
Satu minggu sudah mereka menikmati masa bulan madunya. Kini, kedua sejoli itu telah kembali ke aktifitasnya semula. Namun, kembalinya mereka disambut dengan kabar yang kurang menyenangkan. Bahkan, bisa dibilang itu merupakan kabar yang sangat buruk.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Dion?" selidik Fathan.
"Maafkan aku, Fathan. Tapi, itulah yang terjadi. Entah siapa yang membebaskan Nina dari tahanannya. Yang jelas, orang ini pasti ada sangkut pautnya dengan perlakuan Nina terhadap Azkira tempo hari."
Fathan mengepalkan tangannya dengan amarah yang berkobar di dalam dadanya. "Aku akan mengetahui siapa dalang di balik semua ini sesegera mungkin," gumamnya penuh tekad.
"Abang, apa mereka akan berbuat jahat lagi padaku? Kenapa selalu aku yang dikorbankan? Apa salahku pada mereka?" tanya Azkira penuh keluh.
"Bersabarlah, Sayang. Aku tidak akan membiarkan hal buruk menyentuhmu lagi!" ujar Fathan dengan sorot mata setajam pedang.
Malam harinya, di sebuah tempat yang jauh. Ellena dan Fatih berbicara dengan seseorang. Ya, dia adalah Nina. Rupanya, Nina melakukan semua kejahatan itu didalangi oleh mereka berdua.
"Sekarang pergilah yang jauh ke luar kota dan jangan menampakkan dirimu di sini lagi, mengerti!" tandas Ellena pada Nina.
"Baik, Nona Ellena. Tapi saya butuh biaya hidup selama dalam pelarian."
"Tenanglah! Aku sudah menyiapkan upahmu. Ini, aku berikan sejumlah uang. Dan ingat, Nina. Jangan sampai ada yang tahu kalau semua yang terjadi adalah perintah dariku dan suamiku, Fatih!" Ellena memberikan amplop tebal berisi uang dengan nominal yang terbilang cukup besar.
Nina mengangguk patuh. Sementara itu, Fatih mengawasi situasi. Biar bagaimana, rasa takut terhadap ancaman Fathan saat terakhir dirinya ketahuan menjadi dalang di balik kasus yang menyeret nama Azkira dan Chili Sauce Resto itu, masih ada. Namun, dendam dan rasa dengki membuat Ellena dan Fatih tak kapok untuk mengulangi kejahatan mereka.
"Cepatlah pergi, Nina. Jangan sampai ada orang yang melihatmu!" perintah Fatih. Dia juga sudah menyiapkan sebuah taksi yang akan mengantarkan Nina.
Dengan tergesa-gesa Nina langsung masuk ke dalam taksi yang sudah Fatih pesankan tersebut. Sedangkan, dua orang pembenci yang mempunyai dendam terhadap Fathan itu sedang merayakan kemenangannya. Entah sampai kapan api dendam itu akan padam.
__ADS_1
"Akhirnya kita bisa membalaskan semua perbuatan Fathan pada kita, Sayang." Fatih memeluk Ellena dengan rasa senang.
"Kamu benar, Sayang. Kita telah mematahkan kesombongan Fathan selama ini," jawab Ellena seraya membalas pelukan Fatih. Lantas, mereka pun kembali ke kediamannya.
Fathan salah telah mengampuni mereka selama ini. Ternyata, ular tetaplah ular. Seberapa baik pun mereka diperlakukan, bisa-nya tetap saja berbahaya.
Di rumah megah Antoni yang diisi oleh Fathan dan juga Azkira. Keduanya tengah melihat beberapa potret bulan madu mereka selama di pulau. Sejenak kesedihan mereka pun lenyap dan berganti senyuman.
"Lihat, kamu terlihat seksii dengan gaun itu, Sayang," tunjuk Fathan pada salah satu foto dalam galeri ponsel itu.
Wajah Azkira bersemu merah. Entah mengapa, hal itu selalu berulang setiap kali Fathan memujinya. Padahal, itu bukanlah yang pertama dilakukan Fathan.
Fathan melirik Azkira dengan ekor matanya. "Kenapa ada lembayung senja di wajahmu, Sayang?" ledek Fathan.
"Ha? Mana? Apa maksudmu, Bang?" Azkira terlihat panik.
"Iihh, Abang! Kamu membuatku takut saja," protes Azkira seraya memukul manja dada bidang Fathan.
Fathan menahan pukullan Azkira dengan meraih tangannya. Lantas, Fathan mencium tangan itu tanpa memalingkan pandangannya dari Azkira. Azkira tampak membeku seperti bongkahan es. Diam tak berkutik mendapat perlakuan mesra dan tatapan mematikan dari Fathan.
"Kamu sangat cantik saat sedang bengong seperti itu," bisik Fathan seraya melumaat bibir Azkira. Hal itu membuat Azkira tersadar dan langsung mengedipkan matanya tidak beraturan.
"Hey, pernikahan kita sudah berjalan sekian bulan. Kenapa kamu masih malu-malu begitu, Sayang?" kata Fathan sembari menyeka lembut bibir Azkira yang basah akibat ciumannya.
"Tidak tahu! Jangan bertanya seperti itu," tandas Azkira yang menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
__ADS_1
"Aku masih bisa melihat wajahmu, Azki. Bahkan, saat diriku memejamkan mata, bayangan wajahmu tak pernah luput dari pandanganku. Jadi, percuma saja kamu menutupinya," beber Fathan.
"Abang! Kamu nakal sekali. Berhentilah menggodaku seperti itu." Kali ini Azkira memukuli Fathan degan sebuah bantal.
"Ampun! Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi, Sayang," ucap Fathan sambil menghalau bantal tersebut agar tidak sampai mengenai dirinya.
Semakin lama, Fathan justru semakin gemas dan tertantang untuk melakukan ritual perang lagi. "Kamu membangunkan benda pusakaku, Sayang." Tanpa menunggu lagi, Lelaki tampan itu langsung merebahkan Azkira sambil menghujaninya dengan sejuta cumbuan.
****
"Nenek, apa aku sudah pantas untuk menikah?" cetus Revan saat sedang duduk bersama Sinta.
"Apa itu tandanya kamu sudah memiliki calon istri, Nak? Tentu saja sangat pantas, bukankah adikmu, Azki juga sudah menikah? Nenek akan sangat senang kalau kedua cucu Nenek sudah memiliki pendamping hidup dan bahagia.
"Doakan saja, Nek. Semoga aku tidak salah memilih pasangan," lontar Revan.
"Tidak perlu diminta pun Nenek sudah selalu mendoakanmu, Nak."
"Terima kasih. Nenek memang yang terbaik." Revan memeluk Sinta.
"Jangan lupa sampaikan kabar bahagia ini pada Ayah dan Ibu yang sudah merawatmu, hum."
"Itu pasti, Nek."
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf ya, othor upnya telat lagi. Maklum, jempol othor suka tiba-tiba lelah. Butuh sajen nih 🤣🤣 kasih mawar, kek. ❤❤🖤🖤