Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 31 Tercengang


__ADS_3

Keesokan pagi saat tetesan embun mulai pupus diterpa sengat terik mentari yang mulai menghangat. Fathan bangun lebih dulu dari Azkira. Dia pergi ke dapur dan meminta tolong pada Bi Inah untuk menyiapkan sarapan bagi dirinya dan Azkira.


Bi Inah tersenyum senang melihat Fathan yang sudah kembali berwajah ceria, tidak bermuram durja seperti hari sebelumnya. "Mau dibuatkan sarapan apa, Den?" tanyanya antusias.


"Apa saja, Bi. Yang penting Istri saya suka."


"Baik kalau begitu, Den Fathan. Bibi segera buatkan." Bi Inah tampak langsung berjibaku dengan bahan-bahan makanan yang akan diolahnya. Sementara itu, Fathan kembali lagi ke kamarnya.


"Kelihtannya Den Fathan sedang senang, hihihi," gumam Bi Inah diiringi tawa usil yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.


Fathan menutup pintu dengan perlahan. Berupaya agar deritnya tidak menciptakan suara bising, yang bisa mengganggu tidur Azkira. Kemudian, Pria pemilik senyum menawan itu merebahkan tubuhnya di samping Azkira, sembari memandangi Mahakarya Sang Pencipta yang begitu luar biasa memberi teduh pada kalbunya.


"Ternyata kamu lebih cantik dari sekedar kata cantik itu sendiri. Matamu, hidungmu, juga bibirmu telah menjadi candu yang selalu asyik untuk aku nikmati dalam setiap simpulan senyum, dalam sendu pandangan, dan dalam lembutnya kecup dan cium yang memanjakan," sanjung Fathan pada raga yang tengah terlelap itu.


Tak lama kemudian, Azkira bangun ditandai dengan gerakan tubuhnya yang mengusik dan mata yang mulai terbuka sedikit demi sedikit, hingga dia bertanggang dan bangun seutuhnya. "Abang ...," serunya lirih.


"Sudah bangun, Cantik?" sapa Fathan pada Wanitanya itu.


"Maaf, aku kesiangan. Aku akan mandi dan membuat sarapan." Gegas Azkira bangkit dari rebahnya.


"Hey, mau ke mana, Sayang? Bi Inah sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Kamu diamlah di sini. Aku ingin menikmati waktu pagi bersamamu." Fathan menarik tangan Azkira hingga Wanita itu terhempas ke atas tubuhnya.


"Abang, lepaskan. Aku mau mandi."


"Tidak mau! Aku tidak akan melepaskanmu." Fathan mengubah posisinya. Sekarang dialah yang berada di atas, mengungkungi tubuh Azkira.


Tiba-tiba saja, Bi Inah mengetuk pintu kamar sambil memberitahu. "Den, sarapannya sudah siap," ucapnya dengan sedikit berteriak dari balik pintu sana.


"Aahh, mengganggu saja," desis Fathan yang baru akan melabuhkan ciuman di bibir Azkira.


"Baik, Bi Inah. Kami segera turun," jawabnya masih dari dalam kamar tanpa membuka pintu.


Saat dia melihat ke tempat semula, Azkira sudah tidak ada. Rupanya dia menggunakan kesempatan saat Fathan lengah, untuk pergi ke bilik mandi.


Fathan berdecak kesal, karena dirinya kehilangan peluang untuk bermesraan dengan Azkira. "Ini akan sulit," gerutunya sembari membuang napas kasar.

__ADS_1


Pria itu menyusul Azkira berharap Azkira mau diajak mandi bersama. "Sayang, tolong buka pintunya. Aku ingin buang air kecil," alibi Fathan.


"Sepuluh menit lagi!" teriak Azkira dari dalam.


"Ya ampun. Tapi aku sudah tidak tahan, Sayang. Cepat buka pintunya." Fathan masih berusaha.


"Tahanlah sebentar lagi, Bang. Aku akan selesai mandi," balas Azkira lagi. Dia seperti mengetahui niat terselubung Fathan.


"Azki, kumohon buka dulu pintunya. Sebentar saja, aku tidak akan lama. Apa kamu ingin melihat aku mengompol?" mohon Fathan dengan seribu alasannya.


"Pria itu! Pasti dia ingin sesuatu yang lain. Aku bisa merasakan niat tersembunyinya," duga Azkira dari dalam sana.


"Tapi, kalau ternyata dia benar-benar ingin buang air kecil, bagaimana?" Azkira resah dengan praduganya sendiri.


"Baiklah, akan kubuka," putusnya sembari melilitkan kimono handuk ke tubuhnya.


"Aku sud-"


Belum selesai Azkira bicara, Fathan sudah menyurung tubuh Azkira hingga dia bersandar rapat ke dinding kamar mandi. Lantas, Fathan mengurung Azkira dengan kuncian tangannya. Benar saja, Pria itu benar-benar tidak mau rugi. Dia melanjutkan niatnya yang tadi sempat terjeda oleh kehadiran Bi Inah di depan pintu kamarnya. Sedangkan Azkira, dia tidak punya daya untuk melawan.


****


Usai sarapan Fathan mengajak Azkira untuk pergi ke suatu tempat. Tempat yang sama sekali belum Azkira ketahui. Di sepanjang jalan menuju ke sana juga, Fathan tak pernah lekang memperlakukan Azkira dengan mesra. Entah sekedar membelai pucuk kepalanya, mencium tangan, atau memujinya dengan sejuta sanjungan yang membuat angan melayang.


"Kita mau pergi ke mana, sih, Bang? Kenapa sejak tadi aku tanya, Abang tidak memberitahu. Membuatku penasaran saja," ujar Azkira sembari mengerucutkan bibirnya.


Fathan tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Azkira, tapi justru berkomentar tentang hal yang lain. "Kamu membuatku semakin gemas kalau sedang merajuk seperti itu," katanya.


"Sudahlah, aku tidak ingin bicara padamu lagi!"


"Ya ampun. Dia semakin cantik saja. Sungguh, dia sangat cantik bahkan ketika dia tidak memakai polesan make up di wajahnya," puji Fathan di dalam hati.


Detik berikutnya, Fathan menghentikan laju mobilnya. Dia menepi di depan sebuah rumah seseorang yang letaknya di pemukiman sederhana atau sebut saja itu sebuah pedesaan. Lalu, dia mengajak Azkira turun dari mobil.


Wanita itu tampak menyiratkan segudang tanya di raut wajahnya. Dia mengedarkan pandang ke setiap sisi rumah tersebut. "Bang, ini rumah siapa?"

__ADS_1


Fathan tersenyum sambil menautkan tangannya posesif. "Kamu akan mengetahuinya sebentar lagi," jelas Fathan.


"Sepertinya aku perlu memanjangkan kesabaranku hanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku ini." Azkira menghela napas panjang.


Tidak lama kemudian, Fathan membuka pintu rumah tersebut, lalu membawa Azkira masuk ke sana sambil tetap menggandeng erat tangannya. "Ini rumah mendiang Nenekku. Aku biasa pergi ke sini untuk melepas rasa penatku."


"Oh, ya? Dengan siapa Abang biasa pergi? Apa dengan pacar Abang?" Azkira mulai berani menanyai Fathan pada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ingin dia perdulikan.


"Apa yang membuatmu bertanya begitu?" kata Fathan sembari menatap Azkira penuh selidik.


Azkira gugup bukan kepalang. "T-tidak, aku hanya bertanya saja. Memangnya tidak boleh?" jawabnya sembari berkedip tidak beraturan.


"Aku melihatnya. Kamu sedang merasa cemburu, Sayang," batin Fathan berseloroh senang.


"Ketahuilah, kamu satu-satunya wanita yang aku ajak ke sini," jelas Fathan.


Azkira memalingkan wajah menyembunyikan ulasan senyumnya. "Abang pikir aku percaya?"


"Tidak masalah jika kamu tidak percaya. Yang penting 'kan aku sudah jujur," imbuh Fathan masih dengan tatapan menganalisa. Dia senang melihat wajah cemburu Azkira.


Lantas saja, keduanya pun melangkah beriringan. Memasuki bagian rumah itu lebih dalam. Meski tidak ada yang menempati, tapi rumah itu terasa nyaman dan tampak rapi.


"Apa ada yang merawat rumah ini?" lontar Azkira ingin tahu.


"Ya, ada Mang Budi yang datang untuk merapikan dan membersihkan rumah ini tiga kali dalam semingu," urai Fathan sembari membuka tirai-tirai yang menutupi kaca jendela untuk mendapat pencahayaan dari luar.


"Oh, begitu ...." Azkira manggut-manggut.


"Bagaiman menurutmu, apa kamar ini indah?" Fathan memintai pendapat Azkira saat membuka salah satu kamar utama di sana.


Kalian tahu bagaimana ekspresi wajah Azkira ketika melihat kamar itu? Dia sangat tercengang sampai mulutnya menganga, matanya terbelalak membola. Lalu, dia menutupkan kedua tangan pada mulutnya itu. Sungguh, Azkira benar-benar tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


Bersambung ....


Penasaran? Ikuti update selanjutnya! ❤🖤

__ADS_1


__ADS_2