
Sejak hari itu, Fathan menjadi over protective terhadap Azkira. Seperti saat ini misalnya. "Sayang, jangan mengangkat beban terlalu berat! Nanti kamu lelah," katanya.
Azkira menoleh seraya mengerutkan keningnya. "Abang, ini hanya sebuah tea pot dan dua buah cangkir," jawab Azkira yang kala itu tengah membawa teh untuk dirinya dan Fathan.
"Tetap saja! Pokoknya kamu tidak boleh membantah. Aku tidak mau kamu sakit karena kelelahan."
"Pria ini mulai aneh lagi. Apa dia sedang kerasukan makhluk protective?" cicit Azkira di dalam hati.
"Nah, tea pot dan juga cangkirnya sudah aku letakkan di meja. Sekarang tidak ada beban lagi di tanganku," ujar Azkira seraya mengangkat tangannya yang sudah kosong.
"Hmmm, pintar." Fathan memuji sambil mengerlingkan manik matanya genit.
"Dasar pria aneh," cerca Azkira pelan.
"Aku mendengarnya, Sayang."
"Ha? Apa yang Abang dengar? Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa," kilah Pemilik kaki jenjang itu.
"Anggaplah kamu tidak mengatakannya, tapi mulutmu yang sudah melakukannya," goda Fathan.
Azkira membelalakkan matanya dengan lebar, lalu mengerucutkan bibirnya. "Terserah padamu sajalah, Bang. Kepalaku pusing memikirkanmu."
"Itu tanda cinta yang paling indah, Azki." Fathan belum ingin berhenti membuat Azkira menggelengkan kepala.
"Sudah, jangan bicara terus. Diminun dulu tehnya sebelum dingin!"
"Dan itu bentuk perhatian yang paling hangat," lanjut Fathan.
Tiba-tiba saja, Azkira mengangkat sebuah kursi tinggi-tinggi. Jelas saja Fathan jadi sangat khawatir. Pasalnya, kursi itu lumayan berat dibandingkan tea pot dan cangkir yang Azkira bawa sebelumnya.
__ADS_1
Fathan menghampiri Azkira dan langsung mengambil kursi tersebut dari tangannya. "Kenapa kamu bandel sekali? Sudah kubilang jangan bawa beban yang berat!" omelnya.
"Itu adalah betuk kecemasan yang sangat membosankan, Bang. Hahaha ... hahaha!" balas Azkira seraya tertawa terbahak-bahak.
"Kamu ini membuat jantungku nyaris terlepas saja!" tukas Fathan sambil menaruh kursi itu kembali.
"Habisnya, Abang sangat aneh. Apa kamu sudah bosan bersikap manis, Bang?" olok Azkira.
"Apanya yang aneh, huh? Kamunya saja yang tidak peka. Kenapa tidak mau mengerti juga kalau aku sangat khawatir padamu?" sangkal Fathan dengan nada bicara yang sedikit tinggi.
"Ya ampun! Kenapa dia sangat serius? Apa itu artinya aku akan segera terkekang?" batin Azkira penuh tanya.
"Eemm, Bang ...," lirih Azkira dengan wajah sedikit takut, tapi juga ingin tertawa.
Fathan tidak menjawab. Akan tetapi, dia langsung menggendong Azkira bagai menggendong seorang bayi di pundaknya. "Kamu harus dihukum!" tukasnya seraya pergi ke sebuah ruangan.
"Turunkan aku, Bang! Apa yang akan kamu lakukan padaku?" teriak Azkira sembari terus meronta. Namun, semua itu hanya sia-sia saja.
Fathan memukul gemas bongkahan kenyal milik Azkira. "Salahmu sudah menggodaku untuk mengerjaimu," batin Fathan sembari menyeringai.
"Abang! Kamu sangat tidak sopan. Kenapa kamu melakukan itu?" protes Azkira yang masih berada di pundak Fathan.
Seperti sebelumnya, Fathan tetap tidak menjawab. Sampailah mereka di ruangan bersantai yang menuju ke balkon rumah. Fathan berhenti di sana, lalu menurunkan Azkira.
"Iiihh! Kenapa aku dibawa ke sini? Aku 'kan mau minum teh," dengus Azkira.
"Itulah akibatnya jika tidak mau mendengarkanku, Istriku yang nakal," bisik Fathan di telinga Azkira.
"Duuuh! Dia sangat menyeramkan," gumam Azkira dengan wajah meringis ngeri.
__ADS_1
Tanpa memberi aba-aba, Fathan langsung meraup kasar bibir ranum Azkira dan merebahkannya di sebuah single sofa yang ada di sana. Pasokan oksigen Azkira seolah tersendat karena ulahnya. Dia benar-benar tidak memberi kesempatan pada Azkira untuk mengambil napas.
"Menyebalkan!" kata Azkira, setelah Fathan melepaskan pagutannya. Namun, Pria seksii itu hanya mengullum senyuman nakal penuh arti.
Di tempat bereda, Revan sedang menangisi Nurhyati, ibu asuhnya yang tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. "Ibu, Revan mohon sadarlah, Bu." Tangis Revan pecah tak bisa dibendung lagi.
Gunawan hanya bisa menangis rapuh melihat istri tercintanya terbujur kaku. Benar, Nurhayati sudah tidak bernapas dan sebenarnya itu bukanlah hal yang tiba-tiba. Selama ini, Nurhayati diketahui mengidap sakit jantung yang dirahasiakan dari Revan. Dia tidak pernah ingin membuat Revan khawatir.
"Ibuuu!" jerit Revan bagai menembus langit.
Gunawan merangkul Revan. Mencoba menguatkan di saat hatinya sendiri sedang lemah dan hancur. "Ikhlaskan, Nak. Ibumu sudah tidak sakit lagi sekarang," ujarnya dalam tangis yang tertahan.
Sinta berdiri tertegun di ambang pintu rumah orang tua asuh Revan tersebut. "Apa yang terjadi pada Nurhayati? Apa yang terjadi pada Ibu dari cucuku?" tanyanya tanpa bergeming. Air matanya sudah luruh tak tertahankan.
"Nenek! Ibuku telah pergi, Nek," kata Revan dengan bibir yang bergetar menyecap duka mendalam, yang meruntuhkan ketegarannya.
Sinta menghampiri Revan, kemudian merangkulnya. "Sabar, Sayang." Hanya itu yang bisa Sinta utarakan.
"Nenek, Ayah, bagaimana mungkin Ibu meninggalkanku? Aku bahkan belum sempat mengenalkan calon istriku padanya," raung Revan. "Tidak! Ibu tidak mungkin meninggal. Ini tidak benar. Ini hanya mimpi 'kan?" Revan terus meracau sembari memukul-mukul pipinya sendiri.
"Revan, berhenti, Nak. Jangan lakukan itu. Ibumu akan sedih jika melihatmu begini," ujar Sinta.
Revan terus menggelengkan kepalanya. "Ayah, katakan padaku! Ibu hanya tidur 'kan? Benar 'kan? Cepat katakan, Ayah. Kenapa Ayah diam saja?"
Hati Gunawan sakit berkali-kali lipat dari sebelumnya. Melihat anak yang begitu disayangi istrinya itu tengah meratap, meraung, tidak menerima kepergiannya. Sungguh, Gunawan juga berat mengikhlaskan Nurhayati. Akan tetapi, Revan bagi mereka adalah pelita yang menerangi dan memberi warna pada hidup mereka selama ini. Jadi, lukanya juga menjadi luka bagi Gunawan, maupun Nurhayati semasa dia masih hidup.
"Nak, jangan buat Ibumu pergi dalam kesedihan. Ketahuilah, hanya kepada-Nya saja kita semua akan kembali. Tugas Ibumu telah selesai di dunia ini. Biarkan dia pergi dengan senyuman," tutur Gunawan mencoba tegar.
"Aku akan menikah, Ayah. Bagaimana mungkin Ibu meninggalkanku?" Revan memeluk Gunawan dengan erat. Hatinya hancur berkeping-keping. Perasaannya perih berkabung duka yang teramat pekat.
__ADS_1
Bersambung ....
Duuuuh, nangis 'kan. Jangan lupa dukungannya, ya. Lope yu all. 🥰