
Sambil berdecak kesal, Fathan meneguk segelas air putih hingga habis tak bersisa. Dia meremas jemari tangannya sendiri seraya memejamkan matanya. Kata-kata Azkira terus saja terngiang di telinganya.
Fathan kemudian kembali ke kamar, setelah puas meluapkan rasa geramnya dengan minum segelas air putih. Kini Pria bertubuh tinggi kekar itu tengah memandang wajah Azkira yang sudah terlelap. "Tidak ada yang boleh membuatku merasa kalah seperti ini, Azkira!" ujarnya sambil menyeringai licik.
Suara saliva yang diteguk kasar terdengar dengan jelas dari tenggorokan Fathan. Selain hatinya yang memanas, tampaknya gairahnya juga turut terbakar. Kemudian, tanpa menunggu lagi dia menaggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuh seksiinya.
"Terus saja memberontak padaku, Sayang. Kamu semakin membuatku tertantang untuk berbuat nakal padamu." Dia berbisik pada raga yang tengah asyik menyelami alam mimpi itu.
"Kamu tidak boleh mengabaikanku, Azkira," geramnya sambil melucutti untaian benang yang membungkus tubuh indah Azkira.
Azkira menggeliat merasakan ada tangan yang menyentuh dan menggerayangii tubuhnya. Dan mata Azkira seketika terbelalak hingga tampak membola, saat menyadari wajah Fathan terbenam di antara dua bongkahan bukit kembarnya. Dia segera bangkit dari rebahnya. Lalu, menciptakan jarak dengan menjauh dari Fathan.
"Sedang apa kamu?" Azkira terlihat sangat panik. Dia berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tetapi, tanpa diduga Fathan justru melempar jauh selimut tersebut.
"Aku ingin kita menikmati malam ini, Sayang," ucap Fathan dengan senyum penuh arti dan sorot mata yang dikuasai nafsu.
"Tidak, aku tidak mau! Aku tidak ingin melakukan semua itu terus menerus dengan orang yang tidak punya perasaan sepertimu."
__ADS_1
Mendengar kalimat bernada penolakan itu, Fathan semakin tersulut emosi. Kini Azkira tampak bagai mangsa baginya. "Cukup, Azkira! Aku suamimu dan aku berhak atas dirimu."
Tidak ada yang bisa menyelamatkan Azkira dari Fathan. Dia bisa memilih melawan dan mendapatkan kemarahan dari Fathan, atau menuruti dan menikmati saja semua perlakuan Fathan padanya. Azkira benar-benar tengah di ambang dilema.
"Aku suka membiarkan milikku tenggelam di sungai cintamu yang hangat dan basah, Sayang," bisik Fathan penuh goda.
Azkira memejamkan matanya berharap untuk tidak melihat wajah messum Fathan yang terpampang nyata di depan matanya. Detak jantung Azkira berdegub kencang tak beraturan. Debaran hatinya seakan mampu mengoyak hati itu sendiri.
"Aku mohon jangan-"
Fathan menjeda kalimat itu dengan sebuah paguttan maut di bibir ranum Azkira. Suara kecipak terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan kamar yang semula hening. Fathan membuat Azkira kewalahan dan nyaris kehabisan napas.
"Jangan menatapku dengan kebencianmu, Azki. Karena itu akan membuatku semakin menginginkanmu." Fathan menyusuri setiap inci tubuh Azkira dengan sentuhan lidahnya.
Getaran aneh mulai dirasakan Azkira. Dia tidak yakin pertahanannya akan tetap utuh. Sebab, permainan Fathan lebih mahir dalam menemukan titik-titik sensitif di tubuhnya. Suara merdu yang memancing deburan gairah Fathan pun terdengar lolos dari mulut Azkira.
"Ya, Sayang. Lakukan seperti itu," ucap Fathan sambil tangannya terus menjelajah ke medan berkawah milik Azkira. Fathan menyukai ekspresi wajah Azkira yang sedang on fire.
__ADS_1
Malam itu, keadaan memaksa Azkira untuk melakukan hubungan itu sekali lagi. Dengan Fathan, suaminya. Suami yang pernah membuatnya merasa hina karena mengatakan tidak akan menyentuh Azkira, bahkan saat itu Azkira dilarang untuk sekedar mengharap sentuhan darinya. Tapi kini, Pria itu seolah termakan oleh kata-katanya sendiri. Keadaan menjadi berbalik padanya. Jelas kini Fathanlah yang selalu saja ingin menyentuh Azkira.
"Kamu hanya milikku, Azkira. Tidak ada yang boleh menyentuhmu, walau hanya seujung rambut. Apa kamu mengerti?" Fathan mencengkeram rahang Azkira hingga mulut Azkira sedikit terbuka.
Kemudian, Fathan meraup kembali bibir Azkira dengan buas hingga Wanita itu merasakan bibirnya seperti menebal. Tidak puas sampai di situ saja. Fathan juga bertualang dengan lidahnya, di dalam rongga mulut Azkira.
Tubuh mereka terkulai lemas usai melakukan pergulatan sengit itu. Mereka mengalami beberapa kali pelepasan yang memuaskan hasratnya. Lantas, seperti biasa Azkira selalu merasa malu dan tidak punya harga diri usai dirinya turut terbawa ke dalam permainan yang dilakukan Fathan. Berbeda dengan Fathan yang merasa semakin percaya diri.
"Kamu merasa lelah? Istirahatlah!" Fathan bertanya, lalu membimbing Azkira untuk meletakkan kepala di dada bidangnya, sebelum Azkira sempat menjawab pertanyaannya.
Lagi-lagi Azkira tak kuasa menolaknya. Walau diakui, bahwa Azkira sangatlah tidak suka dengan cara Fathan yang cenderung memaksa. Namun, ternyata rayuan Fathan bagai sihir yang mampu meluluhlantakkan kerasnya pendirian Azkira. Dan Azkira pun tertidur dalam dekapan Fathan. Di rengkuh hangat peluk Fathan, dan lengkung lengan Fathan yang senantiasa melingkari tubuh Azkira.
Melihat Azkira yang sudah terlelap, Fathan tersenyum. Lantas, dia meraih ponsel Azkira dari atas nakas. "Aku tidak suka melihatmu digandeng oleh pria lain, Azkira."
Kalian tahu apa yang dilakukan Fathan pada ponsel Azkira? Ya, dia menghapus semua foto dalam galeri Azkira, kecuali jika Azkira berpose sendirian. Akan tetapi, seluruh fotonya bersama Revan dan beberapa orang yang entah siapa, semuanya telah bersih dihapus olehnya. Padahal, mungkin saja itu teman sekolah Azkira atau lainnya yang tidak memiliki hubungan spesial dengan Istrinya itu. Dia benar-benar seorang yang sangat pencemburu.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa klik love, like, komen dan giftnya, ya. Terima kasih. ❤