
Syifa terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya warna putih dan rambut diurai gelombang sempurna, bahkan matanya terlihat sangat teduh
"Anak mama cantik sekali," Shinta menghapus air mata Syifa, ia meminta anaknya untuk tidak menangis di hari penting ini. Bahkan, Shinta mengatakan kepada anaknya untuk menjadi ibu sambung yang baik "Sayang, jadilah ibu sambung yang baik dan bersikap adil untuk anak-anak kamu nantinya,"
"Ma, Syifa akan menjadi ibu sambung yang baik untuk nizam. Tapi, kakak tdiak akan memiliki anak darinya, setelah kesembuhan Nizam kami akan berpisah,"
Ucapan perpisahan sahabat dibenci oleh shinta karena baginya pernikahan bukan lah pemainan, namun ia yakin jika suatu saat nanti Syifa maupun Azam akan memiliki cinta yang lebih kuat daripada hubungannya dengan sang suami. Semua ini hanya membutuhkan waktu saja!
Kini, Azam akan membawa Syifa pulang kerumahnya. Bahkan, Azam tidak berpamitan kepada Shinta mau pun Revan. Begitu juga dengan kedua orang tua Azam, karena pernikahan ini tidak di inginkan oleh siapapun.
Syifa berpamitan kepada mama dan papanya, Revan yang melihat sikap Azam dan keluarga semakin berat melepaskan anak perempuannya itu "Nak, sebaiknya kalian tinggal di rumah papa!"
"Pa, saat ini kakak sudah menjadi istri, dan istri harus ikut dengan suaminya kan pa?" Revan memeluk erat anaknya..
Azam dan keluarga sudah naik kedalam mobil, menunggu Syifa untuk naik, Syifa pun menangis dipelukan papanya. Apakah ia akan bisa hidup tanpa mama dan papanya?
Tin...! Tin...!
Suara klakson mobil berbunyi, seakan meminta Syifa untuk cepat masuk kedalam mobil. Syifa pun melepaskan pelukannya dari sang ayah, dan segera masuk kedalam mobil
Mobil segera pergi menjauh dari pandangan Shinta dan keluarga "Apakah aku melakukan kesalahan dengan menikah kan anakku dengan keluarga seperti mereka?"
Ia bertanya kepada Shinta, Shinta meminta suaminya untuk tenang dan percaya "Suami ku percayalah dengan anak kita, dia bukan wanita yang lemah dan akan tinggal diam jika dirinya disakiti, jangan khawatir! Kita akan terus memantau putri kita dari jauh,"
Revan pun akan melakukan itu, walau mereka tidak akan satu rumah namun dirinya akan menjaga anak kesayangannya itu, ia akan memantau anaknya dari jauh. Shinta kembali meyakinkan suaminya. Namun, Revan masih ada perasaan khawatir
Sebenarnya, Shinta juga khawatir. Namun, ia yakin jika anaknya bisa mengendalikan situasi yang ada. Dan dirinya percaya, ketulusan Syifa akan meluluhkan benteng keras hatinya Azam seperti dirinya dulu.
*******
Syifa sudah sampai di rumah Azam, terlihat jelas sikap dingin Azam kepada dirinya namun Syifa tidak perduli. Ia hanya fokus dengan kesembuhan Nizam yang sekarang sudah menjadi anak sambungnya.
"Kau, bisa tinggal dan tidur di kamar Nizam!" Ujar Azam dengan dingin, namun Anita tidak mengizinkannya "Tidak nak! Jika Syifa tidur bersama Nizam, maka Nizam akan terganggu tidurnya. Lebih baik dia di kamar kamu,"
"Tidak! Biarkan saya dikamar Nizam saja, dengan begitu saat tengah malam Nizam terbangun. Akan terjaga, lagipula pernikahan ini untuk Nizam bukan untuk siapa-siapa,"
Azam terlihat kesal mendengar ucapan Syifa "Apa kau mengira aku ingin sekamar dengan mu? Tidak! Jangan berharap, ma biarkan saja dia tidur dengan Nizam!"
Setelah mengatakan itu, Azam pergi meninggalkan Syifa dan kedua orang tuanya "Saat ini, Azam sudah menjadi suami kamu. Jadi, kamu harus bisa bersikap sopan dengannya!"
"Maafkan saya Tante, tapi saya disini hanya untuk Nizam. Lagipula, untuk apa saya menghormati seseorang yang tidak pernah menghargai saya? Jika dia tidak menganggap saya istri lalu mengapa saya menganggapnya sebagai suami?"
"Kau ini terlalu banyak bicara ya? Jangan lupa, status mu sekarang sebagai istri dari anak saya. Suka atau pun tidak itulah kenyataannya! Dan di ajaran agama kita, seorang istri harus berbakti dengan suami!"
Syifa hanya bisa mengelus dada, menghadapi mertua seperti Anita. Malas berlama-lama berdebat ia pun permisi untuk ke kamar Nizam "Maaf Tante, namun jika tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Saya harus ke kamar Nizam sekarang, saya juga butuh istirahat permisi!"
"Dasar menantu tidak tahu diri! Jika bukan karena cucu ku, aku tidak sudi menjadikan mu menantu dasar anak manja!"
Syifa menahan air matanya mendengar cacian dari sang mertua, namun ia tidak boleh lemah. Dirinya harus kuat demi Nizam
"Aku harus kuat," Syifa pun berfikir, apakah dulu mamanya merasakan kesulitan seperti ini? Namun, sepertinya tidak! Karena ia tahu, jika neneknya Lily adalah wanita baik dan lembut sangat berbeda jauh dengan mertuanya ini. Begitu kasar, dan juga pedas ucapannya.
Anita terus saja menggerutu kesal melihat tingkah menantunya "Heran deh, kenapa punya menanti enggak ada yang beres satu pun! Dahulu, ada Sheira dan sekarang wanita itu. Ya Tuhan, bisa mati berdiri aku jika terus begini!" Anita berteriak kesal, suaminya pun datang
"Ma, kenapa sih? Marah-marah terus? Enggak baik untuk kesehatan mama!"
"Gimana mama enggak marah-marah jika mempunyai menantu yang kurang ajar seperti itu!"
"Ma, Syifa tidak kurang ajar. Apa yang dikatakannya memang benar, lagipula kita tidak memperlakukannya sebagai mana menantu yang benar-benar layak. Jadi, tidak salah jika dia mengatakan itu,"
Anita menatap suaminya dengan kesal "Papa kenapa belain dia? Apa jangan-jangan papa suka dengan menantu kita itu?"
"Astaga ma, apa yang mama katakan? Jangan berbicara sembarangan! Sudah, lebih baik mama istirahat di kamar, papa enggak mau kesehatan mama drop!"
Anita pun kekamar dengan rasa emosi, baru hari pertama Syifa menjadi menantu suasana dirumah sangat kacau. Apakah keputusannya itu salah? Menikahkan anaknya dengan syifa, kepalanya terasa sangat pusing. Ia pun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
******
__ADS_1
Syifa membuka pintu kamar Nizam, dan membawa koper bawaannya ke dalam. Ia melihat Nizam yang masih terlelap tidurnya, perlahan Syifa masuk dan menyimpan bawaannya di sudut terlebih dahulu. Ia berencana besok akan menyusunnya ke lemari, Syifa pun membuka kopernya untuk mengambil baju piyama yang akan ia gunakan untuk tidur.
"Sebaiknya aku membersihkan tubuh dulu,"
Syifa sudah gerah dengan kebaya putih yang ia gunakan sejak tadi, menatap dirinya di depan cermin. Tidak menyangka, jika sekarang ia berstatus menjadi istri orang lain.
Syifa tidak tahu apakah ia harus bahagia atau sedih? Seharunya, pernikahan itu adalah impian semua wanita namun hari ini ia menikah dengan lelaki yang sama sekali tidak ia cinta. Bahkan, tidak pernah menganggap dirinya Ada.
Syifa berfikir betapa beratnya ibu sambungnya dahulu berada di posisinya sekarang. Namun, ia harus kuat.
"Jika mama saja bisa melewatinya kenapa aku tidak? Lagipula, pernikahan ini bukan untuk menjadi istri atau pun menantu melainkan menjadi ibu. Mama menyayangi dan mencintai ku dengan tulus. Ia memberikan cinta terbaiknya untuk ku, dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama untuk Nizam,"
Syifa menghapus air matanya yang menetes, dan tersenyum didepan kaca. Ia bersumpah kepada kepada dirinya sendiri akan mencintai Nizam melebihi dirinya sendiri. Ia juga akan menjaga Nizam hingga titik darah penghabisan
"Sayang, Tante enggak akan membiarkan kamu merasakan kesedihan lagi mulai sekarang. Tante akan menyayangi dan mencintai kamu sepenuh hati Tante, ini janji Tante nak,"
*********
Keesokan paginya, Syifa masih tertidur memeluk Nizam. Ia membuka matanya perlahan, saat mendengar Nizam memanggilnya "Tante cantik,"
"Hei, anak ganteng!"
Syifa bangkit perlahan, mengikat rambutnya yang panjang dengan asal-asalan
"Tante cantik tidur di sini?"
Cekrek!
Belum sempat Syifa menjawab, pintu kamar Nizam sudah terbuka. Itu adalah Anita dan Azam, Azam menatap Syifa tanpa berkedip.
Mungkin, kecantikan Syifa lebih terpancar saat baru bangun tidur. Anita berjalan mendekati Nizam dan Syifa
"Nizam sayang, mulai sekarang Tante Syifa adalah mama kamu,"
"Beneran Oma?"
"Iya Nizam,"
Syifa menoleh ke arah Nizam yang memanggilnya Bunda, Syifa merasa terharu sekali mendengar Nizam yang memanggilnya Bunda. Awalnya, Syifa mengira jika Nizam tidak bisa menerima dirinya sebagai ibu namun ia salah.
Syifa memeluk anak sambungnya itu "Sayang, terimakasih kamu mau menerima bunda,"
"Syifa, saya tidak punya waktu! Jadi, saya dan anak saya harus pergi sekarang! Kamu, sudah bisa merawat cucu saya dengan baik! Buktikan tanggungjawab kamu sebagai ibu sekaligus baby sister cucu saya!"
Syifa tahu dan sadar, jika keluarga ini hanya menganggapnya sebagai baby sister saja. Syifa bersikap santai dan tidak sedih, lagipula apa yang bisa ia harapkan?
"Sudah jam segini, seharusnya kamu udah siap-siap merawat cucu saya! Bukan masih tidur, lihat wajah mu sangat jelek dan berantakan sekali!"
Anita kembali menegur menantunya, namun mata Azam masih tak berkedip menatap istrinya. Entah mengapa, Syifa terlihat lebih cantik jika hanya menggunakan piyama dengan rambut di ikat berantakan namun itu membuat penampilannya semakin seksi.
"Ayo nak, kita keluar!" Azam tersasar, saat sang mama memegangnya.
"Iya ma,"
Mereka keluar dari kamar, Syifa membersihkan tubuh anak sambungnya terlebih dahulu "Bunda, kenapa sekarang Bunda menjadi mama aku?"
Syifa menghentikan kegiatannya, tersenyum menatap Nizam "Karena Bunda sudah menikah dengan papanya Nizam. Sebab itu, bunda menjadi mama Nizam sekarang, apakah Nizam tidak suka?"
"Sangat suka dan bahagia bunda, Nizam tidak akan kehilangan bunda dan merasa kesepian lagi karena bunda harus pulang kerumah bunda,"
Syifa yang merasa gemas pun mencubit lembut pipi anak sambungnya itu "Pinter banget sih anak bunda,"
Keduanya tidak akan kecanggungan satu sama lain, padahal ini hati pertama keduanya menjadi hubungan antara ibu dan anak. Sebelumya keduanya hanya lah dua orang yang asing tidak mengenal satu sama lain.
Nizam tertawa, ia merasa sangat senang. Syifa kembali melanjutkan aktifitasnya yang membersihkan tubuh Nizam.
Pelayan masuk membawakan sarapan untuk Nizam "Permisi nona, ini sarapan bubur untuk tuan nizam,"
__ADS_1
Pelayan itu pun menaruh semangkuk bubur dan segelas susu di atas meja, tidak lupa Syifa mengucapkan terimakasih banyak kepada pelayan itu "Terimakasih banyak bi,"
Pelayan itu tersenyum, untuk pertama kalinya di rumah ini ada yang menghargainya sebagai pelayan dan mengucapakan terimakasih.
"Sama-sama Nona,"
Pelayan itu segera pergi dari kamar, tidak butuh lama Syifa mengambil mangkuk tersebut untuk memberikan makan kepada anak sambungnya itu
Syifa mempunyai sakit lambung yang tidak bisa terlambat makan sedikit pun, biasanya ia sudah sarapan di rumahnya. Namun sudah pukul sepuluh pagi, dia juga belum sarapan apapun karena sibuk mengurusi Nizam sampai anak itu tertidur.
Syifa membawa piring bekas makan Nizam ke dapur, ia menuruni anak tangga. Perutnya terasa perih dan sangat sakit, Syifa berjalan dengan perlahan menuruni anak tangga satu persatu.
"S----sakit sekali," bahkan melangkah satu langkah saja menuruni anak tangga ia sudah tidak sanggup.
Azam yang pulang kerumah, untuk mengambil dokumen penting melihat Syifa kesakitan di anak tangga. Dengan cepat ia menghampiri saat Syifa mau terjatuh. Untung saja dengan cepat ia memegang tubuh Syifa yang sudah tidak sadarkan diri.
Pyar!
Mangkuk dan gelas bekas Nizam sarapan jatuh pecah ke lantai, suara kebisingan itu membuat Anita datang "Azam ada apa? Syifa? Kenapa dia tidak sadarkan diri? Apa yang terjadi?"
Kebenarannya, Anita bukan lah wanita yang jahat. Ia tidak terlihat seperti sikap biasanya, sangat terlihat jelas ke-khawatiran di wajahnya saat melihat Syifa tidak sadarkan diri seperti itu.
Azam yang menggendong tubuh istrinya langsung membawa Syifa ke dalam kamar. Namun ia tidak membawa Syifa ke kamar anaknya karena takut Nizam akan khawatir. Jadi Azam membawa istrinya ke kamar yang seharusnya mereka berdua tinggali
"Ma, tolong panggilkan dokter!"
Anita mengangguk, ia segera menghubungi dokter untuk segera datang.
"Mama sudah menghubungi dokter, mungkin sebentar lagi akan sampai,"
Tidak membutuhkan waktu yang lama, karena rumah mereka tidak jauh dari rumah sakit. Dan ada tetangga perumahan mereka yang berprofesi sebagai dokter.
Dokter segera datang, memeriksa keadaan Syifa yang masih belum sadarkan diri.
"Beliau memiliki riwayat sakit lambung, maka tidak boleh baginya terlambat makan hanya satu menit saja. Melihat keadaannya, sepertinya ia telah terlambat makan dengan waktu yang cukup lama. Atau mungkin, melihat jam sekarang dia melewatkan sarapan paginya,"
Azam terdiam, juga merasa bersalah. Baru sehari Syifa menjadi istrinya sudah menderita seperti ini. Mengapa Syifa memikirkan orang lain? Seharusnya, ia sarapan terlebih dahulu baru mengurus Nizam.
Karena mengurus Nizam, ia mengabaikan kesehatannya "Saya harap, ini tidak terus berlanjut. Karena akan membahayakan pasien, penyakit lambung memang terlihat sangat sepele, namun nyatanya penyakit ini bisa merenggut nyawa orang,"
Anita merasa sedih dan merasa bersalah. Sebenarnya Anita adalah wanita yang baik, hanya saja ia belum bisa menerima jika Syifa adalah penyebab cucu kesayangannya mengalami kelumpuhan.
"Baik dok, kami akan menjaga pola makannya mulai sekarang."
"Saya akan memberikan resep untuknya,"
Setelah memeriksa dan memberikan resep obat, dokter itu segera pergi. Azam mengantar dokter tersebut keluar.
"Seharusnya, Syifa mengatakan yang sebenarnya kepada kita. Jika dia memiliki penyakit lambung, apakah kita terlalu keras kepadanya?" Anita bertanya kepada Azam saat anaknya telah kembali.
Azam tidak mengatakan apapun, ia hanya diam saja. Lalu, meminta mama dan papanya untuk meninggalkan Syifa "Ma, pa. Sebaiknya kita keluar dan membiarkan ia istirahat saja,"
Anita setuju, begitu juga dengan suaminya. Mereka segera meninggalkan Syifa di kamar seorang diri.
"Nak, mulai sekarang kamu harus memperhatikan makan istri mu! Mama tidak mau kita disalahkan atau di tuntut jika sesuatu terjadi kepada Syifa! Lagipula, jika dia meninggal dunia. Ia akan meninggalkan tanggungjawabnya kepada cucu mama, mama tidak mau itu! Untuk terus melihatnya menderita dan membayar setiap perbuatannya, ia harus sehat!"
Azam mengangguk, ia bahkan tidak membantah ucapan mamanya "Mama jangan khawatir, mulai sekarang kita akan memperhatikan makannya, Azam tahu jika ini sampai terdengar di keluarganya. Maka, kedua orang tua Syifa tidak akan mengampuni kita atau mungkin akan menjebloskan kita semua ke penjara,"
*********
Syifa mulai tersadar, ia heran melihat sekelilingnya. Ia tahu, ini bukan lah kamarnya Nizam "Di mana aku? Dan mengapa aku di sini?"
Syifa melihat Azam masuk dengan membawa makanan, segera ia bangkit untuk duduk "A--aku kenapa bisa ada di sini?"
"Makan lah!"
Syifa tidak mau makan, ia membutuhkan jawaban dari pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Katakan kepada ku, kenapa aku bisa ada di sini?"
Azam menatapnya dengan sinis "Jika aku katakan makan, ya makan!" Sentaknya dengan keras