
"Aarrrrgh! Apa semua manusia menyebalkan seperti mereka selalu panjang umur? Aku harap mereka mati ditelan bumi, sebelum tanganku sempat menyentuh mereka!" Dada Fathan dipenuhi amarah yang menyala-nyala, kala mengetahui bahwa Ellena dan juga Fatihlah yang membebasan Nina dari tahanan, juga merupakan dalang dari semua kejahatan itu.
"Sudah pernah kuingatkan padamu, bukan? Mereka itu manusia berhati busuk. Memaafkan kesalahan mereka sama halnya dengan memberi peluang pada mereka untuk mengulang kejahatan yang lain," ujar Dion.
"Huuft! Kamu benar, Dion. Seharusnya dulu aku tidak melepaskan mereka begitu saja."
"Penyesalan memang selalu datang terakhir, Fathan. Kalau datang di awal, itu namanya uang muka," cicit Dion membatin.
"Apa kamu sudah tahu, di mana kedua manusia busuk itu berada sekarang?"
"Tidak jauh dari rumah lamanya, Fathan. Mereka membeli rumah di dekat tempat tinggal orang tua Ellena."
Fathan manggut-manggut. "Tidak akan aku biarkan mereka hidup dengan tenang. Setelah semua yang mereka lakukan pada Azkira dan calon anakku, jangan harap mereka akan kulepaskan seperti sebelumnya!" tandas Fathan sembari meremmas kepalan tangannya dengan geram.
"Ya! Aku setuju, Fathan. Memang sebaiknya, mereka dihukum untuk memberikan efek jera. Karena mereka bukanlah orang yang tahu diri. Semakin diperlakukan baik, maka mereka akan semakin menindas dan menganggap bodoh orang lain."
"Kalau begitu, aku akan datangi mereka hari ini juga!"
"Apa aku perlu ikut?"
"Tidak perlu, Dion. Kamu urus saja restoran kita. Aku ingin menghadapi mereka secara langsung." Fathan bergegas menuju mobilnya. Sementara itu, Dion tetap tinggal di restoran.
Beberapa waktu berselang, Fathan sudah sampai di kediaman Ellena dan Fatih. Berbekal alamat yang diberikan Dion padanya, Lelaki itu dapat menemukan tempat tinggal mereka dengan mudah. Kemarahan Fathan sudah tidak bisa dibendung lagi.
Brakkk!
Fathan mendobrak pintu rumah itu dengan sangat kencang. Bahkan, lebih kencang dari detak jantung yan memompakan darah ke seluruh bagian tubuh. Sisi kejam Fathan seperti kembali tergugah lagi kala itu.
__ADS_1
Tampak dua orang bediri dengan terperangah di sana. Mata mereka menatap kaget penuh ketakutan melihat amarah Fathan yang begitu membuncah. Lantas, kedua orang yang tidak lain adalah Ellena dan Fathan itu mulai gugup serta salah tingkah.
"Fa-Fathan! Apa yang kau lakukan di rumah kami?"
"Apa aku perlu menjawab secara rinci pertanyaanmu, Ellena?"
"Kau sudah melanggar privasi orang lain, Fathan. Kenapa tiba-tiba kamu datang dan mendobrak pintu rumah kami? Bukankah itu perbuatan yang teramat tidak sopan?"
"Apa di rumah yang cukup besar ini tidak ada kaca untuk bercermin dan melihat bayanganmu sendiri, Fatih? Ciih! Bicaramu memuakkan. Bertingkah seperti orang yang tak berdosa. Kau mengatakan hal yang seharusnya menjadi pelajaran untuk dirimu sendiri."
Fatih tersentak, nyalinya menciut. Dia semakin ngeri melihat Fathan yang kini mulai berjalan mengitari dirinya dan Ellena. Posisinya terus berubah memutar mengikuti langkah kaki Fathan seakan penuh kecemasan.
"Apa salah istriku pada kalian? Apa dia melakukan kejahatan? Apa dia membuat kalian dirugikan? Atau, apa kalian mengenalnya selain sebagai istriku?" berondong Fathan bertanya dengan suara rendah, namun penuh penekanan.
Kedua orang itu membisu. Tampak lidah mereka kelu dan sedikit terkejut, karena Fathan melontarkan pertanyaan yang tidak pernah mereka sangka-sangka.
"Haruskah aku membuat kepalamu botak agar kamu mengerti dan tidak berpura-pura bodoh?" bentak Fathan dengan suara menggema dan nyaris membuat kedua orang itu lompat karena kaget.
"Ellena! Aku ingin bertanya padamu," imbuh Fathan. Suaranya lebih ramah dari sebelumnya. Di sana Ellena tampak sangat gugup dan terus menunduk.
"Kamu seorang wanita, bukan?" lanjut Fathan. Ellena mengangguk pelan.
"Ya. Aku rasa itu tidak bisa disangkal," kata Fathan saat melihat reaksi Ellena yang mengangguk meng-iya-kan pertanyaannya.
"Lalu, kenapa kamu tega menyakiti wanita lain, Ellena? Apa kamu tahu? Istriku sedang mengandung buah hati kami. Dan kalian membayar orang untuk melakukan pembunuhan terhadap calon bayi kami. Itu sangat keji, Ellena." Gigi Fathan gemeratak merasakan api amarah yang semakin liar berkobar di dalam dada hingga menjalar merasuki pikirannya.
"T-tidak, Fathan. Aku tidak membunuh bayimu. Aku tidak membunuh siapa pun!" jawab Ellena sembari menangis dan panik.
__ADS_1
"Fathan, jangan keterlaluan. Kau sudah menuduh kami tanpa bukti. Apa kamu sedang melakuka sebuah tuduhan yang bernilai fitnah?" bela Fatih seraya merangkul Ellena.
"Bukti katamu, huh? Kalian mau aku membuktikannya? Baiklah, akan aku tunjukkan bukti-bukti kejahatan kalian." Fathan memetikkan jemarinya, dan muncullah seseorang yang sangat dikenali oleh Ellena dan Fatih.
Ellena dan Fatih saling menatap dalam kegusaran dan rasa takut yang lebih besar dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Satu-satunya saksi kunci kejahatan mereka dihadirkan di sana, hingga keduanya tidak bisa mengelak lagi. Ya, ternyata Dion berhasil menangkap Nina atas bantuan orang-orangnya. Lalu, dia menyerahkan Nina kepada Fathan.
Nina berjalan seperti pencuri yang ketahuan. Langkah kakinya pelan mengendap-endap. Wajahnya menunduk dan ragu untuk mengangkat pandangannya. Kedua tangannya terus bertautan seperti sedang berusaha menepis berbagai perasaan yang sedang menderanya.
"Kenapa kalian diam dan gemetaran? Apa kalian takut?" hardik Fathan.
"Katakan, Nina! Kenapa kamu mendorong istriku sampai mengalami pendarahan dan keguguran?"
Nina melihat ke arah Ellena dan Fatih, lalu dibalas tatapan mata tajam oleh mereka, sebagai isyarat agar Nina tidak mengatakan apa-apa. Namun, semua harapan mereka hancur saat Nina tetap mengungkapkan kebenarannya. Sebab, Fathan dan Dion sudah lebih dulu mengambil kendali atas diri Nina.
"Lantas, dari mana kamu tahu bahwa istriku sedang hamil, Nina?"
"S-saya tidak tahu, Pak. Waktu itu, saya hanya dibayar untuk mencelakai Azki. Saya sama sekali tidak tahu kalau ternyata Azki sedang mengandung," beber Nina.
Fathan memicing dengan tatapan membunuh ke arah Ellena dan Fatih. "Artinya, kedua orang bosmu itu sudah tahu," duga Fathan.
"Jadi, kalian mengintai hidupku selama ini, huh?" Setelah bicara pelan, lalu Fathan membentak dengan suara yang sangat nyaring seperti itu, membuat orang-orang di sana semakin ketakutan.
Tanpa menunggu lama lagi, pihak berwenang pun datang untuk menangkap mereka. Tentu saja, Fathan sudah merekam semua obrolan sebagai bukti tambahan, untuk menguatkan tuduhan pada para pelaku. Napas Fathan terasa memburu dan ingin sekali rasanya dia membalas langsung perbuatan mereka. Namun, Fathan sadar bahwa dirinya hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi hukum. Karenanya, dia memilih menyerahkan semua pelaku kepada pihak berwajib.
"Setidaknya, aku sudah membuat mereka menerima konsekuensi atas perbuatannya," gumam Fathan sambil berlalu pergi dari sana.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa sajen othor, ya. Wkwkwk. Lope yu. ❤🖤❤🖤