereka. Azam dan mamanya turun untuk melihat siapa yang datang.
"Syif, kamu kembali sayang?" Anita terlihat senang, Syifa membalas senyuman ibu mertuanya "Mama senang sekali kamu kembali, kasihan Nizam jika tahu kamu tidak ada,"
"Jadi, ratu Syifa sudah merubah keputusannya? Cih, dasar wanita tidak tahu malu! Tadi memutuskan untuk bercerai dan sekarang kembali tanpa rasa malu,"
Syifa mengepalkan tangannya dengan geram, namun ia menahan untuk tidak terbawa emosi
Sabar Syifa, sabar! Jangan terpancing emosi! Dia memang sengaja membuat masalah!
Syifa tetap berusaha tenang. Anita memarahi anaknya "Azam, apa-apaan kamu ini? Kamu jangan membuat masalah lagi! Istri kamu kembali karena sudah mengubur egonya tidak seperti kamu yang egois!"
Azam tidak mengerti, mengapa mamanya sekarang sangat membela Syifa padahal ia tahu awalnya sang mama sangat membenci Syifa.
"Ma, apa yang Azam katakan benar,"
__ADS_1
"Tutup mulut mu Azam! Jika kamu tidak bisa menjaga ucapan kamu lebih baik kamu pergi sekarang!"