
Revan berusaha menepis bayang-bayang Azkira, yang selalu saja hadir di pelupuk mata dan pikiranya. Asal tahu saja, mengendalikan semua itu tidaklah mudah bagi Revan. Namun, dia berusaha sekuat tenaga, semapu yang dia bisa, untuk berhenti sejenak dari memikirkan Azkira.
****
Azkira gelisah pada malam hari ketika dia hendak tidur. Akhirnya, Azkira menemui Sinta sembari membawa foto tersebut. "Nenek, apa Azki mengganggu waktu istirahat Nenek?" seru Azkira dari balik pintu kamar Sinta.
Tidak lama pintu kamar itu pun terbuka. Ya! Sinta membukanya. "Ada apa, Sayang? Apa kamu ingin sesuatu?" tanyanya.
"Bolehkah Azki masuk dan bicara, Nek?"
"Tentu saja, ayo masuk." Sinta merangkul Azkira dan membawanya masuk ke kamarnya.
Azkira tampak ragu-ragu untuk bertanya. Tapi kemudian, dia mengumpulkan semua keberaniannya. "Nek, foto ini? Siapa yang duduk si samping Azki ini, Nek?" Azkira menunjukkan foto tersebut.
Sinta tampak syok dan terkejut. "Nak, dari mana kamu mendapatkan foto itu?" tanya Sinta.
"Dari album foto milik Ibu, Nek."
Tarikan napas Sinta terdengar sangat dalam. "Namanya Adnan, dia kakakmu, Azki," jawab Sinta dengan raut wajah sedihnya.
"Kakakku? Lalu, di mana dia sekarang, Nek? Kenapa aku belum pernah melihat atau bertemu dengannya?" kata Azkira.
"Dia terpisah dari ayah dan ibumu ketika sedang berada di pusat keramaian. Mereka terus mencari Adnan dari malam hingga pagi menjelang. Namun, pencarian mereka nihil. Tidak membuahkan hasil apa-apa. Waktu itu umurnya baru lima dan umurmu belum genap satu tahun," papar Sinta mengenang peristiwa kehilangan itu.
Azkira menitikkan bulir bening dari sudut-sudut netranya. "Azki juga melihat foto ini ada di rumah mendiang Neneknya Fathan, Nek. Apa artinya Nenek Fathan juga tahu mengenai hal ini?" tutur Azki sambil terisak.
"Itu pasti Antoni. Ayahnya Fathan itu sudah lama bersahabat dengan kedua orang tuamu. Saat kedua orang tuamu kehilangan Adnan di keramaian malam itu. Antoni tidak kalah terpukul dari mereka. Dia juga terus berusaha membantu mencari keberadaan Adnan. Dan foto itu, pastilah dia dapatkan dari ayah dan ibumu dulu."
"Kemana kakakku, Nek? Apa dia masih hidup? Azki akan mencarinya Nek! Adakah ciri-ciri yang bisa Azki temukan untuk mengenalinya?" ujar Azkira penuh tekad.
"Nenek tidak yakin, Nak. Tapi, dia punya tanda hitam di bagian dada sebelah kirinya. Tanda lahir itu berukuran cukup besar. Mungkin seukuran ibu jari," terang Sinta.
__ADS_1
Azkira manggut-manggut. "Apa Ayah dan Ibu tidak pernah mencari kakak lagi setelah itu, Nek?" imbuhnya.
"Mereka terus mencarinya, Azki. Perlu kamu tahu, kecelakaan yang menimpa kedua orang tuamu juga terjadi dalam pencarian mereka untuk menemukan Adnan. Kamu masih kelas tiga SD saat itu. Ayah dan Ibumu tidak pernah berhenti mencari dari waktu ke waktu. Samapi ibumu depresi dan nyaris gila karenanya."
"Ouugh ...." Azkira melenguh nyeri di dalam dadanya. Dia tidak menyangka kalau dirinya bukan anak tunggal dan memiliki seorang kakak.
****
Keesokan pagi saat tetesan embun masih tampak berjatuhan dari ceruk-ceruk dedaunan. Fathan datang mengunjungi Azkira di rumah Sinta. Dia sudah tidak sanggup lagi menanggung kerinduan yang sangat dalam dan begitu mengusik.
"Masuk, Nak. Azki masih di kamarnya," suruh Sinta.
Fathan pun melangkah masuk dan langsung menuju ruang tamu, lantas duduk si sana. Sementara itu, Sinta memberitahu Azkira tentang kedatangan Fathan. Sayangnya, Azkira hanya diam tidak menyahuti.
"Bagaimana, Nek? Mana Azki? Apa dia masih marah pada Fathan?"
Sinta membuang napasnya kasar. "Dia diam saja. Sebaiknya, kamu datangi saja dia ke kamarnya, Nak. Anak itu memang sangat keras kepala," ujar Sinta.
"Azki ...," lirihnya seraya terus mendekat.
"Aku merindukanmu, Sayang?" katanya sembari memeluk Azkira penuh perasaan.
Azkira menoleh sekilas, kemudian memalingkan wajahnya dari Fathan. "Apa yang kamu mau dariku, Bang?" katanya ketus.
"Apa maksudmu? Tentu saja aku ingin kamu, ingin bersama denganmu dan menjagamu. Maafkan aku, Azki. Tidak cukupkah semua siksa ini untuk menghukum kesalahanku?"
"Jangan tanya padaku, Bang. Tanya saja pada hatimu! Sudah puaskah kamu menyakiti dan menyia-nyiakan aku? Kalau belum, sebaiknya jangan datang dulu padaku!" tandas Azkira.
"Aku tahu, Azki. Aku tahu kamu akan berkata begitu. Aku juga sadar dan menyesali kesalahanku. Tolong biarkan aku menebusnya. Ampuni aku, Azki. Aku tidak sanggup berlama-lama lagi berada jauh darimu."
Lalu, mereka saling menatap dengan lekat. Tak ayal, bibir Fathan langsung menghampiri dan memaggut bibir Azkira. Sungguh, Fathan rindu melakukannya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Sayang," ulang Fathan lagi dan lagi.
Azkira hanya diam tidak menjawab. Namun, dia juga tidak menolak saat Fathan menciuminya. Jujur saja, sebenarnya Azkira juga memiliki kerinduan yang sama pada Calon Ayah dari janin yang dikandungnya itu.
"Setiap malam datang aku selalu menangis memikirkan sambil mengingat sikapmu yang keras dan kasar padaku, Bang," ungkap Azkira.
"Jangan ingat-ingat lagi, Sayang. Jika dirimu tahu, betapa kusutnya hidupku tanpa dirimu. Bahkan, setiap malam tidurku tak nyenyak karena memikirkanmu. Aku tidak bisa lebih lama lagi berpisah denganmu, Azki."
Fathan membelai pucuk kepala Azkira dengan sangat lembut. Azkira memejam meresapi semua itu. Rasa nyaman dan menggelitik mulai menyerang Azkira, mana kala lidah Fathan mulai menyapu di setiap inci tubuhnya. Seluruh permukaan wajah hingga leher jenjang Azkira tak terlewat oleh sentuhan bibir dan lidah Fathan.
Azkira semakin terpejam dan sukmanya mulai terbang melayang seringan angin. Kini, kerinduan mereka tercurah dengan cumbu dan rayu yang ramah memanjakan hati dan perasaan. Fathan mulai menanggalkan setiap helai benang yang melekat pada tubuhnya dan juga Azkira.
"Bang ...," rintih Azkira.
"Tenang saja, Sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan."
Lalu, terjadilah seperti yang diinginkan Fathan, dan Azkira pun turut hanyut dalam kenikamatan bersamanya. Permainan itu mulai gencar hingga racau merdu dan basahnya peluh tak terelakkan lagi. Luruh sudah rasa rindu mereka. Melebur bersama indahnya cumbu yang membuat keduanya dimabuk kepayang.
"I love you, Sayang." Fathan memberi hentakkan lembut di sana.
Azkira menggigit bibir bawahnya merasakan semua rasa yang dihadirkan oleh permainan hebat Fathan. Dan puncak tertinggi dari pendakian hasrat pun mereka dapatkan. Kini keduanya terkulai lemas dan saling berpelukan.
Sinta hendak mengetuk pintu kamar Azkira, bermaksud menyuruh keduanya untuk makan hidangan yang sudah dirinya siapkan. Namun, tangan itu tak sampai ke daun pintu. Sinta mengurungkan kembali niatnya. Dia pun melangkahkan kaki dari sana dan membiarkan saja Azkira dan Fathan berduaan. Sebagai orang tua, tentu Sinta lebih banyak mengerti.
Di dalam kamar itu Fathan terus tersenyum tak henti-hentinya. "Terima kasih, Sayangku. Aku merasa hidup kembali setelah kematian yang terjadi padaku karena berpisah darimu.
Azkira tidak menjawab. Dia hanya membenamkan wajahnya ke dada bidang Fathan. Merasakan lagi detak jantung dan harum tubuh Fathan yang melambungkan angan-angannya.
Bersambung ....
Tinggalkan jejaknya, ya. Terima kasih untuk yang sudah setia memberika dukungannya. Love you all. ❤🖤❤🖤
__ADS_1