
"Mama jangan khawatir, papa pasti bisa membuat alana mengerti mama jangan sedih lagi ya?"
Shinta memeluk puteranya dan mengatakan jika dirinya tidak bermaksud membuat anak-anaknya sedih atau menangis.
"Sayang, tolong maafkan mama kalian jangan salah paham dengan mama! Mama sangat menyayangi anak-anak mama dan mama hanya merasa khawatir dengan kakak kalian saja,"Meminya
alan mengatakan kepada mamanya untuk tidak bersedih terlalu lama "Mama dan kita semua tahu bagaimana sifat Alana lalu mengapa mama harus sedih? Mama jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja"
*****
Di sisi lain, Alana berlari sambil menangis, Revan berusaha mengerjar sang anak namun lari Alana jauh lebihg kencang "Sayang tunggu papa!"
"Enggak! Alana enggak mau! Papa, mama semaunya enggak ada yang sayang kepada ku! Kalian hanya menyayangi kakak dan Khanza saja!"
Revan yang masih mengejar anaknya punn akhirnya kehilangan jejak karena ada mobil besar yang berhenti dan menghalangi dirinya mengejar atau pun melihat anaknya.
"Papa, ayo masuk lah!" Alan meminta papanya untuk masuk kedalam mobil. Revan segera masuk "Di mana Alana?"
__ADS_1
Revan memeluk untuk menenangkan istrinya "Tenang lah!"
"Aku bertanya, di mana anakku?"
Revan terdiam, bagaimana ia bisa menjelaskan segalanya kepada Shinta. Ia tahu jika Shinta sulit untuk mengerti keadaan yang ada "Jawab! Di mana Alana?"
"Tadi aku mengejarnya, namun tiba-tiba ada mobil besar di hadapanku dan menghalangi. Sebab itu,"
"Sebab itu apa!"
"Maaf, aku kehilangan jejak Alana. Mungkin dia bersembunyi di sini, tapi percayalah kita akan menemukannya, mobil berjalan dengan cepat. Kita akan segera menemukannya.
Shinta masih menangis, mengapa ia tidak bisa memahami perasaan anaknya yang satu itu? Ia tahu, jika Alana sangat sensitif dan pasti mudah tersinggung dengan apapun.
"Ini salah ku, seharusnya aku tidak mengatakan hal-hal yang membuatnya terluka. Kita pernah hampir kehilangannya namun aku tidak pernah merasa jera dengan segalanya,"
Revan menenangkan istrinya namun matanya tidak pernah lari dari pandangan jalanan. Ia juga berharap menemukan sang anak segera mungkin "Jangan khawatir! Dia pasti akan kita temukan,"
__ADS_1
"Anak manja itu selalu saja membuat masalah! Dia sudah besar namun tingkahnya seperti anak-anak. Itu karena mama dan papa terlalu memanjakannya!"
"Alan, sudah jangan membuat mama kamu sedih kembali! Kamu harus menjaga sikap mu dan menjaga perasaan mama,"
"Iya namun tidak ada yang menjaga perasaan ku!"
"Cukup Alan!" Revan membentak anaknya, Alan membuang wajah ke sembarang arah "Mungkin, kalian akan menyadari kehadiran ku yang berharga setelah aku pergi seperti Alana atau seperti Al," gumamnya pelan namun masih dapat di dengar oleh Shinta.
Spontan Shinta langsung memeluk Alan yang ada disampingnya "Jangan mengatakan hal itu sayang, kalian adalah dunianya mama. Mama tidak akan sanggup kehilangan kalian lagi, lebih baik mama yang pergi dari dunia ini daripada mama harus menghadapi kematian anak mama lagi,"
Alan langsung memeluk mamanya "Maafkan Alan ma, Alan mengatakan itu dengan perasaan marah tanpa berpikir panjang. Tolong jangan berbicara seperti itu ma, Alan minta maaf!"
Tidak memiliki waktu panjang, mobil terhenti saat melihat Alana yang duduk di taman dekat rumah "Nyonya, itu nona Alana!"
Shinta, Revan dan Alan langsung turun dari mobil, untuk mendekati Alana
Alana!
__ADS_1
Alana yang menangis, ingin pergi namun tidak ada waktu untuk dirinya kabur dari keluarganya "Sayang, tolong maafkan mama! Mama yang bersalah tapi jangan menghukum keluarga dengan kesalahan mama!"