
Syifa telah sampai di rumah, ia tidak mengatakan apapun namun jelas sekali di wajahnya sangat kesal "Apakah Alana membuat mu kesal?" Syifa kaget, mengapa suaminya tahu?
"Ka-kau?"
"Iya, aku mendengar segala yang diucapkan Alana," Azam tersenyum kecil, ia mendengar semua percakapan itu. Dan menurutnya semua yang Alana katakan benar "Jangan marah kepadanya, dia tidak salah. Dan apa yang dikatakannya memang benar. Tapi, sungguh aku salut kepada mu, di depan keluarga mu kau membela keluarga ku namun di depan aku, kau tidak mengeluh sedikitpun tentang mereka,"
"Apa yang bisa aku lakukan? Nizam anakku, dan Alana adikku. Keduanya sangat berarti bagiku, ucapan Alana mungkin memang benar di sudut pandangnya. Tapi, entah mengapa aku merasa sedih dan marah mendengarnya. Dan aku minta maaf, jika ucapan adik ku menyakiti mu!"
Azam menatap Syifa "Aku tidak tersinggung, dan jika aku berada di posisi Alana. Aku akan mengatakan hal yang sama, dia benar. Dia tidak salah, cara pandangnya juga tidak salah. Dia menyayangi mu dan mengkhawatirkan masa depan kakaknya,"
"Alana masih sangat kecil untuk memahami segalanya! Mengapa dia mengatakan hal yang seharusnya ia tidak perlu katakan?" Syifa menghela nafas panjang, ia tidak bisa marah atau membenci adiknya. Namun saat ini dia sangat kesal
"Mungkin, bertemu dengan Nizam akan membuat mu jauh lebih baik," hanya itu yang bisa Azam katakan, ia tidak pernah melihat istrinya se-gusar ini semenjak mereka menikah "Terimakasih, aku akan melihat Nizam dahulu!" Azam mengangguk. Satu langkah Syifa melangkah ingin menemui Nizam, terhenti saat mendengar langkah kaki yang tak asing baginya.
__ADS_1
Segera ia membalikan badannya, benar saja itu adalah Sheira mantan istri dari suaminya, sekaligus ibu kandung Nizam
"Hallo semuanya!" Sheira tersenyum dengan licik, Syifa merasa terganggu dengan kehadiran wanita itu. Jika hanya melihat dan menjenguk Nizam tak masalah baginya, namun ia tahu jika wanita itu pasti akan membuat keributan.
"Ada apa?" Azam bertanya dengan ketus "Santai saja mantan suami ku! Kedatangan ku untuk membawakan makanan kepada anak kita,"
Cih!
Rasanya Syifa benar-benar kesal mendengar cara bisa Sheira yang terlalu di buat-buat "Dan iya, buat kamu! Penyebab lumpuhnya anakku, oh iya aku lupa sekarang kamu sudah menjadi pengasuhnya ya? Emmm maksud ku ibu sambungnya. Tolong jangan salah sangka ya? Dan aku tidak ingin orang ketiga ikut campur dalam masalah ayah, anak dan ibu kandung!" Ujar Sheira tegas, seakan mempertegas siapa Syifa.
Wanita ini, dia tidak seperti mami Caca!
Terlintas di ingatan Syifa, bagaimana mami Cacanya datang untuk pertama kali. Ia bahkan tidak memusuhi mama Shinta, namun mengapa Sheira memusuhinya? Ia pun sadar, tidak semua manusia memiliki hati dan sifat yang sama.
__ADS_1
"Dia sangat licik dan jahat, aku harus berhati-hati kepadanya. Aku yakin, dia pasti ingin menyingkirkan aku!" Batin Syifa yang menatap tajam Sheira
"Mantan suami ku, anjing baru mu. Oh maaf maksudnya istri baru mu sangat galak sekali ya? Lihat dia menatap ku seolah aku ingin di makan olehnya!"
Sheira sungguh sangat menyebalkan baginya, kata-katanya sangat menusuk dan membuat hati orang lain merasa sakit.
"Jika kedatangan mu untuk melihat Nizam, silahkan! Aku tidak melarang, namun jika kau datang hanya untuk membuat kekacauan. Lebih baik pergi!"
"Huh, galak sekali!"
"Aku mungkin memang ibu sambung bagi Nizam, dan aku tidak akan mencampuri masalah anak dan ibunya jika itu memang yang baik. Tapi, mungkin kau lupa! Aku adalah istri Azam sekarang. Dan kau tidak memiliki hak di rumah ini, jadi bersikaplah selayaknya tamu!"
Sheira mengepalkan kedua tangannya, ia merasa tersinggung dengan ucapan Syifa "Beraninya kau! Kau lupa, aku dulu adalah ratu di rumah ini. Dan sampai sekarang, aku ratu di hati suami mu, iyakan Zam?"
__ADS_1
Azam terdiam, Syifa pun mendekati mantan istri dari suaminya itu "Aku tidak perduli siapa yang ada di hatinya, dan siapa kau di masa lalu suami ku..tapi sekarang, aku adalah istrinya Azam yang sah. Dan aku lebih memiliki hak atas keluarga ku!"