
Waktu kian bergulir dan terus melaju tanpa mau menunggu. Demikianlah, sifat waktu yang sejatinya memang tidak pernah berubah. Hari ini, rencana untuk pergi berbulan madu pun mereka wujudkan. Fathan dan Azkira memutuskan untuk memilih sebuah pulau sebagai destinasi bulan madu mereka.
Di pulau tersebut, terdapat resort dan cottage sederhana yang di-design langsung menghadap ke arah pantai. Sehingga, nuansa keindahan pantai di pulau itu begitu terasa dan dapat dinikmati dengan sempurna. Kedua insan itu pun asyik bercengkerama meresapi surga dunia yang memanjakan mata.
"Bang ...," lirih Azkira seraya bersandar di dada bidang Fathan yang beraroma wangi dan selalu membuat Wanita itu betah berlama-lama berdiam di dekatnya.
Fathan menjawab seraya menyecap madu dari bibir Azkira. Tentu saja, Fathan pun mulai terbuai oleh pesona dan keharuman tubuh Azkira yang teramat memikat baginya. Tidak butuh waktu lama bagi Fathan, untuk tergoda pada Wanita yang digilai hatinya itu.
"Ini masih siang, Bang," protes Azkira seraya tertawa karena kegelian menerima sentuhan nakal Fathan.
"Memangnya sejak kapan bermesraan denganmu harus menunggu waktu malam, hum? Ini semua salahmu, Sayang." Fathan berbisik di telinga Azkira, hingga hangat napasnya terasa menyentuh daun telinganya.
"Kenapa begitu? Apa salahku?"
"Salahmu adalah membuatku candu pada dirimu."
Azkira memejamkan matanya sambil melenguh merasakan getaran yang sudah sering terjadi padanya. "Abang ...." Hanya itu yang mampu Azkira katakan, selain rintihan sensualnya.
"Kamu menyukainya, Sayang?" tanya Fathan yang sudah on fire sembari meneguk saliva. Gairah Lelaki bertubuh perkasa itu kini mulai terbakar. Azkira tak mampu menjawab dan hanya bisa pasrah.
Detik kemudian, Azkira direbahkan di atas tempat tidur. Lalu, Fathan mulai memanjakannya dengan bertubi-tubi permainan tangan dan lidah yang didaratkan di setiap titik sensitif tubuh Azkira. Dia begitu mahir membuat Azkira terus menjerit karena ulahnya.
Di sisi lain, Dion sedang termenung. Memikirkan nasib dirinya yang hingga kini masih sendiri. Entah mengapa setelah gagal mendekati Azkira, hatinya seperti tidak tertarik lagi untuk jatuh cinta. Walau tidak dipungkiri, sesekali sempat terlintas dalam benaknya untuk mencari tambatan hati.
"Huuuft! Sebentar lagi tahun akan berganti, tapi aku masih setia dengan kesendirianku. Entah kapan aku bisa berbagi tempat tidur dengan wanita yang jadi pendamping hidupku," gumamnya seraya meneguk segelas air putih.
Kembali pada situasi bulan madu Fathan dan Azkira. Entah sudah berapa kali mereka mencapai puncak dari pendakian hasrat yang menggelora itu. Yang jelas, deru napas mereka semakin memburu dan terus berkejaran. Laksana api yang disiram bahan bakar, permainan itu semakin berkobar dan panas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Sayangku," ucap Fathan sambil terus menarik ulur miliknya di lorong cinta Azkira yang terasa hangat memanja.
"Ak-ku juga mencintaimu, Bang," jawab Azkira terbata-bata didera kenikmatan yang kian membuncah.
Kilapan peluh yang bercucuran di tubuh keduanya, menambah kesan seksii semakin terasa. Azkira dan Fathan dimabuk kepayang. Mereka seperti tidak ingin berhenti memacu dan terus memacu. Sampai akhirnya, tubuh keduanya terkulai lemas usai menapaki pelepasan yang memberi mereka kepuasan.
"Terima kasih, Sayang," ucap Fathan dengan suara napas yang terengah-engah. Azkira mengullum senyuman termanisnya.
"Kamu sangat hebat, Istriku."
"Diamlah, Bang. Aku malu ...."
Fathan tertawa melihat wajah Azkira yang merona merah saat dipuji. Di matanya, Azkira adalah bidadari yang tidak pernah bosan untuk dipandangi. Semakin wajah Azkira memerah, semakin gemas juga Fathan padanya.
****
"Ha? I-iya, tentu saja aku mau. Tapi ...."
"Tapi apa, Sayang?"
"Tapi, aku deg-degan. Bagaimana kalau jantungku copot nanti?" cetus Gadis manis itu.
"Sial! Kenapa dia semakin menarik saat sedang gugup," cicit Revan di dalam hati.
"Bang ...," imbuh Dila menyeru.
"Hey, emmm ... tenang saja. Aku 'kan ada bersamamu. Apa kamu sudah gerogi, bahkan kamu belum bertemu mereka, Dila."
__ADS_1
"Iya, memang. Tapi tetap saja aku deg-degan. Bagaimana kalau aku pingsan di sana? Bukankah itu sangat memalukan," lanjut Dila sembari meringis membayangkan hal yang belum tentu terjadi.
"Ya ampun, kenapa kamu lucu sekali?" ujar Revan.
"Abang ini! Apanya yang lucu? Orang sedang panik malah dibilang lucu," protes Dila mendumal.
Tiba-tiba saja, Revan mendorong tubuh bagian belakang Dila hingga merapat ke tubuhnya. Dila terhenyak. Semantara itu, Revan mendaratkan bibirnya di bibir Dila dengan sangat cepat. Sebuah paguttan ganas pun terjadi.
"Emmphhh ...." Dila nyaris kehabisan napas karena Revan.
Menyadari hal itu, Revan pun melepaskan paguttan mautnya. "Maafkan aku, Sayang."
"Aah, kenapa Abang selalu mencuri ciumanku? Lihat! Bibirku jadi tebal."
Revan tertawa geli mendengar hal itu. "Aku pulang dulu, ya. Kalau tidak, aku takut khilaf. Nanti kalau kamu sudah siap, akan kuajak bertemu keluargaku."
Dila mencebikkan bibirnya. "Apakah semua pria seperti itu? Semoga saja tidak. Kuharap Bang Revan tidak sama seperti pria dalam pandangan dunia. Duniaku tentunya," bisik hati Dila.
"Dila!" seru Revan membuyarkan lamunan Gadis yang tengah bengong itu.
"B-baiklah, sana cepat pulang!" tandas Dila.
Revan ingin mencium Dila sekali lagi, tapi Dila segera menghindar. Lalu, dia mendorong tubuh Revan sambil mengantarkannya hingga ke depan pintu. "Pulanglah, Bang. Jangan kau nodai lagi kesucian bibirku ini," katanya. Revan tertawa seraya melambaikan tangannya.
Bersambung ....
Maaf ya upnya agak telat. Perut othor sakit. 🤣🤣🙃🙃❤🖤❤🖤
__ADS_1