
Setelah obrolan yang panjang dan meyakinkan, Azkira pun akhirnya mau diajak pulang ke rumahnya oleh Fathan. Mereka berpamitan kepada Sinta, yang tampak senang melihat sepasang suami istri itu akur lagi. Lagi pula, mereka memang sudah semestinya tinggal bersama, bukan?!
Sekian waktu menit berlalu, Fathan yang tak kalah bahagia, langsung menggendong Azkira dan membawanya menuju kamar, saat mereka sudah tiba di rumah. "Lihatlah, Sayang! Ranjang itu sudah sangat rindu untuk kamu tempati," ujar Fathan seraya berjalan ke arah tempat tidur.
Azkira hanya mengulas senyum tipis dan menatap Fathan penuh analisis. "Benarkah begitu?" tanyanya.
"Tentu saja. Apa aku terlihat berbohong?" Fathan duduk di bibir ranjang merangkul Azkira.
Kemudian, Fathan mengelus perut Azkira yang masih tampak sama, rata dan nyaris tidak kentara bahwa ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. "Apa dia merepotkan ibunya?" tanya Fathan.
"Tidak, dia sangat pengertian," jawab Azkira seraya tersenyum.
"Anak pintar," puji Fathan sambil mengelus perut Azkira dengan lebih cepat.
"Aku masih merindukanmu, Sayang," bisik Fathan.
"Aku sudah bersamamu, Bang."
"Aku ingin menghabiskan malam panjang bersamamu. Memelukmu dan merengkuh tubuhmu dalam dekap hangat serta lembutnya belaian," rayu Fathan seraya terus memberi sentuhan-sentuhan kecil pada tubuh Azkira.
Azkira tidak bergeming. "Kita akan tetap menghabiskan malam bersama, walau tidak melakukan apa-apa, Bang. Aku sungguh merasa lelah saat ini."
"Jadi, aku tidak boleh melakukannya lagi?" kata Fathan dengan wajah kecewa.
"Bukan tidak boleh, Bang. Hanya saja, aku perlu jeda untuk istirahat. Bukankah, ada yang harus kujaga," alasan Azkira sembari mengelus perutnya.
"Kamu benar, Sayang. Baiklah, aku akan mengalah pada anak kita," pasrah Fathan yang juga turut memberi usapan lembutnya pada perut Azkira.
"Mari kita tidur saja," lanjut Fathan yang langsung menyelimuti tubuh Azkira dan juga dirinya."
Di rumah orang tua Revan. Nurhayati sedang duduk termenung. Gunawan, ayahnya Revan menghampiri istrinya tersebut.
__ADS_1
"Sudah 20 tahun sejak kita mengadopsi Revan dari panti asuhan. Rasanya masih sama, ya, Pak. Ibu masih merasa bahwa Revan masih anak usia 5 tahun. Melihat dia meninggalkan rumah, Ibu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam," ungkap Nurhayati begitu Gunawan duduk di sampingnya.
"Iya, Bu. Bapak juga merasakan hal yang sama, tapi kita harus menerima kenyataan itu, Bu. Bahwa Revan sekarang sudah dewasa. Dia berhak menentukan pilihan untuk hidup dan masa depannya."
"Iya, Pak. Ibu hanya ingin Revan bahagia. Walau dia bukan anak kandung kita, tapi bagi Ibu .... Revan lebih dari segalanya. 7 tahun lalu sebelum kita pindah ke sini, Revan selalu mengatakan pada Ibu ingin punya adik. Dan kita tidak bisa mewujudkannya. Sampai akhirnya, kita pindah ke sini dan Revan mengenal Azkira. Sejak saat itu dia berhenti merengek lagi. Dia menyayangi Azkira lebih dari dirinya. Semakin dewasa, rasa sayang Revan berubah menjadi perasaan yang lain. Walaupun, perasaannya bertepuk sebelah tangan." Nurhayati terus bicara mengenai Revan, yang ternyata bukan anak kandungnya.
"Sabar, Bu. Waktu akan mengubah segalanya. Lagi pula, Azkira tetap menyayangi Revan sebagai kakaknya. Dia tidak membalas cinta Revan, karena selama ini Revan tidak pernah mengungkapkan perasaannya. Bapak yakin, kalau saja Revan lebih berani mengaku pada Azkira, pasti semuanya tidak akan seperti ini," timpa Gunawan.
"Bapak benar. Tapi, mau bagaimana lagi? Nasi terlanjur menjadi bubur." Nurhayati menghela napasnya dalam.
"Ya sudah. Ibu istirahat dulu. Revan akan cemas kalau tahu Ibu kurang istirahat," usul Gunawan.
"Iya, Pak." Keduanya pun tidur usau menyempatkan berbincang-bincang.
Di lain ruang, Revan sedang berdiri menatap ke langit. Menyaksikan bintang yang bertebaran dan tak terhitung, seperti rasa rindunya pada Azkira. "Setidaknya, kita masih berada di bawah langit yang sama, Azki. Meski kini waktu kita untuk bersama seperti dulu, tinggal angan-angan yang sekedar bertengger di kepalaku."
"Van, kamu tidak tidur?" tanya Ari, teman satu profesinya.
"Aku belum mengantuk. Kamu tidur saja dulu," ucap Revan yang masih asyik memandangi langit malam.
Revan seketika mendekat ke arah Ari. "Apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanyanya penasaran.
"Lihat gadis dalam foto ini. Dia sangat sederhana, tapi sungguh cantik luar biasa," tutur Ari.
Mata Revan terbelalak. "Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" sentak Revan yang tiba-tiba terlihat marah.
"Kenapa kamu seperti ingin menelanku?" kata Ari kebingungan.
"Katakan! Dari mana kamu mendapatkan foto ini?" desak Revan.
"Aku hanya disuruh seseorang. Waktu itu, satu kawanku diberi tugas untuk menggoda gadis itu, dan aku yang mengambil fotonya," beber Ari dengan santainya
__ADS_1
"Entah bagaimana kabar kawanku itu sekarang? Katanya, sih, dia ketahuan oleh seorang yang bekerja di restoran ternama itu. Sementara, aku bisa lolos dari semua tuduhan," lanjut Ari lagi.
"Kamu tahu siapa gadis di dalam foto itu?" Revan menggemeratkkan giginya.
"Mana aku tahu. Aku hanya disuruh memotret adegan itu, dan aku dibayar, dengan sebuah kesepakatan bahwa aku tidak akan dilibatkan andai ada sesuatu yang terjadi setelah itu."
BUGH!
Sebuah bogeman mendarat sempurna di pipi Ari. "Dia adalah Azkira. Wanita yang paling aku sayangi setelah ibuku. Kalian menjadikannya tumbal atas keserakahan kalian. Sekarang aku tahu, alasan mengapa Azkira memutuskan untuk berhenti bekerja. Padahal, dia sangat butuh pekerjaan itu. Pasti semua ini akibat dari perbuatan kalian!" Revan akhirnya menyadari semua yang terjadi pada Azkira, meski Azkira sendiri tidak pernah bercerita padanya mengenai kasus yang dialaminya di tempat dia bekerja waktu itu.
Ari meringis kesakitan. "Maafkan aku, Revan. Sungguh, aku tidak tahu kalau dia adalah gadis yang kanu sayangi." Ari memohon agar Revan tidak menghajjarnya lagi.
"Andaipun dia bukan siapa-siapa, apa kamu tetap tega melakukan hal menjijikan itu, huh? Bagaimana kalau itu menimpa adikmu atau orang yang kamu sayangi? Kamu keterlaluan, Ari!" caci Revan.
"Sekali lagi maafkan aku, Revan. Aku sudah tidak akan mengulanginya lagi."
"Sekarang juga hapus semua foto itu dari memori camera-mu. Jika tidak, akan kukirim kau ke penjara!" ancam Revan.
"Jangan begitu, Revan. Baiklah, aku akan menghilangkan semua jejak itu. Jangan marah lagi. Sungguh, aku minta maaf." Segera saja Ari memusnahkan semua jejak foto yang tersisa.
"Pasti Azki mengalami masa yang sulit saat itu terjadi padanya. Maafkan Abang, Azki. Andai saja kamu menceritakannya pada Abang," gumam Revan dengan mata yang mulai mengembun.
Di tempat nun jauh, tepatnya di luar kota. Antoni sedang sibuk menghubungi seseorang. Dia terlihat sangat serius.
[Tolong cari tahu tentang anak-anak yang ada atau yang sudah keluar dari panti asuhan itu. Akan kukirimkan sebuah foto wajah anak kecil, sebagai modal untuk membantu pencarian yang kau dan anak buahmu lakukan!]
[Baik, Pak. Semua seperti perintah Anda.] Terdengar jawaban dari seseorang di ujung telepon sana. Antoni pun langsung mengakhiri percakapan teleponnya.
Kini, Lelaki paruh baya itu duduk di tepi tempat tidur, sambil memandangi sebuah foto. Ya, itu adalah foto Azkira kecil bersama Adnan, kakanya yang hilang.
"Aku berjanji pada kalian, Shita, Danu. Aku berjanji akan terus mencari Adnan sampai ketemu. Seperti pinta kalian, sebelum kalian pergi meninggalkan kami untuk selamanya." Antoni bicara pada potret wajah mendiang kedua sahabatnya, yang tidak lain adalah orang tua Azkira.
__ADS_1
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🔨🔨🔨🔨🔨