
"Azki, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fathan yang melihat reaksi Azkira saat itu.
Azkira terkesiap, ketika tahu-tahu Fathan mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar itu tanpa aba-aba. "Abang!" sentak Azkira kaget.
Biar kuberitahu. Kamar itu sudah dihias indah layaknya kamar pengantin baru. Dengan ranjang bernuansa putih klasik, dan kelopak mawar yang bertaburan memebentuk hati di bagian tengah atas tempat tidurnya. Belum lagi yang bertebaran memenuhi lantai kamar. Tidak lupa, ada lilin aroma terapi yang harum memanjakan indera penciuman. Kesan romantis pun terasa begitu pekat di sana. Entah kapan Fathan menyiapkan semua itu, tapi sepertinya dia menyuruh orang lain untuk melakukannya. Ya, tentu saja begitu.
"Abang, lepaskan aku, Bang!" pinta Azkira yang ditindih posesif di atas ranjang tersebut oleh Fathan.
"Kenapa kamu sering sekali meminta untuk dilepaskan, Sayang?" bisik Fathan sambil memberi sentuhan yang membuat bulu kuduk Azkira meremang.
"Karena aku hampir tidak bisa bernapas. Abang mendekapku terlalu erat," terang Azkira.
"Baiklah, akan kukendurkan dekapanku, tapi tidak akan aku lepaskan dirimu. Bagaimana ... kalau bajumu saja yang aku lepaskan?" Bicara Fathan penuh rayu dan goda. Dia membuka satu persatu kancing kemeja yang Azkira kenakan kala itu.
"Bang, bolehkah kita melakukannya nanti saja?" Azkira menahan gerakan tangan Fathan yang semakin berani.
"Kapan? Aku tidak suka menunda kebahagiaan!" tandas Fathan seraya melanjutkan aksinya.
"Aku takut Abang bosan," ungkap Azkira.
"Kalau begitu buang saja rasa takutmu jauh-jauh."
Azkira terpejam saat merasakan tangan Fathan mulai menjelajahi titik-titik sensitif di tubuhnya. "Tapi semalam 'kan kita sudah banyak me-"
Fathan menyumpal mulut Azkira dengan bibirnya. "Semalam dan saat ini adalah waktu yang berbeda, Sayang." Kini, Fathan menyapukan lidahnya di daun telinga Azkira.
Napas Azkira mulai memburu. "Kenapa Abang senang sekali melakukannya?" Suara Azkira sangatlah lembut dan terasa seperti membelai.
"Karena aku menyukainya. Dan kuharap kamu juga. Anggap saja ... ini bulan madu untuk kita. Kamu begitu candu bagiku, Azki." Tak terasa keduanya pun telah dalam keadaan polos.
Detik kemudian, dialog itu berubah menjadi sebuah rintihan parau dan merdu. Gerak fisik penuh hasrat dan memabukkan itu terjadi lagi. Lebih asyik dari yang semalam. Lebih indah dari keseluruhan yang pernah dilakukan sebelumnya.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu lebih dari kata ingin itu sendiri, Azki."
"Kuharap itu sebuah kesungguhan dan bukan sekedar nafsu belaka, Bang."
"Berikan percayamu, maka akan aku buktikan seluruh ucapanku. Berhentilah mencemaskan agar aku merasa dihargai. Kamu adalah getaran yang membuatku selalu hidup. Jangan pernah pergi agar aku tidak mati." Fathan masuk semakin dalam menyelami lembah surgawi Azkira.
Dalam racau yang sudah entah itu, akhirnya mereka sampai di puncak paling diinginkan dari sebuah pendakian cinta yang begitu membara.
****
"Dion, aku mohon! Jangan jebloskan kami ke balik jeruji besi. Kami bersedia bersujud di kaki Fathan untuk meminta maaf atas perbuatan yang sudah kami lakukan." Ellena memohon dengan wajah memelas.
"Jangan tunjukkan wajah melasmu itu di hadapanku, Ellena." Dion menyeringai jengah.
"Dan kamu, Fatih. Sampai hati kamu mengkhianati sahabat kita sendiri. Apa salahnya padamu selama ini, huh? Apa hanya karena dia pernah menghajarmu di club malam waktu itu, lalu kamu dendam padanya? Ketahuilah, dia begitu karena dia menyayangimu dengan tulus sebagai sahabatnya. Dia tidak ingin dirimu terus mabuk-mabukan tidak berguna seperti itu. Tapi apa balasan yang kamu berikan padanya? Kamu malah memberinya pengkhianatan yang bertubi-tubi."
Bukannya sadar, Fatih justru menampakkan wajah kesalnya pada Dion. "Huh, jangan merasa paling benar, Dion. Kamu pikir aku tidak tahu kalau sebelumnya kamu juga menyukai wanita yang menjadi istri Fathan saat ini?"
Dion melayangkan sebuah tamparran ke wajah Fatih. "Tutup mulutmu, Fatih. Jangan coba-coba memutar balik keadaan di hadapanku!"
"Kuperingatkan sekali lagi pada kalian berdua, terutama kamu, Ellena! Jangan pernah berbuat ulah terhadap Fathan dan kehidupannya. Karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi dan aku juga tidak akan mengampuni kalian!" tegas Dion penuh penekanan. Kedua orang itu hanya bisa merasa marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ellena sendiri ternyata sudah berselingkuh dengan Fatih, sejak awal dirinya menjalin kasih dengan Fathan.
Siapa sebenarnya Dion? Ada rahasia apa di balik semua sikapnya? Mengapa dia begitu pasang badan saat ada yang menyalahi hak Fathan? Baiklah, akan kujelaskan pada kalian sebuah fakta mengenai Dion.
Flash back on
Dion adalah sahabat dari semasa kecil Fathan. Keadaan ekonomi keluarga Dion yang terbilang sangat pas-pasan menjadikan dirinya sering dikucilkan dan diremehkan oleh teman-temannya. Bukan hanya Dion, tapi kedua orang tuanya pun mengalami hal yang sama. Satu-satunya orang yang tidak pernah malu dan terus mau berteman dengan Dion kala itu hanyalah Fathan seorang.
Sampai suatu hari, Fathan mengadukan nasib Dion pada ayahnya, Antoni. Dari cerita Fathan tersebut, akhirnya Antoni dengan sifat welas asihnya membantu keluarga Dion, dia memberikan modal usaha pada mereka. Meski awalnya kedua orang tua Dion menolak bantuan tersebut, tetapi berkat bujukan Fathan dan Antoni akhirnya mereka mau menerimanya.
Jujur saja, walau dalam ketidakberadaan ekonomi yang berkecukupan, kedua orang tua Dion bukanlah tipe orang yang suka aji mumpung atau memanfaatkan kebaikan orang lain. Namun, Fathan dan Antoni berhasil meyakinkan mereka bahwa kebaikan yang diberikan Antoni merupakan ketentuan dari-Nya, yang sudah semestinya diterima dengan cinta tanpa rasa risau.
__ADS_1
Hingga keadaan ekonomi mereka pun benar-benar membaik. Dion dan keluarganya tidak lagi diremehkan. Dan bagian terhebatnya adalah Antoni yang tidak pernah meminta imbalan. Tidak juga ingin dihargai berlebihan. Itulah mengapa, Dion sangat menyayangi keluarga Fathan dan akan hadir terdepan untuk membela ketika mereka berada di dalam kesulitan. Seperti halnya menangani isu miring yang menimpa pada usaha Fathan, sekaligus ladang tempatnya mencari nafkah yakni Chili Sauce Resto.
Flash back off
Usai memberikan pelajaran pada Ellena dan Fatih, Dion pun pergi dari sana. Sebenarnya, Fathan sudah berkata pada Dion bahwa dia sudah tidak ingin mengurusi hal itu lagi 'toh nama baik Chili Sauce Resto juga sudah kembali. Namun, sebagai antisipasi dan untuk memberi efek jera pada para pelaku fitnah itu, Dion memilih untuk tetap menindaknya tanpa meminta persetujuan dari Fathan lagi.
Kembali pada Fathan dan juga Azkira. Mereka masih asyik menikmati kebersamaan dalam waktu berkualitasnya. Kali ini, Fathan sedang duduk santai dengan Azkira yang berada di atas pangkuannya.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" kata Fathan.
"Katakan saja, Bang. Lagi pula, kalau aku menjawan tidak, memangnya Abang bisa terima?" jawab Azkira sembari membidikkan tatapannya pada Fathan.
"Hemm, kamu benar, Sayang. Pertanyaanku adalah ... kenapa kamu mau menikah denganku?" kata Fathan.
"Awalnya, karena permintaan Nenek dan Paman Antoni, ayahmu yang sekarang ayahku juga."
"Lalu?"
"Lalu, emm ... aku juga tidak tahu." Azkira menunduk malu-malu.
"Baiklah, jadi kamu tidak mau memberitahuku?" imbuh Fathan seraya mengecup pipi Azkira.
"Kenapa aku harus menjelaskan alasananya? Intinya aku menerima takdir yang digariskan padaku." Azkira menjawab dengan nada ketus-ketus manja. Fathan tertawa geli.
"Kalau Abang sendiri, kenapa mau menikahiku, meniduriku begitu sering, padahal katanya tidak mau padaku?" beo Azkira.
"Mana aku tahu kalau ternyata rasanya sangat enak. Kalau aku tahu sejak awal, aku tidak akan pernah menolaknya," ungkap Fathan bicara asal.
"Isshh! Abaaaaaaang ..., tidak boleh bicara begitu!" Azkira memmukuli dada bidang Fathan bertubi-tubi.
Alih-alih kesakitan, Fathan justru tergoda untuk memulai ronde kedua permainan mengasyikannya bersama Azkira.
__ADS_1
Bersambung ....
Give me like, comment, subcribe, vote and gift. Thank you so much. 🖤❤