
Dinginnya malam yang berselimutkan pekatnya gulita, ternyata tidak juga mampu membuat mata Fathan terlelap. Pria itu masih saja asyik memandangi wajah Azkira yang sudah lebih dulu tertidur. Lalu, ulasan senyum pun tak lekang menghiasi bibir Fathan.
'Ternyata aku salah menilainya selama ini. Aku kira semua dusta yang mengudara saat itu benar adanya. Bahkan, dengan kebodohanku aku juga sudah melecehkannya. Sekarang aku percaya, dia tidak melakukan hal serendah itu. Dia hanya orang yang dijadikan kambing hitam di balik skandal penyebab tercorengnya nama baik Chili Sauce Resto, dan semua itu nyaris saja menghilangkan sebagian pelanggan setia hingga pendapatan restoran pun menurun. Tapi, haruskah aku mengatakan padanya sekarang, bahwa aku sudah tahu semua itu bukanlah kesalahannya? Bagaimana kalau setelah aku beritahu dia meminta untuk pergi dariku? Tidak! Aku tidak mau. Itu tidak boleh terjadi.'
Fathan bergelut dengan sejuta kecamuk yang bertengger dalam benaknya. Entah itu sekedar sebuah kesadaran, atau beriring dengan tumbuhnya rasa cinta di hati Fathan untuk Azkira. Yang jelas, Pria itu merasa tidak ingin ada perpisahan dalam rumah tangganya.
Malam semakin larut dan Fathan sudah tidak mampu lagi melawan rasa kantuknya. Dia pun tertidur usai melabuhkan beberapa kecupan di pipi dan kening Azkira. Lalu, tangannya sudah mulai candu untuk memeluk tubuh Azkira di waktu tidurnya.
Saat Fathan mulai terlelap, Azkira justru terbangun. Dia mendapati tubuhnya dipeluk dengan posesif oleh Fathan. Lantas, Azkira bergerak mengusik, menyingkirkan dengan perlahan tangan kekar yang melingkarinya itu. Kemudian, dia bangkit duduk dari rebahnya.
"Wajahnya bagai tanpa dosa saat dia tidur, tapi begitu bangun dia mulai menjadi sosok yang sangat menyebalkan," cicit Azkira.
"Kenapa ada orang seperti dia? Yang memiliki pribadi lebih dari satu. Terkadang dia bisa jadi pencinta, tapi dalam waktu yang sama dia juga bisa jadi pembenci ulung. Ironisnya aku seperti masuk dalam dua keadaan itu. Dia membuatku merasa diinginkan sekaligus tidak diharapkan. Entahlah, hatiku lelah memikirkan semua ini." Azkira berada dalam kebingungan.
Selekas kemudian, Azkira beranjak turun dari tempat tidurnya. Lantas, matanya tertuju pada ponsel yang dia letakan di atas nakas. Dia pun lalu mengambilnya.
"Ha? Kemana sebagian besar foto di galeri ponselku? Kenapa semuanya hilang dan hanya tersisa fotoku sendiri?" Azkira menghela napas kasar, lalu mendengus dengan kesal.
"Apa dia yang melakukan semua ini?" terkanya sambil menoleh ke arah Fathan.
"Ini benar-benar pelanggaran privasi!" Azkira memasang wajah marahnya.
"Bagaimana ini?" rengek Azkira.
Tanpa basa basi lagi dia langsung membangunkan Fathan dengan suara nyaring. "Banguuuuuuun!" teriaknya sambil mengguncang tubuh Fathan dengan kasar.
__ADS_1
"Aakh!" pekik Fathan sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
"Kenapa kamu berteriak? Ini masih dini hari dan aku baru saja tidur. Apa kamu ingin lagi? Besok saja, bagaimana?" Pemikiran Fathan sungguh tidak sinkron dengan keadaan sebenarnya.
"Apa maksudmu menghapus foto-foto dalam galeri ponselku? Apa hakmu, huh? Apa aku pernah mencampuri urusan pribadimu?" oceh Azkira yang terlanjur emosi.
Fathan mengerjapkan matanya yang masih terasa sangat mengantuk berulang kali. Lantas, dia pun duduk. "Kenapa kamu terlihat menyeramkan saat sedang marah?" ujar Fathan dengan santainya.
"Hentikan bualanmu! Aku bertanya, kenapa kamu menghapus sebagian besar foto dalam galeri ponselku?" Azkira meninggikan nada bicaranya.
Fathan diam tidak menjawab. Kemudian, dia mendekat pada Azkira dan berusaha untuk menenangkan Istrinya itu dengan sebuah pelukan. Namun, Azkira segera menghindar dari jangkauan Fathan.
Dengan mimik wajah marah dan sorot mata yang melukiskan kesedihan, Azkira terus menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya ada orang sepicik dirimu di dunia ini!" hardik Azkira.
"Tapi kamu sudah melakukannya, Bang. Apa salahku padamu sampai kamu selalu saja berlaku tidak adil terhadapku? Apa sebenarnya yang kamu inginkan? Bukankah aku sudah memberimu kemudahan untuk melepaskanku jika kamu tidak bisa mencintaiku? Tidak perlu menyiksaku dengan semua perbuatanmu yang menyakitkan!" Azkira sudah tidak bisa sabar lagi. Dia terus mengoceh mengeluarkan semua isi hatinya.
Fathan terhenyak melihat Azkira yang seberani itu memaki dan memarahinya. Baru kali ini dia melihat kemarahan yang ditunjukkan Azkira begitu menggelora. Selama ini paling tajam Azkira hanya mengeluarkan kata-kata sindiran, atau melawan pun sekedar dengan ucapan yang biasa saja. Tidak seperti saat ini yang emosinya tampak mebuncah dan menyambar-nyambar bagai kilatan petir.
"Azki ...," lirih Fathan.
"Cukup! Aku tidak sanggup lagi hidup dan diperlakukan seperti ini. Sekarang biarkan aku pergi. Sekali lagi aku tegaskan padamu. Hidupku bukan tercipta untuk diperlakukan semena-mena. Camkan itu!" Azkira langsung mengambil koper dan hendak mengemasi barang-barangnya.
Fathan panik bukan kepalang melihat semua itu. Dia pun segera mencegah Azkira agar berhenti. Dia menahan tangan Azkira agar tidak lagi bergerak memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Azki, tolong maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya cemburu melihat foto-foto dengan lelaki lain."
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya? Abang 'kan tidak mencintaiku. Bahkan, kamu menikahiku juga karena kita dijodohkan, Bang. Seharusnya tidak masalah jika aku punya duniaku sendiri. Bukankah aku juga tidak kamu harapkan? Apa restoranmu telah mengalami kebangkrutan karena fitnah yang melibatkanku? Kalau itu masalah yang membuatmu selalu menyiksaku, katakan saja apa yang bisa aku lakukan? Aku akan melakukan apapun agar citra baik restoranmu kembali. Tapi, aku ingin kita mengakhiri semua ini, Bang. Pernikahan ini, pertikaian ini, dan semua hal yang membuat aku merasa tidak ingin hidup."
Dalam ruangan kamar itu riuh oleh tangis dan kemarahan Azkira. Dia terlihat seperti bukan Azkira yang biasanya. Sungguh, Fathan pun dibuat heran dengan sikap Azkira yang bertentangan dengan diri Azkira yang selama ini dia kenal.
"Azkira, tolong pikirkan lagi. Sungguh, aku minta maaf padamu," mohon Fathan.
"Tidak, Bang. Bukan salahmu, tapi nasibku lah yang salah."
Perdebatan kembali memanas di antara keduanya. Azkira tetap bersikukuh untuk pergi. Sementara itu, Fathan tetap teguh dengan pendiriannya untuk menahan Azkira agar tetap tinggal.
Azkira meradang seperti menumpahkan semua perasaan sakit, marah, kecewa dan sedihnya sekaligus pada malam itu. Hatinya sudah menolak dengan tegas untuk disakiti lagi. Wanita yang biasanya lebih banyak pasrah itu, kini menunjukkan kegarangannya.
Menerima amukan Azkira yang terus menjadi, tanpa sadar membuat Fathan melayangkan sebuah tamparan ke wajah Azkira. Tamparan yang cukup keras hingga sudut bibir Azkira tampak mengalirkan darah segar. Azkira memekik kesakitan dan dia terjerembab hingga meluruh di lantai kala itu.
"Azki ...," lirih Fathan yang baru menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
Isak tangis Azkira semakin gencar terdengar. Terasa begitu pilu menyayat hati. Kini Fathan telah menambah daftar kesalahannya pada Azkira.
"Maafkan aku, Azki. Aku tidak sengaja," ucap Fathan dengan mata berkaca-kaca.
Azkira hanya menatap sendu penuh luka. Lantas, dia berdiri dan kembali menata pakaiannya ke dalam koper. "Aku sudah tahu sejak awal. Hubungan kita ini tidak akan berhasil, Bang. Jadi tolong, biarkan aku pergi." Azkira menghentikan tangisannya. Kini wanita itu berubah datar dan begitu dingin.
Bersambung ....
Jangan lupa jejak manisnya, ya, Pembaca tersayang. 😘🥰🥰🙃
__ADS_1