
Semilir angin menyibakkan helaian rambut Azkira yang tampak bebas tergerai. Desaunya Meniupkan sejuk yang sesekali terasa seperti sedang menggelitiki hingga membuat bulu roma meremang. Aroma segar nan harum dari tubuh Azkira pun dihantarkan dengan lembut oleh tiupannya sampai ke permukaan indera penciuman Fathan. Ya, angin juga seakan membisikkan ke telinga Fathan bahwa Azkira sedang merayunya dengan kecantikan dan wangi yang begitu menggoda.
"Bang, apa kita akan menginap di sini?" lontar Azkira yang berada agak jauh dari Fathan.
Wanita itu sedang berdiri tepat di depan pot bunga mawar yang ada di teras rumah. Sementara itu, Fathan tengah duduk santai di sebuah kursi yang berjarak sekitar tiga meter dari tempat Azkira berdiri. Pria itu tak segera menjawab pertanyaan Azkira, tapi justru sibuk mengusap-usap bibirnya sendiri dengan jemari tangannya. Tatapan Pria itu seperti ingin memangsa Azkira dengan kebuasan yang dia punya.
"Abang! Apa kamu tidak mendengarku?" ulang Azkira yang kali ini bertanya dengan tegas.
"Ada apa, Sayang?" jawab Fathan tersentak.
"Kita pulang atau menginap?" tandas Azkira sambil menatap Fathan menantikan sebuah jawaban.
"Aku ingin menginap, tapi malam ini ada undangan untuk datang ke pesta pernikahan Helmi, teman lamaku. Kamu ikut, ya."
"Ke pesta? Aku tidak mau ikut, Bang!" tandas Azkira bicara dengan cepat.
Fathan mengerutkan keningnya, lantas dia bangkit dan berjalan mendekat kepada Azkira. "Kenapa kamu tidak mau datang bersamaku, Azki?" tanyanya.
"Pokoknya aku tidak mau. Pasti di sana banyak teman-temanmu yang punya gaya hidup glamor, berkelas, tidak sepertiku. Aku tidak mau Abang menjadi malu karenaku," ungkap Azkira.
"Ya ampun, Sayang. Apa kamu sedang merasa minder? Ketahuilah, kamu memiliki semua yang tidak ada pada mereka. Sekali pun tidak, aku tetap tidak akan merasa malu mengenalkanmu sebagai milikku."
"Tapi aku belum siap, Bang. Lagi pula, pernikahan kita saja belum diketahui banyak orang. Hanya keluarga inti dan beberapa kerabat serta orang terdekat saja. Bahkan, orang-orang di Chili Sauce Resto juga belum tahu, kecuali Pak Dion 'kan? Aku tidak bisa membayangkannya. Kalau mereka tahu, pasti mereka akan mengejekmu karena telah menikah denganku." Azkira terus bicara memaparkan kecemasan yang sedang dirasakannya.
"Katakan saja siapa orangnya! Kalau mereka berani melakukan semua itu, maka akan kupatahkan kakinya dan kusumpal mulutnya dengan kaos kaki bekas!" jawab Fathan menampakkan wajah bengisnya.
"Astaga! Sepertinya aku salah bicara. Bagaimana ini? Aku sedang tidak ingin bertemu dengan banyak orang dulu saat ini. Lagi pula, bagaimana kalau mereka mengenaliku sebagai gadis yang melakukan adegan tidak terpuji seperti yang digosipkan itu? Ya, walaupun aku tidak melakukannya, tapi aku takut justru Suamiku yang kena imbasnya nanti," batin Azkira begitu risau.
"Sayang, jujurlah padaku. Kamu tidak ingin datang ke pesta itu karena apa?" desak Fathan.
Azkira tertawa tipis sembari salah tingkah. "Sebenarnya, aku sedang tidak ingin bertemu dengan banyak orang. Aku suka suasana yang hening seperti ini," alasan Azkira.
Fathan memindai wajah Azkira dengan tatapan menganalisa. "Baiklah, kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau," ucap Fathan.
Fathan mengambil ponsel yang diletakkan di meja ruang tamu. Lantas, dia terlihat seperti sedang menghubungi seseorang. Sedangkan Azkira, dia berjalan mengendap-endap mencaritahu siapa yang Fathan hubungi.
__ADS_1
[Dion, tolong katakan pada Helmi aku tidak bisa datang malam ini,] kata Fathan dalam teleponnya.
[Tidak bisa datang? Apa ada masalah?] Terdengar Dion bertanya dari ujung telepon.
[Tidak ada. Hanya saja, Istriku sedang tidak bisa ditinggal,] terang Fathan.
Azkira merasa sangat malu ketika mendengar Fathan yang sampai membatalkan untuk datang ke pesta pernikahan teman lamanya, hanya demi dirinya. Dia meringis sembari menggigit kuku jarinya. "Apa yang dia lakukan? Duuuh," gumamnya pelan.
[Ehemm! Baiklah, nikmati waktu kalian. Aku akan mengurusnya.] Dion berdeham sambil memberikan kesediaanya untuk menyampaikan pesan Fathan pada Helmi.
[Kau yang terbaik, Dion.] Tampak Fathan menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
[Panggilan diakhiri.]
Azkira segera berlari menuju ke luar, ke tempatnya berdiri semula. Dia berlaga seakan tidak mendengar apa-apa. Wanita itu lalu memainkan rambutnya untuk menutupi kegugupan yang sedang dia rasakan.
"Kenapa harus menguping diam-diam, Sayang? Padahal, tadinya aku ingin kamu mendengar percakapanku di telepon dengan jarak yang dekat," ujar Fathan meledek Azkira dengan nada sindiran.
"T-tidak, siapa yang menguping?" kilah Azkira seraya berpaling ke sembarang arah, agar Fathan tidak bisa menatap wajahnya yang merah padam menahan malu.
Azkira memejamkan matanya dengan hati yang berdebar-debar. "Mati aku! Kenapa tubuhku jadi gemetar seperti ini?" keluhnya dalam hati.
"Aku menyukai kegugupanmu, Sayang. Dirimu tampak begitu memukau," bisik Fathan menggoda Azkira.
Azkira yang mulai risih dan merasa tertangkap basah telah menguping percakapan telepon Fathan, akhirnya berlari ke dalam untuk menghindari Pria itu. "Tamatlah riwayatku," gerutunya.
Fathan tersenyum penuh arti. Mendapati Azkira salah tingkah seperti itu adalah kemengan yang indah baginya. "Ya, masuklah ke kamar, Sayang. Karena aku juga ingin mengajakmu bermain di dalam sana," gumam Fathan.
Azkira sudah berada di dalam kamar dan sedang duduk gelisah di tepi ranjang. Napasnya berkejaran dengan irama detak jantungnya yang kian kencang. Namun, tidak lama ada yang mengalihkan perhatian Azkira.
Wanita berambut panjang di bawah bahu itu berjalan ke arah sebuah meja nakas. "Ini bukanya foto Ayah dan Ibu?" tunjuk Azkira pada sebuah bingkai foto yang terdapat potret wajah mendiang orang tuanya.
"Lalu, bayi perempuan ini bukanya diriku? Tapi siapa balita laki-laki yang sedang duduk di sampingku itu? Sepertinya, aku tidak punya kakak. Benar, aku 'kan anak tunggal." Azkira mencoba mengingat, tapi dia tidak ingat apa-apa mengenai foto itu.
Tiba-tiba Fathan muncul mengagetkannya. Azkira terperanjat dan langsung membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut di atas kasur. "Dia selalu saja membuatku merasa bagai dikejar srigala," ujar Azkira.
__ADS_1
"Azki sayang, kamu tidak bisa lari dariku," ucap Fathan seraya duduk dan berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Azkira.
"Kumohon jangan ganggu aku, Bang. Aku sangat mengantuk sekarang." Azkira pura-pura menguap.
"Wanita ini sedang berbohong padamu, Fathan." Pria itu bergumam dalam hatinya.
"Ini masih sore, Sayang. Bahkan, bulan dan bintang saja masih enggan untuk menampakkan diri," tutur Fathan sambil tersenyum nakal. Sementara itu, Azkira masih bersembunyi di balik selimutnya.
"Tapi mataku tidak bisa diajak kompromi. Sepertinya, aku memang membutuhkan banyak tidur," elak Azkira.
"Baiklah, aku juga ingin tidur," kata Fathan.
Kemudian, saat itu Fathan memutuskan untuk pura-pura tidur. Dia ingin melihat reaksi Azkira saat mengetahui dirinya terlelap. "Mari kita lihat, apa yang akan kamu lakukan, Istriku!" batinnya.
Beberapa menit berselang, Azkira pun keluar dari persembunyiannya di dalam selimut. "Apa dia benar-benar sudah tidur?" katanya bicara sendiri.
Terdengar suara tawa yang ditahan. Fathan juga mengetahuinya, tapi dia masih ingin pura-pura. Dia pun membiarkan saja Istrinya itu merasa telah selamat darinya.
Detik berikutnya, Fathan merasakan aroma napas Azkira sangat dekat ke wajahnya. Fathan juga mendengar kembali wanita itu mengoceh sendiri. Tapi lagi-lagi, dia membiarkannya saja.
"Abang, kamu ini sangat tampan sebenarnya. Aku suka bentuk hidungmu, sorot mata tajammu, alismu yang tebal, juga bibirmu yang memabukkan. Sayang sekali, terkadang sikapmu sangat angkuh dan menyebalkan, huh," celoteh Azkira sambil mendengus.
"Oh, jadi beranimu saat aku tidur saja?" balas Fathan membatin.
Selekas itu, Azkira merebah di dada bidang Fathan. Merasakan degup jangtungnya, melingkarkan peluk ke tubuhnya, dan sesekali menatap lekat wajahnya. Tanpa dia tahu, bahwa Fathan hanya pura-pura sudah terlelap saja.
"Terus ungkapkan isi hatimu, Azki. Dekap aku sepuasmu. Miliki aku, dan kuasailah aku mulai saat ini. Aku akan pasrah demi memenangkan perasaanmu. Percayalah, aku bahagia mengetahui ada yang kamu kagumi dari diriku." Fathan bicara dari kedalaman hatinya.
Bersambung ....
Note : Teman-teman, selain membaca dan memberi dukungan pada karyaku, aku punya rekomendasi novel yang keren karya sohibku Kak Weny Hida. Silakan mamapir ke sana. Dijamin seru pokoknya.❤👇
Selamat membaca. 🤗🥰
__ADS_1