Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 25 Di Antara Dua Dilema


__ADS_3

Azkira mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Menyadari hal itu, Fathan semakin tersedu. Dia menatap Azkira penuh putus asa. Dan tangisan itu semakin menjadi saat Azkira pergi ke dalam, meninggalkan Fathan sendirian.


Detik berikutnya, Azkira kembali lagi dengan cairan pencuci luka dan obat di tangannya. Tangisan Fathan pun mulai mereda, setelah dia tahu bahwa Azkira kembali. Tampilan Pria tersebut terlihat begitu kacau dan sangat menyedihkan kala itu.


"Apa yang terjadi pada tanganmu?" tanya Azkira datar. Dia tidak menatap wajah Fathan, tapi dia langsung meraih tangan Fathan. Azkira membawanya duduk dan mulai membuka perban untuk membersihkan lukanya, sebelum mengganti kassa perbannya kembali.


Fathan meringis kesakitan dan mencoba untuk menahan napas guna meredam rasa sakitnya. "Augh! Pelan-pelan, Azki," pekiknya dengan perlahan.


"Tahan sedikit, lukamu harus dibersihkan," ucap Azkira sembari tak berhenti melepaskan semua perban yang melilit di tangan Fathan.


"Apa yang kamu lakukan dengan tanganmu, Bang?" ulang Azkira yang sejak tadi belum mendapat jawaban atas pertanyaannya.


"Tidak ada. Ini hanya luka kecil saja." Fathan menjawab sekenanya.


"Tapi rasanya sakit, bukan?" lanjut Azkira lagi.


"Lumayan," kata Fathan sambil mendesis merasakan pedih, saat cairan pencuci luka mulai mengenai tangannya.


Azkira tersenyum getir mendengar jawaban Fathan. "Asal kamu tahu saja, luka yang kamu berikan padaku lebih menyakitkan dari pada itu, Bang," batin Azkira.


Di saat mereka berdua tengah sibuk dengan semua itu. Mendung yang semula masih menggantung, pekat, dan menghitam di permukaan langit pun mulai terurai ke bumi, lewat air hujan yang turun dengan deras. Sederas rasa bersalah dan penyesalan Fathan, atau mungkin sederas kebimbangan yang melanda Azkira.


Sesaat mata mereka saling menatap. Lalu, rasa bersalah semakin menggerogoti Fathan kala dia melihat memar di sudut bibir Azkira, yang disebabkan oleh kelancangan tangannya semalam. Tanpa berani bicara, Fathan hanya bisa meresapi penyesalan itu di dalam hatinya.


"Azki ...," lirihnya sambil hendak menyentuh bagian sudut bibir Azkira yang terdapat memar. Namun, Azkira menghindari sentuhannya dengan memalingkan wajah dari Fathan.

__ADS_1


"Aku-"


"Aku minta maaf atas semua yang kulakukan padamu, Azki." Fathan mendahului Azkira yang baru akan bicara.


"Aku akan membuat teh hangat dulu," ucap Azkira seakan tidak ingin mendengar perintaan maaf Fathan padanya. Lantas, dia pun berlalu ke arah dapur kontrakan Dila, yang berukuran 3x6 tersebut.


"Apa dia benar-benar tidak ingin bicara denganku?" gumam Fathan saat Azkira sedang membuat teh.


"Kenapa aku merasa semakin jauh darinya, padahal dia sangat dekat? Apa aku terlalu takut dia akan benar-benar pergi jauh dariku?" Fathan masih saja memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak dia harapkan.


"Diminum dulu tehnya, Bang." Tiba-tiba Azkira muncul lagi dan membuyarkan lamunan Fathan.


"Terima kasih," ucap Fathan seraya mengambil cangkir tehnya. Namun, tangan Fathan yang terluka dan sakit itu membuatnya hampir menjatuhkan cangkir teh yang dia pegang.


Melihat itu, Azkira spontan mengambil cangkir dari tangan Fathan, lalu tatapan keduanya kembali bertemu. Sesaat kemudian, Azkira tersadar dan dia menunduk sambil berkedip tidak beraturan. Azkira pun meletakan cangkir teh tersebut.


Azkira berjalan ke arah jendela kaca dan berdiri di sana. Dia menatap ke arah luar sambil menyaksikan air hujan yang turun dengan lebatnya. Dan tanpa diduga, Fathan sudah berdiri tepat di belakangnya. Memandang ke arah yang sama.


"Azki, maukah kamu memberiku kesempatan kedua setelah aku melakukan kesalahan yang mungkin lebih banyak dari curah hujan yang sangat deras itu?" tutur Fathan.


"Entahlah, bahkan aku mulai merasa tidak yakin pada diriku sendiri," jawab Azkira.


Keadaan menjadi hening. Hanya desau angin yang berasal dari deru napas keduanya, juga suara deras hujan yang masih setia mengguyur permukaan alam.


"Pernikahan ini membuatku bertanya-tanya. Tidak pantaskah aku mendapat dan merasakan kebahagiaan? Mengapa setiap hari di dalam pernikaan ini hanya ada sayatan luka dan rasa perih yang ditorehkan oleh kejamnya perilaku dan tajamnya tutur kata yang menyakitkan hati? Segala janji yang pernah terucap hanyalah sebuah ikrar palsu belaka." Azkira melanjutkan dengan nada bicara yang sangat lirih dan dalam.

__ADS_1


"Jawaban dari semua itu hanya akan ada saat kamu mengizinkan dirimu untuk mengetahuinya, Azki."


"Maksudmu? Apa menurutmu saat ini aku belum menyadari bahwa aku sedang berada dalam kemalangan itu, Bang?"


"Bukan itu maksudku, Azki. Jika kamu memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, mungkin saja ada sebuah jawaban yang sesuai dengan harapanmu."


"Mungkin? Ya! Dan aku rasa kemungkinan itu tidaklah pasti. Bagaimana kalau ternyata semua itu hanya menambah daftar luka bagi diri dan hidupku?" Kini Azkira menatap Fathan dengan sorot mata tajam.


Fathan menjadi gugup dan salah tingkah. Tapi dia belum juga ingin menyerah. Pria itu mencoba melihat peluang lain yang dia rasa bisa didapatnya.


"Aku tahu semua itu tidak akan mudah, Azki. Tapi, bukankah segala sesuatu perlu dipelajari dan dicoba? Biarkan aku mencoba memahamimu sekali lagi."


Belum sempat Azkira membalas kalimat Fathan, Pria itu sudah lebih dulu merapatkan tubuh Azkira padanya, mencium kening, pipi, kemudian bibir Azkira dengan sangat lembut. Semakin Azkira berusaha melepaskan diri, semakin erat juga Fathan mendekap tubuhnya. Menguasai diri Azkira seperti biasanya.


"Aku ingin kita mencobanya sekali lagi, Azki. Sungguh, aku memohon dengan sangat padamu. Jangan menolak dan membuat hati juga perasaanku menjadi hancur," bisik Fathan sembari memberi gigitan-gigitan lembut di daun telinga Azkira.


Mata Azkira tampak memejam sesekali, lalu terbuka lagi dan terus begitu. Sepertinya ada sesuatu yang lain menguasai diri Azkira lebih dari rasa kecewanya kepada Fathan. Ya! Lembutnya cumbu dan manisnya rayuan Fathan ternyata mampu menerbangkan sukmanya hingga tinggi mengudara, dan jauh ke awang-awang.


Napas mereka saling memburu berkejar-kejaran dengan gairah cinta yang mulai membara. Bibir Sang Pecandu hasrat panas itu kini mulai menjelajah ke seluruh tubuh Wanita berkaki jenjang dengan kulit yang terasa mulus dan licin tersebut. Semua itu membuat Azkira semakin terkurung dalam dua dilema. Dia berada di antara kenikmatan, dan rasa yang memenjarakannya dalam kesakitan juga luka yang masih segar dalam ingatan.


Selekas itu, benda pusaka kebanggaan Fathan tanpa diduga sudah berlabuh di lembah surgawi milik Azkira. Dan hentakan berirama merdu dengan desahh dan lenguhann manja pun tidak dapat terelakkan lagi. Semuanya terjadi begitu saja. Dinginnya udara yang dihantarkan hujan kepada mereka pun tidak ada arti apa-apa lagi. Kesejukan itu telah berubah menjadi kemarau yang menyengat dengan terik, membuat keduanya bermandikan peluh yang mengilap dan menambah kesan sensual.


"Bagaiman mungkin aku akan rela melepaskanmu, Azki. Sementara bagian ini adalah hal yang selalu membuatku rindu untuk melakukannya lagi dan lagi," racau Fathan sambil terus memberi ritme serangannya pada milik Azkira.


Azkira hanya bisa merintih manja sembari menggigit bibir bawahnya. Suami yang telah banyak mengecewakannya itu sekarang justru sedang leluasa menyelami telaga madunya. Meneguk dan menyesap semua rasa yang tercipta dari pertempuran sengit itu.

__ADS_1


Bersambung ....


Hayo .... Pasti lagi pada serius bacanya, ya. Jangan lupa tinggalkan jejak. Komen kek yang banyak jangan diem-diem bae. Biar othor tambah semangat updatenya. Lope-lope. ❤❤🖤🖤


__ADS_2