Ibu Sambung 2

Ibu Sambung 2
Kehadiran Sheira


__ADS_3

"Kau tidak berhak membentak atau mengatur ku!" terlihat Syifa pun kesal dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu


"Ma, tolong katakan kepadanya jangan keras kepala!" Azam meminta mamanya untuk memberikan pengertian kepada Syifa


"Syifa, tolong dengarkan saya! Kau harus makan sekarang,"


Syifa tetap tidak ingin, dia sangat kesal melihat tingkah Azam yang seenaknya kepada dirinya "Syifa, tolong dengarkan mama!"


Syifa menatap ibu mertuanya itu, apakah ia tidak salah dengar? "M--mama?" tanyanya dengan ragu, Anita mengangguk "Kamu suka atau tidak, saya sekarang adalah mama mertua kamu. Jadi, kamu harus memanggil saya mama! Dan, kamu juga harus menurut dengan saya karena saya mengatakan semuanya demi kebaikan kamu!"


Syifa mengangguk, Anita menjelaskan jika Syifa tidak bisa telat makan "Kamu harus makan, lambung kamu sakit. Dan saya dan anak saya tidak mau kamu kenapa-kenapa,"


"Saya enggak kenapa-kenapa, mama jangan khawatir!" Syifa masih keras kepala dan pergi meninggalkan kamar itu, Anita menggelengkan kepalanya


"Lihat lah! Wanita yang mana pilihkan untuk ku? Bahkan dia tidak menghargai mama!"


Azam terlihat sangat kesal, namun sekali lagi Anita menenangkan anaknya "Iya mama tahu, dia sangat kurang ajar kepada mama dan kamu, tapi mama juga tahu jika dia adalah ibu yang baik untuk Nizam,"


"Terserah mama mau mengatakan apa!" Azam pergi meninggalkan ibunya, baginya terlalu percuma berdebat dengan sang ibu. Itu tidak akan merubah apapun


*********


"Non, ada yang mau bertemu dengan nona," Syifa menghentikan langkahnya saat salah satu pelayan berbicara kepadanya "Siapa Bi?"


"Mamanya nona,"


Syifa tersenyum saat mengetahui jika mamanya menemui dirinya. Segera Syifa pun melihat keluar "Mama," Syifa langsung menghampiri ibu sambungnya itu dan memeluknya dengan erat


"Sayang, mama khawatir dengan kamu,"


"Kakak kangen banget sama mama,"


Syifa melepaskan pelukan mereka dan meminta mamanya untuk duduk "Ma, duduk lah!"


Shinta pun duduk bersama anaknya "Kamu bahagia sayang?"


Tidak bisa dibohongi, jika Shinta sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya, Syifa mengangguk "Iya ma, kakak bahagia karena ada Nizam,"


Anita dan Azam menuruni anak tangga satu persatu, Anita pun menyambut besannya dengan senyuman hangat "Mbak Shinta, sudah lama?"


"Baru saja,"


Shinta menatap anaknya yang sepertinya tidak ramah dengan sang mertua "Mbak, nyamanin ya di sini. Saya dan Azam harus pergi dahulu ada urusan,"


Shinta tersenyum, Azam pun menyalami mertuanya. Namun tidak dengan Syifa, bahkan ia tidak menganggap suami dan mertuanya ada.


Setelah kepergian Anita dan Azam, Shinta memberikan nasihat kepada anaknya "Sayang, mama lihat kamu seperti tidak menghargai suami dan mama mertua kamu,"


"Ma, kakak selalu menghargai orang yang menghargai kakak. Lagipula, mereka tidak menganggap kakak untuk apa kakak bersikap baik dengan mereka? Ma, di sini kakak hanya sebagai ibunya Nizam. Bukan sebagai seorang istri atau pun menantu,"


"Sayang, kamu harus memahami ini nak. Kebenarannya saat ini, nak Azam adalah suami kamu. Dan mbak Anita itu adalah mama mertua kamu, jadi kamu harus menghormati mereka sayang. Nak, jika kamu tidak bersikap baik semestinya istri dan menantu rumah ini. Itu tandanya, mama dan papa telah gagal mendidik kamu,"


"Ma, tolong jangan mengatakan itu!"


"Tapi itulah kebenarannya nak!" Syifa memeluk mamanya sambil menangis "Mama tolong jangan hal seperti itu lagi! Mama dan papa sangat baik mendidik kakak,"


"Jika begitu sayang, lakukan tugas kamu sebagai istri dan menantu dengan baik. Bukan hanya sebagai ibu saja,"


"T--tapi, kakak enggak bisa ma,


"Enggak bisa kenapa sayang? Sayang, mama mertua kamu itu adalah orang yang jauh lebih tua dari kakak bukan? Sudah seharusnya kakak bersikap sopan kepada orang yang lebih tua sayang. Masalah Azam, bagaimana sikapnya kamu jangan kurang ajar nak, tetap lah melakukan tugas kamu sebagai istri dan menantu,"


Syifa terdiam "Sayang, kamu mau kan melakukan itu? Demi mama dan papa,"


Syifa mengangguk, ia berjanji kepada mamanya akan lebih baik lagi dalam bersikap kepada suami dan juga ibu mertuanya.


"Apapun hasilnya nak, jalankan saja tugas kamu sebagai ibu, istri dan menantu yang baik. Bagaimana kita bisa mendapatkan hak kita jika kita tidak melakukan kewajiban sayang?"


"Iya ma, kakak janji. Akan merubah sikap kakak,"


Setelah mengatakan itu, Shinta berpamitan pulang kepada anaknya "Mama harus pulang sekarang nak,"


"Tapi ma? Mama baru saja datang, kenapa cepat sekali pulang?"

__ADS_1


"Nak, kamu tinggal bersama mertua kamu. Dan tidak baik, mama berlama-lama di sini,"


Keduanya saling berpelukan dengan erat, rasanya Syifa tidak ingin jauh dari mamanya. Namun, ia juga tidak boleh egois.


Kini, Shinta memahami gimana rasanya menjadi ibu dan ayahnya dulu saat dirinya baru menikah dengan Revan. Apalagi, ia anak satu-satunya. Pasti ibu dan ayahnya merasa kesepian.


************


Anita dan Azam sudah kembali kerumah, Syifa mendekati mereka. Menyalami keduanya secara bergantian, hal itu membuat Anita dan Azam kebingungan. Keduanya saling pandang satu sama lain


"Kemasukan kamu?"


Syifa tidak menjawab, hanya tersenyum "Saat ini Syifa adalah menantu rumah ini. Jadi, Syifa akan melakukan tugas Syifa sebagai menantu ma, dan juga sebagai istri. Kamu jangan khawatir zam, aku enggak akan meminta hak ku sebagai istri, tapi aku akan melakukan kewajiban ku hingga nanti kamu yang memberikan hak itu kepada ku,"


Mendengar ucapan Syifa, wanita paru baya itu tersenyum senang "Nah, begitu dong. Itu baru istri dan menantu yang baik," Anita memeluk Syifa, namun seketika ia mengingat jika menantunya lah penyebab cucunya cacat dan kehilangan masa depan.


Dengan cepat, Anita langsung melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh menantunya "Terserah kamu mau melakukan apa, memang sudah begitu seharusnya! Dan satu lagi pesan saya, kamu makan dengan teratur. Saya tidak mau jika keluarga kamu mengira saya dan anak saya tidak merawat kamu dengan baik,"


Syifa tersenyum kepada mama mertuanya "Iya ma, mama jangan khawatir! Syifa akan menuruti semua keinginan mama,"


"Terserah kamu, mama tidak perduli!"


Anita berjalan menjauhi menantunya, Azam pun mengikuti mamanya dari belakang.


Azam masih heran, mengapa dalam sekejap Syifa berubah menjadi baik? Padahal sebelumnya ia sangat dingin dan sangat buruk sifatnya. Hanya memperlihatkan sifat malaikatnya didepan Nizam saja.


"Nak, kau memikirkan apa? Memikirkan istri mu?"


"T--tidak ma! Untuk apa aku memikirkannya? Tidak penting sekali!" Azam bersikap sangat dingin, tidak mau memberitahu pikirannya kepada sang mama.


"Bagus deh! Jangan sampai kamu jatuh cinta kepadanya!"


*********


Syifa dan Nizam sangat tenang, mereka bahagia sebagai ibu dan anak. Sudah enam bulan ia tinggal di rumah ini, dan melakukan tugasnya dengan sangat baik


Nizam juga sudah memiliki kemajuan yang lebih baik, tangannya sudah bisa digerakkan dengan perlahan. Syifa menangis melihatnya, betapa bahagianya dia.


"Azam, mama, papa!" Panggilnya. Ketiganya datang "Ada apa? Kenapa kamu teriak seperti orang gila?"


Anita, Azam dan papanya Azam yang melihat itu pun merasa terharu "Cucu Oma, kamu bisa menggerakkan tangan kamu sekarang nak?"


"Iya Oma,"


"Anakku, sekarang anakku bisa menggerakkan tangannya. Terimakasih Tuhan," Syifa yang merasa sangat bahagia tanpa sadar langsung memeluk Azam.


Untuk pertama kalinya Syifa dan Azam, mengalami kontak fisik yang sangat dekat, bahkan bersentuhan seperti itu. Azam kaget, namun tidak bereaksi membiarkan istrinya memeluknya dengan erat.


"Anak kita sudah bisa menggerakkan tangannya," penantian beberapa bulan itu tidak sia-sia


Syifa pun mulai tersadar dengan apa tindakannya, segera ia melepaskan pelukan itu "Maaf, maaf! Aku tidak bermaksud memeluk mu seperti itu! Maafkan aku, aku hanya merasa bahagia melihat Nizam bisa menggerakkan tangannya,"


Azam mengangguk, tidak menegur apa yang dilakukan oleh Syifa.


"Sayang, kamu sudah bisa menggerakkan tangan kamu. Nenek sangat senang sekali, cucu ku!"


Anita menangis bahagia, Anita berjalan mendekat ke arah Syifa dan memeluk menantunya sambil menangis "Terimakasih banyak nak, karena ketulusan dan kesabaran kamu menjaga Nizam. Kini, Nizam sudah mengalami perkembangan yang sangat baik, dan mama percaya jika Nizam akan segera sembuh berkat kamu,"


Anita membelai rambut menantunya dengan penuh kasih sayang "Ini juga berkat mama, dan yang lainnya. Bukan aku saja,"


"Tapi kamu berperan sangat baik dalam menjaga Nizam! Mama sangat bahagia sekali,"


"Permisi tuan, nyonya. Ada nona Sheira di luar," ujar pelayan yang sudah lama bekerja di rumah mereka saat Azam belum menikah dengan sheira. Sebab itu, ia mengenal istri pertama Nizam..


Mendengar nama Sheira, membuat senyuman Anita memudar. Namun, Nizam jauh berbeda. Terlihat ia tersenyum bahagia, berjalan keluar untuk menemui mantan istri yang sampai sekarang masih dia cinta.


"Sheira? Siapa dia?" tanya Syifa bingung "Nizam, kamu di sini dulu ya sayang? Nenek dan bunda kamu keluar sebentar,"


"Iya nenek,"


Anita menarik menantunya untuk keluar kamar "Ma, siapa Sheira?"


"Mamanya Nizam,"

__ADS_1


Syifa menghentikan langkahnya "M-ma-mamanya Nizam?" Syifa meneteskan air matanya, entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa sedih dan merasa jika Nizam akan diambil dari pelukannya.


*******


"Sheira," Azam mendekati mantan istrinya itu dan langsung memeluknya dengan erat, namun wanita cantik itu melepaskan pelukannya


"Lepaskan aku!"


Syifa dan Anita pun mendekati keduanya. Terlihat jelas Dimata Syifa saat suaminya memeluk wanita lain


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Azam, membuat Syifa dan Anita bergejolak kaget.


"Apa yang kau lakukan Sheira?" Anita bertanya dengan kesal, wanita itu menatap Anita dengan tajam


"Kedatangan aku kesini untuk mengambil anakku Nizam! Kalian tidak becus merawat anakku sehingga ia menjadi lumpuh sekarang. Dan kau Azam, kau bahkan menikah dengan wanita yang sudah jelas-jelas membuat anak kita lumpuh. Aku sangat benci dengan mu, dan aku pastikan aku akan merebut hak asuh anakku! Aku tidak sudi, anakku tinggal dengan seorang pembunuh! Wanita itu hampir saja membunuh anakku!"


Sheira tidak henti mengucapkan kalimat-kalimat yang menyakiti hati Azam hingga ia membentak mantan istrinya


"Tutup mulut mu! Kau tidak berhak atas anakku, kau lupa? Jika kau meninggalkanku dan Nizam saat dia masih kecil? Dan sekarang, kau datang seolah aku yang bersalah? Kau ingin mengambil anakku? Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi!"


"Kita lihat saja! Pengadilan yang akan memutuskan! Dan aku pasti kan wanita ini akan masuk kedalam penjara!"


Sheira menunjukkan jari telunjuknya dengan lantang ke hadapan Syifa, namun Azam melindungi Syifa "Jangan sesekali kau menunjuk ke arah istri ku!"


Sheira yang kesal langsung segera pergi dari sana, Syifa menangis "Azam, tolong lakukan sesuatu. Jangan sampai dia mengambil Nizam dari ku! Aku mohon,"


Syifa berlutut di kaki Azam, ia menurunkan egonya demi Nizam kesayangannya, Azam membantu Syifa untuk bangkit "Tenanglah, aku tidak akan membiarkan dia mengambil hak asuh Nizam, ini janji ku kepada mu!"


"Kau janji?"


"Iya, aku berjanji!"


Azam memeluk Syifa dengan tulus, kejadian itu membuat mereka semakin dekat. Dan kedua kalinya, mereka berpelukan lagi.


Anita yang melihat itu tersenyum terharu, ia yakin jika sebentar lagi keduanya akan lebih baik lagi hubungannya dan saling menyukai satu sama lain.


"Tolong, jangan ambil anakku dari diri ku!"


"Tidak akan ada yang mengambil anak mu dari mu, jangan khawatir! Aku akan berjuang untuk hak asuh Nizam,"


Syifa mengangguk, keduanya saling melepaskan pelukan satu sama lain. Syifa segera berlari menuju kamar Nizam.


******


Syifa berlari, mendekati Nizam "Bunda, kenapa bunda menangis?"


Syifa menggelengkan kepalanya, mencium tangan Nizam dengan penuh kasih dan sayang "Enggak sayang, bunda enggak kenapa-kenapa. Bunda hanya bahagia melihat kamu bisa menggerakkan tangan kamu, dan bunda yakin sebentar lagi anak bunda akan sembuh,"


Nizam tersenyum dengan wajah polosnya "Iya bunda, Nizam akan sembuh. Dan kita akan berjalan-jalan kemana saja, liburan bersama papa,"


Syifa mengangguk "Iya sayang, kita akan berlibur dengan papa, nenek, kakek dan yang lainnya,"


"Juga aunty dan uncle sama,"


Ia menyebut si kembar Alan dan Alana aunty dan uncle sama, karena wajah mereka yang sama.


"Iya sayang, kita akan berlibur dengan aunty Alana dan uncle Alan,"


"Yeay, bunda jangan menangis lagi ya? Nizam enggak bisa melihat Bunda menangis,"


Nizam menghapus air mata Syifa, ia tidak bisa melihat Syifa menangis. Namun anak kecil itu tidak tahu, jika Syifa menangis karena ia merasa takut, takut jika suatu saat nanti ibu kandungnya Sheira akan merebutnya dari pelukan Syifa.


Azam masuk ke dalam kamar Nizam, melihat Syifa yang masih memegangi tangan anak mereka.


Azam merasa tidak tega melihat Syifa, bagaimana pun Syifa dan Nizam sudah sangat dekat beberapa bulan belakangan ini.


Bahkan, Syifa menjaga dan merawat Nizam dengan sangat baik dan tulus. Ia tahu jika istrinya itu sangat menyayangi Nizam seperti anak kandung Syifa sendiri.


"Ma, tolong berikan pengertian kepada Syifa. Semuanya akan baik-baik saja dan aku tidak akan membiarkan Sheira mengambil Nizam dari kita,"


"Iya, kamu juga harus lihat! Untuk apa kamu tadi memeluk wanita itu? Kamu masih menaruh perasaan kepada orang yang sangat egois!"

__ADS_1


"Sudah lah ma, perasaan ku sekarang tidak penting. Saat ini, kita harus fokus dengan hak asuh Nizam, dan Azam tidak akan membiarkan Sheira menang dengan keegoisannya, dia tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya!"


__ADS_2