
"Mama tahu ini berat untuk kamu, kamu enggak harus mencintai-nya. Cukup ia menjadi ibu untuk anak mu, bukan untuk istri atau menantu mama,
"Ma, bagaimana jika dia kembali?"
Anita tahu, siapa yang dimaksud oleh anaknya "Apa yang kamu maksud adalah Sheira?" Azam mengangguk, perasaan dan cintanya masih kepada istri pertamanya yang telah tega meninggalkan dia hanya karena impian.
Anita menggelengkan kepalanya, bahkan saat mereka memberikan kabar tentang Nizam saja wanita itu tidak kembali "Nak, kamu harus melupakan wanita itu, dia tidak perduli dengan kamu juga Nizam. Untuk apa kamu menunggunya?" Azam terdiam, tidak mengatakan apapun lagi. Walau wanita itu sudah meninggalkannya namun Azam tidak bisa melupakan wanita itu.
"Saat Syifa datang, kamu akan memintanya untuk menikah dengan kamu!"
"Tidak ma, bagaimana mungkin Azam bisa meminta kepada orang yang Azam sendiri tidak cintai,"
Anita meminta anaknya untuk terbiasa "Kamu harus bisa! Apakah kamu mau seperti Sheira? Sangat egois dan hanya memikirkan egonya sendiri? Tanpa memikirkan masa depan anak mu?" Azam menggeleng, ia mengatakan jika dirinya akan melakukan apapun untuk Nizam.
"Tidak ma! Azam akan melakukan apa saja yang terpenting anak Azam bahagia,"
"Bagus! Kamu harus seperti itu! Karena jika tidak, kasihan anak kamu!"
Keesokan paginya Syifa datang kerumah mereka seperti biasanya untuk mengurus Nizam selama dua jam.
"Permisi,"
Syifa ingin masuk kedalam kamar Nizam, namun Anita menghentikannya "Tunggu Syifa!"
Syifa pun menoleh ke arah mereka, Azam dan Anita mendekati Syifa "Syifa, ada yang harus saya dan anak saya bicarakan dengan kamu!"
"Iya Tante, silahkan!"
__ADS_1
"Azam, katakan kepadanya nak!" Azam sedikit ragu, bukan karena ia malu namun karena hatinya tidak bisa menerima Syifa menjadi istrinya.
"Ada apa? Jika tidak ada hal yang ingin dibicarakan, saya harus ke kamar Nizam untuk mengurusnya. Karena waktu terus berjalan,"
Mendengar ucapan Syifa membuat Azam kesal, apakah pertanggungjawaban Syifa hanya dua jam saja selama sehari? Lalu bagaimana sisa waktu yang akan dijalani oleh anaknya.
"Aku ingin kau menikah dengan ku,"
Pernyataan Azam bagai suatu tamparan di pagi hari untuk Syifa, bagaimana bisa seorang lelaki dingin dan kasar seperti Azam mengajaknya menikah? Tentu saja hal itu ia tolak dengan matang-matang
"Tidak! Aku tidak bisa menikah dengan pria seperti mu!"
Azam mendekat ke arah Syifa "Cih! Apa kau pikir aku ingin menikah dengan mu? Namun, kau harus bertanggungjawab atas anakku! Kau harus merawatnya dengan waktu yang penuh sampai dia sehat! Bukan hanya dua jam saja,"
"Apa yang anda katakan? Bukan kah itu sudah persetujuan anda dengan mama dan papa saya? Lalu, kenapa anda sekarang membuat keputusan sepihak seperti ini? Tidak! Aku tidak ingin menikah dengan mu!"
"Aku tidak perduli, namun kau harus menikah dengan ku! Bukan menjadi istri ku, namun menjadi ibu sambung untuk anakku! Karena kau anakku menjadi lumpuh, dan kau harus mengabdikan seluruh hidup mu untuk menebus kesalahan mu karena sudah membuat anakku lumpuh!"
"Apa-apaan ini? Aku sudah bertanggung jawab! Bahkan, kedua orang tua ku juga bertanggungjawab! Mereka mengirimkan tim medis terbaik untuk Nizam, apalagi?"
Suasana semakin memanas, Syifa sudah semakin mengeraskan suaranya. Ia tidak terima dengan keputusan Azam yang seenaknya seperti itu
"Syifa, tolong dengarkan saya!"
Kini Anita yang ikut berbicara, ia tahu jika anaknya terus berbicara itu akan membuat Syifa semakin marah dan tidak akan mengontrol emosinya.
"Apalagi Tante?"
__ADS_1
"Syifa, saat ini kita semua tahu bagaimana kondisi Nizam. Ia tidak bisa melakukan aktifitas apapun, hanya bisa berbaring ditempat tidur. Masa depannya telah hilang,"
"Tapi saya dan keluarga saya juga enggak tinggal diam Tante! Kami bertanggungjawab atas hal yang dialami oleh Nizam!"
"Iya, saya tahu! Kamu dan keluarga mu sudah bertanggungjawab untuk itu. Tapi, waktu kamu dengan Nizam enggak lama, hanya dua jam saja! Sementara, sekarang Nizam sudah bertanggung dengan kamu. Setelah kamu pergi, dia akan kesepian! Syifa, tolong menikah lah dengan anak saya! Bukan sebagai seorang menantu atau pun istri, namun sebagai seorang ibu untuk Nizam. Jika kamu menjadi ibu untuknya, waktu kamu akan lebih lama untuknya, dan saya yakin cucu saya akan bahagia dengan kamu, kamu juga akan fokus merawatnya. Bukan hanya dua jam saja, dan Itu akan membuat Nizam lebih cepat sembuhnya,"
Syifa terdiam "Lagipula, kau penyebab anakku lumpuh. Dan kau harus bertanggungjawab atas itu semua! Kau harus mau menjadi ibu sambung untuk anakku, dan merawatnya sampai dia sembuh. Setelah dia sembuh, kita akan berpisah!"
Azam terus saja mengungkit kesalahan Syifa, membuat wanita itu harus menerima permintaan keluarga Azam. Lagipula, setelah kesembuhan Nizam, ia akan berpisah dengan Azam
"Baik lah, aku akan setuju. Tapi bukan untuk menjadi istri mu atau pun menantu keluarga ini! Melainkan menjadi ibu untuk Nizam, dan kau tidak memiliki hak apapun atas diri ku!"
Azam menatap Syifa dengan tajam, wanita itu juga menatap Azam jauh lebih tajam. Keduanya saling bertatapan dengan penuh kebencian dan kemarahan satu sama lain, seperti menatap seorang musuh "Aku tidak menginginkan diri mu! Jangan khawatir! Kau tidak harus melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri atau pun menantu. Cukup lakukan kewajiban mu sebagai seorang ibu yang baik anak ku!"
Walau Syifa belum pernah menjadi seorang ibu, namun ia yakin bisa menyayangi dan mencintai Nizam sebagai anaknya dengan baik dan tulus.
"Aku setuju,"
"Dan satu lagi, jangan pernah melarangku untuk berkencan dengan wanita lain. Kau paham itu!" Belum menikah saja, Azam sudah berpikiran untuk menduakan Syifa, namun wanita itu tidak perduli
"Kau pikir aku akan perduli tuan? Tidak! Kau salah besar! Aku tidak akan perduli dengan siapa kau akan berhubungan! Karena pernikahan kita bukan sebagai suami istri. Namun hanya untuk menjadi orang tua yang utuh untuk Nizam!" Syifa pun mengatakannya dengan sangat tegas, tanpa adanya rasa takut.
Anita senang, karena keduanya sudah setuju untuk menikah, semua itu Anita lakukan demi kebaikan cucunya. Masa depan Nizam jauh lebih penting daripada rasa bencinya kepada Syifa, lagipula ia tidak harus menerima Syifa sebagai menantunya itu.
"Sudah lagi, lagipula pernikahan ini hanya sementara sampai Nizam sembuh total. Setelah itu Syifa, kamu bisa bebas dan menikah kembali dengan siapa saja!"
Syifa mengangguk, lagipula saat ini ia tidak memiliki kekasih hati. Ia sudah lama berpisah dengan kekasihnya yang begitu sangat egois
__ADS_1