
Revan mendekati anaknya dengan kemarahan, Syifa memejamkan matanya dengan tangan gemetar ketakutan, ia menerima jika nantinya sang papa akan memukul dirinya. Mungkin, itu yang pantas untuk dirinya ia sudah akan menerima semua resiko yang ada.
Azam melihat kekacauan tersebut, bahkan demi anaknya. Wanita itu rela di bentak bahkan mungkin akan dipukul oleh papanya.
Satu tangan hampir melayang di wajah Syifa, namun Shinta dengan cepat mencegah tangan suaminya. Menatap Revan dengan mata yang berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat seakan memberikan kode jika suaminya tidak boleh melakukan itu
"Tolong, jangan lakukan itu kepada anak kita, bagaimana pun Syifa adalah anak kandung mu. Jangan sakiti dia,"
Syifa menangis, ia merasa ketakutan namun tak berhenti meminta restu kepada papanya "Pa, tolong izinkan Syifa menikah dengannya. Ini bukan untuk Azam, tapi untuk anaknya Nizam. Anak yang sudah Syifa tabrak hingga dia cacat,"
"Diam! Jangan jadikan itu menjadi alasan jamu menikah dengannya Syifa!" Revan semakin mengeraskan suaranya, ia terlihat sangat marah dan tidak menerima semuanya.
Shinta menoleh ke arah Azam dan meminta pria itu untuk pulang terlebih dahulu "Nak Azam, tolong sekarang kamu pergi dulu. Syifa nanti yang akan memberikan keputusannya,"
"Baik Tante," walau Azam bersikap kurang ajar kepada Revan, namun ia tetap menghormati Shinta.
Azam segera pulang dan berpamitan kepada semua orang. Setelah kepergian Azam, Shinta mendekati suaminya "Suami ku tolong lah mengerti,"
"Mengerti apa? Kau lihat! Anak ku mau menikah dengan duda anak satu, bahkan aku tahu jika anakku dan lelaki itu tidak saling mencintai! Bagaimana kehidupan Syifa nanti? Tidak! Aku tidak bisa mempertaruhkan kehidupan masa depan anakku!"
Mendengar itu, Syifa semakin senggugukan. Mengapa sulit sekali menyakinkan papanya? Ia tahu, papanya seperti itu karena sangat mencintai dirinya dan tidak mau syifa nantinya akan menderita.
"Suami ku, tenang lah terlebih dahulu!"
Shinta meminta suaminya untuk duduk, dan meminta anaknya untuk mengambilkan segelas air minum untuk Revan "Sayang, tolong ambilkan minum untuk papa,"
Syifa mengangguk, segera ia menghapus air matanya dan mengambilkan segelas air putih untuk sang papa. Shinta mengambil dari tangan Syifa dan memberikannya kepada sang suami.
Revan meneguk minum itu, kini hatinya sedikit lebih tenang "Suami ku, bisakah aku bicara sekarang?"
Revan menatap isterinya dan mengangguk, Shinta tersenyum dan mengucapkan terimakasih karena suaminya sudah memberikannya kesempatan dan hak untuk berbicara.
__ADS_1
"Syifa sayang, apa yang papa katakan itu semua untuk kamu, papa merasa takut nak. Tapi suami ku, aku memahami kegelisahan dan juga ketakutan mu. Karena keadaan mu sekarang, itu yang ayah Gunawan rasakan beberapa tahun lalu. Saat anak gadisnya bahkan anak semata wayangnya ingin menikah dengan seorang duda anak satu, ayah sangat marah waktu itu. Bahkan, menampar diri ku, saat itu kita tidak saling mencintai satu sama lain. Bahkan, kita saling membenci tapi lihat lah sekarang, kita hidup bahagia bersama anak-anak. Kita saling mencintai satu sama lain,"
"Ini hal yang sangat berbeda!"
"Tidak ada yang beda sayang, ini sama! Dahulu, aku meminta restu kepada ibu dan ayah untuk menikah dengan mu bukan karena cinta ku kepada mu, namun karena cinta ku kepada Syifa. Dan sekarang, Syifa merasakan hal yang sama, bahkan kau dahulu jauh lebih galak daripada Azam,"
Revan terdiam "Sayang, percayalah jika nak Azam tidak akan menyakiti anak kita,"
Namun tetap saja Revan masih ragu dan dilema, ia takut pernikahan itu akan menyakiti hati dan hidup anaknya kelak.
"P---pa----papa, tolong restui lah! Syifa sangat menyayangi Nizam. Syifa ingin merawatnya hingga dia benar-benar sembuh, dengan seperti itu Syifa tidak akan merasa bersalah lagi. Papa jangan khawatir! Jika nantinya Azam menyakiti Syifa, baik secara mental ataupun fisik Syifa tidak akan tinggal diam! Syifa akan melawan, juga mengadu kepada mama dan papa."
Baik syifa mau pun Shinta terus meyakinkan Revan. Bahkan, Syifa mengatakan jika Nizam sembuh total ia dan Azam akan berpisah.
Berulangkali syifa meyakinkan papanya, hingga membuat Revan luluh "Baik lah, papa akan merestui pernikahan kamu namun dengan satu syarat,"
"Apa pa?"
"Pernikahan ini akan diadakan malam ini, juga secara privat! Tidak boleh ada yang tahu, bahkan keluarga besar. Karena setelah kesembuhan Nizam, kalian harus berpisah! Dan jangan pernah hamil anaknya, karena papa tidak mau kamu memiliki anak dari lelaki seperti itu!"
"Memang benar! Tapi, aku tidak bisa anak ku menjalani kehidupannya bersama pria yang tidak mencintainya. Tidak! Aku tidak akan mengambil resiko itu,"
"T--tapi, bagaimana jika mereka nantinya saling mencintai? Apakah kamu tetap memisahkan mereka?"
"Jika mereka saling mencintai dan Syifa bahagia, aku tidak akan menuntut perpisahan itu setelah kesembuhan Nizam. Namun, saat anak itu sudah sembuh, namun tidak ada cinta dari Azam atau pun Syifa, mereka harus berpisah!"
"Mama jangan khawatir, kakak tidak akan pernah mencintai lelaki itu. Kakak akan menikah hanya sebagai ibunya Nizam, bukan sebagai istri atau pun menantu di keluarga mereka,"
Shinta menatap anak sambungnya, dahulu Shinta juga mengatakan hal yang sama saat menikah dengan Revan. Namun, nyatanya sekarang? Semuanya jauh berbeda, shinta hanya berdoa demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya. Ia pun mengangguk.
Syifa mengucapkan terimakasih banyak kepada kedua orang tuanya ia juga akan memberikan kabar ini kepada Azam dan juga keluarganya.
__ADS_1
Syifa juga akan memberikan kabar ini kepada ibu kandungnya Caca, bagaimana pun Caca juga berhak atas kabar yang penting ini.
Syifa segera menghubungi Azam untuk memberitahu kabar ini.
*******
"Sayang, bagaimana? Apa tanggapan Azam dan keluarganya?"
Shinta pun penasaran, apakah keluarga Azam setuju dengan pernikahan itu nanti malam, dan bagaimana juga reaksi Caca sebagai ibu kandungnya syifa
"Mereka setuju, begitu juga dengan mama Caca, ma. Daddy juga mendoakan untuk kebahagiaan kakak, mereka akan segera kembali. Namun, tidak menghadiri acara nanti malam,"
"Apakah mama Caca marah, nak?"
Syifa menggeleng "Tidak ma! Bahkan mama Caca dan Daddy Sangat senang sekali. Mereka mendoakan demi kebahagiaan Syifa,"
Shinta merasa lega, ia takut Caca akan sedikit tersinggung. Karena bagaimana pun Caca adalah ibu kandungnya syifa.
********
Malam pun tiba, kini pernikahan diadakan secara tertutup dan sederhana. Hanya ada Syifa, Azam, kedua orang tua mereka dan beberapa saksi saja. Juga penghulu yang menikahkannya.
Kini, Azam sudah mengucapkan ijab qobul dan keduanya sudah resmi menjadi suami dan istri. Tidak ada kebahagiaan, diantara keduanya. Revan juga masih berat melepaskan anak sulungnya. Shinta berdoa untuk kebahagiaan anak sambungnya itu, ia juga meneteskan air mata merasa terharu sekaligus kesedihan.
Syifa adalah anak sulung keluarga Pratama, seharusnya pernikahan itu diadakan secara besar-besaran dan diumumkan oleh semua orang, juga awak media. Bagaimana pun, keluarga mereka adalah keluarga terpandang, dan suaminya adalah pengusaha terkenal.
Begitu juga dengan latar belakang, neneknya Syifa dari ibu kandungnya Caca, juga kolega-kolega jaringan besar Arvan. Ayah sambungnya Syifa.
Namun pernikahan anak mereka digelar secara sederhana dan tertutup atas pemintaan Revan karena ia tidak mau saat anaknya nanti berpisah dengan Azam semua akan tahu status anaknya nanti sebagai janda.
Bahkan, Revan melarang anaknya untuk mau disentuh oleh Azam. Agar perpisahan nanti, Syifa masih suci dan tidak akan tahu jika dirinya pernah menikah dan seorang janda.
__ADS_1
"Selamat sayang, mama berharap kamu akan selalu bahagia nak,". Shinta memeluk Syifa saat kedua pengantin meminta restu kepadanya.
Syifa menangis memeluk mamanya dengan erat, ia belum siap pergi jauh dari mamanya. Karena selama ini, Syifa terbiasa dengan kehadiran mamanya.