Ikrar Palsu Pernikahan

Ikrar Palsu Pernikahan
BAB 39 Foto


__ADS_3

Seminggu berselang, Azkira masih tinggal di rumah Sinta. Hatinya masih butuh ditenangkan usai beberapa kejadian yang membuat emosionalnya terguncang. Namun, tanpa sepengetahuannya, Fathan diam-diam tetap mengawasi Azkira. Dia juga memikirkan makanan sehat dan segala kebutuhan untuk mendukung nutrisi baik pada konsumsi Azkira, dengan cara mengirimkan semua yang diperlukan pada Sinta, lewat seseorang yang Fathan beri tugas untuk melakukan semua itu.


"Bagaimana keadaan istriku, Randy?" tanya Fathan pada pria bernama Randy yang dia tugaskan untuk mengawasi Azkira.


"Istri Anda baik, Pak. Tadi saya melihat Nona Azkira sedang membuat salad buah bersama Ibu Sinta," jawabnya.


"Bagus! Apa dia tidak mencurigaimu?" imbuh Fathan.


"Semuanya aman, Pak. Saya sudah mengatur semuanya dengan rapi. Hanya Ibu Sinta saja yang tahu. Rencananya berjalan sesuai perintah yang Bapak berikan."


"Oke, kamu boleh pergi."


"Baik, Pak, saya permisi."


Usai Randy pergi, Fathan menghela napasnya begitu dalam. Meresapi betapa sedihnya dirinya, karena harus berpisah ruang dengan Azkira. "Aku rindu memelukmu dalam tidurku, Sayang. Aku rindu melihat senyuman di wajahmu, ketika kau tersipu malu," gumam Fathan sambil memejamkan mata, lantas bulir bening pun menetes dari ceruk matanya.


[Dion Calling.]


Kesedihan Fathan melebur terbuyar oleh suara dering teleponnya. [Halo, Dion. Ada apa?] katanya saat mengangkat panggilan masuk tersebut.


[Paman Antoni meneleponku dan berpesan, katanya dia memeperpanjang waktunya untuk mengurus bisnis di luar kota.]

__ADS_1


[Hmmm ... kenapa dia memberi kabar padamu dan bukan padaku? Apa Ayahku sudah lupa kalau aku putranya?] protes Fathan.


[Sebaiknya periksalah panggilan masuk di ponselmu itu, Fathan. Paman Antoni bilang, dia sudah belasan kali menelepon dan tidak mendapat jawaban darimu. Ada apa sebenarnya?] jawab Dion dengan nada penasaran.


[Ya sudah. Lupakan saja! Aku tidak bisa datang pada meeting hari ini. Tolong kamu urus saja semuanya,] timpal Fathan mengalihkan topik pembicaraan.


[Baiklah, akan kuurus. Apa kamu baik-baik saja?] tanya Dion.


[Suara Fathan yang menghela napas kasar.]


[Ada sedikit masalah, tapi tidak apa-apa. Aku bisa menanganinya,] imbuh Fathan meyakinkan.


[Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu.] Dion mengakhiri panggilannya.


Di rumah Sinta, Azkira tampak sedang menikmati salad buah yang dia buat bersama Neneknya tersebut. Dia tampak lahap memakannya. Sedari pagi Azkira terus merasa mual dan tidak ingin memakan apapun, kecuali sesuatu yang segar.


Sinta mengelus lembut punggung Azkira. "Nak, apa kamu tidak ingin pulang ke rumah suamimu?" tanya Sinta dengan sangat hati-hati.


Seketika Azkira langsung menghentikan suapan salad buah ke mulutnya. "Ough, apa Nenek ingin Azki pergi? Azki mengganggu Nenek, ya?" katanya tampak sedikit kesal. Dia benar-benar sangat sensitif.


"Tidak, Sayang. Bukan begitu maksud Nenek," sangkal Sinta.

__ADS_1


Azkira berhenti dengan aktifitas makannya, lalu dia melenggangkan kaki dan masuk ke dalam kamar. "Azki ingin tidur dulu, Nek," alasannya seraya berlalu.


Sinta menggelengkan kepalanya sambil membuang napas kasar. "Keras kepalanya semakin menjadi," gumamnya.


Sementara itu, Azkira meringkuk di atas tempat tidurnya. Air matanya tampak berderai. Dia kembali menangis tanpa suara.


Kemudian, matanya tertuju pada foto pernikahannya dengan Fathan, yang diambil beberapa saat usai ijab kabul terlaksana. "Kenapa setiap kali mengingatmu, yang aku rasakan hanya sakit dan terluka, Bang? Aku merasa ... semua yang kamu ucapkan selalu-nya adalah dusta. Kamu selalu ingkar setiap kali berjanji," keluh Azkira bicara pada foto tersebut sambil terisak pedih.


Lantas, Azkira meringsut dan bergerak untuk mengambil sebuah album foto lawas milik almarhum ibunya. Hatinya rindu pada sosok wanita yang telah melahirkannya tersebut. Melihat potret wajah mendiang ibunya, mungkin akan mengobati sedikit kerinduannya itu.


Lembar demi lembar dari album foto itu dia buka. Hingga ada salah satu foto yang membuat dirinya terperangah. "Ini ... bukankah ini foto yang sama dengan yang di rumah Neneknya Fathan waktu itu? Ini aku 'kan? Lalu siapa balita laki-laki ini?" gerundalnya penuh tanya.


"Kenapa foto ini selalu ada di mana-mana? Aku harus mencari tahu siapa anak yang duduk di sampingku itu." Azkira merasa penasaran lagi pada anak di dalam foto yang bersanding dengan dirinya yang masih bayi.


Di tempat yang berbeda. Revan sedang menjalani rutinitas barunya, yakni menjadi seorang photographer. Ketertarikannya pada seni photography memang sudah ada sejak dulu. Revan juga mengambil jurusan multi media saat sekolah. Hari ini dia tengah mengambil objek foto di sebuah ruang terbuka bersama sepasang kekasih yang menggunakan jasanya untuk sebuah photo prewedding.


Anehnya, setiap dia membidikan cameranya pada objek pemotretan, yang dia lihat selalu saja wajah Azkira. Sampai-sampai, Revan berulang kali mengucek matanya untuk memastikan. Dan semua itu menghambat kinerjanya kala itu.


"Revan, kenapa kamu kebanyakan diam dan berpikir, sih? Sebentar lagi matahari akan terik, kasihan client kita kalau sampai kepanasan." Bahkan, Revan diprotes oleh Ari selaku pengarah gaya.


Bersambung ....

__ADS_1


Tinggalun jejak please. Jangan sampe aku mengutuk kalian karena jadi silent readers. 🙊🙉


Lope-lope. 🖤❤🖤❤🖤❤🖤❤


__ADS_2